My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Antusiasme Buibu


__ADS_3

Yona dan Regan segera keluar dari mobil, mereka menatap Hendra dengan waspada. Sangat memalukan ketahuan berciuman di depan orang tua. Yona menggaruk lehernya yang tidak gatal, tangannya meremas ujung pakaian yang saat ini dia kenakan.


Hendra menatap keduanya. “Jangan lakukan hal seperti itu di tempat terbuka,“ ucap Hendra yang tidak terduga sama sekali oleh Yona dan Regan.


Apa itu artinya Hendra tidak marah melihat putrinya berciuman dengan lelaki di depan matanya?


Yona menggelengkan kepalanya tak percaya, daddynya benar-benar sudah jatuh hati dengan Regan. Yona berani bertaruh semua yang dia miliki sekarang, jika saja dia ketahuan berciuman dengan lelaki selain Regan mungkin dia akan didepak dari kartu keluarga William.


Daddynya benar-benar pilih kasih!


“Daddy tidak memarahi Regan?” tanya Yona melirik Regan yang kini memicingkan mata ke arahnya.


“Kenapa Daddy harus memarahi Regan?” tanya Hendra balik.


“Dia kan mencium anak daddy, putri daddy satu-satunya.“ 


“Kan kamu menikmatinya juga,“ jawab Hendra menghendikkan bahunya.


Yona membelalakkan matanya, Yona sudah tahu lagi apa yang dipikirkan Hendra tentang dirinya dan Regan.


“Ayo Regan, masuk ke dalam minum teh bersama,“ ajak Hendra diangguki Regan.


Regan berjalan di samping Hendra dan saling menyapa satu sama lain. Di belakang mereka, Yona menatap kedua lelaki itu dengan tatapan tidak terima.


Regan menoleh ke belakang, dia mengedipkan matanya ke arah Yona. 


“Jangan merasa menang dulu Regan!” gumam Yona menatap Regan dengan membunuh.


Yona mengikuti langkah mereka hingga sampai didalam rumah besar keluarga William. 


“Yona ganti baju dulu,“ pamit Yona melangkah menaiki anak tangga dirumahnya menuju kamar kebesarannya.


Huhhh, helaan napas Yona lelah dengan aktivitasnya seharian ini yang sudah menyita keringat dan juga hatinya. 

__ADS_1


Yona menyentuh dadanya, mengingat bagaimana dada itu bergemuruh ketika Regan menciumnya dan melakukan sentuhan kecil meskipun hanya sekedar menyentuh tangannya dan yang lainnya.


Apakah ada yang salah dengan detak jantung Yona? Kenapa tubuh Yona bereaksi berlebihan hanya dengan Regan si manusia es yang tidak pernah romantic ataupun bersikap manis kepadanya.


Yona menatap dirinya dari kaca, tangannya menyentuh bibir. Menggerayangi bibir mungilnya yang sudah dua kali dalam sehari dicecap oleh Regan. Mungkinkah itu pertanda bahwa Regan mulai menyukai dirinya?


Senyuman muncul dibibir Yona, wajahnya memerah membayangkan Regan telah jatuh hati kepadanya. Haruskah Yona mulai membuka diri untuk Regan dan menerima perjodohan mereka seperti apa yang orang tua mereka inginkan selama ini.


Namun sebagai wanita, Yona ingin Regan yang mengucapkan terlebih dahulu niat berhubungan lanjut dengannya. Yona ingin merasakan moment-moment romatis itu dia lakukan bersama Regan.


“Benarkah dia mulai menyukaiku?” tanya Yona berbicara kepada dirinya sendiri, menepuk pelan pipinya.


Yona segera mandi, menyegarkan tubuhnya sebelum kembali ke bawah bergabung dengan keluarganya.


Baru saja kaki Yona sampai di anak tangga pertama dari atas, suara tawa orang tuanya dan Regan membuat Yona menghentikan langkahnya. Suasana rumah tidak pernah sehangat ini sejak dia pulang dari Paris karena kakak lelakinya menetap di London untuk beberapa saat.


Tidak ada tawa bahagia menggema di rumah besar nan megah itu, aktivitas para penghuninya selalu sama saja dari hari ke hari. Jika para pemiliknya tidak ada, maka hanya akan terlihat lalu lalang para asisten rumah tangganya yang sibuk membersihkan seluruh rumah.


“Regan masih di sini?” yanya Yona membuat daddy, mommy, dan Regan menatap ke arahnya.


“Baru saja Regan di sini,“ ucap Shinta membela Regan.


Kalau di rumah Regan, sang bunda akan membela Yona mati-matian. Tapi kalau di rumah Yona, mommynya akan membela Regan dari rundungan-rundungan yang Yona arahkan pada lelaki itu.


“Regan sudah makan?” tanya Shinta perhatian.


“Anak sendiri tidak diperhatikan, malah orang lain yang diperhatikan,“ keluh Yona duduk di seberang Regan.


“Kan Regan sebentar lagi jadi anak menantu rumah ini,“ jawab Shinta menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Yona.


“Kalau jadi, kalau enggak?” tanya Yona menyunggingkan senyumnya.


“Yona!“ teriak Hendra, Shinta, dan Regan bersamaan, tidak suka dengan apa yang Yona katakan.

__ADS_1


“Ckckck, kompak sekali,“ Yona menggelengkan kepalanya.


Yona dan Regan saling menatap sinis.


Dasar pencari muka, batin Yona mengumpat.


Dasar perusak suasana, batin Regan mencibir.


“Jangan-jangan kalian cuma ekting di depan kami berantem, di luar kalian mesra-mesraan,“ tuduh Hendra menaikkan alisnya.


“Benarkah?” tanya Shinta ikut penasaran.


“Mereka ke gap ciuman di luar,“ jelas Hendra membuat Yona dan Regan menganga tak percaya.


“Itu kabar bagus dong,“ jawab Shinta dengan senyuman merekah tersungging di bibirnya.


Shinta bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju telepon rumah unruk memberi kabar pada sekutunya.


“Hallo Lili, aku punya kabar baik untukmu,“ ucap Shinta ketika panggilannya kepada Lili sudah diangkat.


“Apa itu Shin?”


“Anak-anak kita sudah ciuman!” pekik Shinta girang.


Yona dan Regan saling berdecak, mereka tidak tahu ciuman di antara mereka akan membawa dampak seperti ini untuk orang tua mereka.


“Benarkah?” pekik Lili tidak kalah bersemangat.


“Sepertinya kita akan jadi besan sebentar lagi,“ ucap Shinta terkekeh, dia memberikan acungan jempol kepada Yona dan Regan yang kini melongo menatap tingkah ibu dua anak itu.


Sedangkan Yona dan Regan mengusap wajah mereka dengan frustasi. Inilah kacaunya ke gap ciuman oleh orang tua mereka. 


Harusnya Yona tidak membiarkan Regan menciumnya! Regan harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah lelaki itu sebabkan di dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2