
Mata Regan terbelalak, mendengar Yona menyatakan bahwa benar jika jaket yang kini dia pakai adalah jaket milik kekasihnya. Apakah itu tandanya Yona sudah milik orang lain dan benar adanya kalau mereka berdua memang tidak memiliki kenangan apapun di masa lalu.
Kaki Regan terasa lemas, tangannya bergetar hebat. Jantungnya berdegup tidak karuan, entah apa yang kini tubuh dan hatinya rasakan. Regan tidak mampu berkata-kata lagi. Dia seperti kecewa mendengar penuturan Yona yang baru saja terucap dari mulut wanita cantik itu.
Kenapa? Kenapa dadanya begitu nyeri saat ini?
"Kenapa hatiku sesakit ini mendengarnya dari mulutmu," lirih Regan memegangi dadanya dengan ringisan yang keluar dari mulut lelaki itu.
Bahkan air mata Regan menitik tanpa sebab, membuat lelaki itu segera menghapusnya karena tidak ingin dianggap mencari simpati wanita yang kini berdiri di depannya dengan pandangan yang sangat sulit untuk Regan artikan apa arti dari tatapan mata Yona.
Regan menghembuskan napasnya kasar, lelaki itu memberanikan diri untuk menatap langsung manik mata dari wanita yang telah mencuri perhatiannya sejak dirinya tersadar dari mimpi panjangnya.
"Maaf, sepertinya aku mengganggu waktumu," ucap Regan terdengar sangat menyayat hati Yona.
Wanita itu membalikkan badannya, selangkah maju ke depan untuk memberikan jarak diantara keduanya. Yona memejamkan matanya, tidak sanggup jika harus terlalu lama bertatap muka dengan lelaki yang sangat dia cintai itu.
Yona merem*as tangannya, "Pulanglah, kamu harus beristirahat. Sampai jumpa lagi Regan," ucap Yona dengan berat hati melangkahkan kakinya menjauhi Regan yang masih tercengang di tempatnya berdiri.
Lelaki itu menatap punggung Yona yang kian menjauh. Yona menangis, Yona tidak mampu lagi harus menyembunyikan kebenaran ini dari Regan. Ingin rasanya Yona mengatakan semua yang telah terjadi kepada Regan dengan sejujur-jujurnya. Tapi Yona tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk lagi menimpa Regan.
Regan berlari menuju Yona, mendekap tubuh wanita itu dari belakang. Bahkan pelayan rumah Yona yang baru saja keluar dari dapur untuk pergi ke Paviliun rumah itu menghentikan langkahnya dan berbalik lagi ke dapur karena takut akan mengganggu privasi Yona dan Regan.
"Katakan kamu tidak memiliki kekasih," pinta Regan membuat tubuh Yona menegang seketika.
Mata wanita itu terpejam, menghirup napas panjangnya untuk kesekian kalinya. Yona mengendurkan pelukan Regan, melepaskan tangan lelaki itu dari pinggangnya.
"Aku memiliki kekasih Regan, aku bahkan hampir bertunangan," jawab Yona memejamkan matanya, bersamaan dengan air matanya yang kini mencelos merembes turun ke pipi wanita itu.
"Tunangan? Kebohongan apa lagi yang akan kamu ciptakan?" Tanya Regan dengan nadanya setengah berteriak, tidak terima jika wanita yang telah menarik perhatiaannya ternyata telah memiliki kekasih dan akan bertunangan.
Regan tertawa kencang, matanya berkilat marah dengan sorot matanya terluka. Membuat Yona memalingkan wajahnya tidak berani menatap wajah lelaki itu.
Regan mencengkeram kedua bahu Yona,
"Katakan, siapa lelaki itu Yona?" Tanya Regan menatap wanita itu lekat.
'Kamu! Kamu kekasihku yang akan bertunangan denganku jika kejadian mala itu tidak menimpa kita Regan.'
Yona menyentak tangan Regan dengan kasar,
"Apa-apaan kamu Regan, kamu menyakitiku," ucap Yona menatap Regan dengan kesal.
"Siapa lelaki itu?" Tanya Regan sekali lagi.
'Kamu bahkan tidak tahu jika lelaki yang kita bicarakan adalah dirimu sendiri.' jawab Yona di dalam hatinya.
"Aku mohon, pergilah. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu," pinta Yona dengan seloroh matanya meminta pengertian lelaki itu.
Tanpa menunggu jawaban dari Regan, Yona berlari menaiki tangga rumahnya dan menuju kamar miliknya. Yona membanting pintu kamarnya dengan kencang, menguncinya dari dalam. Tubuh wanita itu merosot di belakang pintu.
Yona menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi isakan demi isakan yang keluar dari mulutnya. Yona tidak sanggup beradu mata dengan Regan lebih lama lagi. Yona ingin sekali menangis di depan lelaki itu jika dirinya tidak bisa menahan dirinya.
"Aku mohon, jangan seperti itu..hikss aku tidak tahan lagi berpura-pura tidak mengenalmu..maafkan aku," isak Yona memukul dadanya yang kini terasa sesak.
Sedangkan di lantai bawah, lelaki itu termenung sejenak menatap ke lantai atas di mana Yona menghilang tanpa menunjukkan lagi tanda-tanda bahwa wanita itu akan kembali menemui dirinya.
Dengan langkah gontai, Regan berjalan menuju mobilnya. Lelaki itu memukul setir mobilnya dengan kencang, menyalurkan amarahnya terhadap setir mobilnya.
Regan menyalakan mesin mobilnya, menatap sekali lagi pintu rumah Keluarga William dengan harapan Yona akan keluar dari sana dan berlari mengejarnya.
Pikiran Regan melayang, mungkin dirinya harus bertemu Rehan dan juga Dokter Irawan untuk membicarakan kondisi tubuhnya kepada mereka berdua. Rasanya sangat aneh, setiap kali Yona menatap dirinya dan setiap kali tangan Regan menyentuh kulit wanita itu ada perasaan yang tidak bisa Regan ungkapkan dengan kata-kata.
Yona bersembunyi di balik tirai gorden jendela kamarnya. Wanita itu menatap mobil Regan yang melaju meninggalkan rumahnya. Air mata Yona kembali menetes, wanita itu harus mencari cara agar Regan mampu mengingat segalanya tentang Yona dengan sendirinya.
"Regan sudah pulang?" Gumam Shinta menatap suaminya yang kini duduk berselonjor di atas tempat tidur dengan ipad di tangannya.
"Mungkin mereka sudah selesai berbicara," jawab Hendra tanpa menatap istrinya yang kini juga tengah mengintip mobil Regan yang melaju meninggalkan rumah mereka.
Shinta menoleh kearah Hendra, wanita itu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, apa yang bisa kita bantu untuk hubungan mereka berdua?" Tanya Shinta kepada suaminya.
"Kita doakan saja, semoga ingatan Regan bisa kembali pulih secepatnya." Jawab Hendra menatap Shinta dan tersenyum menenangkan.
__ADS_1
Shinta menghentakkan kakinya tidak sabar. Sebagai seorang ibu, Shinta tidak rela putrinya tersakiti setiap hari seperti itu karena Regan yang tidak mengingat putrinya sama sekali.
"Apa mungkin kita minta semua media menayangkan berita tentang kasus yang menimpa mereka lagi?" Tanya Shinta membuat Hendra terbelalak.
"Kamu gila? Kita mati-matian menutup para media untuk menghentikan tayangan tentang Yona dan Regan. Sudah berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk membayar mereka agar mau menarik postingan mereka di berbagai media sosial hah???" Teriak Hendra dengan marah, tidak menyangka dengan jalan pikiran istrinya yang terkadang tidak pernah berpikir panjang.
"Ih kok kamu malah teriak sih!" Keluh Shinta menekuk wajahnya tidak suka.
Hendra memutar bola matanya jengah, selalu saja seperti ini. Istrinya akan berbalik menyalahkan dirinya jika sang istri telah salah berkata-jata.
"Dengarkan aku mommynya Yona, kamu tahu kan yang namanya takdir? Lihat saja, mereka berdua itu seperti magnet yang selalu tarik ulur satu sama lain. Setiap Regan menjauh, Yona yang mendekat, begitu juga sebaliknya. Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendoakan mereka saja," jelas Hendra memberikan pengertian kepada Shinta.
Lelaki itu tahu, Shinta pasti sangat cemas karena semua ini terjadi pada putri mereka. Andai saja masalah itu tidak terjadi kepada Yona dan Regan, mungkin mereka berdua telah resmi bertunangan dan tinggal memilih hari yang pas untuk menentukan kapan tanggal pernikahan mereka akan dilaksanakan.
"Sayang, kata dokter kita tidak boleh memaksa Regan untuk mengingat semuanya kan?" Tanya Shinta dengan tatapan matanya melebar.
Hendra menyerngitkan keningnya bingung dengan pertanyaan Shinta.
"Lalu?" Tanya Hendra penasaran.
"Bagaimana kalau kita atur ulang perjodohan mereka. Siapa tahu Regan akan mengingat semuanya?" Usul Shinta dengan matanya melebar di ikuti dengan senyuman yang menghiasi wajah wanita itu.
"Apa? Perjodohan ulang? Kamu yakin akan berhasil?" Tanya Hendra memastikan ide istrinya.
Shinta mengangguk antusias, dari beberapa artikel yang pernah dia baca. Cara paling ampuh untuk membawa kembali ingatan pasien lupa ingatan adalah dengan cara membuat reka ulang kejadian yang telah seseorang itu lakukan sebelumnya.
"Aku yakin, sangat yakin. Sisi keibuanku mengatakan ini akan berhasil," ucap Shinta dengan matanya berbinar bahagia karena mendapatkan ide cemerlang yang entah setan lewat mana yang membisiki batin Shinta hingga mendapatkan ide segila itu.
"Kita coba saja, siapa tahu berhasil," jawab Hendra membuat Shinta terpekik bahagia. Saking bahagianya, wanita itu sampai mencium wajah Hendra berkali-kali.
"Aku akan menghubungi Lili kalau begitu," ucap Shinta dengan senyuman merekah di bibirnya.
Hendra mendengus kesal, sudah menjadi kebiasaan Shinta untuk membangunkan sesuatu di bawah sana tanpa berniat bertanggung jawab menidurkannya kembali.
*
Regan berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Rehan, berharap lelaki itu berada di ruangannya di jam-jam seperti ini.
Akhirnya, lelaki itu sampai di ruangan Rehan. Dengan perlahan, Regan mengetuk pintu ruangan temannya itu berharap ada jawaban dari dalam.
"Masuk!" Jawab seseorang dari dalam.
Regan memutar knop pintu, pertama kali pemandangan yang dilihatnya adalah Rehan yang sedang makan bersama dengan Melodi.
"Hai bro, apa kabar?" Tanya Rehan melambaikan tangannya.
"Regan? Sini duduk, ikut makan bersama kami," ajak Melodi meminta Regan untuk duduk bersama mereka.
"Aku kemari bukan untuk meminta makanan," jawaban Regan yang dingin sampai menusuk tulang mereka.
Rehan dan Melodi saling tatap, Melodi mengangguk seperti mengerti jika Regan dan suaminya butuh waktu untuk berbicara berdua saja.
Melodi menutup kotak makan yang belum dia sentuh. Wanita itu membawa kotak makanannya,
"Kalian bicaralah, aku akan makan di ruanganku," ucap Melodi tersenyum.
Regan menunggu Melodi keluar dari sana, sampai pintu terdengar tertutup barulah Regan duduk di depan suami dari Melodi itu.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Rehan kepada teman baiknya sejak mereka kecil.
"Apa kondisiku sekarang tidak bisa di sembuhkan?" Tanya Regan tiba-tiba membuat Rehan tersentak di tempatnya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kita sudah mengirimkan laporan pemeriksaan tubuhmu kepada Dokter Gustin yang akan mengoperasi dirimu. Kita yakin, operasimu akan lancar." Jelas Rehan menatap lelaki yang tengah diliputi kegelisahan itu dengan nyalang.
"Apa kamu tau, hubungan seperti apa yang aku miliki sama Yona?" Tanya Regan membuat Rehan terbelalak.
"Kenapa tiba-tiba membicarakan tentang Yona? Kalian bertemu?" Tanya Rehan berpura-pura tidak tahu jika Yona dan Regan saling dekat.
Regan menghembuskan napas lelah, mengusap wajahnya saking frustasinya.
"Dia bilang, dia punya kekasih dan mereka hampir tunangan," ucap Regan terdengar sangat lesu dan pasrah.
"Iya memang," jawab Rehan spontan, Rehan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena mulutnya yang terkadang tidak bisa dia kendalikan sendiri.
__ADS_1
Regan memicingkan matanya menatap Rehan, sepertinya semua orang tengah menyembunyikan banyak hal dari Regan. Bahkan Regan tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya tentang kecelakaan yang menimpa dirinya.
Semua orang bilang, jika Regan kecelakaan tunggal. Tapi kenapa mobil miliknya masih utuh seperti tidak lecet sama sekali? Dan kenapa kamera black box mobilnya tiba-tiba saja tidak ada di tempatnya? Kenapa semua orang seperti tengah bersekongkol untuk menutupi banyak hal dari Regan.
"Kamu tahu sesuatu tentang Yona?" Tanya Regan kepada Rehan.
Rehan terkekeh, "Astaga bro, siapa yang tidak tahu tentang putri bungsu keluarga William? Kamu lupa apa gimana kalau Yona itu adiknya kakak iparku, Kak Marva?" Tanya Rehan berusaha menutupi kegugupan yang kini menimpa dirinya.
"Kayaknya kamu yang lupa, aku kan emang hilang ingatan monyet!" Keluh Regan membuat Rehan tertawa di tempatnya.
Regan menyenderkan kepalanya di leher sofa, lelaki itu tengah mencari cara bagaimana agar dirinya dan Yona bisa dekat meskipun Yona memiliki calon tunangan.
"Seperti apa wajah calon tunangan Yona? Kamu tahu?" Tanya Regan menatap Rehan.
Rehan mengangguk, "Aku tahu."
"Apa kalian sedekat itu hingga kamu tahu bagaimana wajah calon tunangannya?"
"Aku dan calon tunangan Yona berteman sudah lama sekali," jawab Rehan menjawab pertanyaan Regan dengan jujur.
"Sialan! Kamu menghianatiku!" Umpat Regan mendengus.
Jujur saja, disaat seperti sekarang ini Rehan ingin tertawa sekencang-kencangnya karena kebodohan Regan yang sudah terlalu akut untuk diobati.
Rehan tertawa terbahak-bahak saking tidak kuatnya menahan diri lagi. Bagaimana mungkin temannya itu tengah cemburu dengan dirinya sendiri? Bukankah itu sangat lucu?
"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Regan menatap temannya itu dengan kesal.
"Tidak, tidak. Aku hanya menertawakan kebodohan lelaki yang tengah jatuh cinta. Ternyata benar kata orang, sepandai-pandainya orang akan bodoh juga saat jatuh cinta," kekeh Rehan menggelengkan kepalanya dan menatap Regan dengan tatapan geli.
"Yang penting aku tidak sebucin dirimu yang langsung pulang dari Inggris hanya karena ponsel Olivia tidak bisa kamu hubungi," ejek Regan mendengus sebal.
"Lalu apa bedanya denganmu? Satu jam saja tidak bertemu Yona kamu langsung menyusul wanita itu-," ucapan Rehan terhenti, matanya terbelalak begitu juga dengan tatapan mata Regan yang kini tengah menanti-nanti ucapan apa yang akan keluar lagi dari mulut Rehan.
"Aku? Menyusul Yona ke mana?" Tanya Regan memicingkan matanya penasaran.
Rehan merasa udara di ruangannya secara tiba-tiba lenyap begitu saja. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Lelaki itu merutuki mulutnya yang dengan mudahnya terprivokasi atas ucapan Regan.
"Kamu kan menyusul Yona ke rumahnya," jawab Rehan tertawa kecut.
"Dari mana kamu tahu aku menyusul Yona ke rumahnya?" Tanya Regan penasaran.
"Hah? Kan kamu sendiri yang tadi cerita. Dasar monyett baru aja cerita langsung lupa," umpat Rehan berusaha menutupi kegugupannya.
Regan mengambil minuman dari dalam kulkas yang ada di ruangan itu. Lelaki itu meneguknya perlahan, membasahi tenggorokannya yang terasa kering sejak tadi siang saat dirinya menjalankan misi sebagai seorang stalker.
Membayangkannya saja membuat Regan menggelengkan kepalanya sendiri. Regan tidak menyangka, dia akan melakukan hal sejauh itu untuk wanita yang baru saja dia temui saat dirinya tersadar dari komanya.
"Eh kayaknya aku ada ide," ucap Rehan membuat Regan menoleh kearahnya dan menatapnya minat.
"Ide apa?" Tanya Regan penasaran.
"Elo pasti mau kan deket sama Yona?" Tanya Rehan balik.
Regan terdiam, namun detik selanjutnya lelaki itu mengangguk mengiyakan ucapan Rehan yang dia rasa memang benar adanya.
"Nah, sekarang gini. Mendingan kamu sekarang bilang sama orang tuamu,"
"Bilang apa?"
"Makanya dengerin dulu kalau gue ngomong bego!" Kesal Rehan mendengus sebal.
Regan mengangguk, membiarkan temannya untuk melanjutkan idenya lagi.
"Minta kalian dijodohkan!" Lanjut Rehan membuat mata Regan terbelalak.
"Apaaaa?" Pekik Regan dengan matanya terbelalak mendengar ide yang keluar dari mulut sahabat gesreknya itu.
"Dengerin bodoh, kalau yang bicara sudah orang tua. Gue yakin, seratus persen yakin Yona nggak bakal nolak!" Ucap Rehan menggebu-gebu.
Regan memicingkan matanya, berpikir sejenak atas ide yang telah Rehan berikan kepada dirinya.
Perjodohan? Rasanya bukan hal yang berat untuk Regan coba.
__ADS_1