My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Yona, Kau?


__ADS_3

Ponsel Regan tertinggal di meja ruang televisi Rumah Kanker. Gustin Justavo yang berada di sana bersama anak-anak langsung meraih ponsel milik Regan. Kepala lelaki itu celingukan mencari sosok Regan yang tidak kunjung kembali sejak beberapa menit yang lalu.


Begitupun dengan Olivia dan Yona yang katanya ingin mencari lelaki itu. Mereka tidak kunjung kembali, entah kemana mereka dan apa yang tengah mereka lakukan.


"Aideen, kalin tahu kemana Bibi Livi, Aunty Yona dan Uncle Regan pergi?" Tanya Gustin kepada Aideen.


Lelaki itu menggeleng, "tidak, Paman, aku tidak melihat Bibi Livi maupun Aunty Yona dan Uncle Regan," jawab Aideen pada akhirnya.


Gustin Justavo menyerngitkan keningnya. Lelaki itu melihat ke kanan dan kirinya. Ponsel itu terus saja berdering, nampaknya ada panggilan penting yang harus dia sampaikan kepada pemilik ponsel.


Gustin berdiri, lelaki itu berjalan menuju halaman belakang, berpikir jika ketiga orang tersebut ada di sana. Lelaki itu memicingkan matanya ketika tidak menemukan sosok yang dia cari, yang hanya ada beberapa anak-anak yang bermain di sana dengan para suster jaga mereka. 


Lelaki itu berbalik arah, kembali mencari ketiga orang tersebut hingga ke dapur Rumah Kanker. Beberapa asisten Rumah Kanker menatap Gustin Justavo dan memberikan salam kepada Tuan Besar mereka.


“Bapak mencari Ibu Livia?” tanya salah satu di antara mereka.


Gustin Justavo mengangguk, “kalian bertemu dengan Ibu Livia?” tanya Gustin Justavo kepada mereka.


Mereka berpikir sejenak, mengingat dengan pasti di mana mereka bertemu dengan Olivia.


“Sepertinya saya melihat Ibu Livia dan tamunya menuju kamar medis, Pak,” ucap wanita itu membuat Gustin Justavo menutkan kedua alisnya bingung.


Mereka ada di ruang medis? Kenapa mereka di sana? Apakah Regan mengalami masalah pada kondisi tubuhnya? Atau ada yang mereka sembunyikan dari Gustin Justavo?


“Mereka ke kamar medis?” tanya Gustin Justavo memastikan.


Para asisten Rumah Kanker mengangguk, tanpa menunggu lagi Gustin Justavo segera menuju kamar medis seperti apa yang telah asistennya katakan. Lelaki itu mengerutkan keningnya, suara-suara dari dalam kamar medis membuat lelaki itu yakin jika mereka ada di sana.

__ADS_1


Sebuah bola menggelinding di kaki Gustin, lelaki itu berhenti, melihat seorang anak lelaki yang tersenyum kuda ke arahnya sambari menunjuk bola yang kini ada di bawah kaki Gustin Justavo. 


“Paman, bolehkah Paman lempar bolanya ke mari?” tanya lelaki itu membuat Regan, Yona, dan Olivia menoleh kea rah pintu.


Mata mereka terbelalak, mungkinkah Gustin mendengarkan apa yang mereka bicarakn barusan? Kalau memang benar Gustin Justavo mendengarnya, maka rahasia yang Olivia simpan rapat selama ini akan terbongkar sia-sia. Olivia rasanya belum siap menghadapi lelaki itu.


“Ini, tangkap bolamu dan bermainlah di luar. Jangan di dalam ruangan, kamu bisa membahayakan teman-temanmu boy,” ucap Gustin Justavo tersenyum, sambari melempar bola ke arah anak itu.


“Terimakasih, Paman Gustin yang tampan,” ucap anak itu lalu berlari meninggalkan Gustin Justavo di sana.


Lelaki itu menatap ke arah pintu kamar medis, tangannya mulai mengetuk pintu itu sebelum memutar kenop pintu untuk membukanya. Wajah Olivia, Yona, dan Regan berubah. Olivia sontak saja memasang wajah bahagianya ketika pandangannya bertemu dengan pandangan mata suaminya.


“Kalian ada di sini? Siapa yang sakit?” tanya Gustin Justavo menatap mereka bertiga.


“Tidak ada, Yona dan Regan hanya ingin melihat-lihat isi kamar medis. Kenapa? Kamu mencari kami, ya?” tanya Olivia kepada Gustin Justavo.


“Regan mendapatkan panggilan masuk, sepertinya sangat penting sampai si penelpon menghubungi berkali-kali,” ucap Gustin Justavo menyerahkan ponsel itu kepada Regan.


Regan mengecek ponselnya, lelaki itu melihat nomor dari bagian akademik kemahasiswaan yang menghubunginya beberapa kali melalui WhatsApp. Lelaki itu memanggil kembali si penelpon untuk mengetahui apa kiranya yang tengah terjadi sampai menelponnya di masa-masa cuti yang dia ambil.


“Selamat siang, Pak Regan?” sapa seseorang di sana.


“Iya Bu, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Regan.


“Begini, Pak Regan. Berhubung kampus kita mendapatkan surat edaran untuk menghentikan proses belajar mengajar sampai dua minggu ke depan. Pihak kampus memberikan kebijakannya untuk melakukan kegiatan pembelajaran lewat elearning,” jelas bagian akademik kemahasiswaan kepada Regan.


Elearning? Kenapa mendengar itu rasanya otak Regan bereaksi sangat keras. Lelaki itu memejamkan matanya. Kilasan-kilasan balik yang beberapa hari ini tidak pernah menyapa dirinya mulai lagi menunjukkan aksinya.

__ADS_1


“Regan ada hal yang mendesak,“ ucap seorang wanita yang nampaknya ingin memberitahu Regan sesuatu lewat panggilan telepon mereka.


Regan menajamkan ingatannya, lelaki itu melihat sebuah kilas balik antara dirinya dengan seorang wanita. Keningnya berkerut, suara wanita nampak tidak asing di telinganya.


“Iya apa? Katakanlah.“


“Flashdisknya ketinggalan di rumah, bagaimana ini?” cicit wanita itu khawatir jika Regan akan mengamuk seperti gajah kehilangan gadingnya.


Terdengar suara helaan napas kasar dari sana, wanita itu mengigit bibirnya cemas.


“Ya sudah nanti materi akan aku kirim ke elearning saja, mereka suruh membukanya di sana,“ jelas Regan.


Elearning? Kilasan balik apa itu, kenapa Regan dan sang penelepon nampak begitu akrab. Regan meraskan tubuhnya terhuyung. Untung saja Gustin dengan sigap mencekal tangan Regan, memegangi lelaki itu.


“Aku tutup dulu, have fun, aku mencintaimu,“ ucap Regan segera menutup panggilan seseorang di sana sebelum Yona menyemprotnya dengan berbagai makian wanita itu.


Aku mencintaimu? Kenapa Regan harus mengucapkan hal itu kepada si penelpon? Regan merasakan kilasan baliknya begitu nyata. Suara seseorang itu sama persis dengan suara Yona. Lelaki itu menatap Yona dengan tatapan mata sayu.


“Yona? Kau?”


-


-


Hello, author mau memberikan sekilas info untuk teman-teman author yang mungkin membaca ini. Silahkan kalau teman-teman mau bergabung dengan grup Tiya. Namanya ‘Calon Author Femes’, aminn.. 


Di sana bakalan diadakan kelas kepenulisan seminggu sekali, banyak author-author hebat yang ahli dibidangnya. Tidak hanya kelas mingguan, kalian juga bisa tanya-tanya dengan para author di sana perihal kepenulisan. Mari kita sama-sama menjadi author femes yang paham kepenulisan dan etika dalam kepenulisan.

__ADS_1


Yang mau gabung boleh tinggalkan WA-nya ya nanti bisa dihapus setelah Tiya save.


__ADS_2