My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Pembuat Onar


__ADS_3

Kedatangan Regan ke rumah keluarga William tentu saja membuat Shinta, Yona, dan Ariana terbelalak. Bagaimana mungkin lelaki itu melanggar tradisi pingitan yang masih dipercaya kebanyakan orang sebelum pasangan bertemu di pelaminan. Ketiga wanita itu berdiri untuk menghampiri Regan.


“Buket bunga untukku?” tanya Yona berharap.


“Sayangnya tidak, bunga ini untuk mommy. Terimakasih Mommy, sudah melahirkan Yona dan membesarkan Yona hingga mempertemukan kamu dalam ikatan perjodohan,” ucap Regan menyerahkan satu buket bunga mawar kepada Shinta.


Lelaki itu memberikan satu buket bunga mawar kepada Shinta. Melihat kekonyolan calon suaminya, Yona hanya mampu mencebik dengan tingkah Regan yang selalu ada-ada saja setiap harinya. Setelah datang tiba-tiba dengan membawa banyak makanan beberapa hari yang lalu, kini Regan datang dengan membawa satu buket bunga mawar. Memakai alibi satu buket bunga mawar itu sebagai ucapan terimakasih kepada Shinta karena telah melahirkan Yona sampai pada akhirnya mereka dipersatukan dalam sebuah perjodohan.


Shinta menggelengkan kepalanya. Kemarin Regan datang membawa banyak makanan yang katanya tidak ingin Yona sampai sakit karena telat makan. Sekarang alibi lelaki itu adalah coklat.


“Wuah terimaksih, Regan. Tapi sebaiknya kamu tidak perlu membawa makanan ataupun bunga ke sini untuk sementara waktu,” jawab Shinta menerima buket bunga dari Regan dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Regan tersenyum lembut. “Regan hanya mau mengucapkan terimakasih kepada Mommy, tanpa Mommy mungkin Regan tidak bisa bersama dengan Yona,” ucap Regan kepada Shinta.


Mengucapkan terimakasih atau hanya ingin melihat wajah wanitamu, Regan? Semua orang juga tahu kalau kedatangan Regan ke rumah keluarga William karena kerinduannya akan sosok Yona yang sudah tidak bisa dia bendung lagi. 


Bukankah zaman sudah semakin maju? Tidak elok jika kita masih mempercayai tradisi yang belum tentu benar adanya. Yang paling penting adalah Regan dan Yona bisa menjaga dirinya sendiri sampai pernikahan mereka tiba.


“Sekarang sudah memberikan mommy bunga, kamu bisa pulang sekarang, jalani prosesi pingitan kalian,” ucap Shinta meminta Regan pulang secara terang-terangan.


Arianna mengulum senyumnya geli. “Benar yang dikatakan Mommy, kamu harus pulang sekarang Regan,” kekeh Arianna menggelengkan kepalanya karena merasakan bagaimana perasaan Regan saat ini.


Regan menatap Yona, meminta bantuan kepada calon istrinya agar dia bisa di sana sebentar saja untuk menghilangkan kerinduannya dengan Yona. Namun Yona justru memalingkan wajahnya, dia tipe wanita yang menjunjung tinggi adat istiadat. Yona hanya tidak ingin melanggar aturan dan menyebabkan hal-hal buruk nantinya.


“Kamu mendengarnya kan, Regan?” tanya Yona bersidekap, memicingkan matanya ke arah Regan. Rasanya kesal sekali saat Yona mati-matian menahan ego untuk tidak keluar dari rumah malah Regan yang datang ke rumahnya dengan wajah tanpa dosa khas lelaki itu.


Mendengar jawaban yang sama sekali tidak mendukungnya, Regan kembali memutar otaknya. Mencari cara agar dia bisa sedikit lebih lama bersama dengannya.


“Astaga, kenapa perutku jadi mules begini? Mommy, biarkan Regan numpang ke toilet sebentar,” ucap Regan berpamitan.


Raut wajah lelaki itu berubah, menampakkan ekspresi layaknya orang menahan sakit perut. Melihat raut ketegangan dari wajah Regan membuat Shinta merasa iba, wanita itu menganggukkan kepalanya, memberikan izin kepada Regan untuk memakai toilet di rumahnya sebelum lelaki itu kembali pulang.


Dasar pencari alasan! Umpat Yona di dalam hatinya. Yona hafal benar bagaimana tingkah laku Regan.


Regan langsung berlari menyelonong masuk, lelaki itu tidak memakai toilet yang ada di lantai bawah. Regan justru menapakkan kakinya menaiki anak tangga rumah keluarga William untuk menuju kamar mandi yang berada di kamar pribadi Yona. 


Sang pemilik memicingkan matanya ketika melihat Regan berlari menaiki tangga rumahnya. Kening Yona berkerut, tidak mengerti apa yang kini tengah Regan rencanakan.


“Yona, sebaiknya kamu susul Regan. Bawa obat pencahar juga, kasihan kalau sakit perutnya tidak hilang pas pernikahan kalian,” ucap Shinta kepada Yona. Shinta sangat khawatir jika Regan sampai sakit padahal hari pernikahan Regan dengan Yona tinggal sebentar lagi.


Apakah mommynya tidak tahu bahwa semua yang Regan lakukan hanya ekting semata? Atau mommy Yona sengaja agar Regan dan Yona memiliki waktu sebentar untuk meluapkan kerinduan mereka.


“Hm, Yona akan menyusul Regan,” jawab Yona, “dan menyeretnya untuk keluar dari rumah ini sekarang juga,” lanjut wanita itu.


Kaki Yona melangkah menuju dapur, mengambil kotak obat yang tersimpan di sana. Setelah itu Yona perlahan menaiki anak tangga mengarah ke kamar pribadinya.


"Mommy yakin itu benar-benar sakit perut?" tanya Ariana.


"Tentu saja tidak, Mommy hanya kasihan kalau mereka selalu rindu," kekeh Shinta malah bernyanyi lagu Selalu Rindu.


Yona membuka pintu kamarnya.


“Regan? Arh,” pekik Yona langsung ditutup mulutnya oleh Regan.


Lelaki itu sudah menanti kedatangan Yona sejak tadi. Lelaki itu langsung mendorong pintu kamar Yona dan menguncinya dari dalam.


“A-apa yang kau lakukan?” tanya Yona menatap Regan dengan matanya membulat sempurna.


Tidak menjawab pertanyaan dari Yona, Regan malah menarik tubuh wanita itu untuk dia dekap dengan begitu erat.


“Aku merindukanmu,” lirih Regan, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Yona yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.


Regan tidak bisa jauh dari Yona bahkan hanya sekejap saja. Lelaki itu setiap satu jam sekali selalu menelepon Yona lewat panggilan video. Memastikan Yona berada dalam kondisi baik-baik saja dan tidak perlu dia khawatirkan.


“Kamu tidak merindukanku?” tanya Regan menatap Yona tepat di manik mata wanitanya.

__ADS_1


Yona mengangguk. “Aku juga merindukanmu, pertanyaan macam apa itu, Regan,” jawab Yona mengelus wajah Regan dengan lembut.


Regan mendaratkan satu kecupan hangat di kening Yona.


“Kau tahu, hidupku terasa hambar jika sehari saja aku tidak melihat wajahmu,” ucap Regan membuat darah Yona tiba-tiba berdesir begitu hebat.


"Benarkah?" tanya Yona diangguki Regan.


Yona meletakkan tangannya di pundak Regan. “Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus, Regan. Kita sedang dipingit sekarang ini,” jawab Yona mencoba memberikan pengertian kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Regan kembali mendekap Yona, mencium puncak kepala wanita itu.


“Kalau kita tidak bisa bertemu, bagaimana kalau kita ketemuan saja di luar?” tanya Regan mendapatkan sikutan tajam dari Yona pada perut bidang miliknya.


“Itu sama saja, Regan!” ucap Yona kesal.


Mereka terkekeh, Yona mengelus wajah Regan, mendongakkan matanya menatap mata yang begitu hangat hingga mampu meluluhkannya.


Regan nampak berpikir sejenak. “Kamu ingat peramal di Jembatan Pulteney?” tanya Regan membuat Yona menaikkan satu alisnya.


“Peramal yang waktu itu?” tanya Yona balik.


Tentu saja Yona masih teringat peramal saat dia main kucing-kucingan bersama Regan karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua.


Regan mengangguk mengiyakan. “Sepertinya kita akan bulan madu di Kota Bath, aku ingin di sana dan bertemu dengan permal itu lagi,” ucap Regan semakin membuncahkan perasaan ingin tahu pada diri Yona.


“Memangnya kenapa? Kamu memimpikan peramal itu juga?” Yona menautkan kedua alisnya penasaran.


Lelaki itu mengangguk mengiyakan.


“Hari di mana aku tersadar dari komaku, aku memimpikan lelaki itu, Yona. Saat aku memikirkannya lagi, dia telah memperkirakan kejadian perampokan itu sebelum kita pulang dari Bath. Dia mengatakan kita akan mengalami proses panjang sebelum kita benar-benar bersatu,” ucap Regan menjelaskan pemikirannya kepada Yona.


Hari itu Regan bermimpi seperti nyata, dia berlari mengejar peramal itu hingga akhirnya Regan terbangun dari tidur panjangnya.


“Benarkah?” tanya Yona nampak tertarik dengan cerita Regan. Yona menghela napasnya panjang. “Tidakkah kau rasa itu hanya mimpimu saja?” tanya Yona memastikan.


“Kamu pikir ini hanya ilusi fana? Aku seperti mengejar peramal itu sebelum aku sadar dari komaku,” jelas Regan dengan ekspresi wajah penuh keseriusan.


Tidak menangkap raut kebohongan dari wajah lelakinya, pada akhirnya Yona mempercayai ucapan Regan. 


“Sebentar, kita di Bath? Jangan-jangan kamu hanya berniat menghemat ongkos hotel bulan madu dengan tidur di rumah keluargaku di sana?” pekik Yona dengan matanya menelisik.


Detik selanjutnya Regan terbahak. “Itu bisa jadi benar,” kekeh Regan mengecup kening Yona sekali Yona sebelum lelaki itu berlari keluar dari kamar Yona.


"Ke mari kau Regan!" teriak Yona dengan kesal.


"Aku pulang dulu, Sayang. Jangan lupa lihat kadoku," pamit Regan terkekeh.


Regan harus menyelamatkan dirinya daripada menjadi objek kemarahan Yona untuk saat ini. Lelaki itu terkekeh mendengar suara teriakan Yona memanggil namanya.


“Regan, sudah selesai menabungnya?” tanya Arina saat berpapasan dengan Regan.


“Iya Kak Ana, terimakasih sudah memberikan Regan izin menumpang,” kekeh Regan membuat Arina menggelengkan kepalanya.


Rupanya bukan cuma adik lelakinya saja yang kehilangan kewarasannya ketika jatuh cinta. Regan dan teman-temannya yang lainnya juga sama. Mereka menjadi pribadi yang berbeda ketika cinta telah menguasi seluruh relung hati para lelaki famous di zamannya.


“Mommy, Regan pamit pulang dulu. Titip calon istriku ya Mom?” ucap Regan berpamitan kepada Shinta yang tengah memastikan letak bunga baru di vas bunga.


“Awas ya kalau kamu datang lagi ke rumah sebelum ijab qobul selesai dilaksanakan,” ancam Shinta.


“Siap, Bos,” jawab Regan memberikan hormat kepada Shinta.


“Hati-hati di jalan, ingat pesan Mommy. Kamu harus menjaga dirimu sebaik mungkin, karena sebentar lagi Yona akan menjadi bagian dari hidupmu juga,” ucap Shinta memberikan wejangannya.


“Tidak dikasih tips-tips malam pertama juga, Mommy?” kekeh Regan membuat Shinta membelalakkan matanya.

__ADS_1


Astaga, jadi Regan mendengarkan ceritanya tentang malam pertamanya dengan sang suami? Haduh, bisa malu Shinta.


“Kamu mendengarkannya?” tanya Shinta dengan mata terbelalak.


“Sedikit, hanya soal berdarah saja,” kekeh Regan, mencium tangan calon ibu mertuanya.


“Astaga, astaga,” gumam Shinta menganga tidak percaya.


Nampaknya kedatangan Regan secara kilat di rumah keluarga William mampu mengusik kesabaran anak dan ibunya. Regan sukses membuat Yona dan Shinta merasa kesal karena kelakuannya.


“Untung saja putriku mencintai lelaki itu,” ucap Shinta memijit keningnya yang terasa pening.


Ariana hanya menghendikkan bahunya, rasanya rumah begitu hidup dengan kekonyolan-kekonyolan seperti itu.


“Regannnn!” pekik Yona berlari menuruni tangga, wajahnya terlihat kesal.


“Emmm, aku mendengarnya. Aku juga mencintaimu,” ucap Regan menaikkan suaranya.


Aku juga mencintaimu? Heleh, kapan Yona mengatakan wanita itu mencintai Regan? Justru Yona ingin mencaik-cabik Regan karena sudah berhasil mengerjainya. Kalian harus tahu apa yang dilakukan Regan saat ini.


Lelaki itu menuliskan kalimat keramat di kaca meja rias milik Yona dengan lipstick termahal yang Yona miliki.


Tunggu aku membawakanmu paket ungu sebagai hantaran pernikahan.


“Hah, pesan macam apa itu?!” kesal Yona merasakan emosi naik sampai ke atas ubun-ubunnya.


Jadi Regan masih mengingat kejadian si ungu? Di mana Yona meminta Regan dan Nino mantan kekasihnya untuk membelikannya dalaman hanya karena Yona merasa kesal setengah mati dengan kedua lelaki itu. 


Tapi nampaknya Regan masih mengingat jelas, apa yang Yona sukai dan tidak Yona sukai.


Benar-benar mengesalkan Regan itu! Awas saja nanti!


“Apa yang terjadi, Yon?” tanya Shinta penasaran.


Yona menoleh, membalikkan tubuhnya menatap sang mommy.


“Mommy sendiri kenapa wajahnya syok begitu?” tanya Yona ikut penasaran.


“Mommy habis dikerjain sama Regan kayaknya,” jawab Shinta menghela napasnya panjang.


“Wuahh paket komplit bener si Regan habis bikin kesel aku langsung ngerjain mommy juga?” Yona memicingkan matanya, menekuk wajahnya sebal.


Shinta menepuk lengan Yona. “Semoga anak-anakmu nanti tengilnya enggak seperti bapaknya aja ya,” doa Shinta karena dia sendiri mungkin tidak akan sanggup menghadapi keusilan-keusilan anak Yona dan Regan nantinya jika mereka menuruni tingkah mengesalkan ayahnya.


Bisa-bisa Shinta mati muda karena struke meladeni cucu-cucunya.


Prangg!


Semua orang menoleh, Shinta mengelus dadanya yang kini berdebar.


“Chiko!” pekik Ariana melihat Chiko tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga kesayangan Shinta.


“Im sorry, Mami,” jawab Chiko menaruh tangannya di telinga, pertanda bahwa bocah itu tidak sengaja dan benar-benar menyesal atas kesalahannya.


Ariana menarik tangan Chiko menjauhi pecahan vas bunga.


“Lain kali lihat-lihat kalau kamu berjalan, Chiko. Sekarang minta maaf sama Grandma Shinta,” titah Ariana dengan tegas.


Machiko mengangguk, bocah itu berjalan dengan penuh sesal menghampiri Shinta.


“Grandma, im sorry. Chiko tidak sengaja,” ucap Chiko dengan lirih, bocah itu bahkan tidak berani mengangkat kepalanya karena merasa takut akan mendapatkan omelan dari para orang dewasa atas kesalahannya meski itu tidak dia sengaja sama sekali.


Shinta mengelus puncak kepala Machiko. Mencoba menghibur perasaan cucunya yang mungkin tengah ketakutan kali ini.


“Jangan bersedih Sayang, Grandma memaafkanmu,” jawab Shinta meringis. Mau bagaimana lagi, Shinta tidak mungkin marah dengan cucunya karena sudah memecahkan vas bunga kesayangannya yang harganya semahal mobil Eropa.

__ADS_1


Yona terkikik geli. “Sepertinya sudah jadi takdir Mommy memiliki cucu-cucu pembuat onar,” kekeh Yona meninggalkan Shinta yang tercengang di tempatnya.


__ADS_2