My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Terimakasih Mommy


__ADS_3

Hari baik untuk pernikahan Regan dan Yona akhirnya telah ditentukan tanggal yang cocok. Kedua belah pihak keluarga telah mempersiapkan dengan matang segalanya untuk menjelang hari baik yang hanya tinggal menghitung hari lagi. Satu minggu, waktu yang nampaknya begitu cepat, namun terasa begitu lama bagi Regan dan Yona karena kedua tidak diperbolehkan bertemu maupun pergi ke luar rumah.


Di rumah saja. Itu yang selalu ditekankan kedua belah pihak orang tua ketika Regan dan Yona mencari-cari alasan untuk keluar dari rumah. Memang benar kata orang, kalau dekat selalu bertengkar namun ketika jauh akan terasa rindu. Begitulah yang kini tengah dirasakan Regan dan Yona. Keduanya harus menahan kerinduan selama satu minggu ke depan untuk saling bertemu lagi.


Gagal sudah rencana Yona yang memiliki mimpi menikah di kapal pesiar Rusia. Mengikrarkan janji disaksikan angin dan lautan lepas sebagai bukti cinta mereka berdua. Namun mau apa lagi, Yona dan Regan harus mengikuti adat dan tradisi kepercayaan keluarga mereka, menikah secara sah di depan negara dan juga agama.


“Aunty, pernikahan itu apa?” tanya Machiko menemani auntynya menonton televisi di tengah kegabutan wanita itu karena tidak bisa ke manapun dan dengan siapapun.


Yona menoleh menatap keponakannya, wanita itu merebut snack dari tangan Machiko.


“Menikah itu saling bersama satu sama lain seperti grandma dan grandpa, seperti papi dan mamimu juga,” jelas Yona mencari contoh simple untuk memberikan pengertian kepada Machiko.


Machiko mengangguk mengerti. “Nayna dan Varo juga?” tanya Machiko membuat Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Begitulah anak tunggal, dia tidak bisa merasakan kedekatan seorang adik dengan kakaknya. Machiko juga jarang berkumpul dengan sepupu-sepupunya karena memang bocah itu sejak bayi berada di Bath, Inggris bersama dengan papi dan maminya.


“Bukan Chiko, kalau Nayna dan Varo itu mereka kan sepupuan. Beda, maksud aunty ketika orang dewasa nanti bersatu maka disebut sebagai pernikahan. Lelaki dan perempuan,” jawab Yona memberikan contoh gamblang kepada keponakannya.


“Jadi Machiko hanya boleh menikah sama Nayna saat Chiko dan Nayna sudah dewasa ya, Aunty?” tanya Machiko mengaitkan pernikahan dengan dirinya dan juga Nayna.


Mulut Yona menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Machiko membicarakan pernikahannya dengan Nayna? Bahkan mereka belum tahu mana kemiri mana merica. Astaga, entah nyidam apa dulu Ariana sampai melahirkan anak seperti Machiko.


“Ah sudahlah, percuma saja aunty jelasin sama kamu,” jawab Yona menyerahkan kembali snack yang dia ambil dari tangan Machiko kepada pemiliknya lagi.


“Aunty Yona kok enggak sabaran sih sama pertanyaannya Machiko? Kata Mommy, Machiko cerdas makanya sering bertanya kalau Machiko enggak faham,” ucap Machiko menghardik adik dari ayahnya.


Yona membelalakkan matanya. Berani-beraninya Machiko menceramahi dirinya yang lebih dewasa dari bocah itu.


“Udah sana kamu dicariin dedek Alena sama dedek Aileen,” jawab Yona merasa malas meladeni perkataan keponakannya.


Bukannya Yona enggan menjawabnya, hanya saja Machiko selalu menanyakan segala hal yang dia ingin ketahui meskipun itu bukan konsumsi umur bocah itu. 


“Kok bisa ya Aunty, dedek Alena sama Aileen kembar?” tanya Machiko nampak berpikir, keningnya berkerut memikirkan keanehan bagi dirinya.


Kenapa orang bisa kembar sedangkan dirinya tidak memiliki kembaran? Mungkin Machiko harus menanyakannya langsung kepada Rehan dan juga Melodi yang melahirkan bayi kembar si cantik Alena dan Aileen.


“Tidak usah dijawab deh Aunty, Chiko yakin Aunty Yona enggak bisa jawab. Biar Chiko tanya sendiri sama Aunty Melodi dan Uncle Rehan,” ucap Machiko, beranjak turun dari sofa.


“Chiko, kau mau ke mana?” tanya Yona penasaran.


“Aunty enggak denger apa yang baru saja Chiko katakan?” tanya Chiko menatap Yona dengan memutar bola matanya jengah.


Machiko segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas, tepat di samping kamar Yona. Sedangkan Yona hanya ternganga dengan segala ucapan yang keluar dari mulut keponakannya.


“Arkhh,” pekik Yona mengacak rambutnya kesal.


Semua orang nampak sibuk dengan segala persiapan Regan dan Yona. Kali ini, Regan dan juga Yona menjadi sultan, tidak diperbolehkan mengerjakan apapun termasuk memesan undangan dan juga souvernir. Kedua keluarga hanya tidak ingin kejadian di masa lalu kembali terulang lagi jika Regan dan Yona sampai ngotot keluar rumah di saat mereka harus mematuhi tradisi pingitan guna menghindari hal-hal buruk terjadi nantinya.


“Chiko? Kamu marah sama Aunty?” teriak Yona dari tempatnya, merasa menyesal sudah mengabaikan keponakannya. Kalau sudah begini, Yona sendiri yang merasakan kesepian karena tidak ada yang mengajaknya mengobrol.


“Kenapa memangnya si Chiko, Yon?” Kali ini Ariana yang bertanya. Wanita itu terlihat membawa tumpukan undangan dan diturunkan di meja kaca yang ada di ruang keluarga.


Yona membenarkan posisinya, menatap kakak iparnya. 


“Dia sepertinya kesal dengan Yona, Kak,” jawab Yona.

__ADS_1


Ariana hanya tersenyum lembut. “Begitulah anaknya, kakak saja sampai kuwalahan menjawab rasa ingin tahunya,” ucap Ariana kepada Yona.


“Eh, tapi Queenayna juga sama loh, Kak. Anak itu sering bertanya akan hal-hal baru yang mengusik pikirannya,” ucap Yona mengingat kesamaan karakter antara Machiko dengan Nayna.


“Jangan-jangan mereka berjodoh?” ucap Ariana dan Yona bersamaan. Detik selanjutnya mereka tertawa dengan ucapan konyol itu.


Mana mungkin hanya kesamaan karakter seseorang bisa jadi berjodoh? Jodoh tidak semudah itu. Lika-liku perjalanan cinta seperti manis asamnya sayuran, memang wajib ada dalam setiap hubungan. Tergantung pribadinya, bisa melewatinya, atau justru hubungan mereka yang lewat alias tidak bisa dipertahankan lagi.


“Serius deh Kak, kalau misalkan mereka ternyata jodoh bagaimana?” tanya Yona merasa penasaran.


Ariana nampak berpikir. “Bagaimana apanya sih Yon? Bukannya bagus ya kedua pewaris melebur menjadi satu,” kekeh Ariana membuat Yona menepuk lengan kakak iparnya itu.


“Dasar istri pembisnis mah otaknya bisnis mulu ya,” ejek Yona kepada Ariana.


“Terus kalau istrinya dosen, otaknya isinya apaan ya?” tanya Ariana ganti menggoda Yona.


Wajah Yona tersipu malu, membayangkan dia akan menjadi istri dari Reganera Abimanyu Louis saja membuat jantungnya ingin meloncat dari tempatnya. Apa yang akan terjadi nantinya dalam biduk rumah tangga dirinya dengan Regan? Kedua manusia dengan perbedaan karakter yang begitu mencolok akhirnya dipersatukan oleh takdir.


Yona hanya berharap, semoga ini akan menjadi akhir dari segala perjalanan panjang yang usai dia lewati bersama Regan. Tidak ada impian atau mimpi bagi Yona selain bersanding dengan lelaki tercinta. Kesempatan yang tidak akan Yona lewatkan untuk kedua kalinya.


Untuk kali ini, Yona berharap semoga alam berpihak kepada dirinya dan juga dengan Regan.


“Heh malah bengong lagi, kamu enggak mikirin malam pertama sebelum waktunya kan?” kekeh Arina menoel lengan Yona sampai wanita itu mengerjapkan matanya.


Memikirkan malam pertama? Astaga, untuk hal satu itu Yona bahkan tidak berani memikirkannya. Rasanya sangat malu dan juga gugup.


“Siapa yang mikirin malam pertama, An?” tanya Shinta baru saja bergabung membawa kue nastar yang baru keluar dari oven. Terlihat mengepul asapnya, namun terlihat begitu menggoda.


“Wah nastar,” pekik Yona berbinar.


Shinta menepis tangan Yona. “Masih panas, jangan seperti anak kecil,” ucap Shinta menegur anak bungsunya. Shinta menatap Ariana dengan rasa ingin tahu. “Siapa yang sedang mikirin malam pertama?” tanya Shinta lagi.


Yona hanya menghela napasnya panjang ketika dijadikan bahan ledekan para istri-istri cantik keluarga William. Bisa apa Yona jika mereka dua lawan satu. Tentu saja Yona akan meringset kalah karena tidak memiliki sekutu di sini.


“Ya ampun Yona, nikah aja belum masa sudah memikirkan malam pertamanya saja sih,” cibir Shinta sengaja menggoda Yona meskipun dia tahu bahwa Ariana hanya bercanda dengan ucapannya.


“Em, terserah kalian saja. Puas-puasin ketawa,” jawab Yona pasrah merebahkan tubuhnya pada sofa panjang.


Shinta melipat kakinya, menatap lurus ke depan sana. Di mana foto pernikahannya dengan Hendra saat itu. Shinta ingat benar, dirinya sampai ingin mengakhiri hubungannya dengan Hendra ketika hari pernikahan semakin dekat. Kalau kata orang medis, itu gangguan menjelan pernikahan. Awal mula mereka masih bebas hidup semau-maunya, mendadak akan menjadi istri orang dengan memikul banyak tanggung jawab.


“Mommy dulu sempat mengakhiri hubungan mommy dan daddy sebelum hari H pernikahan kita,” ucap Shinta, pikirannya melayang pada saat itu terjadi.


“Mommy mengidap stress sebelum menikah ya?” tanya Ariana kepada ibu mertuanya.


Shinta mengangguk. “Dulu yang mommy rasain itu, bisa enggak ya mommy hidup tidak sebebas dulu. Punya tanggung jawab besar loh saat menikah dengan daddy, daddy kan anak tunggal, pewaris perusahaan besar juga. Haduh, mommy saat itu sampai enggak percaya diri,” jawab Shinta menceritakan perasaannya saat menjelang hari H pernikahannya dengan sang suami.


Shinta terkikik geli mengingat malam pertamanya dengan Hendra.


“Kalian mau tahu enggak cerita malam pertama mommy sama daddy?” bisik Shinta kepada Ariana dan Yona, takut jika ada yang mendengarkan ceritanya.


Ariana dan Yona nampak antusias. Mereka belum pernah mendengar cerita macam begitu dari Shinta maupun Hendra.


“Jadi, waktu itu mommy nangis,” ucap Shinta terkikik geli.


“Hah?” pekik Yona bersamaan dengan Ariana.

__ADS_1


“Mommy takut, kok anunya mommy berdarah. Mommy marah sama daddy lah, kita diem-dieman dua hari,” jawab Shinta tersenyum membayangkan betapa frustasinya Hendra saat itu.


“Yah, enggak jadi enak-enak dong Mom kalau kalian diem-dieman dua hari?” tanya Yona penasaran.


“Tahu apa kamu soal enak-enak? Menikah saja belum,” ejek Shinta membuat wajah Yona pias seketika.


Sepertinya sang mommy lupa bahwa gadget adalah kunci utama lading informasi yang tidak bisa Yona ungkapkan.


“Dulu daddy kalian kelimpungan dua malam. Mommy sengaja tuh pakai baju piyama panjang setiap malam,” kekeh Shinta membuat Yona dan Ariana ikut terbahak membayangkan ekspresi wajah daddy mereka.


Siapa sangka lelaki perfectionis seperti Hendra tetap menjadi suami dan ayah yang hangat bagi istri dan anak-anaknya. Hendra selalu mengutaman kebahagiaan keluarganya, lelaki itu tipe ayah yang ingin anak-anaknya tidak kekurangan sesuatu apapun meski didikan yang dia terapkan kepada Marva dan Yona begitu otoriter. 


Sekali tidak ada uang saku, maka tidak akan pernah ada uang saku. Karena itulah, anak-anak mereka tetap rendah hati meskipun berada dalam keluarga yang bergelimpangan harta. Alasan itu juga yang selalu membuat Yona tidak pernah berani menentang keputusan ayahnya.


Masih teringat jelas dalam ingatan Yona. Ketika Yona dan Regan bertengkar, kartu kreditnya dibekukan dan mobil dari keluarganya kembali disita. Bukankah bisa saja Yona menggunakan uang pribadinya? Jawabannya tidak, Yona tidak akan menjadi anak yang merasa memiliki segala dan bisa membeli semuanya dengan uang. Yona lebih memilih menghormati keputusan ayahnya sebagai kepala rumah tangga di keluarga William.


“Kalau Kak Ana, gimana?” tanya Yona penasaran dengan kehidupan rumah tangga kakaknya.


Wajah Ariana bersemu merah, antara malu dan juga merasa tidak sanggup menceritakan malam penyatuan cintanya dengan sang suami.


“Ya begitu deh,” jawab Ariana malu.


“Aish kamu ini tidak asyik,” keluh Shinta berlagak seperti anak muda saja.


“Kami biasa-biasa saja sih, karena sebelumnya kan sempat ada masalah ya Mom mantan kekasih Kak Marva nelepon lagi tuh malam itu. Kami bertengkar, dan … ya begitulah,” jawab Ariana tersipu malu.


“Aaa, aku membayangkannya begitu romantis,” pekik Yona menyentuh kedua pipinya dengan binar mata bahagia.


Shinta dan Ariana saling berbagi pesan menjadi seorang istri dan menantu yang baik.


“Kata oma kalian, wanita itu lahir tiga kali,” ucap Shinta.


“Tiga kali?” tanya Yona bingung.


“Iya tiga kali. Lahir sebagai seorang anak, lahir sebagai seorang istri, dan juga lahir sebagai seorang ibu. Tiga proses kehidupan seorang wanita yang memang tidak akan mudah,” jelas Shinta kepada Yona dan Ariana.


Saat menjadi anak dia harus patuh kepada orang tuanya, saat menjadi istri dia harus patuh kepada suaminya, dan saat dia menjadi seorang ibu dia harus mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang patuh kepada orang tua. 


“Ingatkan selalu suamimu untuk terus berbakti kepada ibunya, maka anak-anakmu nanti akan berbakti kepadamu,” ucap Shinta menurunkan wejangan yang dia dapatkan dari orang tuanya dulu sebelum dia menikah.


Yona terdiam, membayangkan proses kehidupan seorang wanita yang begitu panjang. Perjuangan seorang wanita dalam mempertahankan rumah tangganya dan memastikan bahwa tidak akan ada orang ketiga yang bisa menerobos masuk ke dalam dinding pertahanan mereka, sebuah rumah tangga.


“Proses mana yang paling membahagiakan, Mom?” tanya Yona penasaran.


Shinta nampak berpikir sejenak. “Proses sebagai seorang ibu, mengandung, melahirkan, mendidik dan membesarkan,” jawab Shinta yang memang begitu menikmati perannya sebagai istri dan seorang ibu.


Menjadi ibu rumah tangga bukanlah hukuman mati bagi seorang wanita. Bagaimana dia memposisikan diri dalam perannya saja.


“Ibu dari anak-anakku,” panggil seseorang membuat mereka bertiga menoleh.


Regan berdiri di sana dengan senyuman mengembang di bibir lelaki itu. Sedangkan Yona, Shinta, dan Ariana nampak begitu terkejut melihat Regan berdiri di sana tanpa suara. Sejak kapan lelaki itu datang ke rumah keluarga William?


“Regan?” panggil Yona dengan matanya melebar sempurna.


Mata Yona turun ke bawah, lelaki itu membawa satu buket bunga mawar dalam genggamannya. Regan berjalan ke arah Shinta, Yona, dan Arianna.

__ADS_1


“Buket bunga untukku?” tanya Yona berharap.


“Sayangnya tidak, bunga ini untuk mommy. Terimakasih Mommy, sudah melahirkan Yona dan membesarkan Yona hingga mempertemukan kamu dalam ikatan perjodohan,” ucap Regan menyerahkan satu buket bunga mawar kepada Shinta.


__ADS_2