My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Stalker


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Nino dan Yona menepi, menunggu mobil dan motor-motor dibelakang mobil Yona melaju lebih dulu agar mobil yang mereka tumpangi bisa menyeberang ke depan.


Nino mencekal tangan Yona saat wanita itu hendak menyalakan lampu sein mobilnya. Yona menoleh kearah lelaki itu, menyingkirkan tangan Nino dari tangannya dengan kasar.


"Bagaimana kalau kita ke mall yang sebelumnya kita kunjungi saja?" Tanya Nino mengusulkan keinginannya.


Yona menghela napas panjang, tanpa menjawab pertanyaan dari lelaki itu Yona kembali melajukan mobilnya menuju mall yang pernah dia kunjungi bersama Nino dan juga Regan yang saat itu menempel seperti cicak dengannya.


Hati Yona terasa meringis, andai saja Tuhan memberikan keajaiban kepada Regan untuk kembali mengingat Yona. Tidak perlu seluruh ingatan, hanya ingatan bahwa dirinya dan juga Regan adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain.


Bolehkah Yona berharap hari itu akan tiba? Hari dimana Yona bisa dengan bebas memeluk lelaki itu saat dirinya merindukan Regan. Hari dimana Yona bisa leluasa mencurahkan segala keluh kesahnya bersama Regan. Hari dimana langit meredup, dan daun-daun berguguran bersama dengan luruhnya kerinduan diantara keduanya.


Yona memejamkan matanya, membuka jendela mobilnya berusaha untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya kini.


"Kenapa wajahmu memerah?" Tanya Nino menatap Yona penasaran.


"Aku tidak memakai sunscreen hari ini" jawab Yona memalingkan wajahnya, berpura-pura melihat kedepan menghiraukan tatapan menyelidik dari lelaki yang duduk disampingnya itu.


"Aku mendengar semuanya, tentang kasus yang menimpa kalian" ucap Nino menghela napas panjang.


Dalam hati lelaki itu, ada perasaan senang dan juga sedih ketika mendengar tentang pertunangan Yona yang batal secara tiba-tiba karena kasus yang menimpa mereka tanpa sengaja. Senangnya, Nino masih memiliki harapan untuk kembali mendapatkan hati wanita yang pernah hampir dua tahun bersama dengannya. Dan sedihnya, wanita itu pasti melewati hari-hari yang sulit dalam hidupnya.


"Kamu boleh bercerita denganku jika kamu mau" ucap Nino namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari Yona.


Nino menggenggam tangan Yona yang hendak memindahkan persneling mobilnya.


Cittttttttttttt ..... Yona mengerem mobilnya mendadak. Untung saja tidak ada mobil jarak dekat yang berada dibelakang mereka.


Tinnnnnn..tinnnnnn .. Beberapa mobil dibelakang mereka mengklakson, takut jika Yona tiba-tiba masuk ke bagan jalan dan membuat mereka mengerem mendadak hingga menimbulkan kecelakaan.


"Aku sudah mengatakannya padamu, jangan menyentuhku!" Hardik Yona kepada Nino.


Nino mengangkat tangannya pertanda meminta ampun kepada wanita itu. Yona hanya mendengus kesal, Nino memang selalu saja seenaknya sendiri dan mengira Yona akan dengan mudah jatuh kedalam tipu rayuannya sekali lagi.


Wanita itu kembali melajukan mobilnya. Nino mengaktifkan sound di mobil Yona, memutar lagu dari ponselnya yang sudah dia sambungkan lewat bluethooth mobil.


"Kamu ingin lagu apa?" Tanya Nino menoleh kearah Yona.


Nino menarik baju Yona, meminta wanita itu untuk menjawabnya.


"Cendol dawet!" Jawab Yona kesal, membuat Nino tertawa terbahak-bahak ditempatnya.


Baru kali ini lelaki itu tahu ada model Internasional sekaligus anak konglomerat bisa sekocak Yona. Apakah setelah kembali ke tanah air wanita itu sudah keracunan virus ambyarnya Didi Kempot? Nino sungguh tidak menyangka jika Yona berubah sedrastis itu setelah kembali ke Indonesia.


"As you wish miss William" kekeh Nino memutarkan lagu cendol dawet dari youtubenya.


'Koyo ngene rasane wong nandang kangen                     


Rino wengi atiku rasane peteng             


Tansah kelingan kepingin nyawang


Sedelo wae uwis emoh tenan


Cidro janji tegane kowe ngapusi


Nganti seprene suwene aku ngenteni


Nangis batinku nggrantes uripku


Teles kebes netes eluh cendol dawet'


Yona tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa, lagu itu terdengar sangat menggelitik di indera pendengarannya. Yona tertawa terbahak-bahak didalam mobil, di ikuti Nino yang ikut tertawa melihat wanita itu tertawa didepannya untuk pertama kalinya setelah mereka memutuskan untuk berpisah.


"Cendol dawet, cendol dawet seger. Cendol cendol, dawet dawet. Cendol cendol, dawet dawet. Cendol dawet seger piro, lima ngatusan. Terus gak pake ketan. Ji ro lu pat nem pitu wolu." Mereka berdua bernyanyi, mengisi keheningan yang beberapa menit lalu terasa sangat menusuk. Kini mereka berdua menghilangkan sejenak ego mereka setelah perpisahan keduanya yang telah terjadi.


Nino tersenyum, setidaknya dengan lagu itu Yona bisa meluapkan beban dihatinya. Nino tahu, wanita itu tengah menyimpan banyak pikiran yang mungkin tidak bisa Yona bagi dengan siapapun. Dan Nino berharap, suatu hari nanti Yona bersedia membuka pintu hatinya kembali untuk dirinya. Kalau itu terjadi, Nino bersumpah tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama untuk kedua kalinya.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki pintu masuk parkir mobil di mall yang mereka tuju. Yona membuka kaca mobilnya dan membayar tiket untuk parkir mobil disana.


Dibelakang mereka, mobil Regan mengikuti Yona dengan jarak sekitar empat ratus meteran agar Yona tidak sadar jika wanita itu tengah Regan ikuti.


"Enak saja dia mau bersenang-senang dengan lelaki lain!" Ucap Regan mencebikkan bibirnya kesal.


Sama halnya dengan Yona, Regan membayar karcis parkir untuk memarkirkan mobilnya disana. Lelaki itu mengambil topi dan masker yang ada di dashboar mobilnya. Regan sudah seperti stalker handal dengan penampilan gilanya saat ini.


Semua orang menatap Regan dengan penuh tanda tanya. Pasalnya, lelaki itu memakai pakaian formal dengan topi baseball dan juga masker kesehatan untuk menutupi wajahnya. Apa itu tidak gila? Tentu saja penampilan Regan sangat mencolok bagi siapapun yang melihatnya saat ini.


"Ya ya, lihat saja aku sepuas kalian. Ini namanya perjuangan mencari kebenaran!" Ucap Regan berbicara kepada dirinya sendiri.


Mencari kebenaran apanya? Katakan saja jika kamu sedang stalking wanita yang tidak kamu ingat dalam otakmu! Katakan saja kamu tengah cemburu melihat wanita yang membuat hatimu bergetar pergi dengan lelaki lain.


"Terserah!" Jawab Regan melawan seluruh batinnya yang kini menyeruak ingin memaki dirinya.


Regan berjalan dibelakang Yona dan Nino. Regan mengepalkan tangannya saat Nino berusaha mendekati Yona.


"Hei, apa dia tidak bisa berjalan? Kenapa dia mepet-mepet dengan Yona?" Ucap Regan menatap Nino disana dengan kesal.


"Lelaki itu pasti tidak setampan diriku, kenapa Yona mau pergi dengannya? Awas saja kau Yona!"


Memangnya kalau dia tampan apakah dirimu bisa melihatnya? Melihat wajah wanitamu saja kamu tidak bisa, apalagi melihat wajah orang lain!


Nino mengajak Yona mampir disalah satu restaurant cepat saji yang ada disana. Kebetulan saja, mereka melewati outlet pakaian dalam yang pernah Yona jadikan tempat memberikan Nino pelajaran.


Yona tersenyum, mengingat bagaimana wajah Regan saat lelaki itu membelikannya dalaman masih teringat sangat jelas dalam ingatan Yona.


"Kamu masih ingat? Memintaku dan calon tunanganmu itu untuk membelikanmu dalaman disini? Astaga jika aku mengingat kejadian itu ingin sekali aku meninggalkan mall ini secepatnya" kekeh Nino membuat Yona menoleh kearahnya.


Dibelakang mereka, kening Regan bertautan mendengarkan ucapan Nino.


"Apa? Tunangan? Maksudnya Yona memiliki tunangan?" Gumam Regan memicingkan matanya menatap kedua orang didepannya sana yang hanya berjarak sepuluh meter dari dirinya.


'Cicak jumbo! Berhenti menempel dengan Yona!'


Satu kelebatan menghampiri Regan, lelaki itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Bukankah itu adalah suaranya? Kenapa dia menyebut nama Yona dalam sekelebatan ingatannya itu? Apakah itu tandanya Regan sudah mengenal Yona sebelum Regan telah kehilangan ingatannya?


Regan mundur beberapa langkah, kepalanya terasa berdenyut menatap outlet pakaian dalam didepannya. Bayangan dirinya tengah membeli pakaian dalam dan menelpon seseorang membuat kepalanya sangat berat.


"Tidak, apa kilasan itu? Apa artinya?' gumam Regan mencengkeram kepalanya yang terasa sangat berat sekali.

__ADS_1


'Kamu mau aku membelikanmu si ungu?'


Itu suaranya lagi! Siapa yang tengah Regan ajak bicara dalam ingatannya? Dan apa maksud kata 'si ungu' yang dia ucapkan itu. Kenapa bayangan-bayangan seperti itu terus saja berkeliaran di otak Regan.


"Mas? Mas nggak apa-apa?" Tanya seorang pengunjung mall itu berdiri tepat didepan Regan.


Regan menggelengkan kepalanya, tangannya masih mencengkeram dengan kuat kepalanya. Regan segera membalikkan badannya saat Yona menoleh ke belakang.


"Apa itu, kenapa memakai topi baseball dengan setelan formal?" Gumam Yona terkikik geli melihat penampilan lelaki dibelakangnya. Postur tubuh lelaki itu nampak tidak asing lagi di matanya.


Nino menarik tangan Yona, mengajak wanita itu kembali berkeliling. Regan yang melihat mereka berdua beranjak dari sana langsung mengikuti langkah mereka meskipun kepalanya terasa berdenyut menyakitkan.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Nino menoleh menatap Yona.


"Kita ke restaurant cepat saji saja," jawab Yona diangguki Nino.


Mereka berdua memasuki restaurant cepat saji yang ada di sana.


"Apa pilihanmu?" Tanya Nino saat mereka berdiri didepan kasir restaurant, memesan makanan apa yang akan mereka pilih.


Yona menyebutkan pilihannya, setelah itu dirinya memilih untuk duduk disalah satu tempat duduk yang masih kosong. Wanita itu mengeluarkan ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari Naomi dan juga pesan dari Naomi.


'Kau tidak sedang salah paham denganku kan?' batin Yona membaca pesan dari Naomi.


Tanpa menjawabnya, Yona kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Niat hatinya berharap ada pesan atau setidaknya panggilan dari Regan, tapi nihil lelaki itu bahkan tidak mengingat siapa Yona.


Yona menatap sosok seseorang di belakangnya. Mata Yona menyipit, melihat bayangan dari kaca didepan tempat duduknya.


'Bukankah itu Regan?' batin Yona menautkan alisnya penasaran.


Lelaki di belakangnya nampak serius mengintai dirinya. Yona menatap lelaki itu dengan seksama. Ya benar! Itu adalah Regan. Dan apa yang kini lelaki itu pakai?


"Oh jadi lelaki aneh tadi itu Regan, cocok sekali" gumam Yona terkekeh geli melihat Regan seperti stalker saat ini.


Yona terkekeh di tempatnya, wanita itu menatap bayangan Regan dari kaca dan mengabadikannya di ponselnya.


"Ini akan menjadi kenangan bersejarah" kekeh Yona menatap hasil jepretannya.


Nino yang baru saja datang menyerngitkan keningnya melihat Yona tertawa sendiri seperti orang gila.


"Adakah yang lucu?" Tanya Nino menatap Yona bingung.


Yona mendongak, "Hah? Oh ini postingan temanku kocak sekali" kekeh Yona menjawab pertanyaan dari Nino.


Nino menyodorkan makanan dan minuman yang Yona pesan.


"Suapi aku.." rengek Yona menyentuh tangan Nino membuat lelaki itu terbelalak.


Begitu juga dengan Regan yang kini berada di kursi kosong di belakang mereka.


"Aku ingin kamu suapi!" Rengek Yona kembali.


Nino tergagap, tidak menyangka Yona akan meminta dirinya untuk menyuapinya makan. Padahal setelah keduanya putus, Yona terlihat sangat membenci Nino seperti melihat musuh bebuyutan wanita itu.


"Ka..kamu serius?" Ucap Nino diangguki Yona.


Yona bahkan menarik lengan Nino, bergelayut manja di lengan kekar lelaki itu.


Yona tersenyum kemenangan, melihat ekspresi wajah Regan yang kini menatap mereka dengan mata melebar marah membuat Yona merasa puas. Memangnya Regan pikir hanya dia saja yang bisa membuat orang merasa cemburu?


Jangan salah! Yona adalah wanita yang paling diincar banyak lelaki kara raya dan juga mapan. Yona bisa mencari lelaki lain yang lebih segalanya dari segi ekonomi dari pada Regan. Tapi Yona tetaplah Yona, dia tidak akan meninggalkan Regan hanya karena lelaki itu tidak mengingatnya.


Yona hanya percaya, suatu hari nanti Regan akan mengingat segalanya tentang Yona. Di hari itu tiba, Yona akan memaki dan menghajar lelaki itu hingga lelaki itu meminta maaf kepadanya karena telah membuatnya menderita selama ini.


"Nino.." lirih Yona terdengar sangat menggoda di telinga Regan.


Telinga lelaki itu berubah menjadi kemerahan, begitu juga dengan kulit wajahnya yang kini terlihat seperti kepanasan. Regan menggertakkan giginya kesal, apa-apaan Yona berani bermesraan seperti itu dengan orang lain.


Nino tersenyum, lelaki itu mengelus kepala Yona dengan lembut.


'Aku akan memberikan pelajaran tangan yang telah menyentuh milikku!' geram Regan didalam hatinya.


Regan berdiri, lelaki itu berjalan kearah kasir.


"Berikan aku kopi paling panass, sangat panasss!" Ucap Regan dengan nada menggebu-gebu.


Yona menoleh sekilas, mencari tahu kemana lelaki itu pergi.


'Dia mungkin butuh minuman dingin untuk mendinginkan hatinya, hahahaha,' kekeh Yona bersorak penuh kemenangan.


Yona segera menatap ke depan saat melihat Regan kembali dari kasir dengan membawa nampan berisi minuman. Yona bergelayut manja, memukul pelan lengan Nino.


"Kamu nggak mau nyuapin aku?" Tanya Yona dengan nada kecewa.


"Iya iya, ini aku suapin kamu cantikku,"


Yona memukul manja lengan Nino, "Apakah aku cantik?" Tanya Yona dengan suaranya sangat manja.


Regan mendengus di tempatnya, 'Cantik apanya! Wanita cantik tidak akan pergi dengan sembarang lelaki!' jawab Regan tersenyum mengejek.


Nino mengelus puncak kepala Yona, "Tentu saja kamu cantik, tidak ada yang lebih cantik lagi darimu" jawab Nino.


"Kalau begitu suapi aku, aku mau makan dari tanganmu, titik!" Ucap Yona.


Nino terkekeh, lelaki itu mengambil makanan Yona dan menyuapkannya kepada Yona dengan perlahan.


"Hmmmm, kenapa makanan yang sebenarnya biasa saja jadi sangat enak saat kamu sentuh? Aku iri sekali dengan lidahmu yang bisa menikmati makanan enak dari tanganmu setiap hari" ucap Yona membuat Nino mengacak gemas rambut Yona.


Kesabaran Regan telah habis sudah, lelaki itu berdiri dari tempat duduknya dengan membawa minuman panas yang tadi dia pesan.


Prankkk, gelas yang dia bawa jatuh ke lantai. Regan sengaja menjatuhkan gelasnya tepat di tangan Nino hingga lelaki itu berdiri dari tempatnya dan mengibaskan tangannya yang terasa panas.


Regan menunduk dan tersenyum penuh kemenangan. Siapa suruh Nino memegang tubuh wanitanya? Siapa suruh Nino berani lancang menyentuh kepala Yona dan berdekatan dengan wanita itu?


"Apa kamu tidak bisa melihat!" Teriak Nino dengan marah.


Yona terbelalak di tempatnya, dia tidak menyangka Regan akan melakukannya kepada Nino. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Yona sangat senang bisa membuat Regan murka hanya karena Yona berdekatan dengan Nino.


Bukankah itu artinya hati Regan masih miliknya? Tentu saja, makanya Regan melakukan hal kekanakan seperti itu kepada Nino hanya karena Nino menyentuh rambutnya.

__ADS_1


Yona menyentuh tangan Nino, wanita itu berpura-pura sangat cemas kepada Nino.


"Tanganmu tidak apa? Astaga Nino tanganmu lebam seperti ini. Bagaimana nanti tidak ada yang menyuapiku makan, tidak ada yang mengelus rambutku" ucap Yona dengan matanya berpura-pura khawatir.


Regan mendengus di tempatnya, sedangkan Nino menatap Regan dengan kesal.


"Kamu mendengus di depanku? Hei bung kamu tahu apa kesalahanmu?" Teriak Nino marah, tangannya yang lebam hendak menyentuh tubuh Regan tapi Yona lebih cepat menghadangnya.


"Nino, jangan bergerak. Aku takut tanganmu diamputasi. Aku tidak bisa membayangkannya, aku sangat khawatir denganmu" lirih Yona bagaikan ratu ekting yang mampu menipu lawan bicaranya.


Nino menatap Yona yang terlihat sangat cemas, "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir" ucap Nino mengelus pipi Yona dengan lembut.


Regan mencengkeram tangan Nino, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Kamu bilang tidak sakit kan? Sekarang bagaimana? Masih tidak sakit?" Ucap Regan membuat Nino dan Yona menatap Regan dengan mata melebar tidak percaya.


"Aw, aa..aaa, kamu siapa?" Ringis Nino merasakan sakit di tangannya.


"Hei lepaskan! Kamu bisa mematahkan tangannya!" Teriak Yona kepada Regan.


Regan melepas topi dan juga maskernya,


"Aku?" Tanya Regan membuat Nino terbelalak. Sedangkan Yona hanya terdiam tidak bereaksi. Wanita itu ingin berteriak bagaia sekarang juga.


"Yona, dia?"


"Regan? Kamu ngapain disini? Lepaskan! Lepaskan Nino" ucap Yona mencoba melepaskan pegangan tangan Regan dari Nino.


"Aku sedang menghukum lelaki yang berani menyentuh milikku" ucap Regan membuat Yona terbelalak.


Miliknya? Apakah Regan telah mengingat dirinya? Benarkah?


"Regan..kamu mengingatku?" Tanya Yona dengan matanya mulai berkaca-kaca.


"Tentu saja, kamu wanita yang sok kenal denganku setelah aku sadar. Anehnya, ternyata kamu menggoda banyak lelaki" ucap Regan tidak bisa mengontrol amarah yang membuncah di dalam hatinya.


Mata Yona berkilat, tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Regan.


"A..apa? Menggoda banyak lelaki katamu?" Ucap Yona mengulangi ucapan Regan.


Regan menatap Yona, menyadari kesalahan apa yang baru saja dia ucapkan didepan wanita itu. Regan mencengkeram tangan Yona, menarik wanita itu untuk keluar dari restaurant cepat saji dan meninggalkan Nino di sana dengan kebingungan yang luar biasa.


"Hahhaa, lagi-lagi aku hanya dijadikan Yona alasan membuat lelaki itu cemburu rupanya? Sial*an!!!"teriak Nino menghempaskan nampan yang ada di meja dengan keras hingga beberapa pengunjung lainnya dan pelayan disana menoleh kearahnya.


Regan menarik tangan Yona, tidak peduli ekspresi wajah Yona yang kini kesakitan karena pegangan tangan Regan yang terlalu kuat di tangannya.


"Regan, kamu menyakitiku!" Sergah Yona namun tidak dihiraukan lelaki itu.


Yona mencoba melepaskan tangan Regan, tapi semakin dia melepaskannya semakin erat pula lelaki itu mencengkeramnya. Regan menuntun langkah mereka ke mobil lelaki itu. Regan membuka pintu penumpang,


"Masuk!" Ucap Regan terdengar sangat mengerikan bagi Yona, suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya dari lelaki itu.


Yona masuk kedalam kursi penumpang, Regan menutup pintu dengan kencang hingga Yona berjingkat kaget. Kemudian Regan masuk ke dalam mobil.


Regan menatap Yona dengan tatapan marah, membuat Yona meringsut ketakutan.


"Apa kamu tidak tahu apa kesalahanmu?" Tanya Regan kepada Yona.


Yona tertawa sinis, memberanikan dirinya menjawab ucapan Regan seperti sebelumnya.


"Kesalahanku? Memangnya apa kesalahanku hah?" Tanya Yona menantang.


Regan menarik tengkuk Yona, mencium paksa bibir wanita itu. Tangannya mengubah efek kaca mobinya yang mulanya bening kini menjadi petang. Sejenak, Yona terbuai dengan ciuman lelaki itu tapi detik selanjutnya Yona melepaskan ciuman mereka dengan kasar.


Plakkkkk, Yona menampar Regan dengan kencang hingga suara tamparannya memenuhi isi mobil lelaki itu.


"Kamu pikir kamu siapa? Seenaknya menciumku dan dengan seenaknya kamu memperlakukanku semaumu?" Sentak Yona membuat Regan menatapnya nanar.


Air mata wanita itu siap menetes sekarang,


"Jangan menangis di depanku Yona" ucap Regan yang merasa tidak enak hati menatap Yona yang kini menangis.


"Lalu kamu mau aku melakukan apa dihadapanmu? Kamu mau aku tertawa seperti orang gila saat kamu bahkan tidak mengingat satu detik pun tentang diriku!" Teriak Yona membuat hati Regan bergetar.


Regan hendak menghapus air mata Yona, tapi Yona menampik tangannya.


"Jangan menyentuhku, jangan menyentuh hatiku. Jangan buat aku bingung dengan sikapmu! Sedetik kamu membuatku merasa kamu mengenalku, sedetik kemudian kamu nampak asing bagiku. Regan, aku punya hati" lirih Yona merasakan dadanya mulai sesak.


Dada Regan berdetak tidak karuan, melihat Yona meluapkan emosinya di depan matanya membuat Regan tidak mampu lagi berkata-kata.


"Yona, apa yang aku lupakan darimu?" Ucap Regan dengan berat, karena tidak sedikit pun memori tentang Yona dia ingat.


Rasanya dia begitu dekat dengan Yona, tapi otak Regan bereaksi berbeda. Regan seperti baru saja mengenal Yona, saat lelaki itu membuka matanya setelah koma beberapa hati. Tapi disisi lain, Regan seperti telah mengenal Yona begitu lama.


"Yona, katakan!" Teriak Regan terlihat sangat frustasi, sama hancurnya dengan Yona yang kini menangis di depan mata lelaki itu.


"Kumohon, jangan berikan aku harapan jika nyatanya kamu tidak mengingatku. Jangan biarkan aku merasa dekat jika namaku saja tidak kamu ingat" lirih Yona menampar Regan dengan ucapan wanita itu.


"Yona.."


Yona menatap Regan, beberapa detik Regan bisa melihat wajah Yona yang menangis.


"Jangan menangis, karena aku tidak bisa menghapus air matamu, aku tidak bisa" ucap Regan merem*as tangannya sendiri, tidak tahu harus melakukan apa.


Baru beberapa detik Regan bisa melihat Yona, tapi di detik selanjutnya wajah wanita itu kembali blur membuat Regan sangat kecewa dan juga sedih.


"Jawab aku, apa yang kamu ingat tentangku? Adakah?" Tanya Yona menatap Regan dengan ngilu.


"Maafkan aku.."


"Regan, aku tidak sanggup lagi seperti ini. Maafkan aku" jawab Yona.


Yona membuka pintu mobil Regan, berlari menuju tempat mobilnya berada. Yona tidak menghiraukan teriakan Regan yang memanggil namanya.


-----


AKHIRNYAAAAAAAAA SUDAH SELESAI UNTUK BULAN INI ✌️


SAMPAI KETEMU DI BULAN FEBRUARI SOBAT MY SWEET DOSEN 🤭

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR, BERIKAN NILAI RATING LIMA BINTANG UNTUK NOVEL INI.


SELANJUTNYA, SELAMAT MEMBACAAAA 🙏🙏


__ADS_2