My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lelaki Paling Tega


__ADS_3

Godaan terburuk bagi seorang lelaki dewasa adalah melihat wanita tidur dengan memakai celana dalam dihadapannya. Lelaki itu sampai tidak bisa berkutik saat tangan sang wanita melingkar di lehernya. Regan menghela nafas berat, berkali-kali Regan mengambil nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


Saat Yona tidur dalam kondisi sadar saja sudah membuat nyalinya ciut, apalagi kini wanita itu tengah tidak sadar tanpa busana lengkap yang menempel ditubuh idealnya. 


Mata wanita itu tetap terpejam, tidak peduli gerakan-gerakan Regan yang berusaha melepaskan tangan wanita itu dari lehernya sekarang. Jika lebih lama lagi dia terkungkung dengan tubuh mereka yang menempel, Regan tidak bisa berjanji bisa menahan hawa nafsunya sendiri.


Yona benar-benar cantik saat dilihat dari dekat, wajahnya mulus tak bercela. Hidungnya mancung mungil, ditambah bibirnya yang tipis namun sangat sexy di mata Regan. Regan bisa mati muda dihadapkan dengan pemandangan itu lama-lama.


Regan menyentak tangan Yona dengan kasar, lelaki itu mendesah lega saat tangan Yona berhasil dia lepaskan dari lehernya. Lihatlah apa yang wanita itu kini lakukan dalam keadaan tidak sadar, merentangkan tangannya keatas hingga tanktopnya tersingkap ke atas, menampilkan perutnya yang rata.


Regan menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanpa peduli lagi apa yang wanita itu lakukan, Regan segera keluar dari kamar yang menjadi neraka padanya.


Jederrrrrr. Suara pintu tertutup lumayan keras tidak juga mengusik wanita itu dalam lelapnya. Yona tidak sadarkan diri, wanita itu berkelana entah kemana dalam tidurnya.


“Aku bisa gila,“ ucap Regan menggelengkan kepalanya lagi saat dirinya sampai di ruang santai apartemennya.


Lelaki itu merebahkan tubuhnya di sofa yang cukup besar, Regan menatap langit-langit apartemennya. Nampaknya bayangan Yona yang hanya memakai celana dalam, menampilkan kaki jenjang dan juga kulit putih mulus bak bayi mengganggu pikiran Regan.


Mata Regan melirik jam dinding di sana, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Regan mengusap wajahnya frustasi. Kenapa matanya tidak bisa terpejam dengan cepat seperti biasanya.


Apakah ini pertanda bahwa matanya sudah tercemar oleh pemandangan vulgar yang Yona suguhkan tanpa sengaja itu?


Regan berdiri, lelaki itu mengambil air dingin didalam kulkasnya, meneguknya hingga satu gelas berisi air itu tandas. Regan membasuh wajahnya berkali-kali, suasana panas didalam apartemennya membuat Regan tidak bisa terlelap dengan tenang.


Rupanya Regan menyerah, lelaki itu memaksa matanya untuk terlelap apapun yang terjadi. Kalau dia tidak bisa mengatur matanya, bagaimana nanti jika yang dia jaga untuk tertidru pulas didalam sana tiba-tiba bangun. Regan bisa lebih gila lagi daripada saat ini.


.


Pagi harinya, saat matahari sudah menyongsong diatas kepala. Regan menyerngit saat cahaya masuk melalui jendela apartemennya, menyapa penglihatannya untuk pertama kali saat matanya terbuka sempurna. Regan menggeliat, melemaskan otot-ototnya yang terasa pegal karena tidur di sofa.


Regan menoleh ke arah pintu kamar yang Yona tempati, nampaknya wanita itu belum juga tersadar dari tidurnya.

__ADS_1


Regan memilih untuk memesan makanan dari kantin apartemennya karena didalam kulkasnya tidak ada bahan makanan sama sekali. Hanya ada beberapa minuman kaleng bersoda ditambah beberapa snack yang biasanya dia bawa dari luar saat hendak mengunjungi apartemennya.


Tak lama kemudian, penjual makanan dari kantin mengantarkannya. 


“Terimakasih, Bu,“ ucap Regan saat makanan pesanannya sudah berada di tangannya.


“Saya juga berterimakasih, Den Regan,“ jawabnya merasa senang mendapatkan pesanan dari lelaki itu. Regan sering membayar lebih untuk makanan yang dia pesan, menurut Regan itu salah satu bentuk menghargai pekerjaan orang lain.


Hargailah orang lain jika ingin dihargai. Perlakukan orang lain seperti kamu ingin di perlakukan.


Regan kembali menutup pintu apartemennya, lelaki itu menuju dapur untuk menyajikan makanan yang sudah dia pesan untuk dirinya dan juga Yona.


Aroma sup iga yang baru saja Regan tuangkan ke mangkuk kaca, rupanya mengganggu wanita yang sedang tertidur lelap. Yona menggeliat, dia merasakan ada yang beda di tempat yang tengah dia tiduri.


Yona merasakan pening yang luar biasa menyergapnya, tangannya menyentuh kepalanya perlahan. Matanya menelisik keseluruh isi kamar yang terasa sangat asing baginya.


Di manakah dia saat ini? Yona mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Dia mengingat bahwa terakhir kali dirinya minum dengan Viona dan juga Nadia.


Yona mendongak, dia melihat foto keluarga Regan disana. Itu artinya dia di kamar Regan! Tapi kamar itu berbeda dengan kamar Regan yang pernah dia masuki.


Yona merasakan sentuhan kulitnya dengan selimut yang membungkus tubuhnya, matanya terbelalak melihat kondisinya saat ini. Dia hanya memakai celana dalam ditambah tanktop yang sangat ketat membungkus bagian atas tubuhnya. 


Wanita itu segera bangkit dari posisinya.


“Aghhh,“ ringisnya merasakan kepalanya yang begitu berat karena minuman yang terlalu banyak dia teguk bersama Nadia.


Yona membelalakkan matanya saat melihat bajunya tercecer tidak karuan di lantai. Apa yang sudah dia lakukan bersama Regan tadi malam? Kenapa dia bisa berakhir di kamar yang ada foto Regan bersama keluarganya?


“Apa yang terjadi sebenarnya?” pikir Yona memukul kepalanya yang tidak memiliki rekam jejak apapun didalam sana tentang kejadian tadi malam.


Apakah dirinya dan Regan telah melakukannya?

__ADS_1


Yona segera berdiri, dia menyingkap selimutnya mengecek apa yang biasanya menjadi pertanda wanita kehilangan keperawanannya.


Tidak ada bercak darah disana, Yona merasakan kepalanya semakin pusing. Ataukah dirinya tidak berdarah? Astaga, kenapa otaknya tidak bisa memutar kilas balik apa yang sudah mereka lakukan semalaman.


“Aaaaaaaaaa!“ pekik Yona berjongkok di sana, meraup wajahnya dengan frustasi.


Regan berjingkat kaget saat mendengar Yona berteriak sekencang itu. Regan berlari dengan cepat, membuka pintu kamar itu dengan tidak sabar.


“Yona, kau kenapa?” tanya Regan khawatir mendengar teriakan yang keluar dari mulut Yona.


Yona menoleh kearah Regan, keduanya sama-sama terkejut. Yona terkejut karena pikirannya ternyata benar bahwa mereka berdua bermalam di sana. Dan Regan merasa malu melihat Yona tidak berpakaian lengkap.


Regan berbalik. “Aku tidak melihatnya!” ucap Regan segera sebelum Yona berpikir buruk tentang dirinya.


Wanita itu mendengus, mana mungkin Regan tidak melihatnya.


“Regan, aku akan mencongkel mata yang sudah melihatku tidak memakai baju!“ pekik Yona frustasi, melempar Regan dengan bantal dan guling yang ada di atas ranjang.


Yona menutupi tubuhnya dengan selimut, bibirnya bergetar membayangkan bahwa kesuciannya telah direnggut paksa darinya. Yona terisak di tempatnya, wanita itu menatap punggung Regan dengan tatapan nyalang.


“Regan, kamu lelaki paling tega yang pernah aku temui!“ tukas Yona.


Regan menganga, memang apa salahnya lelaki itu hingga dikatakan kejam.


“Memang aku melakukan apa?” sergah Regan penasaran, tanpa sengaja lelaki itu menoleh kebelakang menatap Yona.


“Keluarrrrrr!!!! Sebelum aku benar-benar mencongkel matamu!“ teriak Yona hingga menggetarkan seluruh isi ruangan.


------


Jangan lupa vote dan komen 🙋🙏

__ADS_1


__ADS_2