
Bruakkkk…
Dentuman begitu keras membuat seluruh pengemudi di sekitarnya langsung berhamburan untuk keluar dari mobil. Menolong pengemudi mobil yang entah karena apa menabrak tiang listrik tanpa diduga.
Jalanan mendadak menjadi macet, kasak-kusuk semakin tak terelakkan. Beberapa orang langsung menghubungi ambulance karena kondisi pengemudi yan kini terlihat begitu mengenaskan. Darah dari kepalanya bercucuran mengalir deras, bahkan bemper bagian depan mobil yang kini dia kendarai menjadi penyok tak berbentuk lagi.
“Yona!” pekik Shinta.
Pikirannya menjadi tidak karuan melihat kerumunan orang di depannya sana. Mungkinkah itu Yona?
“Dad?” Shinta menoleh ke arah suaminya. Mata mereka bertemu, saling bertukar jawaban satu sama lainnya.
Hendra semakin mempercepat laju mobilnya. Lelaki itu cemas tidak karuan rasanya untuk saat ini. Melihat Yona keluar dari rumah tanpa menggunakan alas kaki saja sudah membuat hatinya remuk redam sebagai seorang ayah yang tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada putrinya.
Mungkinkah, kalau saja dulu Hendra dan Shinta tidak memaksa Yona kembali ke Indonesia dan menjodohkan putrinya dengan Regan kemungkinan Yona tak akan mengalami kepahitan hidup seperti sekarang ini.
“Yona,” teriak Shinta keluar dari mobil suaminya.
Merasa namanya dipanggil, Yona menatap sosok ibunya yang berlari ke arah kerumunan lewat kaca spion.
Yona segera membuka pintu mobilnya. “Mommy!” panggil Yona menatap mommynya di sana.
Bukan Yona, tapi mobil di depan mobil yang dikendarai Yona lah yang hilang kendali hingga menabrak tiang listrik. Shinta menitikkan air matanya, dia begitu lega melihat Yona baik-baik saja.
“Kamu tidak apa?” tanya Shinta mengecek seluruh tubuh Yona, memastikan putrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Shinta membawa Yona ke dalam pelukannya. Melihat putrinya selamat dan tidak mengalami kejadian buruk membuat Shinta merasa lega. Syukurlah, setidaknya Tuhan masih menyelamatkan nyawa Yona hingga tidak membuat segalanya semakin bertambah buruk.
“Yona, kamu ini kenapa?” Hendra mendesah menatap putrinya.
“Maafkan Yona, Daddy, Mommy. Yona hanya terbawa perasaan saja hingga membuat kalian khawatir seperti sekarang ini,” ucap Yona merasa bersalah karena sudah membuat kedua orang tuanya khawatir.
“Biarkan Mommy saja yang menyetir,” ucap Shinta mengajak Yona untuk masuk ke dalam mobilnya lagi.
Kedua wanita satu gen beda generasi itu langsung membawa mobil milik Yona untuk menuju Rumah Sakit Kusuma tempat Regan dirawat. Di belakangnya, Hendra mengikuti istri dan putrinya dengan berbagai pikiran dalam benaknya.
Sebagai seorang ayah, Hendra tentu saja tidak ingin putrinya terus terkungkung dalam kehidupan menyesakkan dada setiap harinya. Satu tahun sudah, putrinya terus menerus bermandikan air mata yang entah mengapa tidak pernah kering meski bercucuran deras keluar setiap kali pemilik mata indah itu teringat sosok lelaki yang begitu dia cintai.
“Apa yang terjadi, Yona?” tanya Shinta bertanya kepada Yona.
Yona menoleh menatap mommynya. “Yona hanya mimpi buruk saja, Mommy,” sahut Yona masih berusaha tersenyum di depan mommynya.
Yona tahu, orang tuanya sama khawatirnya dengan Yona. Mereka orang tua yang selalu mengerti dan memahami bagaimana perasaan anak-anaknya meskipun terkadang mereka memaksakan kehendak jika itu dinilai terbaik untuk anak-anaknya.
“Kamu hampir saja membunuh orang tuamu, jangan pernah melakukannya lagi, Sayang,” ucap Shinta mengelus wajah Yona, mengelap keringat yang masih tercetak jelas di kening Yona.
Mau tidak mau Yona hanya mengangguk menanggapi perkataan mommynya. Yona harus mempertanggung jawabkan segala yang telah terjadi. Bahkan, untuk tragedi ini sekalipun, Yona turut andil di dalamnya.
Berkali-kali Yona menyalahkan dirinya karena menyebabkan segala kekacauan ini terjadi. Tapi berkali-kali juga Yona menepisnya, mencoba menghilangkan beban untuk sekejap saja.
“Mommy, pernahkah Mommy merasa menjadi seseorang yang tidak berguna sama sekali?” tanya Yona dengan pandangan lurus ke depan.
Helaan napas keluar dari mulut Shinta. “Mommy mungkin akan berpikir yang sama dengan Yona. Tapi sayang, semua yang telah terjadi itu sudah digariskan sama Tuhan. Kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun bertanggung jawab atas segalanya,” jelas Shinta memberikan pengertian kepada putrinya.
Mereka berdua turun dari mobil, Yona berbalik menatap Shinta dan Hendra.
“Kalian pulang saja, Yona akan menginap di rumah sakit,” jelas Yona.
Shinta mengangguk dan tersenyum. Wanita itu melepas alas kakinya, menaruhnya di depan telapak kaki Yona.
“Pakailah, kamu lupa membawa alas kaki, Sayang.” Shinta mengelus puncak kepala putrinya.
“Kamu tidak membawa ponselmu juga?” tanya Hendra mengingatkan Yona bahwa dirinya bahkan tidak membawa ponselnya.
Wanita itu meringis, betapa kalutnya dirinya setelah mendapatkan mimpi mengerikan yang datang dalam tidurnya. Tidak membawa alas kaki dan juga tidak membawa ponsel, dirinya hanya fokus satu hal, segera menemui Regan meskipun Yona tahu bahwa dia tidak akan diperbolehkan mendekati Regan.
“Nanti biar kakakmu yang mengantarkan ponsel milikmu ke sini,” ucap Shinta memberikan pengertian kepada Yona.
Yona mengangguk, wanita itu memeluk mommynya sekilas dan mengucapkan terimakasih karena telah memiliki orang tua yang begitu baik seperti Shinta dan Hendra.
“Yona, jangan menangis lagi, hm?” Hendra menatap putrinya dengan lembut.
“Hm, Yona tahu,” jawab Yona mengedipkan matanya.
__ADS_1
Kedua orang tua Yona menatap kepergian Yona dengan berbagai pikiran di dalam benaknya.
“Aku berharap badai ini segera berlalu,” gumam Hendra menatap nanar punggung putrinya yang kini menjauh.
Tanpa mereka ketahui, Yona meletakkan tangannya di dadanya, mencoba menetralkan dadanya yang terasa sesak.
“Bagaimana mungkin daddy meminta Yona untuk tidak menangis?” lirih Yona seperti tidak memiliki semangat untuk hidup.
Yona hanya akan berhenti menangis ketika Regan telah mendapatkan kesadarannya kembali. Yona tidak akan mengampuni dirinya sendiri jika lelaki itu sampai menyerah.
Langkah Yona terhenti, di depannya berdiri Dokter Gustin Justavo. Lelaki itu pun melakukan hal yang sama. Mereka saling menatap lekat.
“Mau minum kopi?” tawar Dokter Gustin Justavo kepada Yona.
“Boleh, tapi bisakah Dokter Gustin menemaniku ke ruangan Regan sejenak?” tanya Yona, ingin menanyakan keadaan Regan kepada dokternya.
“Tentu saja,” jawab Dokter Gustin Justavo mengangguk.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang rawat Regan. Dokter Gustin Justavo menoleh menatap Yona, lelaki itu menghembuskan napas secara kasar ketika melihat mata Yona tidak bernyawa lagi.
“Kapan kemungkinan dia akan sadar lagi, Dokter?” tanya Yona.
Kini mereka sudah memasuki ruang rawat Regan, namun mereka berdiri di depan pintu kaca, menjadi pembatas ruangan pasien dengan ruangan keluarga pasien yang menungguinya. Ada ranjang untuk istirahat di sana. Segalanya serba exclusive, mereka tergolong sebagai daftar keluarga pemilik yayasan rumah sakit.
“Semuanya tergantung diri Regan sendiri, kamu tahu benar. Operasi ini hanya untuk menangani kerusakan di kepala Regan, bukan untuk membuatnya tersadar dari komanya,” jelas Dokter Gustin Justavo.
“Bagaimana menurut Dokter Gustin, seminggu? Sebulan? Dua bulan? Tiga bulan? Atau setahun lagi?” tanya Yona menoleh menatap Dokter Gustin Justavo.
Dokter Gustin Justavo menyunggingkan senyumnya.
“Kamu percaya, kekuatan cinta bisa menjadi mukjizat paling nyata yang Tuhan berikan kepada umatnya?” Kini giliran Dokter Gustin menatap Yona.
Lelaki itu menatap sosok Regan yang masih terbaring tidak berdaya di ranjangnya.
“Aku membuktikannya sendiri, aku bersatu dengan wanita yang nyawanya bahkan tidak bisa dipertahankan saat itu. Tuhan memberikan mukjizatnya, Tuhan memberikan kesempatan kepada istriku untuk masih bisa menghirup napasnya hingga sekarang. Cinta, menjadi kuatmu untuk bertahan,” jelas Dokter Gustin Justavo kepada Yona.
Yona nampak menikmati penjelasan Dokter Gustin Justavo, dirinya seakan mendapatkan pencerahan dari lelaki itu.
“Percayalah, di sana pun Regan tengah berjuang untuk kembali bersamamu dan keluarganya,” ucap Dokter Gustin Justavo memberikan keyakinan kepada Yona.
“Dokter, bisakah saya menemui istri Anda?” Entah kenapa Yona ingin bertemu dengan istri dari Dokter Gustin Justavo, ingin mendengar kesaksian wanita itu tentang kekuatan cinta yang Yona sendiri masih belum yakin benar.
“Kapan-kapan aku akan mengajaknya bertemu denganmu,” jawab Dokter Gustin Justavo mengulum senyumnya.
Dokter Gustin Justavo harus memastikan, bahwa Yona tidak akan menyebarkan apa yang dia lihat ketika bertemu istrinya. Perjuangan Gustin Justavo dan Olivia untuk datang ke Indonesia demi mendapatkan restu dari orang tua istrinya bukanlah hal yang mudah.
Dirinya harus meyakinkan keluarga Olivia, bahwa Dokter Gustin Justavo sangat mencintai Olivia.
“Jadi minum kopinya?” tanya Dokter Gustin mengingatkan Yona akan tawarannya beberapa menit yang lalu.
“Jadi, asalkan bukan kopi campur sianida,” jawab Yona mengulum senyumnya.
Wanita itu menoleh sekali lagi memastikan Regan akan baik-baik saja ketika dirinya pergi dari sana.
*
Tiga minggu sudah penantian Yona, tidak ada tanda-tanda bahwa Regan akan segera membuka matanya. Setiap hari, Yona menginap di sana untuk menemani Regan bergantian dengan Lili dan Septian berjaga setiap malam.
Kini Yona membaca sebuah novel, membacanya dengan keras seakan-akan dirinya tengah memberikan dongeng pengantar tidur kepada Regan.
Novel romansa yang menceritakan bahwa sang wanita mendapatkan donor jantung dari pengantin baru hingga membawanya dalam konflik kehidupan tak terduga.
“Regan, aku ingin menikah di atas kapal pesiar. Aku tidak ingin rute Miami. Aku ingin kita mengelilingi Rusia, kamu mau kan?” tanya Yona mengajak Regan untuk berbicara.
Yona bergumam hingga rasa kantuk menyergapnya. Wanita itu tertidur di kursi dengan tangan memeluk perut Regan. Napasnya naik turun beraturan, menandakan wanita itu telah menggapai alam mimpinya.
Kening Regan berkerut tanpa sadar, kini lelaki itu melihat sosok peramal yang pernah dia temui di Bath, Inggris.
“Sir, Anda masih mengingat saya?” tanya Regan berusaha mengejar lelaki itu.
Regan berteriak cukup keras memanggil peramal yang dia temui di Jembatan Pulteney Bridge.
Lelaki itu lenyap secara tiba-tiba, membuat Regan kebingungan. Tubuh lelaki gemetaran hingga membangunkan Yona yang tengah tertidur di sampingnya.
__ADS_1
Mata Yona terbelalak. “Regan? Regan apa yang terjadi?” pekik Yona begitu panik.
Yona langsung menekan tombol emergency di dekat ranjang Regan.
“Tolong ke mari segera!” ucap Yona tidak bisa menutupi kekhawatiran yang menyergapnya.
Tubuh Regan gemetaran, keringat dingin bercucuran dari kening lelaki itu. Yona menangis, digenggamnya tangan Regan.
“Regan, kamu kenapa? Jangan membuatku ketakutan, Regan,” isak Yona ketakutan.
Tidak berapa lama para petugas medis masuk ke dalam ruangan Regan. Yona mundur ke belakang, membiarkan para petugas medis memeriksa kondisi tubuh Regan terlebih dahulu.
“Tanda vitalnya normal,” ucap Dokter Irawan mengecek kondisi tubuh Regan.
Kini mereka mulai menyorot manik mata Regan, terdapat pergerakan di manik mata milik lelaki itu.
“Ada respon,” ucap Dokter Irawan dengan binary matanya bahagia.
“Dokter, apa yang terjadi?” tanya Yona penasaran.
“Ini kabar baik, tubuh Regan menunjukkan progres yang baik,” jelasnya tersenyum.
Lelaki itu lalu meminta perawat untuk segera menyuntikkan cairan yang telah dia resepkan ke infus Regan.
“Tenangkan dirimu, kejang sering terjadi pada orang koma. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Dokter Irawan tersenyum.
Dia sudah mengecek kondisi tubuh Regan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
“Kalau begitu kami permisi, Yona,” pamitnya kepada Yona.
Mata Yona melebar, tangan Regan bergerak lemah namun masih bisa Yona lihat.
“Dokter Irawan, tangan Regan bergerak,” panggil Yona sebelum Dokter Irawan keluar dari ruang rawat Regan.
Dokter Irawan segera berbalik arah, lelaki itu mendekati ranjang dan melakukan pemeriksaan ulang.
Mata Regan menyipit saat senter yang Dokter Irawan menyorot matanya.
“Regan, kamu bisa mendengar suara saya?” tanya Dokter Irawan.
Perlahan, Regan membuka matanya yang terasa begitu berat. Beberapa kali Regan mencoba membukanya, namun gagal lagi.
“Regan, kamu mendengarku?”
Bukankah itu suara Yona? Regan sangat hafal suara kekasihnya. Wanita yang selalu saja dia impkan meskipun dalam kondisi tidak sadarkan diri. Yona selalu menemani Regan di setiap tidur panjangnya yang tidak tahu kapan akan berakhir.
“Regan? Buka matamu,” lirih Yona ketika ucapan Dokter Irawan tidak mendapatkan respon apapun dari Regan.
“Siapkan ruang pemeriksaan,” ucap Dokter Irawan kepada tim medis yang tengah bertugas bersamanya.
“Baik, Dokter,” jawab mereka kompak, segera keluar dari ruangan Regan untuk menyiapkan segala perlengkapan pemeriksaan untuk Regan.
Dokter Irawan kembali melakukan pemeriksaan. Mulai dari menyentuh telapak kaki Regan hingga kakinya berjingkat pelan.
“Sepertinya ini kabar baik untuk penantian panjang semua orang,” ucap Dokter Irawan tidak mampu menutupi kebahagiaan.
Setahun lamanya dia menjadi dokter pribadi Regan, mengenal seluruh keluarga lelaki itu. Tentu saja hubungan mereka berdua menjadi sangat dekat meskipun mereka belum pernah bertegur sapa sebelumnya.
Yona segera menghubungi orang tua Regan dan orang tuanya, membagikan kabar bahagia yang tidak bisa dia simpan seorang diri.
“Saudara Regan, Anda mendengar suara saya? Jika mendengarnya tolong gerakkan kaki atau tangan Anda,” pinta Dokter Irawan memberikan petunjuk kepada Regan.
Tangan Regan bergerak lemah, dan itu membuat Yona terpekik bahagia. Wanita itu segera mendekat ke arah Regan.
“Regan, kamu mendengar suaraku?” lirih Yona dengan suara serak.
Regan kembali menggerakkan tangannya. Tentu saja aku sangat mengenali suaramu, bahkan dari kejauhan aku sudah bisa mendengar langkah kakimu, Yona.
“Regan, terimakasih sudah memberikanku harapan baru dengan progres yang kini kamu tunjukkan kepada kami,” isak Yona, meraih tangan Regan dan menciumnya.
Tangan yang sebelumnya sangat kuat, kini terlihat begitu lemah. Bahkan Regan hanya bisa menjawab pertanyaan Yona dengan menggerakkan tangan dan kakinya.
“Regan, buka matamu. Sekarang kamu botak,” lirih Yona bersama kekehan gelinya.
__ADS_1
Berharap kalimat rancu yang keluar dari mulutnya membuat Regan bersemangat membuka matanya hanya untuk melihat bagaimana gambaran wajahnya sekarang ini.