My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Terjangkit Virus Corona


__ADS_3

“Sayang, ada tamu siapa?” tanya seorang wanita yang baru saja masuk membuat ketiga orang itu menoleh menatapnya.


Wanita itu melenggang memasuki rumah, suara heelsnya bagaikan irama yang saling beriringan memenuhi ruangan. Dokter Gustin Justavo tersenyum lembut ke arah istrinya yang baru saja pulang dari mengunjungi rumah kanker secara rutin.


“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Dokter Gustin Justavo menghampiri istrinya, mencium kening istrinya dengan lembut.


Yona menatap mereka dengan perasaan yang hangat, Dokter Gustin Justavo sepertinya tipikal lelaki yang sangat menyayangi istrinya.Terbukti sekali dari cara Dokter Gustin Justavo menatap wajah cantik istrinya yang sangat cerah.


“Aku baik-baik saja, sepertinya kamu membawa tamu untuk hari ini?” tanya Livia tersenyum ke arah suaminya.


Dokter Gustin Justavo mengangguk, lelaki itu menggeser tubuhnya membiarkan sang istri untuk melihat siapa tamu yang dia bawa ke rumah mereka. Sosok pasangan yang sempat membuat wanita itu menangis karena tidak menyangka jika pasangan itu mendapatkan cobaan yang begitu berat menjelang hari pertunangan mereka.


Tidak hanya itu, memang Livia memiliki kedekatan dengan lelaki yang akan menjadi pasien suaminya. Reganera Abimanyu Louis, teman dari Rehan Prehantara Kusuma. Livia terkejut, tidak menyangka jika suaminya akan membawa Regan dan Yona datang ke rumahnya.


Bagaimana ini? Bagaimana jika melihat wajah Livia dan mengetahui rahasia yang telah dia tutup rapat untuk semua orang, termasuk juga keluarganya di Indonesia. 


Yona menghampiri Livia, wanita itu tersenyum lembut ke arah istri Dokter Gustin Justavo.


“Ternyata anda lebih cantik dari yang saya bayangkan, Nyonya Justavo,” ucap Yona mengulurkan tangannya dengan senyuman ramah yang terukir di wajah mantan model Internasional itu.


Livia mengerjapkan matanya sejenak, tidak menyangka akan bertemu dengan model yang selalu wara-wiri di media sosialnya. Bahkan beberapa produk makanan di Singapura sering memakai Yona sebagai brand ambassador mereka. Luar biasa sekali Yona AW ini.


Livia menerima uluran tangan Yona dengan tidak kalah ramahnya, wanita itu langsung membawa Yona ke dalam pelukan singkatnya.


“Senang bertemu denganmu, tidak usah formal jika bicara denganku. Aku rasa kita bisa menjadi teman yang baik untuk ke depannya,” jawab Livia menggenggam tangan Yona, memberikan salam pertemanan mereka untuk pertama kalinya.


Sepertinya Yona tidak mengenal wanita cantik di depannya, syukurlah kalau begitu Livia bisa bernapas dengan lega karena Yona tidak mengenalnya. Mungkin semua orang di Indonesia telah melupakannya dan tidak ada yang pernah mengenangnya sama sekali. Maka dari itu Yona tidak mengenalnya sama sekali, selain wanita yang menjadi istri dari Dokter Gustin Justavo.


“Dia Reganera?” tanya Livia menatap sosok Regan yang terlihat memasang wajah penuh tanya dalam benaknya.


Suara istri dari Dokter Gustin Justavo hampir mirip dengan suara mendiang kekasih sahabatnya yang telah meninggal karena penyakit kanker. Ah, sayang sekali Regan tidak bisa melihat wajah wanita itu, andai saja Regan bisa melihatnya mungkin Regan bisa menilai seperti apa wajah wanita yang mirip dengan Olivia Dera Bellvaria itu.


Yona mengangguk, wanita itu segera menarik tangan Regan untuk mendekat. Yona memperkenalkan Regan kepada Olivia,


“Dia calon suamiku,” ucap Yona tersenyum.


Regan merasakan ada es yang menyirami hatinya, tumben sekali Yona mengenalkannya kepada orang sebagai calon suami wanita itu. 


“Perkenalkan saya Regan,” ucap Regan memperkenalkan diri kepada Livia.


Livia Justavo tersenyum, “aku mendengar tentangmu dari suamiku, semoga lekas sembuh dan kalian segera menikah secepatnya. Jangan lupa untuk memberikan kami undangan,” ucap Livia terkekeh renyah.


Yona ikut terkekeh bersama wanita itu, “doakan saja, untuk itu kami datang ke mari meminta bantuan dari Dokter Gustin. Semoga Regan segera membaik,” ucap Yona menyiratkan doa dalam ucapannya.


“Mereka akan menginap di sini selama proses medis dilakukan,”ucap Dokter Gustin Justavo diangguki oleh Livia sang istri.


“Tentu saja, aku sangat senang kalian bisa menginap di sini. Jangan sungkan-sungkan, buat diri kalian nyaman di sini,” ucap Livia menatap Yona dan Regan.


Livia mencuri pandang ke arah Regan, wanita itu menghela napasnya panjang. Tidak tahu harus bersyukur atau malah kasihan dengan Regan yang kehilangan penglihatannya untuk mengenali wajah seseorang. Di satu sisi lain, Livia Justavo merasa bersukur karena Regan tidak tahu jika dirinya masih hidup dan berdiri di depannya. Di sisi satu yang lainnya, Livia turut kasihan dengan apa yang telah menimpa Regan.


Beruntunglah, Yona mampu mempertahankan Regan di sampingnya. Mungkin wanita lain akan menyerah jika terlupakan oleh lelaki yang dia cintai. Belum lagi keterbatasan Regan dalam mengenali wajah semakin membuat hubungan mereka diterpa angin ribut. Yona memang mencintai Regan, Yona bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Yona meyakini atas apa yang dia percaya, hasil tidak akan mungkin mengkhianati usaha.


Yona telah mati-matian untuk mempertahankan Regan di tengah kemelut panas hubungan mereka, belum lagi perasaan Regan yang lebih sensitive dari sebelumnya membuat Yona harus bersiaga dan juga siap mental jika Regn tiba-tiba berubah karena ingatan sekilas lelaki itu yang mulai mengganggu ketenangan hidup Regan saat ini.


“Ayo masuk ke dalam, aku harus menyambut tamuku di rumah ini,” ucap Livia menarik tangan Yona untuk mengikutinya.


Sementara Regan dan Dokter Gustin membawa masuk koper bawaan Regan dan Yona masuk ke dalam rumah. Livia meminta Yona dan Regan untuk duduk di ruang keluarga, wanita itu memanggil asisten rumah tangga yang bekerja dengannya untuk membuatkan minuman dan juga mambawa makanan ringan untuk menjamu Yona dan Regan di sana.


“Bagaimana perjalanan kalian ke sini? Pasti di bandara lumayan sepi karena virus corona ya?” tanya Livia menebak perjalanan mereka berdua.


Regan dan Yona mengangguk serempak, “kami mawas diri dengan melakukan suntik vaksin kekebalan tubuh sebelum naik pesawat,” jawab Regan.


Lelaki itu tidak berbohong ataupun mengada-ngada, Rehan sendiri yang menyuntikkan vaksin itu kepada mereka berdua sebagai pelindung dalam tubuh supaya tidak terjangkit virus corona yang mungkin bisa saja telah menyebar di Negara Singapura.

__ADS_1


Siapa yang tahu jika Regan dan Yona mungkin dalam pesawat dengan para turis yang membawa virus corona dalam tubuh mereka? 


Bandar Udara Changi Singapura sendiri merupakan bandara transit dunia yang memungkinkan semua orang untuk berpapasan satu sama lain hingga tertularnya virus corona itu kemungkinan bisa terjadi di antara mereka. Seperti yang telah diketahui, Virus Corona sendiri berasal dari Wuhan dan terus menyebar ke seluruh pelosok dunia yang memiliki cuaca yang cocok untuk perkembangbiakan virus itu dapat terjadi.


Karena virus corona itulah, Bandar Udara Changi yang digadang-gadang memiliki fasilitas terbaik dalam pelayanan menjadi sepi. Bahkan di boarding room sekalipun terlihat sangat lengang. Biasanya kursi-kursi itu penuh oleh para penumpang pesawat yang tengah menunggu pesawatnya siap berangkat.


Beberapa sumber menyatakan, Singapura sendiri menjadi salah satu negara yang warganya positif terjangkit virus corona.


“Dokter, ada berapa catatan yang terjangkit virus corona di Singapura?” tanya Regan penasaran.


“Kemaren kalau tidak salah ada sembilan puluh satu kasus virus corona yang sudah dikonfirmasi di Singapura. Tapi lima puluh delapan dari kasus itu sudah dinyatakan pulih dan sehat, termasuk satu warga negara Indonesia sepertinya,” jelas Dokter Gustin Justavo.


“Terus kasus yang stay home notice itu bagaimana?” tanya Yona penasaran.


Pasalnya, ada seorang lelaki berumur 45 tahun telah kehilangan status tempat tinggal permanennya di Singapura setelah melanggar stay home notice. Karena itu pula pemerintah melarang lelaki itu memasuki Negara Singapura lagi karena telah melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerinta setempat guna memerangi wabah virus corona di Negara Singapura agar tidak menyebar luas.


“Ah kabarnya sih dia melakukan perjalanan ke China baru-baru ini, dan lelaki itu sepertinya tidak mengendahkan aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Lelaki itu bahkan nekat pergi dari rumah, sampai akhirnya saat petugas CIA melakukan pengecekan di rumahnya tapi dia tidak ada di rumah,” jelas Dokter Gustin Justavo kepada Regan dan Yona.


Tidak menampik ganasnya virus corona, bahkan tadi Regan dan Yona juga dihadang oleh petugas kesehatan tepat setelah mereka keluar dari pesawat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Untunglah, Regan dan Yona sudah menyiapkan surat keterangan sehat dari Rehan dengan stempel basah Rumah Sakit Kusuma yang langsung dikonfirmasi pihak kesehatan bandara ke Rumah Sakit Kusuma.


Mungkin jika Regan dan Yona tidak membawa surat keterangan sehat itu, pastilah mereka akan melewati serangkaian pemeriksaan di sana yang memakan banyak waktu.


“Kalian tadi di periksa kan?” tanya Dokter Gustin Justavo.


“Iya, tapi kami bawa surat keterangan sehat dari Rumah Sakit Kusuma, dan sudah dikonfirmasi langsung oleh pihak kesehatan bandara ke sana,” jawab Regan membuat ekspresi wajah Livia pias seketika.


Mendengar nama marga keluarga lelaki di masa lalunya membuat Livia merasakan sesak yang luar biasa dalam dadanya. Sesak karena merasa berdosa telah menorehkan luka sedalam itu kepada keluarganya dan juga teman-temannya yang sangat menyayangi dirinya. Hanya Nadia, Livia masih terus berhubungan dengan Nadia untuk mendapatkan informasi terbaru perihal keluarganya di Indonesia.


Itupun tidak mudah, Livia harus mencari waktu yang tepat untuk menghubungi Nadia agar Gustin sang suami tidak tahu jika dirinya berhubungan dengan Nadia, temannya. Gustin Justavo nampaknya mengira jika ingatan Livia belum pulih hingga sekarang. Padahal, Livia hanya tidak ingin dia memiliki kesempatan untuk meninggalkan lelaki yang sudah mempertaruhkan segalanya untuk dirinya.


Jika keluarganya dan semua orang sudah bahagia dengan tempatnya masing-masing, kenapa Livia harus kembali ke sana dan membuat keributan baru yang nantinya malah membuat banyak pihak terluka. Orang tuanya, adiknya, Rehan, Melodi, dan juga lelaki yang kini menjadi suaminya. Gustin Justavo, lelaki yang membuat Livia rela meninggalkan segalanya untuk menyeimbangkan pengorbanan cinta mereka berdua.


“Syukurlah, nanti malah rumah kita didatangi petugas CIA karena ada turis masuk rumah ini,” kekeh Dokter Gustin Justavo.


“Memangnya mereka berani masuk rumah dokter hebat seperti Dokter Gustin Justavo?” tanya Yona penasaran.


“Tolong siapkan kamar tamunya ya Mrs,” ucap Livia diangguki asisten rumah tangganya.


“Baik Nyonya Justavo,” jawabnya mengundurkan diri.


“Maaf ya hanya ada satu kamar kosong, satu kamar lagi sedang di renovasi ulang,” jelas Livia membuat Yona membulatkan matanya sempurna.


“Apa? Satu kamar?” pekik Yona kehilangan kontrolnya ketika Livia menjelaskan jika Regan dan Yona akan berada dalam satu kamar.


Livia dan Gustin tersenyum geli, sedangkan Regan terlihat tersenyum kemenangan. Inilah yang dia tunggu-tunggu, sekamar lagi dengan Yona yang sungguh menyenangkan.


‘Tidak, Regan pasti akan menjadikanku bahan mimpi erotisnya lagi,’ batin Yona mendengus sebal menatap Regan yang kini tersenyum mengejek.


“Memangnya kenapa Yona?” tanya Livia dengan tatapan menggoda.


Astaga, mana mungkin Yona menjelaskan apa yang telah terjadi ketika dirinya tidur bersama Regan. Bisa-bisa Yona begadang semalaman suntuk karena Regan yang tiba-tiba saja mendesah dan melenguh panjang membuatnya bergidik ngeri.


Memangnya benar ya semakin dewasa semakin tinggi juga hormone sexs seseorang? Ckckc, menggelikan sekali Regan itu.


“Tidak kami kan belum mukhrim,” jawab Yona mencari-cari alasan untuk menolak tidur bersama dengan Regan.


Livia tersenyum lembut, “jadi Regan tidur di luar?” tanya Livia menautkan kedua alisnya.


“Yona, ingat aku ini seorang pasien. Mana ada pasien diperlakukan seperti babu?” keluh Regan tidak terima jika dirinya harus tidur di luar.


“Begini saja, aku tidur dengan Livia. Kamu tidur dengan Dokter Gustin?” usul Yona.


Regan dan Dokter Gustin Justavo kompak berteriak ‘tidak’, menolak usulan dari Yona yang malah membuat para lelaki itu kehilangan kesempatan. 

__ADS_1


“Kalian selalu bertengkar seperti ini? Padahal waktu dulu Regan-,” ucapan Livia terhenti, dia sekarang ingat bahwa Livia telah berbeda dengan dirinya yang dulu.


Saat ini namanya Livia Justavo, bukan Olivia Dera Bellvaria yang mengenal Regan dan teman-temannya yang lainnya.


“Kamu mau bicara apa?” tanya Yona menatap Livia penasaran.


Livia menggeleng, “tidak, kalian beristirahatlah dulu, nanti malam kita makan bersama. Ayo aku antarkan ke kamar,” ucap Livia mengajak Regan dan Yona untuk mengikuti langkahnya.


Alamat, Yona sudah dipastikan akan bermalam dengan Regan dalam beberapa hari. Haruskah Yona tidur menggunakan mukena atau selimut yang melilit seluruh tubuhnya? Memangnya dia ini makanan lepet yang harus dililit dengan rapat?


“Kalian akan memakai kamar ini beberapa hari ke depan,” jelas Livia sambaru membuka pintu kamar tamu, mempersilahkan Regan dan Yona masuk ke dalam.


Di belakang mereka, Gustin Justavo membawakan koper mereka berdua masuk ke dalam kamar itu. Sebagai tuan rumah, Gustin Justavo sadar benar apa yang harus dia lakukan termasuk membuat kedua tamunya semakin dekat.


“Selamat beristirahat,” ucap Gustin Justavo sebelum menutup kamar itu dan mengajak Livia keluar dari sana.


Pintu kamar tertutup, tinggallah Yona dan Regan berdua di dalam kamar itu. Dengan cepat Yona merebahkan tubuhnya merentangkan tangan dan kakinya seperti ingin menguasai ranjang itu sendirian.


“Yuhuuuu sepertinya ranjang ini tidak muat untuk kita berdua Regan, kamu tidurlah di luar sana,” ucap Yona membuat Regan memutar bola matanya jengah.


Yona seperti anak kecil yang hendak menguasai mainannya dari orang lain.


“Kamu tidak sadar posisimu itu membahayakan?” tanya Regan menatap Yona.


Yona tersadar, wanita itu segera merapatkan tubuhnya. Yona mendelik tajam menatap Regan dengan kekesalan yang luar biasa.


“Awas kamu kalau berani macam-macam,” ucap Yona penuh ancaman.


Regan terkekeh, “aku tidak nafsu denganmu,” ucap Regan membuat Yona membelalakkan mata.


Tidak nafsu katanya? Wuahhh hebat sekali Regan berani mengatakan hal seperti itu kepadanya.


“Yona, sepertinya aku terkena virus corona deh,” ucap Regan dengan wajah tegang.


Yona langsung bangkit menghampiri Regan, “kamu tidak becanda kan?” tanya Yona tidak kalah tegang. Wanita itu memegang tangan Regan, “astaga aku tidak boleh menyentuhmu nanti aku tertular,” ucap Yona dengan mengangkat tangannya ke atas.


Regan menyentuh pundak Yona, “heii jangan pegang nanti aku tertular virusnya,” ucap Yona khawatir.


“Tidak bisa menyebar dan menular, hanya ada di diriku.”


“Maksud kamu apa?” tanya Yona memicingkan matanya.


“Virus Corona, Cerita Cintaku Mung Karo Yona,” jawab Regan receh.


(Translete to Indonesia : Cerita cintaku cuma sama Yona)


Yona tersenyum dengan wajah tersipu malu, “ihhhhh kamu membuatku kesel tahu nggak, rasain nihhh!” ucap Yona mencubit lengan Regan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


-


-


-


SPOILER TERBONGKARNYA PERSELINGKUHAN DONATAN DENGAN SAHABAT QUEENAYNA (WHAT IS LOVE?) DI APP DRE*AME.


Tidak tahu ada dorongan dari mana, Nayna begitu yakin jika anak yang tengah dikandung Ekafi adalah anak dari Donatan. Nayna tahu benar, Ekafi pernah bercerita jika wanita itu berhenti dengan kebiasaan buruknya setelah mengenal Donatan. Bukankah itu sudah jelas?


"Aku tidak percaya wanita sinting itu mengandung anakku," jawab Donatan lantang.


Nayna melotot garang dan berkacak pinggang ,"Baiklah kamu bisa tes DNA agar kamu bisa yakin jika itu adalah anakmu," ucap Nayna.


Tes DNA? Rasanya itu ide yang baik untuk situasi Donatan saat ini.

__ADS_1


"Oke deal," jawab Donatan pada akhirnya.


Dalam hati Nayna bersyukur, setidaknya dengan tes DNA yang mereka lakukan, Ekafi bisa menikah dengan Donatan jika memang anak dalam kandungan Eka adalah anak lelaki itu.


__ADS_2