
Jalanan menuju rumah Naomi terlihat sangat remang-remang, padahal rumah Naomi termasuk berada di tengah Kota Bandung dan menjadi salah satu komplek perumahan para elite.
Yona mengamati ponselnya, membuka google maps yang Naomi kirimkan padanya. Saat ini wanita itu bersama dengan Regan tengah melakukan perjalanan menuju rumah Naomi untuk memberikan undangan pertunangan mereka kepada Naomi beserta keluarganya.
Regan terlihat sangat fokus dengan jalanan didepannya. Nuansa horor, sekaligus sangat sepi membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri.
"Kamu yakin Naomi tinggal di daerah sini?" tanya Regan yang merasa tidak yakin.
"Emm, ini dia mengirimkan lokasi rumahnya," jawab Yona.
"Setelah ini arahnya ke mana?" tanya Regan lagi.
"Kita ambil kiri, masih lurus terus sekitar lima kilo meter," jelas Yona membuat Regan menoleh kearah Yona yang kini duduk disampingnya.
Regan menatap ke sekeliling jalan, daerah itu sangat sepi. Semua rumah tertutup rapat khas rumah-rumah perkotaan. Padahal jam baru menunjukkan pukul delapan malam.
"Kenapa tidak ada satpam atau warga sama sekali?" Regan seperti bergumam.
Yona mengangguk menyetujui ucapan Regan, setidaknya meskipun komplek perumahannya lebih elit dan juga lebih mewah dari pada komplek disini daerah rumahnya sangat ramai dan jalan-jalannya juga sangat terang.
"Seharusnya kita berikan besok saja, jalannya mengerikan," ucap Regan mengusap tengkuknya entah karena dingin atau merasakan suasana mencekam di sana.
Lelaki itu nampaknya teringat dengan adegan didalam film horor yang pernah dia tonton. Jalanan sepi, pencahayaan remang-remang yang saat ini mereka lewati khas sekali dengan adegan horor yang sering dipertontonkan difilm-film horor.
"Jangan bilang kamu sedang ketakutan?" tuduh Yona menoleh ke arah Regan.
Wajah Regan terlihat sangat pias, lelaki itu menatap lurus jalanan didepannya tanpa berniat meladeni ucapan Yona yang kini menatapnya dengan menggoda.
Andaikan saja Yona tahu jika Regan tengah was-was dihinggapi rasa merinding takut yang menyergapnya, mungkin Regan akan menjadi bahan olok-olokan Yona sampai wanita itu merasa puas.
"Lihat lihat wajahmu bersemu merah sekarang," tunjuk Yona ke arah Regan membuat lelaki itu memutar bola matanya kesal.
"Jangan menuduh yang bukan-bukan!" hardik Regan mencekal tangan Yona.
"Jadi kamu penakut ya?" kekeh Yona tidak kuasa menahan tawanya.
Siapa sangka, lelaki seperti Regan sangat takut dengan hal-hal berbau horor.
"Tidak sama dengan tubuh kekarmu yang sangat sexy," ejek Yona dengan sengaja menekan kata sexy diujung kalimatnya.
Regan hanya mendengus mendengar ejekan-ejekan yang keluar dari mulut calon tunangannya itu. Yona menoleh ke arah Regan, menyentuh lengan lelaki itu.
"Sebelum setannya menunjukkan diri mereka, mereka pasti akan berlari ketakutan terlebih dahulu," ucap Yona membuat Regan menaikkan alisnya, pertanda lelaki itu sangat penasaran dengan apa yang Yona katakan selanjutnya.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Regan penasaran.
"Kamu lebih mengerikan dari setan jika sedang marah," jawab Yona dengan tawa yang meledak memenuhi penjuru isi mobil milik Regan.
Benar bukan tebakan Regan, Yona pasti akan mengambil kesempatan untuk mengolok-ngolok dirinya dengan berbagai ejekan yang terlontar dari mulut manis wanita itu.
Yona tertawa sangat keras, hingga matanya menyipit karena tawa yang menghiasi wajahnya.
"Berhenti tertawa atau aku harus menyumpal mulutmu dengan mulutku?" ancam Regan sontak saja membuat Yona menutup mulutnya dengan kedua tangan wanita itu, dan berhenti tertawa sebelum Regan benar-benar menyumpal mulutnya dengan mulut lelaki itu.
Alias mencium Yona sekarang juga!
Tidakkk! Ini bukan saat yang tepat untuk ciuman.
"Itu itu, yang atas pagarnya berwarna gold," tunjuk Yona melihat rumah Naomi sesuai dengan apa yang wanita itu jelaskan mengenai ciri-ciri rumahnya.
Regan menghentikan mobilnya di depan rumah Naomi.
"Nomornya sudah bener apa salah?" tanya Regan menoleh kepada Yona.
Rumah itu bernomor 514.
"Iya rumah nomor lima ratus empat belas, sudah bener kok," jawab Yona beranjak keluar dari mobil dan berjalan kearah pagar rumah Naomi.
Wanita itu menekan tombol bel berkali-kali, Yona juga menghubungi Naomi dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di rumah Naomi.
"Sebentarr," teriak seseorang dari dalam rumah.
Naomi berlari kecil membukakan pagar rumahnya, wanita itu terlihat sangat sederhana dengan pakaian rumahnya. Sangat berbeda dengan Naomi yang selalu tampil modis ketika berpergian.
"Ayo masuk," ajak Naomi mempersilahkan Yona dan Regan untuk masuk kedalam rumahnya.
Regan dan Yona memberikan salamnya ketika mereka berdua memasuki rumah Naomi. Naomi mempersilahkan Regan dan Yona untuk duduk di ruang tamunya.
"Mau minum apa?" tanya Naomi.
__ADS_1
"Terserah tuan rumah saja," jawab Yona tersenyum.
Naomi lalu menatap Regan, menunggu jawaban dari calon tunangan temannya.
"Sama seperti Yona saja," timpal Regan akhirnya.
Naomi beranjak menuju dapur, meninggalkan Yona dan Regan di sana berdua. Rumah Naomi terlihat sangat sepi, mungkin orang tua dan adiknya sedang pergi keluar.
Tidak lama kemudian, Naomi datang membawa nampan berisi minuman dan juga makanan ringan sebagai cemilan mereka mengobrol.
"Aduh aku jadi nggak enak, padahal aku becanda loh Yon minta undangannya," ucap Naomi dengan wajah sungkannya.
"Apaan sih Na, tanpa kamu bilang sekalipun aku juga berniat memberikan undangan untukmu kok. Sekalian aja tadi aku sama Regan habis keluar jadi mampir ke sini," jelas Yona diangguki setuju oleh Regan.
"Jalannya remang-remang ya?" tanya Naomi tidak enak.
"Iya, padahal sini kan tengah kota ya kenapa bisa sepi gitu," ucap Yona menyuarakan isi hatinya.
"Kebanyakan rumah disini kosong, bahkan sempat ada rumah yang kemalingan saja dua minggu baru ketahuan kalau habis kemalingan," jelas Naomi membuat Yona bergidik ngeri.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wanita itu merasa tidak tenang dalam perjalanannya nanti ketika dia dan Regan pulang.
"Kenapa pindah ke daerah rawan sih Na? Kenapa enggak milih apartemen mungkin?" tanya Yona.
"Ini itu rumah ibunya nyokap, ya udah kita sekeluarga pindah ke sini aja," jawab Naomi.
Yona dan Regan hanya mangut-mangut pertanda mengerti, tidak lama kemudian orang tua Naomi datang bersama adik Naomi. Baik Yona maupun Regan memberikan salam kepada mereka semua.
Karena waktu yang sudah semakin larut, keduanya memilih untuk berpamitan undur diri sebelum jalanan semakin sepi.
"Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa telepon Naomi saja ya biar kami samperin ke sana," ucap papa Naomi mengantarkan Yona dan Regan hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Regan mengklakson tanpa mereka akan segera jalan, Naomi beserta keluarganya mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati!" seru Naomi begitu mobil yang dinaiki Regan dan Yona melaju meninggalkan rumahnya.
Jalanan selebar enam meter tidak membuat Regan merasakan lega dalam perjalanannya. Meski jalanan itu terbilang halus tanpa lubang, tapi rasanya perjalanan mereka tidak kunjung memasuki jalanan utama daerah itu.
"Jangan ngebut Re, takutnya nanti ada kucing nyebrang," ucap Yona mewanti-wanti calon tunangannya.
Regan mengangguk, lelaki itu memilih untuk memutar lagu didalam mobilnya untuk mengisi kesunyian yang menyapa mereka.
"Kamu maunya berapa? Itu sudah banyak kok," ucap Regan menjawab.
"Gimana kalau ditambahin payung, seperti yang ini?"
Wanita itu menunjukkan gambar payung di media sosial yang menjual aneka souvenir acara seperti ulang tahun, pertunangan, pernikahan, bahkan syukuran kelahiran anak. Ada berbagai macam souvenir di sana, dan mereka berdua telah sepakat untuk memilih empat buah macam souvenir pertunangan mereka yang nantinya akan dijadikan satu didalam paper bag bertuliskan nama mereka.
"Besok saja kalau kita menikah, hari sudah mepet masih saja bertingkah" cibir Regan membuat Yona mendengus kesal mendengar ucapan lelaki itu.
Citttttttttttttt, bruakkkkk..
Regan segera mengerem mobilnya begitu motor di depannya tiba-tiba terjatuh di depan sana. Yona mencekal tangan Regan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Yona kepada Regan.
"Mereka jatuh Yona, kita harus menolongnya," ucap Regan membuat Yona menggeleng.
"Bagaimana jika mereka orang jahat? Di sini sangat sepi Regan," kata Yona melihat ke sekelilingnya yang ternyata hanya pepohonan saja.
"Kita harus menolong mereka yang tertimpa musibah, tidak apa-apa," jawab Regan mengelus pipi Yona menenangkan wanita itu.
Regan membuka pintu mobilnya.
"Heiiii Regannnn, astaga lelaki itu!" keluh Yona ketika Regan berjalan tanpa ada rasa takut sedikitpun jika pengendara motor di depannya adalah orang jahat yang berniat buruk kepada mereka.
Apalagi ini mendekati hari pertunangan mereka berdua, Yona tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepada mereka berdua sehingga menyebabkan acara pertunangan mereka yang tinggal menghitung hari menjadi gagal berantakan.
Yona segera mengikuti Regan untuk menghampiri dua lelaki yang terjatuh di depan mobil mereka.
"Regan, bagaimana?" tanya Yona sangat khawatir.
Kedua lelaki itu menatap Yona lekat-lekat, pandangan kedua lelaki itu saja membuat dada Yona berdetak tidak karuan. Mereka menatap Yona dengan menelisik, seakan memperhitungkan berapa nilai segala aksesoris yang wanita itu pakai.
"Kami tidak papa, Mas, maaf karena mengganggu perjalanan kalian," ucap salah satu diantara mereka.
Regan membantu mereka untuk berdiri.
"Kenapa bisa jatuh, Pak? Padahal tidak ada lubang," tanya Yona menatap jalanan itu yang masih mulus seperti paha miliknya.
__ADS_1
"Saya agak meleng, jadi saya kira tadi ada kucing lewat makanya saya ngerem mendadak," ucap lelaki itu diangguki Regan dan Yona.
"Kalau begitu kami pamit melanjutkan perjalanan Pak, mari," pamit Regan dengan sopannya.
Regan menggandeng tangan Yona, lelaki itu menuntun Yona hingga Yona masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba saja salah satu lelaki itu menghampiri Regan dengan menodongkan pisaunya ke arah perut Regan.
"Berhenti bergerak dan jangan melawan atau nyawa kalian akan melayang," ucap lelaki berumur empat puluh tahunan itu kepada Regan.
Regan mengangkat tangannya tiarap, Yona yang melihat itu langsung terbelalak. Regan menoleh kearah Yona, Regan menggeleng pertanda bahwa Yona tidak boleh keluar dari mobil.
"Yona kunci mobilnya dari dalam!!" teriak Regan membuat lelaki yang satunya berlari kearah Yona dan mencoba untuk membuka pintu mobil dengan paksa.
Klik, pintu mobil sudah wanita itu kunci dari dalam.
"Beraninya kamu!" teriak penjahat itu melayangkan tinjunya ke perut Regan.
Yona dengan segera menghubungi kantor polisi dan memberitahu mereka dimana mereka kini berada.
Mereka tidak tahu jika Regan sangat ahli dan juga lincah dalam aksi bela diri. Regan dengan cepat melayangkan pukulan mautnya dan meringkus lelaki yang menodongkan senjata kearahnya.
Brakkk, Regan memukul wajah penjahat itu hingga terkapar di jalan dengan pisaunya yang sudah terlepas dari tangannya.
Satu penjahat lagi menyerang Regan, mereka saling melayangkan pukulan maut mereka. Regan mundur kebelakang setelah mendapatkan pukulan dari lelaki itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" cemas Yona didalam mobil.
Dia tidak mungkin keluar dari mobil, tapi Yona juga tidak mungkin membahayakan diri Regan.
Penjahat yang tadinya terkapar di jalan nampaknya mulai merangkak untuk meraih pisau yang terlepas dari genggamannya. Mata Yona terbelalak, wanita itu dengan cepat berpindah ke jok belakang untuk mengambil linggis dari bagasi mobil.
Wanita itu berlari keluar dari mobil dan menghantam leher lelaki itu dengan kencang. Tangan Yona bergetar saat penjahat itu terkapar lemas di jalan.
Regan segera meringkus satu penjahat lainnya yang terlihat masih berusaha untuk melawannya. Satu pukulan terakhir, menjadi akhir perlawanan Regan hingga penjahat itu tersungkur di sana.
Yona melempar linggis itu dan berlari memeluk Regan. Wanita itu menangis dalam pelukan Regan.
"Regan, aku tidak membunuhnya kan?" isak Yona dalam pelukan Regan.
"Aku tidak yakin, tapi kamu tidak membunuhnya," ucap Regan menenangkan Yona yang kini menangis dalam pelukannya.
Penjahat yang sudah terkapar di jalan karena pukulan maut darinya sepertinya masih tidak menyerah. Lelaki setengah baya itu meraih linggis yang tadinya di buang oleh Yona.
Mata lelaki itu terbelalak, dengan cepat dia menarik mendorong tubuh Yona dan mencoba menendang kaki penjahat itu sebelum berhasil menghantam Yona dengan linggis.
Naas, hantaman itu justru mengarah ke kepalanya dan membuat tubuh Regan ambruk di sana.
"Tidakkkkkk, Regannnn!" pekik Yona merangkak ke arah Regan.
Penjahat itu segera melarikan diri saat suara sirine mobil polisi terdengar. Penjahat itu meninggalkan temannya yang terkapar tidak berdaya di jalan.
Tiga orang polisi langsung berlari ke arah Yona.
"Anda yang menelpon kantor polisi?" tanya polisi itu.
Yona mengangguk, wanita itu terisak.
"Tolong, bawa tunangan saya ke rumah sakit. Tolong, dia tidak boleh mati," isak Yona.
Polisi itu segera membawa masuk Regan kedalam mobil polisi untuk secepatnya mereka bawa ke kantor polisi. Satu polisi lainnya memanggil ambulance untuk mengangkut penjahat yang sudah terkapar tidak berdaya, dan satu polisi lagi berjaga di TKP untuk kelanjutan proses olah TKP.
Yona ikut untuk mengantarkan Regan ke rumah sakit bersama satu polisi yang menyetir mobilnya. Yona menyobek bagian bawah bajunya untuk dia gunakan menutup luka Regan yang mengeluarkan darah.
"Regan, bertahanlah," ucap Yona tidak kuasa menahan kesedihan yang menghinggapinya.
Darah bercucuran keluar dari kepala lelaki itu. Yona tidak henti-hentinya berdoa agar lelaki yang dia cintai bisa selamat tanpa mengalami luka yang berakibat fatal nantinya.
Tangan Yona merangkul tubuh Regan, menjadi sandaran lelaki itu yang sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.
"Tidak, kamu tidak bisa meninggal seperti ini. Aku mohon Regan bertahanlahh," kata Yona dengan tubuhnya yang kini bergetar.
Polisi itu menenangkan Yona.
"Berdoa saja teh, semoga masnya baik-baik saja. Kita akan segera sampai di rumah sakit."
"Kamu dengar itu, dokter pasti akan menolongmu. Jadi bertahanlah Regan, aku mohon padamu."
---
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA 😍😍
__ADS_1
JANGAN LUPA JUGA FOLLOW AKUN AUTHOR YAKK ❣️✌️