My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Karena Hatiku Telah Kau Nyamankan


__ADS_3

Betapa keterkejutnya Shinta mendengar kalimat yang diucapkan Regan kepada putrinya. Baru saja dia dan Hendra kembali ke sana untuk mengantarkan baju ganti Yona, tapi mereka berdua justru tercengang dengan ucapan Regan.


Yona melihatnya? Melihat milik Regan? Sepertinya Shinta melewatkan banyak hal atas perkembangan hubungan Regan dan Yona. Kapan Yona melihat milik Regan sedangkan satu tahun ini lelaki itu tertidur begitu pulasnya sampai enggan membuka mata selama ini.


“Sejauh apa hubungan kalian berdua, Regan, Yona?” tanya Shinta dengan mata melebar.


Tentu saja sebagai seorang ibu, Shinta tidak ingin putrinya melewati batas-batas norma yang selalu dia junjung guna melindungi harkat martabat seorang wanita. 


“Mom-my?” panggil Yona terbelalak.


Shinta dan Hendra masuk ke dalam ruangan. “Kalian boleh pergi sekarang,” ucap Hendra diangguki kedua perawat itu.


Mata orang tua Yona memicing, menelisik pasangan muda-mudi yang sepertinya berada dalam ambang kebimbangan.


“Astaga Yona, kamu ini wanita lho. Masa kamu begitu sih!” kesal Shinta tidak menyangka.


Meskipun Shinta selalu menjadi kompor meleduk untuk Regan dan Yona agar secepatnya menikah, namun Shinta tidak pernah membayangkan Regan dan Yona akan melakukan hal senonoh seperti itu.


“Tidak Mommy, Mommy salah paham,” jawab Yona menggelengkan kepalanya.


Bisa mati dia kalau sampai daddy dan mommynya marah besar dengan dirinya. 


“Regan?” Kali ini Hendra yang bertanya kepada Regan, menginginkan jawaban jujur dari lelaki yang akan dia pasrahi sebuah tanggung jawab besar ketika lelaki itu telah resmi menikah dengan Yona, menjadi salah satu bagian dari keluarga William.


Wajah Regan mendadak menjadi pias. “Iya, Daddy?” tanya Regan balik, masih mencerna tatapan daddy dari wanita yang dia cintai.


Hendra memicingkan matanya, melipat tangannya ke depan dada. “Benarkah yang kami dengar barusan?” tanya Hendra menelisik.


“Iya, yang kalian dengar itu benar adanya,” jawab Regan dengan jujur.


Sontak saja mata Yona membulat sempurna. Benar-benar kehilangan akal sehatnya si Regan itu sampai-sampai berkata jujur di depan daddy dan mommynya.


“Kamu ini ya, bikin malu orang tuamu saja, Yona!” kesal Shinta mendaratkan cubitan mautnya di lengan Yona sampai wanita itu meringis kesakitan.


“Aw … aw, Mommy ini sakit beneran ih. Waktu itu beneran tidak sengaja Mommy,” ringis Yona merasakan panas dan sakit akibat cubitan dari sang mommy.


“Kamu sengaja masuk kamarku,” ucap Regan tidak terima.


“Hah? Yona yang masuk kamarmu?” pekik Shinta dengan mata membulat keluar hingga mau lepas dari wadahnya.


“Tidak Mommy! Ya Regan, berhenti berbicara omong kosong di depan Mommy dan Daddy!” pekik Yona kesal setengah mati.


Shinta semakin mengencangkan cubitannya sampai Yona berteriak kesakitan.


“Aw, Mommy … Yona berani bersumpah itu tidak disengaja! Yona memang masuk ke kamar Regan karena waktu itu ada petir sangat kencang. Yona tidak berani tidur sendirian di kamar hotel,” jelas Yona mengingatkan Shinta pada hari di mana Yona menjalani pemotretan terakhirnya di kebun strowberry dengan diantarkan Regan.


Saat mereka berdua hendak pulang ke rumah, hujan angin menghalangi jalan mereka untuk kembali pulang. Bukannya apa, Regan dan Yona hanya tidak ingin mengambil resiko jika nekad menerobos hujan angin yang begitu kencang untuk pulang ke rumah. Maka dari itu, Regan dan Yona memutuskan untuk menginap satu malam di salah satu hotel terdekat dari lokasi mereka menepi.


Hujan angin yang begitu deras tentu saja membuat siapapun menjadi ngeri. Belum lagi suara kilat sangat mendebarkan dada Yona. Kilasan-kilasan kenangan buruk saat dia sempat diculik di masa lalunya kembali terngiang hingga Yona gemetaran tidak berani tidur seorang diri, apalagi di hotel yang tentunya sangat asing bagi Yona.


“Sebentar. Maksudnya Yona datang ke kamar Regan, saat hujan angin lebat, mereka tidur di kamar yang sama, dan … saat itu Yona melihat milik Regan?” tanya Hendra menganalisis kejadian yang berputar dalam benaknya.


Yona menoleh cepat ke arah daddynya. Wanita itu tahu benar apa yang kini ada dalam pikiran daddynya. Hendra pasti tengah berpikir bahwa dirinya dan juga Regan telah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan sebelum sah menjadi pasangan suami istri.


“Daddy! Ini semua tidak seperti yang Daddy bayangkan. Pagi-pagi sekali Regan mandi, tidak sengaja handuknya jatuh. Aish pokoknya begitu lah,” jawab Yona dengan wajah memerah karena kesal, tidak tahu harus berdalih apa lagi agar orang tuanya bisa mempercayai ucapannya.


Yona menarik napasnya panjang. “Yona tidak melihat dengan jelas, suwer ini enggak bohong,” jawab Yona sekali lagi.


“Apa? Tidak melihat dengan jelas? Kamu bahkan mengatai milikku kecil. Jangan menyangkalnya, Yona!” ucap Regan dengan sengaja, siapa tahu setelah ini dia dan Yona segera dinikahnya secepatnya.


Mata Yona menyipit, wanita itu menatap Regan dengan mata menusuk sedalam belati.


“Regan! Kondisikan mulut lemesmu itu, hah!” teriak Yona menghentakkan kakinya dengan kesal.


“Di mana orang tuamu, Regan?” tanya Hendra dengan ekspresi wajah serius, mencari-cari kedua orang tua Regan yang sama sekali belum dia lihat sejak menginjakkan kakinya di ruang perawatan Regan.


Yes, Daddy pasti akan membicarakan pernikahanku dengan Yona.

__ADS_1


Batin Regan berteriak bahagia. Sebentar lagi dia dan Yona akan dinikahkan oleh orang tua mereka karena kesalahpahaman yang saat ini terjadi.


“Benar, kita tunggu saja Lili dan Septian,” jawab Shinta memilih duduk di sofa tunggu dari pada berdiri seperti patung.


“Bunda dan Ayah sedang makan di luar,” ucap Yona memberitahu orang tuanya.


Kening Shinta berkerut, tangannya meraih novel yang tergeletak di atas meja. 


“Kamu membeli novel terbaru lagi?” tanya Shinta membalik novel itu untuk membaca blurb novel di cover bagian belakang.


Kesialan macam apa lagi ini! Kesal Yona tidak ada henti-hentinya. Baru saja masalah si kecil Regan selesai mereka bahas. Kali ini sang mommy memegang novel beradegan mantap-mantap  yang tadi baru saja dia baca.


“Kata Yona itu novel rekomended sekali, Mommy. Kisah cinta anak SMA,” jawab Regan menahan senyumnya dalam hati.


“Benarkah? Mommy selalu suka membaca novel genre teen, setiap kali Mommy membacanya itu seperti Mommy kembali pada masa-masa SMA gitu,” jawab Shinta dengan senyuman merekah di wajahnya.


Alarm di otak Yona berbunyi dengan keras, wanita itu langsung menarik novel dari tangan mommynya hingga membuat Shinta menatap Yona penuh penasaran. Kenapa juga Yona harus merebut novel itu dari tangannya?


“Kamu ini kenapa? Mommy baru mau baca novelnya,” ucap Shinta menatap Yona dengan menautkan kedua alisnya.


“Oh ini novel milik perawat Mommy, Yona sudah bilang bakal ngembaliin sebelum dia ganti sift dan pulang,” jawab Yona mencari-cari alasan.


Yona tersenyum terpaksa. “Yona ngembaliin novel ini dulu,” pamit Yona berlari kecil keluar dari ruangan Regan hingga membuat Regan terkekeh di ranjangnya.


Shinta dan Hendra saling menatap, lalu mereka menghendikkan bahunya tanda tidak mengerti apa yang sedang Yona lakukan sekarang. Terkadang tingkah putrinya memang aneh dan di luar akal sehat mereka sebagai orang tua.


“Bagaimana keadaanmu Regan?” tanya Shinta dengan lembut.


Shinta sangat bersyukur, pada akhirnya Yona bisa bernapas dengan lega setelah Regan kembali sadar dari tidur panjangnya.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mommy. Semua berkat doa kalian,” jawab Regan tersenyum kecil.


Ibu dua anak itu mengangguk. “Mommy selalu berdoa agar kamu segera diberikan kesembuhan, setiap kali Mommy melihat Yona, Mommy turut merasakan kesakitan yang dia rasakan. Perasaan menyesal yang selalu saja datang menggerogoti perasaan Yona. Tatapannya tidak pernah sebahagia saat kamu berada di sisinya,” ucap Shinta membuat hati Regan terasa bergetar.


Jadi selama dirinya tidak sadarkan diri, Yona selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada Regan? Astaga, pasti setahun ini menjadi waktu paling sulit untuk Yona jalani seumur hidupnya.


“Yona menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Regan?” tanya Regan memastikan.


Shinta dan Hendra mengangguk. “Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri setiap kali kondisi tubuhmu memburuk.”


Regan menghela napasnya kasar. Lelaki itu memejamkan matanya, betapa sulitnya hidup Yona karena dirinya selama ini.


“Tapi semua telah usai, kebahagiaan akan menanti kalian berdua,” kata Hendra meyakinkan Regan bahwa mereka berdua akan bersatu pada akhirnya.


Berbagai permasalahan dan cobaan telah Regan dan Yona lewati. Mereka sekali lagi telah lulus ujian kecocokan pada setiap pasangan yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Suara kekehan di luar sana terasa sangat dikenali Regan. Bukankah itu suara Yona? Dengan siapa Yona berbicara sampai terkekeh seperti itu. Tidak bisa Regan biarkan!


“Sampai ketemu lagi, Dokter,” sapa Yona entah dengan siapa.


Dokter? Jadi Yona terkekeh seperti tadi karena bergurau dengan seorang dokter?


Mata Regan memicing penasaran. Jangan-jangan Yona sedang dekat dengan salah satu dokter di rumah sakit tempatnya dirawat karena setahun lamanya wara-wiri di rumah sakit itu.


“Kamu berbicara dengan siapa?” tanya Regan begitu Yona masuk ke dalam ruang perawatannya.


Regan, Shinta, dan Hendra menatap Yona dengan kening berkerut, ikut penasaran dengan siapa Yona barusan berbicara. Pasalnya, mereka sama sekali tidak bisa melihat bagaimana wajah dokter yang berbicara dengan Yona.


“Dokter Franky, kenapa?” tanya Yona balik, bingung dengan ekspresi wajah ketiga orang dewasa di depannya.


Raut wajah Regan berubah. “Siapa dia?” tanya Regan menelisik, mencari tahu lewat tatapan mata Yona saat ini.


“Dia dokter poli anak, kenapa memangnya? Kamu mau diperiksa Dokter Franky?” goda Yona menggelengkan kepalanya melihat raut wajah Regan yang terlihat sangat aneh bagi dirinya.


Regan menatap ke sekeliling ruangannya, memastikan rumah sakit mana yang saat ini dia tempat. Rumah Sakit Kusuma rupanya.


Regan meraih gagang telepon, menekan tombol satu di mana itu adalah sambungan VIP untuk mengajukan keluhan di rumah sakit.

__ADS_1


“Tolong panggilkan Dokter Regan untuk datang ke ruang perawatanku segera,” ucap Regan kepada operator rumah sakit.


Regan meletakkan gagang telepon dengan kasar, lelaki itu menatap Yona dengan marah. Kini api cemburu menjalar membakar tubuh Regan hingga terasa kepanasan.


“Kenapa kamu panggil Rehan ke mari, kamu sakit?” Yona menatap Regan dengan bingung.


“Tidak, hanya ingin bertemu dengan Rehan saja,” jawab Regan malas.


Yona menghendikkan bahunya acuh. Selang beberapa menit kemudian Rehan masuk ke ruang perawatan Regan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Hay Bro, akhirnya kamu balik juga,” ucap Rehan menepuk pelan lengan Regan.


“Aku mau ngajukan keluhan untuk rumah sakit ini,” seloroh Regan membuat semua mata menatapnya penasaran.


“Keluhan apa? Memangnya perawatan di rumah sakit keluargaku mengecewakanmu, Bro?” tanya Rehan menelisik.


Sepertinya, seumur rumah sakit milik yayasan keluarga berdiri hingga sekarang tidak pernah ada keluhan mengenai perawatan maupun pelayanan bagi pasien. Itu karena Rumah Sakit Kusuma benar-benar menjaga mutu pelayanannya kepada para pasien dan keluarga pasien agar merasa nyaman untuk mempercayakan kesembuhan mereka di Rumah Sakit Kusuma.


“Pecat Dokter Franky, dia sebagai dokter tidak professional, menggoda wanita dari pasien rumah sakit ini,” ucap Regan dengan menggebu-gebu.


“Dokter Franky? Kamu serius?” Mata Rehan terbelalak, sedangkan Yona menganga tidak percaya atas laporan Regan kepada sahabatnya untuk memecat Dokter Franky hanya karena Yona tertawa bersama Dokter Franky.


Yona tertawa. “Regan, sepertinya ada kesalahpahaman di sini,” jawab Yona mencoba meluruskan kesalahpahamannya dengan Regan.


“Mommy, Daddy, kalian melihatnya sendiri kan Yona tertawa bersama Dokter Prank itu?” tanya Regan mencari dukungan dari orang tua Yona.


Orang tua Yona hanya mengangguk mengiyakan, karena memang benar itu yang mereka lihat meskipun Shinta dan Hendra tidak melihat bagaimana rupa Dokter Franky.


Yona memijit pelipisnya pusing, dia tadi tertawa bersama Dokter Franky karena lelaki itu terlihat menggerakkan badan seperti badut untuk menghibur pasiennya. Tentu saja Yona tertawa karena baginya itu sangat lucu.


“Kamu mendengarnya kan?” tanya Regan menatap sahabatnya.


Dokter Rehan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya tidak mungkin jika Rehan harus memecat Dokter Frankly hanya karena membuat Yona tertawa. Bukankah itu terdengar sangat kekanakan sekali?


Kenapa Regan tiba-tiba saja menjadi overprotektif kepada Yona setelah lelaki itu bangun dari komanya?


“Regan, tapi rumah sakit tidak bisa memecat dokter hanya karena kamu merasa cemburu,” jawab Dokter Rehan.


“Cemburu? Itu namanya tidak professional, dia dokter apa badut sampai membuat Yona tertawa seperti itu?” Regan masih saja kesal, tidak terima kalau Yona tertawa karena lelaki lain.


Yona memutar bola matanya, sepertinya Regan sedang dalam mode cemburuan sampai tidak bisa berpikir logis.


“Pecat dia sekarang juga!” titah Regan tidak mau tahu.


Shinta dan Hendra menggelengkan kepalanya. Kebucinan telah mendarah daging dalam otak Regan selama lelaki itu tidak sadarkan diri.


“Regan, mana mungkin Dokter Franky menggoda Yona,” jelas Dokter Rehan sekali lagi.


“Ini keluhan pasien, Rehan Prehantara Kusuma,” sahut Regan dengan kesal.


Yona malah terkikik geli mendengar Regan seposesif itu kepada dirinya. Itu artinya Regan tidak ingin kehilangan Yona, bukan?


“Regan, Dokter Franky itu sudah sepuh dan hampir pension dua bulan lagi,” ucap Rehan.


Mata Regan melebar sempurna, dia tidak menyangka Yona akan terpesona dengan lelaki tua seperti Dokter Franky.


“Yona, jadi kamu suka sama om-om?” tanya Regan dengan mata terbelalak.


“Apa?” pekik Yona terkejut atas pemikiran Regan yang terdengar sangat konyol di telinganya.


“Aku tidak menyangka kalau kamu suka sama om-om!” ucap Regan diliputi perasaan cemburu dalam hatinya.


“Regan, bagaimana aku bisa menyukai lelaki lain?" Yona menggela napasnya. "Di saat aku mencintaimu, karena hatiku telah kau nyamankan, aku tidak tertarik lagi dengan keindahan yang dunia suguhkan.”


❣️❣️❣️❣️❣️❣️


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA UNTUK REGAN DAN YONA.

__ADS_1


❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2