
Regan mengusap wajahnya kasar, ataukah mungkin Yona sudah turun dari kapal dan meninggalkannya didalam kapal karena wanita itu marah dengannya?
Tentu saja semua itu bisa saja terjadi karena Yona mudah marah dan juga tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi tidak mungkin, tour gate mereka tidak mungkin hanya membawa Yona saja dan meninggalkan dirinya sendiri diatas kapal.
Beberapa orang menghampiri Regan, bertanya secara langsung kepada lelaki itu bagaimana kronologi sampai Yona bisa berpisah dengannya.
“Sudah mencarinya di tempat spa, atau mungkin mall? Wanita sangat suka tempat-tempat itu.”
Iya, ada beberapa tempat yang belum Regan cari. Tempat spa dan juga mall di kapal pesiar yang ada di deck lantai delapan. Tapi kenapa Yona harus repot-repot membuang-buang uang yang cukup besar hanya untuk menikmati spa dan juga berbelanja diatas kapal pesiar megah ini?
Tidak perlu naik kapal pesiar seharga ratusan juta, Yona bisa berbelanja sepuasnya ketika wanita itu berada di daratan.
“Kru kapal sudah naik ke lantai delapan, anda disini saja. Siapa tahu miss Yona AW mendengar pengumuman dan datang ke sini.”
“Iya, semoga saja,” jawab Regan berdoa dalam hatinya semoga Yona
Di tempatnya, Yona yang baru saja duduk di kedai ice cream mendengus mendengar pengumuman dimana Regan tengah mencarinya.
“Kenapa lelaki itu selalu saja menggangguku? Atau mungkin dia sudah dibuang oleh para wanitanya?” keluh Yona yang nampak tidak peduli meskipun Regan dengan jelas mengatakan jika lelaki itu mencarinya dan merindukannya?
Lucu sekali, tadi lelaki itu nampak acuh dan tidak peduli dengannya. Tapi sekaran mengatakan bahwa Regan mencarinya? Itu pasti alibinya untuk membuat semua orang semakin kagum atas diri lelaki itu, menyebalkan sekali.
“Yona, aku tahu kamu mendengarku. Kemarilah, sebelum aku yang menemukanmu dan kita menikah saat ini juga secara agama,” ancam Regan membuat Yona langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari menuju pusat informasi kepal pesiar tersebut.
Yona berlari dengan tergesa-gesa kearah ruang informasi, wanita itu menendang beberapa orang tanpa peduli. Yona semakin mempercepat langkahnya saat Regan memulai hitungannya lewat speaker informasi di sana.
“Sialannnn!” pekik Yona frustasi karena jalanan yang dia lewati sangat ramai sehingga membuatnya harus berteriak agar para penumpang kapal lainnya bisa menyingkir dari jalannya sebelum Regan kehilangan akalnya dan menyebutkan angka selanjutnya.
“Tiga!”
“Regan!” panggil Yona dengan napas terengah-engah bersamaan dengan kata tiga yang keluar dari mulut lelaki itu.
Lelaki itu menoleh ke arahnya, secepat kilat Regan memeluk Yona ke dalam dekapannya. Lelaki itu mengelus rambut Yona, bahkan air mata lelaki itu sampai menitik di sudut matanya begitu melihat Yona berjalan ke arahnya dan memanggil namanya dengan kondisi yang sehat tanpa kekurangan suatu apapun pada diri wanita itu.
“Sudah berapa kali aku mengatakannya kepadamu, jangan pergi tanpa izinku Yona,” lirih Regan memeluk Yona dengan sangat posesif.
Seluruh orang di ruangan informasi yang turut mengkhawatirkan Yona kini bisa bernapas lega, karena kejahatan diatas kapal pesiarpun tidaklah sedikit. Parahnya, beberapa hari yang lalu ada berita tentang lelaki yang terjun dari kapal pesiar dengan motif bunuh diri.
Yona merasakan jantungnya berdegup tidak karuan ketika Regan memeluknya. Suara lelaki itu tersirat kekhawatiran didalamnya. Benarkah Regan sangat mencemaskannya?
“Regan aku tidak pergi jauh, aku hanya naik ke lantai atas untuk berjalan-jalan sebentar,” jelas Yona menepuk-nepuk pelan punggung lelaki itu yang sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Jangan pergi lagi tanpa izinku, aku mohon kepadamu," ucap Regan menangkup wajah wanita itu.
Yona tersihir tatapan mata lelaki itu, Yona mengangguk. Mata Regan benar-benar menunjukkan bahwa lelaki itu terlihat sangat cemas atas kepergian Yona dari pandangan mata lelaki itu.
Regan benar-benar cemas, lelaki itu tidak tahu lagi harus berbuat apa jika Yona tidak dia temukan didalam kapal pesiar itu. Apa yang harus Regan katakana kepada keluarga William jika anaknya hilang saat berlibur bersama dengannya. Mungkin mereka akan marah besar kepada Regan karena dianggap tidak bertanggung jawab sama sekali kepada Yona, sedangkan lelaki itulah yang mengajak anak mereka untuk berlibur menggunakan kapal pesiar itu.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya berjalan-jalan sebentar dan membeli baju ini,” jelas Yona tersenyum lembut kearah lelaki itu, tangan Yona menunjuk baju baru yang dia pakai dan juga paperbag yang berisi baju pertamanya tadi pagi.
“Kumohon, jangan seperti ini lagi. Aku bisa gila jika harus kehilanganmu.”
Yona menggenggam tangan lelaki itu, menenangkan Regan yang mungkin saat ini tengah kebingungan setelah kepergian Yona yang tanpa pamit.
“Aku minta maaf karena membuatmu cemas, bukankah lebih baik kita keluar dari kapal dan bersenang-senang diluar sana?” tanya Yona diangguki oleh Regan.
Yona dan Regan berterimakasih kepada petugas informasi tersebut, mereka berdua menitipkan paperbag baju Yona di tempat penitipan disana.
Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari kapal pesiar, menyambut indahnya pemandangan Kota Havana didepan mata mereka.
“Kamu membuatku kalang kabut untuk dress ini?” tanya Regan tidak percaya.
Yona mengangguk.
__ADS_1
“Bagaimana? Cantik bukan?” tanya Yona kepada Regan.
Regan mengacak rambut Yona yang kini tergerai bebas mengikuti sapuan angin.
“Kamu tetap cantik memakai apapun juga,” jawab Regan membuat Yona tersenyum puas.
Yona mendongakkan wajahnya, matanya menyipit begitu sinar matahari Kota Havana menyapa wajahnya.
“Aku tahu kamu pasti takut kalau aku bersama lelaki lain, benar begitu?”
“Hm, terserah kamu saja. Ayo cepat tour gate kita sudah menunggu,” jawab Regan menarik tangan Yona untuk segera mengikutinya menuju mobil tour guide mereka di Kota Havana yang telah mereka sewa sebelumnya.
Dua orang tour guide sudah menunggu mereka sejak tadi.
“Selamat datang di Kota Havana,” ucap tour gate itu diangguki Yona dan Regan.
Mereka langsung memasuki mobil tour gate tersebut yang akan membawa mereka mengelilingi Ibu Kota Kuba tersebut.
“Kita akan ke mana saja untuk hari ini?” tanya Yona penasaran.
“Kita akan mendatangi beberapa situs terkenal Kota Havana,” jelas salah satu tour guide.
“Termasuk Plaza Catredal?”
“Maksudnya Plaza de la Catedral?” tanya tour gate mereka mengoreksi pertanyaan Yona.
“Iya tempat itu maksudku," jawab Yona mengangguk.
“Tentu saja, kami akan membawa anda berdua menikmati keindahan Kota Havana,” sahutnya, membuat Yona tersenyum puas.
Wanita itu membuka jendela mobil, menikmati angin Kota Havana.
“Regan-“
“Astaga, kamu jadi bisa menebak isi otakku. Jangan-jangan kamu kesambet hantu kapal pesiar?” tanya Yona mendekatkan wajahnya kearah Regan, menelisik tatapan mata lelaki itu.
Regan menggelengkan kepalanya tidak tahu kemana arah pikiran didalam kepala wanita cantik itu. Wanita itu memiliki berbagai pemikiran aneh setiap harinya yang tentu saja tidak bisa Regan mengerti sepenuhnya.
Mata mereka dimanjakan bangunan-bangunan megah yang merupakan bangunan kuno yang dibangun sekitar tahun 1990-an namun masih berdiri kokoh hingga sekarang. Di Kota Havana ini juga, terdapat area dimana berdiri rumah-rumah besar bak istana dengan halaman luas yang merupakan bekas rumah orang-orang kaya di zaman Presiden Batista.
Tata kota di sana juga sangat rapid an dibuat dengan bangunan perblok hingga memudahkan siapapun untuk mencari alamat di kota itu.
Di sana juga terdapat bangunan di sepanjang Malecon yang termasuk salah satu World Heritage UNESCO yang akan direstorasi dan dilestarikan. Malecon banyak dikunjungi wisatawan di mana ujung Malecon ini menuju Kota Tua Havana yang sangat indah untuk bersantai ataupun menikmati pemandangan pantai yang sangat menyejukkan.
“Aku jadi teringat dengan film Fast an Farious 7,” ucap Yona ketika melewati jalanan Malacon yang menjadi tempat syuting film itu.
“Kota Havana, sangat cantik dan memiliki sejarah unik disetiap tempatnya,”ucap Regan menatap kagum pemandangan yang memanjakan matanya.
“Kalau anak kita perempuan, aku akan memberinya nama Havana,” lanjut Regan menoleh ke arah Yona, meminta pendapat wanita itu.
Yona mengangguk, Havana, nama yang indah dan juga kota yang sangat indah. Wanita itu menyenderkan kepalanya di bahu Regan. Betapa bahagianya menikmati hari berlibur bersama dengan orang dia cintai.
Sebenarnya, Yona tidak perlu liburan mahal dengan tujuan harus ke luar negeri. Baginya, cukup menghabiskan waktu bersama Regan saja sudah sangat menyenangkan dan juga membahagiakan. Ini adalah kali pertama Yona berlibur dengan orang yang dia cintai. Meskipun Yona telah lama menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya Nino, tapi mereka sangat jarang menghabiskan waktu berdua dan berakhir dengan perselingkuhan Nino dengan wanita lain yang akhirnya Yona ketahui dengan mta kepalanya sendiri.
Sedih? Tentu saja tidak, Yona bukan wanita yang akan hanyut terbawa suasana ketika pasangannya berselingkuh darinya. Kesalahan apapun akan Yona maafkan, asalkan tidak bermain wanita lain di belakang mereka. Yang terpenting bagi Yona hanya satu, memiliki pasangan yang bisa menerima segala apa adanya pada diri Yona, bukan seseorang yang hanya menginginkan ada apanya dengan apa yang wanita itu miliki.
Ketenaran, kemewahan, kecantikan, dan juga status sosial wanita itu yang membuatnya memiliki daya tarik sendiri didepan para lelaki. Yona tidak akan mencari lelaki yang mapan ataupun yang lainnya. Yona hanya menginginkan lelaki yang tidak pernah melepaskan tangannya setelah tahu kekurangannya.
Lelaki itu adalah Regan, lelaki yang kini duduk bersamanya menikmati keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuk mereka semua sebagai umatnya.
♥
Mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran kawasan El Capitolio, tempat wisata yang sekaligus memang menjadi situs peninggalan sejarah yang sangat layak untuk dikunjungi para wisatawan yang mampir ke Kota Havana, selaku Ibu Kota dari Negara Kuba.
__ADS_1
El Capitolio merupakan situs public yang dibangun dari tahun 1926 hingga tahun 1929 ketika berada dibawah pimpinan Presiden Kuba Gerardo Machado dibawah arahan dari Eugenio Rayneri Pidrea. El Capitolio atau yang sering disebut Gedung Capitol Nasional ini terletak di jalan Paseo del Prado Dragones, Industria, San Jose, pusat kota Havana.
“Ini tiruan dari Capitol Amerika Serikat bukan?” tanya Regan yang kini mengamati situs bersejarah itu yang sampai saat ini masih berdiri dengan kokohnya menjadi primadona di Kota Havana.
Kedua tour gate mereka menoleh, salah satu dari mereka menggeleng yang menandakan ‘bukan’.
“Kelihatannya memang sangat mirip, tapi kalau kita amati lebih dalam Capitol Havana satu meter lebih tinggi, satu meter lebih lebar dan satu meter lebih lebar daripada Capitol Amerika Serikat,” jelas tour guide itu mengenai El Capitolio Havana.
“Tapi kalau dilihat dari kasat mata hampir sama dengan yang berada di Washington,” ucap Regan menilai bangunan sejarah di depannya.
Yona mendengus, “Dasar sok tahu” cibir Yona melirik Regan dengan mengejek.
Regan menatap Yona kesal, tidak tahukah Yona jika Regan pernah tinggal selama tiga tahun di Amerika untuk menyelesaikan study Magisternya dan bekerja satu tahun sebagai asisten profesornya kala itu.
“Aku pernah tinggal di Amerika tiga tahun, memangnya dirimu yang hanya tahu soal pose didepan kamera, menjadi model iklan minuman jeruk nipis,” ejek Regan membuat Yona menganga mendengar ejekan dari Regan.
“Itu minuman vitamin, bukan minuman jeruk nipis. Dasar katrok,” balas Yona tidak mau kalah.
Kedua tour gate mereka saling menatap dan menghendikkan bahunya tidak mengerti apa yang tengah Yona dan Regan bicarakan dengan bahasa ibu mereka yang terdengar sangat asing ditelinga mereka berdua.
“Mari kita turun,” ajak tour gate itu setelah mereka memarkirkan mobil mereka di tempat parkir yang telah disediakan khusus mobil.
Mereka berempat keluar dari mobil, kedua tour gate mendahului Yona dan Regan untuk membimbing jalan dan menjelaskan bagaimana sejarah berdirinya El Capitolio Havana.
“Lihat ini, detailnya lebih kaya dan juga lebih rumit,” tunjuk tour gate itu menjelaskan bagaimana detail bangunan dari El Capitolio Havana yang membedakan dengan Capitol Amerika Serikat yang ada di Washington DC.
“Jadi ini yang dinamakan rumah patung indoor terbesar ketika di dunia,” gumam Yona terpana oleh keindahan bangunan El Capitolio Havana.
Begitu mereka memasuki aula utama, mereka di sambut oleh patung The Rebel Angel karya pematung asal Italia. Di bangunan itu juga terdapat banyak lampu yang secara khusus dirancang oleh desainer Kuba dan sebagian besar diproduksi di Perancis.
“Ini dia yang disebut dengan Patung Republik, patung terbesar ketiga di dunia setelah patung Buddha Nara dan Abraham Lincholn yang ada di Washington,” jelas tour gate itu.
Baik Yona maupun Regan kini menganga melihat keindahan patung itu.
“Nama latinnya La Estatua de la Republica, karya Angelo Zanelli,” lanjutnya.
Mereka kembali berkeliling bangunan sejarah itu, mengenali lebih dalam peninggalan-peninggalan sejarah di dunia yang memang sangat layak untuk diketahui asal sejarahnya untuk menjadi cerita nanti ketika mereka memiliki anak.
“Itu bukannya Yona AW dan tunangannya?” pekik salah satu pengunjung dengan bahasa mereka.
Yona sontak saja menoleh ketika mendengar namanya disebut oleh seseorang. Wanita itu tersenyum menyapa meskipun tidak mengenal mereka yang kebanyakan wanita. Mereka seperti mahasiswa yang tengah kunjungan jika dilihat dari jas almamater yang mereka pakai.
“Dia sangat tampan jika dilihat secara langsung,” pekik mereka berbinar melihat wajah Regan secara langsung.
Beberapa dari mereka langsung berlari ke arah Regan dan Yona.
“Bolehkan aku berfoto denganmu?” tanya mereka menatap Yona dan Regan bergantian.
Bagi Yona berfoto bersama adalah hal yang biasa menurutnya, oleh karena itu Yona mengangguk mengiyakan permintaan mereka.
“Tentu saja,” jawab Yona tersenyum.
“Bukan denganmu, tapi dengan lelaki ini,” ucap mereka membuat mata Yona terbelalak.
Apa kata mereka? Berfoto dengan Regan dan mereka menolak untuk berfoto dengan Yona? Berani-beraninya mereka membuat Yona merasa rendah.
“Bisa tolong fotokan kami?” pinta salah satu dari mereka menyerahkan ponselnya kearah Yona.
Regan menutup mulutnya sebelum tawa lelaki itu meledak melihat ekspresi wajah Yona saat ini.
“Satu, dua , tiga,” ucap Yona menjepret asal ponsel itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya.
Memangnya siapa mereka berani meminta Yona memfoto mereka dengan Regan sedangkan dirinya sering kali menolak orang-orang yang ingin berfoto dengannya? Jangan harap kalian bisa mendapatkan hasil foto yang bagus dari jepretan tangan Yona karena Yona sengaja membuat foto itu ngeblur.
__ADS_1
‘Rasakan itu!’ kekeh Yona di dalam hatinya