
Yona keluar dari kamar mandi, rambutnya yang masih basah menetes meluruh membasahi leher jenjangnya. Wanita itu memakai handuk berbentuk persegi panjang warna cream untuk mengeringkan rambutnya. Yona menyisir perlahan rambutnya di depan kaca besar yang ada di kamarnya.
Tatapan matanya kini beralih pada sosok Regan yang duduk berselonjor di atas ranjang tidurnya dengan menatapnya lekat.
“Kamu tidak akan mandi?” tanya Yona menatap Regan yang malah menatapnya tanpa kedip.
Wanita itu memakai celana pendek yang hanya menutupi setengah pangkal pahanya, dengan atasan santai yang panjangnya hampir menyamai panjang celana pendek yang kini dia pakai. Meskipun Yona hanya memakai baju yang sederhana, tapi itu terlihat sangat sexy di mata Regan. Lelaki itu terus menatap Yona, menelan salivanya sebelum menetes dan membuatnya malu.
“Kamu itu kenapa plonga-plongo seperti sapi ampong sih?” ucap Yona yang sangat jengkel karena Regan seperti orang kehilangan kewarasannya.
“Enak saja, ini juga mau mandi pakai dalaman ungu terong,” jawab Regan bangkit dari ranjang.
Yona terkekeh geli, melihat wajah Regan yang memerah karena menahan kesal menjadi pemandangan unik bagi dirinya sendiri. Yona menyodorkan handuk yang baru, “ini pakailah,” ucap Yona dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Regan mencebikkan bibirnya, bahkan handuk yang kini diberikan Yona kepadanya adalah handuk berwarna ungu. Tidak bisakah warna selain ungu yang Yona berikan kepadanya? Sepertinya Yona memang wanita pecinta warna ungu. Untung saja Yona bukan wanita yang ngefans dengan Pasha Ungu.
“Kamu tidak punya warna lain selain warna ungu?” tanya Regan menatap Yona meminta jawaban.
Yona menggeleng, “hanya satu ini saja sih, tapi handuk kecil hehe,” kekeh Yona membuat Regan mencebikkan bibirnya kesal ke arah wanita itu.
Regan berjalan menghampiri Yona, lelaki itu membantu Yona mengeringkan rambut panjang wanitanya. Dengan telaten Regan mengacak pelan rambut Yona, sampai aroma tubuh Yona menyeruak menggoda indera penciumannya.
“Aww,” ringis Yona ketika tanpa sengaja Regan menarik rambutnya.
Regan gelagapan, dengan cepat lelaki itu mengambil handuk kecil dari sana.
“Aku akan mandi, jangan ganggu aku,” ucap Regan mati-matian menahan gejolak panas yang kini dia rasakan. Bagian bawahnya berdenyut tidak karuan begitu aroma tubuh Yona menusuk panca indera penciumannya.
“Kamu tidak membutuhkan sabun?” ejek Yona sambari terkekeh pelan.
“Dasar otak mesum, maksudku kan aku butuh waktu untuk mandi. Siapa tahu kamu merindukanku,” jawab Regan menyentil hidung Yona sampai wanita itu meringis kesakitan.
“Yaaaa, kamu tidak salah tempat mengataiku wanita mesum?” teriak Yona yang sudah kehilangan kesabarannya dengan kelakuan Regan yang sangat menjengkelkan.
Lelaki itu nampaknya tidak peduli dengan teriakan Yona, lelaki itu lebih memilih segera memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air dingin untuk meredamkan rasa panas yang kini dia rasakan pada tubuhnya.
Lelaki itu menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk membersihkan diri sekaligus meredam gejolak api asmara yang kini timbul dalam dirinya. Regan menatap handuk kecil itu dengan menyerngit, lelaki itu menganga ketika handuk yang dia bawa ternyata tidak bisa menutupi lingkar pinggangnya.
“Astaga handuk apa-apaan ini?” gumam Regan sambari merentangkan handuk itu dan menatapnya.
__ADS_1
Regan berjalan kea rah pintu, lelaki itu menggedor dengan kencang berharap Yona mendengarnya.
“Yona? Yona, kamu di luar kan? Tolong ambilkan aku handuk,” ucap Regan setengah berteriak memanggil nama Yona.
Tidak ada jawaban sama sekali, Regan kembali menggedor pintu kamar mandi Yona hingga terdengar suara dentuman dan juga rasa getarannya.
“Yona kamu mendengarkanku kan? Ayolah, jangan becanda,” ucap Regan menggedor pintu itu tanpa menyerah.
Sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa Yona ada di luar, lelaki itu mencari sesuatu di kamar mandi. Hanya ada handuk kimono milik Yona, dan juga pakaian kotor Yona yang baru saja wanita itu lepaskan tadi. Regan terkekeh geli, melihat celana dalam dan juga bra berwarna ungu milik Yona membuatnya tersenyum geli.
“Wanita itu astaga kenapa penggila warna ungu, apa bagusnya warna ungu? Mungkinkah karena ungu itu terong, dan dia menyukai terong? Terong-terongan mungkin?” gumam Regan kepada dirinya sendiri terkekeh merasakan ada yang menggelitik di perutnya.
Kenapa juga Regan jadi semesum itu? Padahal hanya melihat celana dalam dan bra milik Yona sudah membuatnya bisa berfantasi liar akan sesuatu yang menempatinya.
“Benar-benar gila, wanita itu membuatku kehilangan kewarasanku,” ucap Regan menggelengkan kepalanya.
Regan kembali menggedor pintu kamar lagi sekali lagi, lelaki itu menggedornya lebih keras untuk memanggil Yona.
“Kemana wanita itu? Yonaaaa? Kamu ada di luar atau tidak? Tolong ambilkan aku handuk, handuk ini terlalu kecil untuk menutupi kel-, ah bukan maksudnya pisang gandul-gandulku,” ucap Regan berteriak.
Mati sudah, telah hilang citranya sebagai lelaki yang sangat cool dan juga tidak receh. Lelaki itu berubah seratus delapan puluh persen karena kedatangan Yona dalam hidupnya. Regan selalu tampil seolah-olah lelaki itu pendiam, enggan berbicara yang tidak penting. Tapi karena mengenal wanita itu, Regan malah semakin pandai berbicara, apalagi untuk membuat Yona kesal setengah mati kepadanya. Itu adalah keahlian Regan yang harus diacungi jempol, tidak ada tandingannya.
Tidak ada jawaban ataupun suara gerakan apapun di luar, kening Regan jadi menyerngit heran. Memangnya ke mana Yona pergi sampai-sampai meninggalkannya seperti itu. Regan terdiam sejenak, memikirkan langkah apa yang akan dia ambil, keluar hanya berbekal handuk kecil yang bahkan tidak menutupi seluruh pinggangnya, ataukah memakai handuk kimono Yona yang juga berwarna ungu.
Astaga, kenapa hidup Regan menjadi rumit karena warna ungu? Belum lagi motif bunga sakura yang membuat handuk kimono itu semakin menggelikan di mata Regan.
“Aishh bodo amat lah, dari pada keluar bugil mending pakai ini juga tidak apa-apa kan?” ucap Regan memutuskan keputusan mana yang akan dia ambil.
Lelaki itu memakai kimono mandi Yona, terlihat sangat kekecilan dan juga terlalu pendek saat Regan kenakan. Maklum saja, itu handuk kimono ukuran tubuh Yona bukan ukuran tubuh lelaki itu.
“Tidak buruk,” ucap Regan memandang tubuhnya di pantulan kaca kamar mandi.
Lelaki itu keluar dari sana, matanya mencari sosok Yona yang sejak tadi tidak menyahut panggilannya sama sekali. Siapa tahu Yona pingsan secara tiba-tiba karena merindukannya?
“Yona,” panggil Regan ketika melihat Yona merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Wanita itu terlihat terlelap dengan mata terpejam begitu tenang, wajahnya sangat damai seakan-akan tidurnya tidak ada yang akan mengganggunya. Yona sejak semalam tidak tidur sama sekali karena tingkah Regan yang selalu mengungkungnya dalam pelukan lelaki itu.
Jujur saja, siapa yang akan tertidur dalam posisi segawat itu? Dalam otak Yona bahkan alarm di kepala wanita itu terputar begitu keras sebagai ancang-ancang mawas diri sebelum singa jantan menerkamnya ketika tidur.
__ADS_1
“Dia tidur rupanya,” ucap Regan seperti gumaman saat langkahnya mendekati Yona.
Lelaki itu membuka handuknya, berniat untuk mengganti bajunya dengan baju yang telah Yona siapkan untuknya. Lagi-lagi Regan mendengus melihat celana dalam warna ungu yang dengan terpaksa harus dia pakai dari pada pisangnya gondal-gandul menurut Yona.
Ketukan di pintu kamar Yona membuat Regan menoleh, “Yona, Regan segera turun ke bawah untuk sarapan,” ucap Shinta di luar sana.
Shinta kembali mengetuk lagi, “kalian mendengar mommy tidak?” tanya Shinta yang tidak mendengarkan suara Yona maupun Regan.
“Iya mommyyy,” jawab Regan setengah berteriak agar Shinta mendengarkan teriakannya.
“Kalian sedang apa, kenapa lama sekali?” ucap Shinta membuka pintu kamar Yona.
Dengan cepat Regan masuk ke dalam selimut, bergelung di dalam sana.
“Kyaaaa, kalian berani-beraninya melanjutkan semalam di kamar ini? Astaga kalian melakukan season dua?” pekik Shinta membuat Yona terkejut dan membuka matanya.
---
Promosi 'Velove Love' di Dre*ame ✌️
Sok Atuh Mampir 🙏🙏🙏
Nadia menggendong Velove yang tertidur dalam perjalanan mereka ke Indonesia, didekapnya erat Velove seakan takut jika keponakannya akan direnggut oleh Denis. Dalam hatinya seakan teriris melihat hidup Velove yang jauh dari kasih sayang. Melihat istrinya yang sejak tadi menggendong Velove, Fernand berinisiatif untuk menggantikan Nadia menggendong Velove.
Istrinya pasti lelah, tentu saja.
"Sayang biar Ve aku yang gendong, " ucap Fernand.
"Enggak usah , aku aja. Nanny tolong bawakan tasku," pinta Nadia menyerahkan tasnya kepada Gita.
Nadia melangkah ke dalam rumah keluarga Wijaya, dis ana Sonia sedang memberikan biskuit bayi untuk Dinka yang masih berumur 4 bulan.
"Mama," panggil Nadia membuat Sonia menoleh.
Sonia terperangah melihat cucu yang sudah lama tidak dilihatnya tidur dalam gendongan Nadia. Sonia berlari menuju mereka, sedangkan Fernand menghampiri Dinka yang duduk di kursi bayi. Fernand sangat merindukan bayinya.
“Velove? Kamu benar-benar membawa cucu mama kemari Nad?" Tanya Sonia sambil menutup mulutnya tak percaya. Dia pikir Nadia hanya bergurau saat menelepon dan bilang akan membawa Velove ke Indonesia bersamanya.
----
__ADS_1