My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Daun Muda


__ADS_3

Terlihat seorang lelaki yang tengah sibuk mempresentasikan agenda kerja mewakili kampusnya, lelaki itu menjelaskan dengan detail apa yang akan menjadi program kampusnya kedepannya untuk mendapatkan akreditasi terbaik di Kota Bandung.


Lelaki itu berkali-kali melihat ponselnya di atas mejanya, berharap ada lampu notifikasi berwarna hijau muncul di sana sebagai tanda bahwa ada pesan masuk. Regan sangat menantikan balasan pesan dari Yona yang entah sedang melakukan apa karena ponsel wanita itu dinonaktifkan beberapa jam lalu.


Jangan-jangan Yona malah asyik berduaan dengan mahasiswa lelaki yang fotonya dikirimkan padanya. 


Regan mengetukkan-ngetukkan kakinya di lantai, menantikan pertemuan itu segera selesai agar dirinya bisa segera menghubungi Yona kembali.


“Syukurlah,“ ucap Regan bernapas lega saat pemimpin pertemuan ini mengakhirinya dan akan dilanjut esok hari.


Regan segera merapikan barang-barangnya kedalam tasnya, lelaki itu keluar dari ruangan dan mengecek ponselnya. Helaan napas panjang keluar dari mulut lelaki itu, ponsel Yona masih dinonaktifkan. 


“Awas saja kamu Yona, aku akan memberimu pelajaran karena membuatku kalang kabut seperti ini,“ ucap Regan menatap wallpaper layar kunci ponselnya yang menampilkan fotonya dan Yona saat mereka berada di Bath, Inggris.


Wanita itu terlihat sangat cantik, wajahnya tersenyum lepas seperti tanpa beban, terlihat jelas wajah bahagia mereka berdua dari foto-foto yang mereka abadikan untuk kenang-kenangan nanti saat mereka menua.


Tepukan di punggung Regan membuat lelaki itu menoleh, pemimpin pertemuan berdiri di sana, Kepala Humas Ristekdikti tersenyum ke arah Regan.


“Pak Riyan?“ sapa Regan menjabat tangan Pak Riyan dan membungkuk menghormati lelaki yang lebih tua dari dirinya.


“Kita makan bersama dahulu sebelum semua anggota pertemuan kembali ke kamar hotel,“ ucap Pak Riyan mengajak Regan untuk bergabung bersama yang lainnya.


“Tentu saja, suatu kebanggan sendiri bisa makan bersama dengan Anda,“ ucap Regan dijawab kekehan khas lelaki itu.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju lift untuk sampai di restaurant yang berada di lantai dasar hotel itu. 


“Bagaimana kabar ayah dan bunda?”


Kebetulan sekali, Pak Riyan adalah teman SMA bunda Regan saat wanita itu masih tinggal di Jakarta sebelum menikah dengan ayahnya.


“Alhamdulillah baik Pak Riyan, Bapak sendiri dan keluarga baik kan?”


“Alhamdulillah kalau begitu, kami sama baiknya,” ucap Pak Riyan tersenyum.


Getaran di ponsel Regan menandakan bahwa pesan baru telah masuk ke ponselnya. Regan dengan cepat membukanya. 


Yona membalas pesan chatnya dengan sebuah foto yang wanita itu kirimkan.


Panggilan video masuk .. Yona, berdering...


Ponsel Regan berkedip, lelaki itu meminta izin kepada Pak Riyan untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu saat mereka berdua sudah sampai di lantai satu.


“Kamu tidak bertanya apa arti botol minuman itu?” tanya Yona tiba-tiba saat panggilannya sudah diterima oleh Regan.


“Memangnya apa?” tanya Regan merasakan hatinya menghangat begitu mendengar suara dan melihat wajah wanita yang sudah dia rindukan.


Sehari tanpa melihat wajah wanita itu secara langsung membuat Regan merasakan ada yang kurang dalam hidupnya. Yona sudah menjadi candu tanpa lelaki itu sadari.

__ADS_1


“Tentu saja kenang-kenangan dari mahasiswa tampanmu, dia membelikanku ini,“ ucap Yona memamerkan sebotol minuman itu kepada Regan.


Regan menatap Yona kesal.


“Kamu ini wanita macam apa, dibelikan sebotol minuman saja sudah sebahagia itu,“ cibir Regan cemburu karena Yona membicarakan lelaki lain di depannya.


Yona membuka minumannya, wanita itu meneguknya kembali.


“Kamu sedang apa ?” tanya Yona menatap Regan disana.


“Ini mau makan bersama sebelum kembali ke kamar hotel,“ jawab Regan.


Wanita itu mengangguk mengerti, matanya menatap Regan dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ada tatapan rindu dan cinta disana, 


“Kudengar mahasiswa kelas malam tampan-tampan, aku harus menggantikanmu juga malam ini?” tanya Yona sengaja menyulut emosi Regan.


“Tidak! Kamu kembali saja ke rumah. Jangan menggantikanku lagi lain kali,“ jawab Regan spontan membuat Yona tertawa.


“Kalau begitu baiklah, aku akan pergi berkencan dengan daun muda dulu. Jangan lupa makan yang banyak, karena menahan emosi itu butuh tenaga.“


Klik, panggilan mereka terputus. Regan menatap ponselnya tidak percaya, beraninya Yona pergi kencan dengan daun muda? Tunggu saja apa yang akan Regan lakukan pada wanita itu setelah dia kembali dari Jakarta.


Lelaki itu segera masuk kedalam restaurant bergabung dengan para tamu undangan lainnya untuk jamuan makan yang sudah diatur oleh pihak tuan rumah dari Ristekdikti.

__ADS_1



__ADS_2