My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Mitos


__ADS_3

Regan menggandeng Yona untuk naik ke pelaminan, bukan sebagai sepasang pengantin tapi sebagai tamu undangan yang akan memberikan selamat kepada pasangan pengantin malam ini yang tengah berbahagia.


Regan dan Yona berdiri disamping Maisha, sedangkan Lili dan Septian berdiri disamping pengantin lelaki untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Yona tersenyum tulus kepada Maisha, meskipun Yona merasa tidak enak karena pernah salah paham kepada Maisha dan Regan padahal mereka sepupu.


"Terimakasih, aku kira aku tidak akan melihatmu datang dengan sepupuku yang sangat kaku ini," ucap Maisha menunjuk Regan dengan matanya.


Yona tersenyum, sedangkan Regan menatap Maisha dengan malas.


"Karena dirimu aku harus menyusulnya ke Inggris," cibir Regan membuat Yona menoleh ke arahnya.


"Kamu menyesal menyusulku ke Bath?" tanya Yona dengan mata melebar.


Regan gelagapan, lelaki itu mengelus puncak kepala Yona dan tersenyum.


"Tentu saja tidak, aku malah senang bisa piknik dadakan bersamamu," ucap Regan tersenyum kepada Yona.


'Piknik yang menguras tabunganku,' batin Regan ingin menangis membayangkan uang yang harus dia bayarkan kepada keluarga Corlyn untuk mengganti biaya transport dan lain-lain karena meminjam jett pribadi mereka meskipun mereka dengan tegas menolaknya.


Regan bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kelebihan teman-temannya. Selagi Regan mampu, dia akan menggunakan apa yang dia miliki saat ini.


"Kapan kalian akan menyusul? Jangan terlalu lama, nanti dia direbut orang lain," goda Maisha disetujui suaminya.


"Satu bulan lagi, siapkan hadiah honeymoon untuk kami," jawab Regan dengan bangga.

__ADS_1


"Satu bulan apanya, bulan sabit?" cibir Yona menjawab perkataan Regan.


Mereka berdua turun dari pelaminan, mereka tidak mungkin berdiri disana terlalu lama karena masih banyak tamu undangan yang ingin memberikan selamat juga untuk Maisha dan suaminya atas pernikahan mereka berdua.


"Aku tidak bercanda untuk waktu satu bulan yang aku bicarakan Yona," keluh Regan saat Yona selalu memandangnya bercanda.


"Aku juga tidak bercanda saat aku mengatakan aku belum siap, Pak Reganera," jawab Yona berlalu meninggalkan Regan di belakangnya.


Regan mendengus, lelaki itu menyamakan langkahnya dengan Yona. Yona berhenti di tempat kue-kue mungil berjajar rapi di sana. Yona tersenyum bahagia, entah sudah berapa lama Yona menghindari makanan manis seperti itu. Dunia modeling memang kerap sekali menyiksanya!


"Astaga, ini enak sekali," ucap Yona dengan mata berbinar bahagia.


"Yona aku berbicara denganmu," keluh Regan mengusap wajahnya frustasi saat Yona seperti tidak peduli dengan ucapannya.


Yona mengambil beberapa potong kue lagi.


Yona memasukkan sepotong kue ke dalam mulut Regan hingga lelaki itu melebarkan matanya. Regan terpaksa menghentikan ucapannya dan mengunyah kue itu terlebih dulu untuk masuk kedalam perutnya.


"Ck, ahhh," ucap Regan saat lelaki itu meneguk minuman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Regan menatap Yona kesal.


"Kamu mau membunuhku hah?" tanya Regan kesal.


"Aku memberimu makanan, apa hubungannya dengan membunuh?" tanya Yona dengan ekspresi tidak berdosanya.

__ADS_1


"Seluruh tamu undangan harap mendekat ke arah pelaminan, saatnya tradisi lempar bunga oleh pengantin. Bagi yang belum menikah, siapa tahu akan menyusul secepatnya," ucap sang MC membuat para tamu undangan yang belum menikah segera mendekat ke sana.


Regan menyentuh tangan Yona, lelaki itu menggandeng Yona untuk mendekat kearah panggung pelaminan.


"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Yona panik.


"Kita ikut tradisi lempar bunga," jawab Regan membuat mata Yona terbelalak.


Semua orang sudah siap di bawah sana untuk menangkap bunga yang akan pengantin lempar ke arah mereka.


"Kita lihat saja, jika takdir memang menyatukan kita. Bunga itu akan ke arah kita," ucap Regan meyakinkan dirinya.


Maisha, lempar ke arahku.


Regan berharap Maisha melemparkan bunga itu ke


arah dirinya ataupun Yona.


"Satuuuuuu ... dua ... tiiiiiiiiiiigaaaaaa!"


Tubuh Yona limbung saat beberapa orang mendorongnya ke belakang untuk menangkap bunga itu. Untung saja Regan berdiri sigap di belakangnya. Mata mereka bertemu.


"Dia mendapatkannyaa," pekik mereka semua melihat Regan berhasil menangkap bunga yang Maisha lemparkan tepat setelah tubuh Yona jatuh dalam pelukannya.


Yona mendongak melihat tangan Regan yang terangkat ke atas.

__ADS_1


"Menurut mitos yang beredar, mereka yang mendapatkan bunga pengantin akan menyusul pengantin secepatnya," ucap Regan.


__ADS_2