My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Misi Para Orangtua


__ADS_3

Kepala wanita itu terasa pusing, mendengar bahwa keluarganya ingin menjodohkan dirinya dengan Regan secara ulang membuat otak Yona berpikir keras. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan sampai membuat perjodohan ulang antara dirinya dan juga Regan.


“Regan menerimanya,” jawaban yang sangat tidak bisa diprediksi oleh Yona tiba-tiba keluar dari mulut Regan.


Wanita itu terbelalak, tidak tahu bagaimana jalan pikiran lelaki itu sampai mau menerima perjodohan dengannya.


“Regan, bagaimana kamu bisa berpikir menerima perjodohan kita. Bahkan kamu tidak mengingat enam bulanmu yang terlewat,”ucap Yona menatap Regan tidak percaya.


“Yona, bagaimana denganmu? Kamu mau kan?” tanya Shinta menatap putrinya penuh harap.


Yona berdiri dari tempat duduknya, semua orang kini menatap dirinya meminta jawaban. Apakah mereka pikir Regan akan dengan mudah mengingat kembali masa lalunya yang telah hilang hanya karena mereka membuat kilas balik perjodohan diantara mereka? Sungguh, Yona tidak tahu bagaimana jalan pikiran kedua belah pihak orangtua mereka.


“Yona harus berpikir matang-matang sebelum menjawabnya mommy,” jawab Yona beranjak dari sana untuk mencari udara segar.


Yona berjalan keliling villa, tangannya merapatkan jaket yang kini dia kenakan. Angin malam puncak nampaknya sampai menusuk ke dalam tulangnya. Wanita itu bergidik ngeri, udara di luar villa memang sangat dingin.


Tiba-tiba sebuah jaket mengalung di pundaknya, membuat Yona menoleh seketika. Regan berdiri di sampingnya dan menatap Yona dengan senyum tipisnya.


“Ini bukan berarti kamu menolakku kan?” tanya Regan menatap wanita itu lekat.


“Apa maksudmu?” tanya Yona mengerutkan keningnya bingung.


“Kamu menghindari pertanyaan itu bukan karena ingin menolakku secara halus kan?” tanya Regan kepada Yona.


Wanita itu mengadahkan wajahnya ke langit, menatap jutaan bintang yang kebetulan malam ini bertebaran di sana. Sepertinya bintang-bintang itu ingin menemani kesunyian hati keduanya. Perjalanan cinta seperti apa yang kini tengah mereka lalui?


Mereka begitu dekat, sangat dekat. Tapi rasanya ada tembok besar penghalang cinta mereka sampai keduanya tidak tahu lagi bagaimana cara meruntuhkannya. Cinta yang telah mereka bangun selama ini harus padam bersama gejolak batin yang kini mereka hadapi.


Yona duduk di atas rumput liar, menyilangkan kakinya disana. Wanita itu menepuk sisi kanannya yang masih kosong dan mempersilahkan Regan untuk duduk disana.


“Regan, boleh aku tahu kenapa kamu menerima perjodohan kita? Bukankah kita baru mengenal belum ada dua bulan ini?” tanya Yona mencoba menahan denyut rasa di hatinya.


Dua bulan? Bahkan sehari saja sudah cukup untuk membuat mereka saling mencintai. Karena pada dasarnya mereka saling mencintai jauh sebeluh peliknya masalah datang menghampiri cinta mereka.


“Apakah aku butuh alasan untuk mencintai seorang wanita?” tanya Regan menatap Yona dengan lekat.


Yona mengangguk, “Aku ingin mendengar alasanmu.” Jawab Yona tersenyum tipis.


Regan menghirup napasnya dalam, “Kalau aku mencintai seseorang karena alasan, maka aku bisa meninggalkan seseorang itu dengan alasan. Dan aku tidak ingin punya alasan apapun untuk mencintaimu, apalagi mencari-cari alasan meninggalkanmu,” sahut Regan menjelaskan.


Mereka berdua sama-sama menoleh, kini mata mereka bersitatap seakan sedang mencari jawaban dari tatapan mata mereka. 


“Dan kau, kenapa menghindari perjodohan kita?” tanya Regan mempertanyakan isi kepalanya kepada Yona.


“Aku masih memiliki beban tanggungjawab di masa lalu, aku ingin menebusnya lebih dulu,” jawab Yona menundukkan wajahnya.


‘Aku ingin melepaskan beban ini bersamaan dengan kesembuhanmu Regan,’ batin Yona melanjutkan.


“Beban apa yang membuatmu menolak perjodohan kita?” tanya Regan menatap Yona serius.


“Aku tidak menolak perjodohan kita, aku hanya berkata ingin mencari udara segar lebih dulu.”


Regan tersenyum, lelaki itu mengelus puncak kepala Yona dengan lembut. Regan bisa melihat dari sorot mata Yona jika wanita itu memiliki beban yang tidak bisa bagi dengan orang lain. Beban yang menurut Regan begitu menyiksa Yona sampai wanita itu tidak mampu lepas.


“Kamu bisa membagi bebanmu denganku,” ucap Regan membuat Yona menolek kearahnya.


Berbagi beban dengannya? Apakah Regan akan menerima kenyataan jika beban yang kini menyelimuti hidup Yona adalah beban rasa bersalahnya kepada lelaki itu? Semua ini tidak akan mungkin terjadi kalau saat itu Yona tidak mengotot untuk mengajak Regan mengecek persiapan pertunangan kita.


Nasib buruk tidak ada yang tahu, semuanya telah ditulis oleh Sang Kuasa sesuai porsinya masing-masing. Mereka hanya bisa pasrah dan berdoa untuk diberikan kekuatan batin melewati proses hidup mereka. Tidak ada cinta yang berjalan mulus, semua kisah percintaan pasti ada saja halangannya. Tergantung bagaimana seseorang itu menyikapinya, memilih mundur hancur lebur atau tetap maju dengan harapan berbayang pilu.


Yona bisa melihat jelas, berbagai kisah nyata yang telah tersuguh di depan matanya. Kisah cinta Cecilia dan Nata yang kala itu harus berpisah karena kesalahpahaman, kepergian Cecilia menyembunyikan anak dan kandungannya, kehadiran Darwin Jaxon dalam hidup Cecilia, tapi cinta tetap membawa mereka berdua untuk bersatu. Kisah cinta Racka dan Viona, perjodohan yang dilakukan keluarga Racka hingga membuat Viona lepas dari pelukan lelaki itu, nyatanya cinta menuntun mereka untuk kembali. Kisah cinta Fernando dan Nadia, dimana kisah cinta dan benci beriringan bak sepasang sepatu yang siap melangkah menuju pelaminan, cinta dan kebencian yang akhirnya melebur menjadi hubungan percintaan yang layak mereka ceritakan kepada anak cucu mereka. Dan yang terakhir, kisah cinta Rehan, Olivia, dan Melodi.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Regan ketika melihat sorot mata Yona yang terlihat kosong.


“Aku hanya memikirkan kisah cinta teman-temanmu,” jawab Yona menatap jauh keatas langit.


Regan menyerngit, “Kamu mengetahui kisah tentang mereka berempat?” tanya Regan menatap Yona penasaran.


Regan merasa ada keanehan, dari mana Yona bisa mengenal teman-teman dan istri mereka. Bahkan Yona juga berada dalam satu grup ‘Pasangan Ruwet’ bersama yang lainnya. Regan ingin tahu bagaimana awal perkenalan Yona dengan mereka semua sampai bisa sedekat itu.


“Aku tahu,” sahut Yona menjawab pertanyaan Regan.


“Siapa yang paling kamu sukai diantara kisah cinta mereka?” tanya Regan kepada Yona.


“Kamu tidak berniat menyebar koesioner sekalian? Biar data penelitianmu lebih lengkap?” tanya Yona mendengus.


Regan tertawa, kenapa juga dia tidak menggunakan otaknya untuk membuat platform menulis dan mengangkat kisah cinta teman-temannya.


“Jangan bilang kamu sedang berpikir membuat buku tentang kisah cinta pasangan ruwet yang absurt itu?” tebak Yona menatap ekspresi wajah Regan saat ini.


Lelaki itu mengangguk, “Hei kenapa kita tidak bekerja sama dengan produser untuk mengangkat cerita cinta mereka menjadi film?”


“Kalau ada produser yang melirik, mungkin mereka akan mengangkat tema cerita tentang dirimu yang menyebalkan,” ucap Yona mengejek.


“Pasti laku keras di pasaran kalau mereka mengangkat tema tentang diriku, kira-kira judulnya apa?” tanya Regan dengan serius.


Yona memutar bola matanya, “My Sweet Dosen?”.


“Nahhh, itu cocok sekali dengan karakterku yang sangat manis, lembut, dan juga baik hati,” ucap Regan membuat Yona tertawa kencang.


Mata Yona bahkan sampai berair karena mendengar lelucon dari mulut Regan, mana ada produser yang akan mengangkat cerita tentang dosen mengesalkan seperti dirinya.

__ADS_1


“Hei kamu tidak percaya dengan kharismaku?” tanya Regan merasa harga dirinya terjun bebas jatuh ke dalam jurang saat Yona menertawakan dirinya.


“Aku akan menjawab pertanyaanmu, kisah cinta siapa yang menurutku paling menarik,” ucap Yona menarik napasnya dan melanjutkan jawabannya, “aku menyukai kisah cinta Nadia dan Fernand, cinta dan kebencian yang beriringan menjadi satu padu,” jawab Yona.


Kisah cinta yang menurut Yona sangat menyesakkan dadanya, cinta pasangan kekasih dan cinta keluarganya. Nadia dan Fernand melalui begitu banyak guncangan dalam perjalanan kisah cinta mereka sebelum akhirnya mereka kembali di pertemukan di waktu dan kesempatan yang lebih baik lagi.


“Semua yang berjodoh pasti akan bertemu, mereka akan dipertemukan di waktu, tempat, dan kesempatan yang lebih baik lagi,” ucap Regan menatap ratusan bintang di langit malam.


Yona mengangguk, wanita itu membenarkan apa yang Regan katakan. Jauh di lubuk hati Yona yang paling dalam, wanita itu juga ingin disatukan kembali oleh sang waktu yang akan membawa ingatan Regan kepada lelaki itu lagi. Hari dimana Yona akan berterimakasih kepada Tuhannya karena telah memberikan kesembuhan untuk Regan, lelaki yang sangat dia cintai.


“Regan.” Panggil Yona hingga membuat lelaki itu menoleh. “Kamu tidak takut ada seseorang yang kamu cintai di waktu yang sudah kamu lupakan? Seseorang yang mungkin tengah menunggu kedatanganmu untuk mencarinya?” tanya Yona kepada Regan.


Seseorang yang mungkin tengah menunggu kedatangannya, seseorang yang mungkin sangat dia cintai dalam kurun waktu yang sudah dia lupakan. Seseorang yang mungkin saja menjadi pemilik hatinya tanpa dia ingat siapa wanita itu.


Kenapa Regan tidak berpikir sejauh itu?


“Aku tidak akan mencarinya, atau mencoba untuk menemukannya. Sebab aku percaya satu hal, kita bisa menutup mata atas apa yang tidak ingin kita lihat, tapi kita tidak bisa menutup hati dan pikiran kita untuk apa yang ingin kita lupakan. Bukankah itu artinya hati dan pikiran ini akan mengingat siapa pemiliknya?” tanya Regan membuat Yona tertegun mendengar jawaban Regan.


“Bagaimana, jika kamu mencintai wanita di masa lalumu?” tanya Yona kepada Regan.


“Hati ini akan menuntunku kembali padanya,” jawab Regan menatap tepat di manik mata Yona.


Ya, hati itu juga yang telah membawa Regan mendekat kepada Yona. Hati itu juga yang merasakan panas mendidih ketika Yona dekat dengan lelaki lain. Hati yang membuat Regan tidak bisa jauh dari wanita itu. Masa bodoh dengan masa lalunya, yang terpenting hanya satu. Hatinya tidak bisa berbohong kalau hati itu telah memilih Yona sebagai pemiliknya.


“Tapi kamu belum bertanya, bagaimana statusku saat ini Regan. Bagaimana mungkin kamu tiba-tiba menerima perjodohan ini.”


“Kenapa? Kamu tidak mencintai lelaki lain kan? Bahkan kalau kamu mencintai lelaki lain sekalipun aku tidak akan mundur. Aku akan membuatmu mencintaiku,” jawab Regan malah membuat Yona tersenyum geli.


Bisakah membuat Yona jatuh cinta lagi dengan orang yang sama atas pemilik hati wanita itu? Sepertinya akan lebih tepat jika Regan mengatakan akan membuat Yona semakin dalam mencintainya. Karena pada nyatanya, perasaan itu semakin tumbuh dari hari ke hari menjadi perasaan yang sangat menyiksa wanita itu. Perasaan yang ingin sekali Yona utarakan kepada Regan jika saja lelaki itu tidak kehilangan sebagian ingatannya.


“Bagaimana kalau aku janda?” tanya Yona.


Mata Regan melebar, lelaki itu menatap Yona dalam, mencoba mencari kebohongan dari sana.


Yona terbahak, melihat ekspresi wajah Regan yang terlihat sangat panik membuat Yona sangat terhibur.


“Kamu tidak berpikir kalau aku benar-benar janda kan?” tanya Yona terkekeh geli.


“Astaga, aku hampir mati disini kalau denger kamu janda. Siapa lelaki yang bodoh meninggalkanmu,” ucap Regan menggelengkan kepalanya.


“Ada, ada lelaki yang bodoh melupakanku Regan. Lelaki itu bodoh sekali kan?” 


“Bodoh sekali lelaki yang melupakanmu itu,” ucap Regan membuat Yona lagi-lagi terkekeh.


Itu seperti mengatai diri Regan sendiri, baru kali ini Yona melihat lelaki sebodoh Regan, ckck.


“Ayo kita masuk ke dalam, udara sangat dingin,” ucap Yona mengajak Regan masuk ke dalam.


“Yona kamu tidak apa-apa?” tanya Regan berjongkok memastikan Yona tidak terluka parah.


“Hanya lecet saja,” jawab Yona membersihkan bekas tanah dari lututnya.


Lutut wanita itu lecet, Regan dengan cepat membopong tubuh Yona masuk ke dalam villa.


“Regan apa yang kamu lakukan?” pekik Yona ketika tubuhnya terasa terayun ke atas.


“Menggendongmu, apa lagi?” jawab Regan dengan santainya.


“Yaa, turunkan aku. Bagaimana kalau orangtua kita melihatnya?” Yona meminta Regan segera menurunkannya.


Regan tidak memperdulikan ucapan Yona, lelaki itu malah membopong tubuh Yona naik ke lantai atas villa keluarganya.


“Lili, kemari,” panggil Shinta seperti bisikan, melambaikan tangannya kepada Lili untuk segera mendekat kearahnya.


“Ada apa Shin?” tanya Lili menghampiri Shinta dengan penasaran.


Shinta menunjuk Regan yang terlihat tengah menggendong Yona menuju kamar mereka,


“Regan menggendong Yona ke lantai atas? Ke kamar mereka?” pekik Lili langsung saja membuat Shinta membekap mulut Nyonya Abimanyu Louis itu.


“Sttt, jangan berisik,” ucap Shinta kepada Lili.


Shinta tersenyum bahagia, wanita itu menatap Lili penuh arti.


“Lili, sepertinya rencana kita sukses. Sebentar lagi kita akan mengurus acara pertunangan mereka,” ucap Shinta kepada Lili.


“Astaga Shinta, kita kan belum mendengar jawaban Yona,” jawah Lili menggelengkan kepalanya.


“Alah, Yona pasti menerimanya. Mereka kan memang dijodohkan sejak awal Lili. Ini hanya reka ulang agar Regan mengingat kembali masa lalu yang sudah dia lupakan,” ucap Shinta kepada Lili.


Shinta menarik tangan Lili, “Kita mau kemana?” tanya Lili memastikan.


“Kita naik ke lantai atas, siapa tahu mereka cari kesempatan dalam kesempitan. Jadi kita punya alasan buat menikahkan mereka kan?” kekeh Shinta menertawakan idenya sendiri.


Lili hanya mendengus pasrah menerima ajakan dari Shinta yang menurutnya menganggu Yona dan Regan. Bukankah seharusnya Regan dan Yona butuh waktu untuk berdua saja membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka?


“Shinta, kita kembali saja. Berikan privasi untuk anak-anak kita. Mereka kan sudah dewasa, mereka pasti malu kalau ketangkap basah,” ucap Lili mencoba menghentikan Shinta yang dengan semangatnya menarik tangannya menaiki tangga lantai dua villa milik keluarganya.


“Lili, kamu ini tidak tahu ya bagaimana pergaulan anak muda jaman sekarang. Kalau kita tidak menghentikan mereka bisa bahaya, nanti kalau Yona tekdung duluan bagaimana?” tanya Shinta menakut-nakuti Lili.


Lili menghela napasnya panjang, mereka berdua akhirnya menaiki tangga untuk mengetahui apa yang tengah dilakukan Regan dan Yona.

__ADS_1


“Lili, Shinta, apa yang kalian lakukan? Kenapa berjalan mengendap-ngendap seperti itu?”


Mereka berdua berjingkat kaget, keduanya menoleh ke belakang mendapatai Hendra dan Septian berdiri disana dengan menatap mereka penuh tanda tanya.


“Sttt, kami sedang mempergoki Regan menggendong Yona ke lantai atas. Mereka masuk kamar,” ucap Shinta membuat Hendra melebarkan matanya.


Jiwa seorang ayahnya kini membara, “Beraninya mereka gendong-gendongan sebelum sah,” ucap Hendra berjalan tergesa-gesa menaiki tangga.


Dengan cepat Shinta menarik tangan suaminya, “Hei kita tunggu saja apa yang akan terjadi, ini kesempatan kita untuk menikahkan mereka,” ucap Shinta memberikan penjelasan.


“Sayang, bagaimana kalau mereka melanggar norma-norma kita?” tanya Hendra kepada istrinya.


Shinta menggeleng, “Tenang saja, toh mereka akan menikah juga kan,” jawab Shinta membuat Hendra, Lili, dan Septiap memejamkan mata mereka.


Ada-ada saja otak dari Shinta William ini.


“Ahh Regan pelan-pelan,” teriak Yona di dalam sana mengerang kesakitan.


Mereka berempat terbelalak, semua orang disana saling menatap penuh curiga.


“Apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?” ucap Septian merasa risau, tidak enak rasanya mengganggu aktivitas dewasa antara Regan dan Yona.


“Sepertinya mereka sudah melakukannya,” bisik Shinta memelankan suaranya, berharap pasangan yang akan mereka gap tidak mendengarnya.


“Kita kembali saja Shinta, aku tidak enak. Mereka pasti sangat malu,” bisik Lili.


Hendra mengusap wajahnya frustasi, “Aku harus mendengar suara rintihan putriku? Astaga kalian pasti becanda,” ucap Hendra terlihat sangat frustasi.


Shinta berdecak kesal, “Kalau kamu tidak mau menjalankan misi ini bersamaku, sana masuk ke kamarmu.” Ancam Shinta mendelik tajam kearah Hendra.


Hendra hanya mampu menghela napasnya kasar, mereka seperti orang yang tidak punya pekerjaan dengan menguping di depan pintu kamar yang di tempati Yona.


“Aww, pelan-pelan Regan ini sakit,” teriak Yona lagi ketika Regan membersihkan lukanya dengan kain kasa dan alcohol.


“Ini sudah pelan-pelan Yona,” kesal Regan menatap Yona tajam.


Dipegang sedikit saja Yona berteriak, bagaimana nanti saat malam pertama mereka? Mungkin Yona akan membuat heboh seluruh rumah dengan teriakannya yang menggelegar.


Di luar kamar, keempat orang dewasa itu menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara pekikan mereka. Shinta memukul lengan Hendra, “Ya Tuhan, aku kenapa sangat bersemangat seperti ini?” ucap Shinta tersenyum sangat lebar.


Lili menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia menemukan orang seaneh Shinta yang terlihat begitu bahagia melihat anaknya berada dalam satu kamar yang sama dengan lelaki yang belum makhromnya.


“Bagaimana ini? Kita buka sekarang pintunya?” tanya Shinta menatap semua orang.


“Tunggu dulu, bagaimana kalau mereka sedang telanjang sekarang?” ucap Septian yang tidak mungkin membiarkan semua orang melihat tubuh polos Regan dan Yona.


“Kita pejamkan mata saja, bagaimana?” usul Lili.


“Heh bagaimana kita bisa tahu apa yang mereka lakukan kalau menutup mata kita? Kalian mau melihat lewat mata batin seperti Risa Saraswati begitu?” ejek Shinta mendengus.


“Kamu pikir mereka berdua makhluk halus pakai mata batin segala,” jawab Hendra mengejek.


“Sudah-sudah, aku saja yang buka.” Putus Shinta diangguki semua orang.


Shinta memegang knop pintu, wanita itu menoleh kembali ke belakang dan dijawab anggukan kepala dari semua orang.


“Aku buka sekarang ya?” bisik Shinta.


Wanita itu memutar knop pintu dengan perlahan, suara pintu yang terbuka membuat Yona dan Regan menoleh ke arah pintu.


“Regan Yona, apa yang kalian lakukan?” pekik Shinta menutup matanya, tidak tahan melihat tubuh polos putrinya dengan lelaki lain.


“Mommy? Daddy?” “Ayah? Bunda?” pekik Yona dan Regan bersamaan.


Shinta membuka matanya, begitu juga semua orang tua memberanikan diri membuka mata dan melihat apa yang tengah terjadi. Regan berjongkok di lantai, sedangkan Yona duduk di ranjang di depan lelaki itu. Tangan Regan masih memegang satu botol betadine,


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Regan memicingkan matanya curiga.


“A.apa yang kalian lakukan di dalam kamar sampai Yona meringis seperti tadi?” tanya Shinta kembali menatap Regan dan Yona curiga.


“Kalian menguping ya?” tuduh Yona memicingkan matanya.


Semua orang tua gelagapan mendengar tuduhan Yona, “Ti..tidak, suara teriakanmu sampai ke luar ruangan,” Jawab Shinta mengelak.


“Yona tadi jatuh di depan, kalian berpikir yang macam-macam ya?” tanya Regan menatap geli para orang tua di sana.


“Apa? Jatuh? Jadi kalian tidak melakukannya?” tanya Lili dengan polosnya.


Shinta, Hendra, Lili, dan Septian menunduk malu karena sudah berpikir buruk tentang Yona dan Regan.


“Ini semua pasti mommy kan yang merencanakan?” tanya Yona menatap mommynya menelisik.


“Eh kok kamu tahu?” Shinta menutup mulutnya, “Tidak, jangan menuduh mommy seperti itu. Suaramu saja yang terlalu keras makanya kami kepo datang ke sini,” jawab Shinta melanjutkan.


-


OKE READERS TERCINTAKU, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUNKU.


YANG MAU BELI NOVEL CETAKNYA ‘LOVE YOU BOSS’ SILAHKAN TANYA DI KOLOM KOMENTAR.


BAGI KALIAN YANG PUNYA AKUN DRE*AME ATAU BERNIAT MAIN KESANA  JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR ‘TIYA CORLYNINGRUM’ DAN TAP LOVES CERITA-CERITAKU DISANA YA. MAACIWWWW :*

__ADS_1


__ADS_2