
Wanita itu mengerang saat getaran dari nakas meja yang ada di samping ranjangnya mengganggu tidur lelapnya. Yona membuka matanya dengan malas, tangannya meraih ponsel yang sejak tadi terus saja bergetar. Matanya menyipit melihat nama Regan tertera di layar ponselnya.
12 panggilan tak terjawab
5 pesan baru
Ponsel wanita itu kembali bergetar, dengan malas Yona menggeser tombol hijau disana hingga muncul durasi panggilan di layar ponselnya.
“Kamu di mana?” teriak Regan membuat Yona menjauhkan ponselnya dari telinga wanita itu.
“Di rumah, ada apa?” tanya Yona malas.
“Apa tugas yang aku berikan kepadamu? Kamu lupa?”
Kening Yona berkerut, wanita itu berpikir sejenak untuk memikirkan apa yang Regan tugaskan kepadanya.
“Oooh mengisi kelasmu, aku baru bangun tidur,“ jawab Yona santai dengan tangan kanannya mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.
“Apaaa?? Kelasku dimulai jam setengah sepuluh Yona. Dan ini sudah jam sembilan,“ pekik Regan dari seberang sana.
Yona menjauhkan ponselnya, wanita itu mendengus mendengar segala teriakan yang Regan tujukan kepadanya. Memangnya apa salahnya jika Yona datang terlambat? Toh Yona hanya akan menyampaikan materi untuk di copy salah satu mahasiswa dan mereka bagikan sendiri dengan teman-temannya. Kalaupun para mahasiswanya tidak sabar dan mengira mata kuliah Regan kosong maka itu resiko mereka tidak akan bisa mendapatkan absensi kehadiran untuk hari ini.
__ADS_1
“YONAA!” panggil Regan setengah mati menahan amarahnya.
Lihat saja lelaki itu, seenaknya menjadikannya asisten dosen, dan sekarang lelaki itu dengan seenaknya berteriak saat berbicara dengan dirinya. Yona mengakhiri panggilannya sepihak membuat Regan melebarkan matanya di seberang sana.
Sebenarnya Regan tidak akan meminta Yona mengisi kelasnya hari ini jika saja dia tidak mendapatkan tugas untuk mengurus beberapa berkas di Ristekdikti.
Yona langsung bergegas mandi dan bersiap untuk segera berangkat ke kampus satu dimana perkuliahan untuk jenjang pendidikan D3 dan S1 dilaksanakan di kampus itu, berbeda dengan kampus dua yang hanya dikhususkan untuk jenjang Magister saja.
“Kamu mau ke mana?” tanya Shinta saat melihat Yona menuruni tangga dengan pakaian formalnya.
“Mengajar,“ jawab Yona membuat mommynya menatapnya penasaran.
“Non Yona, mau Bibi ambilkan sarapan apa?” tanya pelayan rumah keluarga William.
“Tidak usah Bik, Yona tidak sarapan di rumah kok,“ jawab Yona tersenyum lembut pada pelayan rumahnya.
Shinta menghampiri Yona yang kini meneguk susu sapi segar yang sudah pelayan rumahnya siapkan untuk Yona.
“Siapa yang akan kamu ajar Yona?” tanya Shinta panik jika Yona melakukan sesuatu yang akan menimbulkan masalah di kemudian hari nanti.
“ Mengajar mommy, menjadi asisten dosen si Regan,“ jelas Yona yang nampaknya tahu apa yang kini ada di benak mommynya.
__ADS_1
Shinta hanya ber ‘oh’ ria mendengar penuturan dari Yona.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Shinta.
“Nanti saja di kampus, si dosen mulut lemes itu sudah merecoki Yona sejak tadi,“ jawab Yona menunjukkan ponselnya yang kini berkedip karena panggilan dari Regan yang menelponnya sejak tadi tanpa henti.
Shinta terkekeh melihat interaksi Yona dan Regan yang terbilang sangat unik. Terkadang mereka terlihat sangat serasi dan juga sangat romantis. Tapi terkadang mereka seperti musuh bebuyutan yang tidak tahu kapan bendera perdamaian perdamaian diantara mereka akan berkibar.
“Berhenti menelponku Regan, ini aku on the way sekarang juga. Puasss?” tanya Yona menjawab panggilan dari Regan saat wanita itu sudah masuk kedalam mobilnya dan bersiap untuk berangkat ke kampus sekarang.
“Aku hanya melupakan sesuatu,“ ucap Regan membuat Yona berpikir.
“Apa lagi? Jangan katakan kamu tidak ada kelas hari ini?” tanya Yona menyerngit curiga.
“Bukan begitu, hanya saja aku lupa. Mata kuliahku hari ini ternyata setengah satu siang, aku gantian jam dengan Pak Rochmat,“ jelas Regan membuat Yona terbelalak.
“Setengah satu siang dan kamu sejak tadi sudah mengganggu tidurku?” pekik Yona tidak mampu menahan amarahnya lagi.
Lelaki itu memang suka merusak harinya, Regan benar-benar mood breaker bagi wanita itu.
“Awas saja kau, Regan!“
__ADS_1