My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Dicintai Dan Mencintai


__ADS_3

Kesabaran akan berbuah manis, begitulah kiranya peribahasa yang cocok untuk kesabaran Yona dan Regan salama satu tahun belakangan ini. Penantian panjang, serta doa mengiringi setiap langkah perjalanan cinta mereka berdua. Akhirnya, kini Regan telah diperbolehkan pulang untuk kembali bersama keluarga tercintanya.


Orang tua Regan dan Yona mengemas seluruh barang-barang milik lelaki itu selama berada di ruang perawatan Rumah Sakit Kusuma. Di sana juga ada Dokter Rehan yang akan mengantarkan sahabatnya kembali pulang ke rumahnya.


“Terimakasih, Nak Rehan. Sudah membantu kesembuhan Regan sampai detik ini,” ucap Septian menepuk bahu Rehan dengan penuh solidaritas.


“Ah, Om Septian kayak sama siapa saja. Saya sama Regan kan sudah berteman cukup lama. Nama kami hampir mirip, tapi sayangnya wajah saya terlalu tampan untuk disandingkan dengan Regan,” jawab Rehan terkekeh geli.


“Terlalu tampan sampai ngejar-ngejar adik kelas,” ejek Regan tidak terima jika ketampanannya dipertanyakan.


Dokter Rehan menoleh menatap Regan. “Dari pada kamu, cemen sekali tidak berani menyatakan cinta sama adik kelas,” jawab Dokter Rehan tidak mau kalah.


Mata Regan membulat sempurna, lelaki itu melirik Yona yang kini menatapnya dengan pandangan tajam, siap menusuk lelaki itu kapan saja. Sialan, sahabatnya Rehan memang ahli dalam merusak suasana.


“Sudah semua?” tanya Lilian memastikan tidak ada barang milik mereka yang tertinggal di Rumah Sakit Kusuma.


“Tenang saja, Tante. Kalau ada yang tertinggal langsung hubungi Rehan saja biar Rehan minta salah satu pegawai sini mengambilkannya,” ucap Dokter Rehan kepada Lilian.


“Terimakasih banyak Rehan. Secepatnya pasti keluarga kami akan menjenguk Melodi dan si kembar, ya,” kata Lilian.


Selama menjaga Regan dua puluh empat jam nonstop, Lilian sama sekali tidak pernah berpergian ke manapun meski untuk menengok keluarga atau sahabat yang sedang sakit maupun melahirkan. Lili dan Septian lebih memilih mengirimkan bingkisan untuk mereka sebagai ganti kedatangan dirinya dan sang suami.


“Ayo,” ajak Septian sudah siap dengan dua tas tenteng besar di tangan kanan dan kirinya.


Yona meraih tasnya, memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


“Kau mau ke mana?” tegur Regan ketika Yona hendak membukakan pintu ruang perawatan Regan agar Septian bisa keluar tanpa kerepotan membukanya.


Yona menoleh. “Kamu tidak lihat?” tanya Yona sensi.


Sepertinya Yona cemburu dengan perkataan Dokter Rehan yang mengatakan Regan mencintai adik kelasnya dan tidak berani mengungkapkan perasaan cintanya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan si cantik Nadia Mark Wijaya. Satu geng mereka juga hafal benar bagaimana dulu Regan menyukai Nadia meskipun hanya dalam diam. 


Tetap saja, sekalipun dulu Regan dan Nadia tidak memiliki hubungan apapun rasa cemburu dalam hati Yona tidak bisa padam begitu saja.


“Tuntun aku,” pinta Regan mengulurkan tangannya.


Yona menerima uluran tangan Regan dengan kasar. Wanita itu menggandeng tangan Regan tanpa menoleh sedikitpun kepada Regan.


“Kamu marah?” tanya Regan menoel pipi Yona dengan gemas.

__ADS_1


“Tidak, kenapa juga aku marah?” tanya Yona balik.


“Siapa tahu kamu cemburu,” jawab Regan berbisik di telinga Yona.


“In your dream!” sahut Yona memutar bola matanya kesal.


Regan mengacak rambut Yona dengan gemas. Kini mereka berdua berjalan di belakang Lilian dan Septian. Sedangkan Dokter Rehan berpamitan untuk menemui pasien terakhirnya sebelum lelaki itu pulang ikut merayakan kepulangan Regan ke rumahnya.


“Awas,” ucap Regan menarik tangan Yona ketika beberapa perawat berlarian masuk ke salah satu ruang perawatan.


Mungkinkah ada salah satu pasien yang tengah mengalami penurunan kesehatannya?


“Kamu pasti khawatir setiap kondisi tubuhku menurun,” tebak Regan menatap Yona tepat di manik mata wanita itu.


Yona nampak berpikir. “Tidak, biasa saja tuh,” jawab Yona menghendikkan bahunya acuh.


“Waw wanita cantik,” gumam Regan menatap lawan arahnya. Dengan cepat Yona mengikuti arah mata Regan namun tidak menemukan siapapun di sana.


Regan terkekeh geli. “Kamu menoleh melihat siapa? Wanita cantiknya kan kamu,” kata Regan tersenyum lembut menatap Yona.


Wanita itu mengadahkan kepalanya menatap manik mata Regan. Detik selanjutnya Yona mendaratkan cubitan mautnya di lengan kekasihnya sampai Regan mengaduh kesakitan. 


Keduanya kini memasuki lift, sedangkan Lili dan Septian memilih naik di lift sebelah karena tidak ingin menghirup udara penuh kebucinan dengan pasangan yang baru dimabuk cinta itu.


Regan merangkul pinggang Yona dengan erat, menghirup aroma shampoo wanitanya yang sudah menjadi candu bagi dirinya selama ini. Aroma tubuh yang begitu dia rindukan selama kegelapan menyergap lelaki itu.


Bukankah Regan harus merasa bersyukur telah mendapatkan wanita sebaik Yona? Wanita paling luar biasa yang ternyata masih tetap bersedia menemani Regan bagaimanapun kondisi lelaki itu.


“Yona, jantungku kenapa?” tanya Regan memegang dadanya, dengan meringis kesakitan.


Yona menoleh dengan cepat, di saat itu pula Regan mengecup bibir Yona, mencecapnya perlahan hingga mata Yona melebar karena terkejut dengan apa yang dilakukan Regan saat ini. Lelaki itu semakin memperdalam ciumannya, tangan Regan menekan tombol stop pada lift yang mereka naiki hingga lift itu berhenti mendadak.


“Aku menunggu moment yang baik, untuk meluapkan kerinduanku kepadamu,” lirih Regan dengan mata berbinar penuh cinta.


Yona menarik tengkuk Regan, wanita itu memberanikan dirinya untuk memperdalam ciuman di antara mereka berdua. Jujur saja, Yona begitu merindukan setiap cecapan yang dirinya dan Regan lakukan dengan dipenuhi perasaan.


Menahan kerinduan selama satu tahun, hidup dalam cangkang kosong menantikan lelaki yang dia cintai terbangun dari tidurnya tentu saja bukanlah hal mudah bagi Yona. Berkali-kali dirinya selalu menyalahkan diri atas segala sesuatu musibah yang menimpa Regan. Berkali-kali pula Yona memiliki keinginan untuk pergi meninggalkan Indonesia dan seluruh carut-marutnya saking tidak kuatnya wanita itu menahan rasa sesak di hatinya.


Bayang-bayang kematian kapan saja bisa datang menjemput Regan. Keadaan tubuh yang tidak stabil sampai-sampai hampir membuat Yona menjadi gila karena memikirkannya.

__ADS_1


“Jangan pernah kau ulangi lagi, Regan. Aku mungkin tidak akan sanggup lagi,” lirih Yona memeluk tubuh Regan dengan erat.


“Akupun tidak akan sanggup jika harus jauh darimu, Yona,” jawab Regan mengelus puncak kepala Yona.


Kedua insan itu kini menangis haru, tidak menyangka bahwa hari ini benar-benar akan tiba. Yona tidak menyangka penantiannya pada akhirnya berujung bahagia. Yona tidak memerlukan apapun di dunia ini. Harta, kehormatan, ketenaran, dan juga karir rasanya tidak bisa dia rasakan ketika seseorang yang dia cintai tidak bisa dia dekap erat seperti sekarang ini.


“Kamu tahu keindahan apa yang paling menyenangkan di dunia ini?” tanya Regan kepada Yona.


“Apa?” Yona menatap Regan, mencari jawaban atas pertanyaan lelaki itu.


“Dicintai dan mencintai,” jawab Regan mengecup kedua pelupuk mata Yona dengan lembut.


Lampu lift tiba-tiba berkedip, Regan dan Yona menatap ke sekeliling lift yang saat ini mereka naiki.


“Kepada Bapak atau Ibu yang mungkin berada di dalam lift, apakah ada kendala sampai lift berhenti?” tanya operator lift lewat sensor suara yang tersambung hingga ke dalam lift.


“Tidak ada, maaf tadi anak saya salah pencet,” jawab Regan membuat Yona mati-matian menahan tawanya.


----------------------------------------------------------------------------------------


PROMOSI NOVEL AUTHOR YANG LAINNYA.


CINTA DAN BENCI


Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.


Saat suami menghianati istrinya..


Papa yang melukai anaknya..


Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!


Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.


Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.


"Aku tidak percaya dengan cinta. Kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kamu bermain api dengan saudara tiriku!" -Nadia Mark Wijaya-


"Cinta itu rumit, serumit kisah cintaku padamu," -Fernando Pirthflyoza

__ADS_1


__ADS_2