My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lukamu Adalah Lukaku (Persahabatan)


__ADS_3

Tanggal pertunangan mereka telah ditentukan kedua belah pihak keluarga. Keduanya telah sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan di salah satu hotel milik keluarga William dengan menyewa Wedding Organizer dari Singapura. Mereka sudah menentukan tanggal yang cocok untuk pertunangan anak-anak mereka.


Dua minggu lagi sejak mereka menentukan tanggal. Waktu yang lumayan singkat untuk Yona dan Regan mempersiapkan dirinya bahwa mereka berdua akan menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Untuk tanggal pernikahan, mereka akan membahasnya nanti setelah acara pertunangan berjalan dengan lancar.


Keluarga Regan dan Yona memasrahkan segala gaun dan jas seluruh anggota keluarga mereka kepada Nadia.


“Apa? Dua minggu lagi? Dan seluruh keluarga besar kalian?” pekik Nadia ketika Yona dan Regan datang ke butiknya dengan selembar undangan pertunangan mereka untuk Nadia.


Yona merajuk, wanita itu meraih tangan Nadia.


“Pleasee Nad, buatkan aku gaun dari tanganmu sendiri. Ya, yaa?” pinta Yona memasang wajah memelasnya.


Nadia menganga, Yona memang sangat ahli perihal merayu seseorang. Tapi tidakkan itu terlalu singkat? Paling tidak saat ini waktu Nadia membuatkan gaun dan jas untuk kedua belah pihak keluarga hanya sepuluh hari kerja hingga finishing mereka lakukan.


Sedangkan ada dua pegawainya yang meminta cuti karena akan melahirkan dan juga akan menikah minggu ini. Saat ini Nadia hanya memiliki sepuluh pegawai yang masih aktif bekerja untuknya. Padahal pekerjaan mereka masih sangat banyak.


“Nad? Kamu kan teman Regan sejak SMA. Mau ya?” pinta Yona mengingatkan Nadia jika wanita itu dan Regan sudah berteman sejak Regan duduk dibangku kelas tiga SMA.


Pegawai Nadia masuk membawa tiga minuman untuk mereka.


“Silahkan diminum,” ucap pegawai Nadia dengan ramahnya.


Salah satu keunggulan di butiknya karena selalu ramah dalam melayani pelanggan meskipun mereka hanya berniat melihat-lihat ataupun bertanya-tanya saja. Terkadang, butik-butik besar seperti butik milik Nadia pasti tidak segan-segan menolak pelanggan yang datang hanya untuk mampir saja tanpa membelinya.


“Nad?” Yona masih saja gencar merayu Nadia agar mau menerima permintaannya.


“Baiklah-baiklah, aku menyerah. Merayu memang dirimu juaranya,” cibir Nadia membuat Yona bersorak bahagia.


Nadia menyodorkan minuman yang telah pegawainya buatkan untuk mereka bertiga kepada Regan dan Yona.


“Diminum dulu,” ucap Nadia diangguki pasangan tergila yang pernah dia temui selama ini.


Yona dan Regan akhirnya bisa bernapas lega saat Nadia menerima permintaan mereka untuk menjadi desainer keluarga mereka dalam acara bersejarah ini. Siapa yang tidak tahu segala macam desain yang telah Nadia buat? Bahkan gaun rancangannya menjadi rebutan para elit yang saat ini hanya memproduksi beberapa saja untuk model yang sama.


Sebenarnya Nadia bekerjasama dengan tailor dari berbagai tempat untuk menyelesaikan jahitannya. Tapi masalah  desain dan detailnya, Nadia sendiri yang akan mengurusnya bersama dengan para pegawai butiknya. Jadi itulah yang membuat rancangannya menjadi idola, karena wanita itu turun langsung dalam setiap pembuatan gaun dan berbagai jas yang dia jual.


“Jadi, sekarang kamu bisa memulai mengukur ukuran tubuh kami?” tanya Yona membuat Nadia terbelalak.


“Hei, kalian baru saja datang kemari dan meminta aku mengukur ukuran tubuh kalian sekarang juga? Bunuh saja aku sekarang juga,” keluh Nadia membuat Yona tertawa.


“Baiklah, besok saja datang ke rumahku dan ke rumah Regan untuk mengukur ukuran tubuh kami. Ah ya, untuk Kak Marva, Kak Anna, dan Machiko aku nanti akan memberikan ukuran mereka kepadamu,” jelas Yona.


“Sendiko dawuh, Ratu,” jawab Nadia dengan tatapan malasnya.


Mereka berdua berpamitan untuk meneruskan membagikan undangan pertunangan mereka berdua. Nadia tersenyum menatap Yona dan Regan yang kini berjalan beriringan dengan sangat serasi keluar dari ruangan pribadinya. Jujur saja, Nadia juga tidak menyangka akhirnya hati Regan akan berlabuh kepada Yona yang memiliki karakter dan sikap yang sangat bertolak belakang dengan sikap tenang Regan selama Nadia mengenal lelaki itu.


Nadia meraih undangan pertunangan Regan dan Yona, undangan yang dicetak dari perusahaan percetakan milik keluarga Racka.


“Dasar, mereka selalu pintar mencari sponsor,” kekeh Nadia menatap undangan itu.


“Siapa yang pintar mencari sponsor, Sunshine?” tanya seorang lelaki membuat wanita itu menoleh.


Nadia tersenyum melihat lelaki itu datang ke butiknya.


“Aku kira kamu sibuk hari ini,” ucap Nadia menghambur ke pelukan tunangannya.


“Aku tidak bisa menahan rindu yang semakin menyesakkan dadaku,” jawab lelaki itu membuat keduanya tertawa bersama.



Mobil Regan memasuki pelataran rumah utama keluarga Corlyn yang baru saja kembali dari San Diego kemarin. Tidak lupa, Yona membawakan oleh-oleh untuk anak-anak mereka yang sangat menggemaskan. Yona dan Regan keluar dari mobilnya, wanita itu menoleh sejenak kea rah Regan.


“Kita akan kemana? Rumah Sisil, atau Viona?” tanya Yona merasa bingung dengan dua bangunan megah di hadapannya.


“Rumah siapa tidak penting, toh mereka pasti akan datang sendirinya untuk bergabung,” jawab Regan memimpin jalan Yona lebih dahulu.

__ADS_1


Mereka menekan tombol bel di rumah Sisil, tumben sekali rumah itu terlihat sangat lengang. Biasanya ada beberapa pekerja mereka yang membersihkan halaman depan mereka. Tadi hanya ada dua security yang membukakan gerbang untuk Regan dan Yona ketika mobil mereka hendak memasuki pelataran rumah utama Keluarga Corlyn.


“Yona, Regan?”


Sang nyonya rumah, Cecilia Fanyandra Corlyn membukakan pintu untuk mereka sendiri.


“Tumben kamu sendiri yang buka, pekerja kamu ke mana?” tanya Yona.


“Ah mereka? Kami meliburkan mereka dua hari. Kan mereka udah jaga rumah beberapa hari saat kita semua berlibur. Jadi kami sepakat untuk meliburkan mereka. Ayo masuk,” ucap Sisil mempersilahkan Yona dan Regan untuk masuk ke dalam rumahnya yang bagaikan istana modern.


Yona dan Regan mengikuti langkah Sisil, seperti biasa mereka berdua tidak dipersilahkan duduk di ruang tamu. Melainkan bergabung dengan keluarganya di ruang keluarga.


“Daddy, Yona dan Regan datang. Pasangan viral kita ada di sini loh,” ucap Sisil kepada suaminya yang fokus menonton televisi dengan baby Zio dan baby Valeria dalam ayunannya.


Nata menoleh. “Kalian? Bagaimana liburannya? Sudah menghasilkan belum?” tanya Nata membuat Sisil melemparkan bantal sofa ke arahnya.


“Memangnya semua lelaki otaknya sama seperti dirimu?” omel Sisil kepada suaminya.


“Iya iya, gitu aja marah,” keluh Nata cemberut membuat Yona dan Regan tersenyum melihat interaksi Sisil dan Nata yang tidak jauh berbeda dari interaksi dirinya dan juga Regan.


“Mana Viona? Di rumahnya?” tanya Yona mencari keberadaan wanita itu.


“Biasa, dia ada pekerjaan. Sebentar lagi juga pulang, kan sudah waktunya jemput Varo sekalian aku tadi meminta Viona menjemput Nayna juga,” jelas Sisil.


Sisil menuju dapur, mengambil botol sirup untuk membuatkan tamunya minuman meskipun kedua tamu itu adalah tamu yang tidak diundang.


“Buatkan mereka sirup sunlight saja, Honey,” kekeh Nata yang sangat ahli menjadi perusak suasana.


“Kalau sirup sunlight khusus dirimu seorang, mau?” tanya Sisil dari pantry.


Nata mendengus, pagi ini dia sudah sangat tersiksa karena dia harus merawat baby Zio sendirian sementara Sisil membersihkan rumah dan memasak untuk mereka saat para pekerjanya diliburkan. Mulai dari mengganti popok baby Zio, hingga menidurkan baby Zio dan juga menenangkan anaknya saat baby Zio mulai rewel. 


Bukan hanya Nata, Racka juga sama tersiksanya karena melakukan pekerjaan serupa terhadap baby Valeria. Sekarang lelaki itu melimpahkan tugasnya kepada Nata karena Racka harus menemui klien pentingnya yang tidak mungkin membawa baby Valeria ke sana.


Yona mengambil baby Valeria yang kini tengah mengoceh tidak jelas arti dan maksudnya.


“Baby Valeria pup loh Yon, Nata disuruh mengganti popoknya dari tadi belum juga diganti,” cibir Sisil menatap suaminya kesal.


Padahal hanya mengurus anak, dia yang sejak pagi mengerjakan segala pekerjaan rumah dan juga selalu on time jika ada pekerjaan dari perusahaan keluarganya yang bisa membutuhkannya kapan saja.


“Biarkan Yona yang menggantinya,” ucap Regan membuat Yona menoleh cepat kearah lelaki itu.


“Benarkah? Terimakasih Yona,” ucap Sisil dengan mata berbinar karena pekerjaannya diringankan dengan kehadiran Regan dan Yona disana.


“Hah? Iya sama-sama, mana pampersnya?” tanya Yona meskipun dengan setengah hati.


Wanita itu berdiri dengan menggendong baby Valeria, dengan sengaja wanita itu menginjak kaki Regan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


Nata menatap Yona yang sedang menggendong baby Valeria.


“Lihat bro, wanita akan luluh dengan bayi. Makanya cepet-cepet buatin Yona anak jadi dia bakalan klepek-klepek sama kamu,” ucap Nata menggurui Regan.


“Lalu bagaimana kabarmu yang masih saja kalah dengan istrimu?” ejek Regan menyadarkan Nata, bahwa sekalipun Nata dan Sisil sudah memiliki dua anak tapi tetap saja wanita itu tidak takhluk kepada Nata.


Justru, Nata-lah yang terlihat sangat menurut dan juga over protectif kepada wanita itu karena takut jika Sisil akan kembali meninggalkannya dengan membawa anak-anaknya ikut bersama wanita itu.


“Sialan, kamu bisa aja ngelesnya,” cibir Nata menendang lengan Regan dengan kakinya karena posisi Nata saat ini sedang rebahan.


“Hidup berumah tangga kayaknya seru ya jika melihat dari keluarga kalian,” ucap Regan berasumsi.


“Ada enaknya, ada enggak enaknya sih. Enaknya ya gini seperti yang kamu lihat, dan enggak enaknya juga gini seperti yang kamu lihat,” jawab Nata membuat Regan mendengus mendengarkan jawaban paling aneh menurut Regan.


“Asli Sil, gimana kamu bisa betah hidup sama otak sinting seperti dia? Setiap ditanya jawabannya selalu nyeleneh,” keluh Regan berbicara kepada Sisil yang tengah berjalan ke arah mereka dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.


“Sebenernya aku mau tukar tambah,” jawab Sisil tertawa.

__ADS_1


Suara tangisan membuat mereka spontan langsung menatap kearah baby Zio yang terbangun dari tidurnya. Sisil meraih tubuh baby gembul itu, memeluknya dalam dekapannya.


“Uuu tayang tayang, gantengnya mommy udah bangun ya?” 


Baby Zio tertawa, seakan sudah mengenali jika wanita cantik itu adalah ibunya.


“Nanana mammam,” oceh baby Zio dengan bahasanya sendiri.


“Nih gendong, aku buatin makan siang baby dulu,” ucap Sisil mendudukkan baby Zio diatas perut rata Nata.


“Lihat kan?” ucap Nata memberitahu Regan bagaimana tidak enaknya hidup berumah tangga.


Semua pasti berjalan beriringan, suka dan duka, bahagia dan juga sengasar. Termasuk juga perhatian Sisil dan siksaan Sisil disaat-saat seperti ini.


“Wadawww,” pekik Nata ketika baby Zio memukul wajahnya.


Semua orang tertawa melihat Nata yang selalu saja kena pukul baby Zio, mungkinkah baby Zio tahu jika mommynya dulu pernah disakiti playboy cap kacang atum tersebut? Makanya baby Zio selalu saja kesal jika Nata yang mengasuhnya.


“Dia tahu daddynya pernah menyakiti mommynya, makanya dia seperti itu,” ucap Yona yang baru saja selesai mengganti popok baby Valeria.


Yona menurunkan baby Valeria di karpet, membiarkan anak itu merangkak semaunya sendiri dengan sangat menggemaskan. Nampaknya baby Zio juga ingin merangkak seperti baby Valeria, Nata menurunkan baby Zio hingga kedua bayi itu saling berceloteh satu sama lain dengan bahasa bayi yang para orang dewasa tidak saling mengerti.


“Benar sekali,” jawab Sisil menyetujui perkataan Yona.


“Lihat kan?” ucap Nata kepada Regan untuk kedua kalinya.


“Oh ya, kedatangan kalian kemari hanya untuk oleh-oleh itu?” tanya Sisil menunjuk paperbag berisi oleh-oleh yang Yona bawa untuk anak-anak mereka.


“Kata Racka kalian baru saja cetak undangan?” tanya Nata serius.


Yona dan Regan mengangguk, Yona mengambil undangan dari dalam tasnya.


“Dua minggu lagi,” ucap Yona dengan sinar kebahagiaan yang tidak luput dari wajahnya.


Sisil bersorak bahagia, kedua wanita itu saling berpelukan.


“Aku sangat bahagia mendengar kabar membahagiakan datang dari kalian, akhirnyaaaa. Aku tidak menyangka kalian benar-benar akan bertunangan dan segera menikah” kata Sisil menggebu-gebu, membuat kedua baby itu menatapnya kebingungan dan tertawa setelahnya karena mengira mommy mereka tengah mengajak mereka bercanda.


“Doakan saja semuanya lancar,” ucap Yona diangguki Sisil.


“Tentu saja, kami pasti mendoakan hubungan kalian lancar sampai ke pernikahan dan seterusnya,” jelas Sisil disetujui Nata.


“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?” 


Mereka semua menoleh, Viona datang bersama Racka, Varo dan juga Nayna.


“Aunty Yona, Uncle Regan!” pekik Varo dan Nayna Berhampur memeluk aunty dan uncle mereka.


“Hallo Prince, Queen. Ah ya, anaknya Kak Marva kayaknya suka deh sama Nayna,” ucap Yona membuat seluruh orang dewasa menatap Yona tidak percaya.


“Mereka masih anak-anak Yona, kamu ini ada-ada saja,” jawab Viona berjalan kearah wastafel untuk mencuci tangannya.


Viona memanggil Varo dan Nayna untuk melakukan hal yang sama sebelum mereka berinteraksi dengan baby Zio dan baby Valeria.


“Ini undangan pertunangan kalian?” tanya Viona ikut nimbrung diantara mereka semua.


“Ndanda,” gumam baby Valeria mengulurkan tangannya ke arah Viona.


“Iya ini Bunda,” jawab Viona meraih baby Valeria untuk duduk di pangkuannya. 


Racka menonyor kepala Regan, tidak menyangka jika sahabatnya itu jadi bertunangan dengan Yona. Padahal dulu Racka ingat sekali saat Regan mengeluh tidak suka mendengar akan dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya.


“Semoga saja lancar,” ucap Viona diamin’i Regan dan Yona.


Yona merasa bahagia berada dalam lingkaran pertemanan seperti mereka. Teman-teman yang sangat baik dan saling mendukung meskipun terkadang mereka selalu berbeda pendapat dan tidak mau mengalah satu sama lain.

__ADS_1


Hubungan pertemanan seperti merekalah yang pastinya akan awet hingga ajal menjemput mereka. Tidak ada rasa iri dan dengki dengan keberhasilan maupun kebahagiaan diantara mereka. Bagi mereka, satu bahagia maka itu adalah kebahagiaan semua orang. Tidak ada yang perlu untuk mereka jadikan bahan iri dengki, iri dengki hanya dimiliki oleh mereka yang tidak yakin akan kemampuan dirinya sendiri.


Prinsip yang mereka pegang, lukamu adalah lukaku, dan bahagiaku adalah bahagia sahabatku.


__ADS_2