
Yona mengerjapkan matanya, wanita itu mengerang di atas tempat tidur. Sebuah timpaan di kaki dan perutnya membuat wanita itu membuka matanya. Untuk pertama kali, Yona mengingat-ingat di mana kini dirinya berada.
Kamar bernuansa abu-abu, dengan dekorasi minimalis rasanya tidak asing di matanya. Wanita itu menoleh, betapa terkejutnya Yona melihat Regan tidur satu ranjang dengannya.
Yona berusaha melepaskan kaki Regan dari kakinya, begitu juga dengan tangan lelaki itu yang melingkar di atas perutnya. Usaha Yona berhenti, ketika Regan menarik tubuh Yona semakin mendekat kearah lelaki itu.
Jantung Yona berdetak tidak karuan, astaga kenapa jantungnya bereaksi berlebihan seperti itu. Yona menepuk pipinya berkali-kali, mencoba membuatnya sadar batasan diantara mereka yang tidak bisa untuk Yona langgar.
Yona mendongak, menatap wajah lelaki itu dari dekat. Wajah yang nampak sangat tenang saat tertidur, begitu damai dan juga membuat dada Yona berdebar tidak karuan rasanya.
'Aku menyukai semua dari lelaki ini, alisnya, bulu matanya, hidungnya, dan juga bibirnya. Kenapa wajah lelaki ini begitu sempurna di mataku?' batin Yona mengagumi ciptaan Tuhan yang terlihat sangat sempurna meskipun tingkah lelaki itu sungguh menyebalkan.
Entah apa yang kini ada di kepala Yona, wanita itu memberanikan dirinya menyentuh wajah Regan menyusuri setiap lekukan wajah lelaki itu dengan jemari tangannya. Perlahan, Yona merasakan kulit lelaki itu yang menempel di jemarinya.
Yona tersenyum bahagia, dia tidak menyangka hari ini akan datang. Hari di mana dia bisa begitu dekat dengan lelaki yang dia cintai tanpa harus mencari cara untuk bisa terus dekat dengan Regan. Permasalahan kemarin, biarlah menjadi kenangan hari kemarin, Yona tidak akan membahasnya lagi atas pertengkaran mereka berdua.
"Sudah puas memandangi wajahku yang tampan?" Tanya Regan, membuka matanya seketika.
Yona gelagapan, wanita itu hendak membalikkan badannya tapi malah Regan mengunci tubuhnya hingga Yona tidak bisa bergerak barang sejengkal saja.
Regan menatap wanita itu, mendaratkan kecupan di kening Yona sampai membuat wajah wanita itu memerah karenanya.
Regan semakin mendekap erat tubuh Yona, "Aku tidak pernah tidur nyenyak seperti tadi malam," ucap Regan.
Yona menatap Regan memberanikan wajahnya mengadah kearah lelaki itu.
"Memangnya kenapa?" Tanya Yona penasaran.
"Aku takut saat aku bangun di pagi hari kenanganku di hari sebelumnya akan menghilang," ucap Regan menjawab pertanyaan Yona.
Tanpa sepengetahuan Regan, mata Yona berkaca-kaca. Semua ini adalah salahnya. Seandainya saja Yona tidak memaksa Regan untuk mengantarkan dirinya mengecek souvenir pertunangan mereka mungkin saja Regan masih sehat sampai saat ini, dan mungkin saja mereka berdua telah bertunangan beberapa minggu yang lalu.
"Maafkan aku," ucap Yona membuat Regan menyerngit menatap wajah wanita yang terasa sangat kabur di matanya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Regan bingung.
"Maaf untuk segalanya," jawab Yona ambigu.
Lelaki itu tersenyum, mengelus kepala Yona dengan lembut.
"Kamu tidak salah apapun Yona, kamu tidak perlu meminta maaf," ucap Regan tersenyum kearah Yona.
Yona menatap nanar lelaki itu, bagaimana mungkin Yona tidak ounya salah apapun kepada lelaki itu? Bahkan seumur hidupnya tidak akan lunas untuk membayar budi baik Regan karena telah menyelamatkan dirinya.
Air mata Yona meluruh, dengan cepat wanita itu menghapusnya sebelum Regan mendengar isakan keluar dari mulutnya.
"Minggir, aku mau turun," ucap Yona berniat ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Bukannya mengendurkan pelukannya, Regan malah mempererat pelukannya kepada Yona.
"Aku tidak rela pagi tiba, aku ingin semalaman bersamamu," ucap Regan merengek membuat Yona membelalakkan matanya.
Apakah lelaki itu kerasukan setan manja?
"Apaan sih, nggak enak sama orang tuamu Regan," ucap Yona mendorong tubuh lelaki itu untuk melepaskan tubuhny dari pelukan Regan.
Dengan terpaksa, Regan melepaskan pelukannya dari tubuh Yona. Lelaki itu membiarkan Yona beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Regan yang tidak ingin Yona menjauh dari pandangannya.
"Ke kamar mandi," jawab Yona menoleh sekilas kearah lelaki itu.
"Bolehkah aku ikut?" Tanya Regan mengedipkan matanya menggoda.
"Boleh, mau apa? Mau aku siram?" Tanya Yona membuat harapan di wajah Regan memudar seketika.
Memang tidak mudah membuat Yona luluh dalam pesonanya! Regan harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati mantan model Internasional itu.
Menunggu lama sekali, Yona keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Wanita itu berdiri di depan kaca besar yang tertempel langsung di lemari pakaian Regan.
"Aku tadi memakai shampomu dan pasta gigi, terus sabunmu juga," ucap Yona kepada Regan.
Lelaki itu memejamkan matanya, menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yona saat ini. Sepertinya semua aroma shampo, sabun, dan juga pasta giginya tidak sewangi itu. Kenapa jika dipakai Yona justru seperti candu bagi dirinya?
"Regan, kamu menutup pintu kamar semalam?" Tanya Yona membuat Regan menoleh ke arah pintu kamarnya.
Regan menggeleng, tidak merasa menutup pintu kamarnya karena itu memang syarat mutlak dari Lili jika Yona menginap satu kamar dengan Regan.
"Tidak, semalam aku tidur lebih dulu kan?"
Yona berpikir, siapa yang menutup pintu kamar mereka? Mungkinkah Lili? Haisshhh, membayangkan jika mereka berdua berpelukan saat tidur membuat wajah Yona pias seketika. Bisa malu dia bertemu orang tua Regan saat ini.
__ADS_1
Bisakah Yona lewat pintu ajaib milik Doraemon agar Yona bisa melewatkan pertemuannya dengan orang tua Regan saat dia turun nanti.
"Kamu tidak mandi?" Tanya Yona menatap Regan.
Regan meraih ponselnya, melihat jam yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa? Mau kamu mandikan?" Tanya Regan dengan otak mesumnya yang mulai bergerilya.
Yona melempar anduk ke wajah Regan, "Mimpi saja kamu!" Ucap Yona kesal.
Lelaki itu mendengus, berani-beraninya Yona bermain kasar dengannya! Belum ada wanita lain yang berani melempar handuk ke arah wajahnya. Catat, wajahnya! Wajah yang menjadi idola semua wanita, wajah yang bisa membuat semua wanita yang bertemu dengannya meleleh seketika, kecuali Yona sepertinya.
Regan membuka kaosnya, Yona terbelalak melihatnya.
"Yaaaaaa apa yang kamu lakukan hah?" Pekik Yona menutup matanya, menghindari pemandangan menggoda yang Regan suguhkan padanya.
Dengan cepat Yona berlari keluar kamar Regan, meninggalkan lelaki itu yang kini tengah terbahak-bahak di dalam kamarnya.
*
Yona menengok ke lantai bawah, mencari-cari sosok orang tua Regan di bawah sana. Tidak ada suara apapun, tidak juga terdengar suara orang tua Regan maupun para pelayan rumah mereka.
"Kemana mereka semua?" Gumam Yona bingung.
Wanita itu berjalan mengendap-ngendap menuruni tangga seperti pencuri yang takut ketahuan sang pemilik rumah. Yona menoleh ke kanan dan ke kiri. Wanita itu bernapas lega saat tidak menemukan kedua orang tua Regan di lantai bawah.
'Huhhhh,' desahan napas Yona keluar sangat lega saat ini.
"Yona, kamu sudah bangun," suara seseorang di belakang Yona.
Yona berjingkat kaget, wanita itu menoleh ke belakang. Lili menatapnya dengan senyuman ramah seperti biasanya, dan itu malah membuatnya semakin malu bertatap muka dengan Lili.
Mungkin Lili sudah melihatnya tidur sambari berpelukan dengan Regan. Malu sekali Yona saat ini, semuanya gara-gara Regan yang memaksanya menginap di sana.
'Tapi akhirnya kamu mau juga kan?' bela dewi di dalam tubuh Yona tidak terima Regan disalahkan oleh Yona.
Yona meringis, "Hehe iya bunda," jawab Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Lili tersenyum, "Bagaimana tidurmu, nyenyak kan?" Tanya Lili sontak saja membuat wajah Yona memerah.
Fix, ini pasti Lili melihat Yona dan Regan tidur bersama.
'Huwaaaaaa bagaimana ini?'
Wajah wanita itu merah padam, pertanyaan yang keluar dari mulut Lili nampaknya memiliki efek yang sangat berat untuk Yona.
"Syukurlah kalau tidurmu nyenyak, demammu sudah turun?" Tanya Lili lagi.
Yona mengangguk mengiyakan, "Sudah agak mendingan bunda," jawab Yona.
Lili berjalan meninggalkan Yona di belakangnya. Yona mengekor Lili, mengikuti kemana wanita itu akan pergi. Ternyata Lili menuju dapur,
"Kalian pasti lapar kan? Bunda sudah siapkan sarapan dan ini susu kedelainya, kesukaan kamu," ucap Lili diangguki Yona dengan berbinar.
Lili memang sangat tahu kesukaan Yona, dan susu kedelai buatan Lili memang yang paling juara di mulut Yona.
Eh tapi apa maksudnya 'kalian pasti lapar kan?'. Jangan-jangan Lili berpikir Yona dan Regan melakukan sesuatu tadi malam.
"Regan dimana?" Tanya Lili yang tidak melihat Regan ikut turun bersama Yona.
"Regan mandi bunda," jawab Yona membuat Lili tersenyum menggoda menatap Yona.
Nah kan, Lili pasti salah mengira soal mereka tadi malam.
"Emh, bukan begitu bunda. Kami tidak melakukan apapun kok," ucap Yona mencoba menjelaskan dan meluruskan apa yang memang terjadi tadi malam diantata Regan dan Yona.
Lili terkekeh, "Memangnya bunda bilang apa?" Tanya Lili menggelengkan kepalanya geli melihat ekspresi wajah Yona yang terlihat sangat tegang.
Yona menghembuskan napasnya kasar, percuma juga Yona meluruskan yang memang terjadi diantara dia dan Regan.
"Bunda ada rapat dengan teman bunda, kalian makan berdua saja ya semua sudah siap kok. Kalau butuh apa-apa minta bantuan saja sama mbak dan bibi," ucap Lili mengarahkan matanya menatap pelayan rumahnya yang tengah melakukan tugasnya sejak tadi pagi sesuai jam kerja mereka.
"Rapat apa bun?" Tanya seseorang membuat Yona dan Lili menoleh kearah suara.
Regan baru saja selesai mandi, rambutnya basah. Sisa-sisa air di rambut lelaki itu mengalir ke rahang kokohnya, membuat lelaki itu terlihat sangat sexy.
"Kamu baru selesai mandi?" Tanya Lili meskipun sudah tahu jawabannya.
Regan mengangguk, lelaki itu berjalan kearah pantry mengambil gelas kaca dan menuangkan air minum ke dalam gelasnya.
"Bunda mau rapat apa?" Tanya Regan setelah meneguk air minumnya hingga tandas.
__ADS_1
Pasalnya, Lili memang full menjadi ibu rumah tangga meskipun dirinya tidak melakukan apapun di rumah dan hanya memasak saja. Lalu rapat apa yang akan Lili lakukan jika bekerja saja dia tidak?!
Lili memutar otaknya, mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan Regan saat ini.
"Rapat wanita lah biasa, bahas masa depan," ucap Lili diikuti kekehan renyahnya.
"Pasti mau arisan ya?" Tuduh Regan menatap Lili tidak suka.
Lili hanya tertawa, membiarkan anaknya memiliki pemikiran sendiri akan jawabannya.
"Ya sudah ya bunda pergi dulu," pamit Lili mencium pipi Regan dan Yona.
Lili mengeluarkan ponselnya, "Hallo Shin, aku perjalanan ke sana," ucap Lili saat sopir keluarganya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Lili untuk masuk ke dalam.
Lili dan Shinta akan menggelar rapat terbuka untuk membahas tentang masa depan anak-anak mereka. Jika menunggu Regan dan Yona yang bertindak, maka hanya akan membuang-buang waktu saja.
Regan menatap Yona, "Kamu tidak sarapan?" Tanya Regan kepada Yona.
Wanita itu menatap Regan dan mengangguk. Yona melangkah kearah meja makan, diikuti Regan di belakangnnya. Yona duduk di kursi kosong, wanita itu membuka tutup saji. Ada beberapa macam lauk pauk dan sayuran yang sudah Lili siapkan untuk mereka.
Yona mengambil piring, menuangkan nasi putih lalu mengambil sambal terong dan juga cumi gongso yang terlihat sangat lezat dan menggiurkan.
"Ambilkan aku juga," ucap Regan menatap Yona datar.
Wanita itu mengangguk, mengambil satu piring untuk Regan.
"Kamu mau lauk apa?" Tanya Yona.
Regan menatap semua hidangan yang dimasak sendiri oleh ibunya.
"Terserah," jawab Regan.
"Mau sayur?" Tanya Yona diangguki Regan.
Wanita itu dengan luwesnya mengambilkan lauk pauk dan sayur untuk Regan, menuangkan beberapa macam hidangan di piring lelaki itu.
"Stop..stop," ucap Regan menghentikan tangan Yona yang masih ingin menuangkan sayur lagi di piringnya.
"Kenapa? Sudah cukup?" Tanya Yona menatap Regan.
"Lihat piringnya saja sudah tidak kelihatan masih kamu tuangkan lagi sayurnya. Bawa sini," ucap Regan meminta piring yang dipegang Yona.
Regan menatap piring itu dengan senyumannya yang mencurigakan.
"Yona, makanan ini rasanya sangat banyak untuk satu orang," ucap Regan membuat Yona menatapnya.
Yona melihat piring Regan, rasanya isi piring Regan tidak jauh berbeda dengan isi piring milik Yona.
"Kamu ini lelaki tapi makanmu sedikit sekali, sini biar aku sisihin," ucap Yona mengulurkan tangannya hendak mengambil piring Regan.
Lelaki itu mencekal tangan Yona, Regan berlari kecil mengitari meja makan dan duduk di samping Yona.
"Makananmu biarkan saja, kita makan satu piring berdua pakai piringku," ucap Regan tersenyum lebar, memberikan usul kepada Yona.
"Hah? Makan satu piring berdua?" Pekik Yona terheran-heran dengan ucapan Regan.
Regan mengangguk bersemangat, lelaki itu mengambil piringnya dan menyuapkan satu sendok pertama ke mulut Yona.
"Ayo aaaaa buka mulutmu," ucap Regan menyuapkan sendoknya ke mulut Yona dengan telaten.
Yona hanya mengikuti perintah Regan, percuma saja Yona menolak ucapan lelaki itu karena semakin Yona bersikeras menolaknya maka semakin gigih pula Regan untuk memuluskan niatnya.
"Pesawat mau masuk goaaaa," ucap Regan membuat Yona meringis melihat tingkah lelaki itu yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Memangnya Regan sedang menyuapi anak kecil?
"Memangnya kamu sedang menyuapi anak kecil?" Tanya Yona yang merasa risih dengan tingkah Regan.
"Aku sedang membuktikan kepadamu," jawab Regan, Yona menaikkan alisnya bingung dengan jawaban Regan yang sama sekali tidak sinkron dengan pertanyaannya.
"Membuktikan apa maksudmu?" Tanya Yona kembali.
"Aku sedang membuktikan kepadamu, kalau aku sudah pantas menjadi ayah dari anak-anakmu," ucap Regan.
Wajah Yona pias seketika, mendengar ucapan Regan barusan membuat dadanya bergemuruh tidak karuan rasanya lagi. Yona menahan napasnya, kalimat Regan sukses membuat wanita itu kehabisan oksigen.
"Bagaimana? Kamu berminat menjadikan aku ayah anak-anakmu?"
-
Hayoooo kira-kira Yona berminat nggak ya?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan follow akun author yaaaa 🙏🙏🙏❣️👍