My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lunturnya Citra Model Internasional


__ADS_3

Baiklah, mungkin lebih baik Yona kembali masuk ke dalam rumahnya untuk sarapan pagi yang sudah terlewat. Regan memang keterlaluan, lelaki itu sepertinya sengaja mengerjai Yona.


“Loh, kok kembali lagi?” tanya Shinta yang bingung melihat Yona masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah cemberut.


“Lelaki sialan itu sepertinya sengaja mengerjaiku, Mommy. Jam kuliahnya setengah satu dan dia baru mengabari Yona saat Yona sudah siap berangkat ke kampus,“ keluh Yona berjalan kearah kulkas mengambil minuman dingin di sana dan meneguknya dengan kasar.


Yona mendesah lega saat minuman itu sudah membasahi kerongkongannya. Wanita itu berjalan kearah meja makan,


“Mbak Dewii?” panggil Yona kepada salah satu pelayan rumahnya.


“Mbak Dewi ke pasar, kamu mau makan apa?” tanya Shinta.


“Terserah, Mommy,“ jawab Yona menekuk wajahnya kesal.


Shinta mengangguk, wanita itu mengambil beberapa bahan makanan yang akan dia gunakan untuk membuatkan sarapan Yona. 


“Cheese and beef scrambled egg ala chef Shinta Williamm, jeng jenggg.“ 


Makanan yang Shinta buat telah siap disajikan, Yona tersenyum melihat makanan yang dibuatkan sang mommy untuk dirinya.


“Thank you, Mommy,“ ucap Yona berterimakasih kepada mommynya.


“Hm, cepat makan.” 


Yona menikmati menu sarapan yang kini ada dihadapannya, kalau dia sarapan bersama dengan daddy dan mommynya mungkin Yona akan mendapatkan makanan dan juga lauk pauk lainnya karena memang sang daddy tidak suka sarapan sederhana seperti dirinya yang hanya cukup dengan roti gandum ataupun salad buah saja.


“Kamu sudah memilih desaigner mana yang akan kamu percaya membuatkan gaun pertunanganmu?” tanya Shinta membuat Yona menoleh ke arahnya.


Yona menggeleng, toh dia tidak berniat bertunangan dalam waktu dekat ini.


“Bagaimana Nadia Mark?” usul sang mommy.

__ADS_1


Nadia? Wanita yang dulu pernah memiliki hatinya Regan? Heol, ini akan semakin menarik karena dengan begitu Yona bisa memberitahu Nadia bahwa Regan kini tidak lagi mencintai wanita itu.


“Boleh juga sih Mom,“ jawab Yona.


“Oke, Mommy akan memberitahu Lili kalau begitu.“


“Kyaaaaaaaa, Mommyyyyy!“ teriak Yona saat mommynya berdiri dari tempat duduk di depannya dan berjalan ke arah kamar wanita itu dengan wajah sumringah.


Yona mengacak rambutnya frustasi, mommynya dan bunda Regan memang selalu berbagi kabar up to date tentang hubungan dirinya dan juga Regan.


“Hah? Iya iya Yona sendiri yang bilang kalau dia mau Nadia Mark yang menghandle baju pertunangannya,“ ucap Shinta kepada Lili di telepon yang masih bisa Yona dengar.


Wanita itu meletakkan sendoknya kasar, Yona mendorong kursinya dengan kakinya hingga menimbulkan suara berderit di sana.


“Mommy, Yona ke kampus sekarang,“ pamit Yona berlalu dari sana tanpa mencari keberadaan mommynya yang tengah sibuk membicarakan topic pembahasan ibu-ibu dengan Lili.


Yona melempar tasnya ke kursi belakang mobilnya, wanita itu menatap wajahnya dari kaca tengah mobilnya.


“Aishhhh aku bisa gila memikirkannya,“ ringis Yona memukul setir mobilnya.


Wanita itu segera melajukan mobilnya menuju kampus meskipun waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang. Toh tidak ada yang bisa Yona lakukan di rumah, dia hanya akan semakin gila jika harus berdiam diri di rumah dengan berbagai tuntutan yang mommynya tujukan padanya.


Suasana kampus satu memang lebih ramai daripada kampus kedua yang hanya di khususkan untuk penempuh program study magister. Wanita itu memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dosen, bukankah dia memang berada disana karena menjadi asisten dosen dari Regan si mulut lemes.


Yona mengambil tasnya, tidak lupa wanita itu memakai sunglasses hitam andalannya. Yona keluar dari mobil setelah memastikan penampilannya sudah rapi.



Kedatangan Yona pertama kali di kampus itu nampaknya membuat seluruh mahasiswa disana kalang kabut, mereka menatap Yona tak berkedip.


“Dia bukannya Yona AW?“

__ADS_1


“Benar, dia Yona. Tapi dari kabar yang aku dengar dia melanjutkan studi Magisternya, kenapa dia datang di kampus satu?” tanya salah satu gerombolan disana.


“Demi Tuhan, dia lebih cantik dari yang aku lihat di media sosial dan majalah-majalahnya!“



Yona melepaskan kacamatanya dan melemparkan senyumannya kepada seluruh mahasiswa yang dia lewati. Yona berhenti sejenak, wanita itu mencari tempat yang cocok untuk menunggu sampai waktu menunjukkan pukul setengah satu.


Ah, lebih baik dia duduk bersama para mahasiswa di kursi yang disediakan di lobby kampus.


“Permisi,“ ucap Yona tersenyum menyapa.


“Kakak, Yona AW kan?” tanya salah satu mahasiswa yang duduk di samping Yona.


“Hm, benar,” jawab Yona tersenyum menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


Para mahasiswa itu menatap Yona menganga, mata mereka melebar.


“Mau minta foto atau tanda tangan?” tawar Yona dengan penuh percaya diri.


Kapan lagi Yona sebaik itu dengan para penggemarnya, ini pertama kali Yona menawarkan diri untuk berfoto ataupaun meberikan tanda tangannya.


“Tidak, kami tidak ngefans dengan Kakak. Hanya saja, Kakak sangat famous di media sosial.“


Apa katanya? Tidak ngefans dengan Yona? 


What to the hell!! Berani-beraninya mereka berbicara seperti itu di depan Yona.


Dia mantan model Internasional yang sudah sering wara-wiri di berbagai belahan dunia untuk melakukan pekerjaannya, bahkan Yona pernah beberapa kali makan bersama dengan para presiden dari beberapa negara yang secara khusus mengundangnya.


Dan kali ini, mahasiswa tengil seperti mereka menolak saat dia menawarkan dirinya untuk berfoto dan memberikan tanda tangan?

__ADS_1


Oke fix, luntur sudah citra Yona sebagai model internasional.


__ADS_2