My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lamaran Kedua


__ADS_3

Kepulangan pasangan Regan dan Yona sudah dinanti-nantikan oleh keluarga dan teman-teman mereka di Indonesia. Pasangan yang menjadi viral diberbagai media sosial hingga membuat keluarga dan teman dekat mereka menjadi sasaran para netizen yang terlalu penasaran dengan kisah cinta keduanya.


Mungkin saja, setelah mereka sampai ke Indonesia akan ada stasiun televisi yang meminta mereka konferensi pers perihal kisah cinta Regan dan Yona. Kisah yang sangat asyik untuk dibahas oleh para netizen yang terhormat sekalian.


“Memangnya ini pertama kali putrimu pulang dari luar negeri hingga kamu seantusias ini menyambut mereka?” cibir Hendra yang merasa seharian ini telah ditelantarkan istrinya karena sang istri membuat pesta penyambutan kepulangan putrinya dan juga calon menantu mereka.


Shinta menoleh kearah suaminya, suaminya memang sangat kolot perihal seperti ini. Yang suaminya tahu hanya perusahaan dan juga saham saja. Padahal ini adalah tolak ukur keberhasilan mereka dalam menjalankan misi mereka untuk menjodohkan Yona dan Regan yang pada akhirnya telah kesampaian dengan lamaran yang Regan utarakan kepada Yona secara pribadi.


“Kamu mana mengerti, yang kamu tahu hanya perusahaan dan juga saham,” cibir Shinta membuat suaminya menatapnya terbelalak.


“Kamu mengolok-ngolok perusahaan keluargaku yang telah puluhan tahun kamu nikmati hasilnya?” tanya Hendra tidak menyangka.


“Hei, kamu mengungkit perihal apa yang sudah aku nikmati begitu? Lalu dirimu sendiri bagaimana? Kamu juga menikmati tubuhku selama puluhan tahun dengan puas kan?” tanya Shinta dengan matanya mengejek ke arah Hendra.


Mulut lelaki itu menganga, kenapa istrinya bisa berbicara sefrontal itu padahal di rumah mereka ada beberapa pelayan yang mungkin mendengar apa yang wanita itu katakan.


“Sekarang aku tahu kenapa Yona seagresif itu, semuanya menurun darimu,” kata Hendra menatap istrinya malas.


Ternyata bukan hanya Regan dan Yona yang hobby bertengkar dan saling mengejek satu sama lain, tapi Hendra dan Shinta juga sama halnya dengan mereka meskipun usia Hendra dan Shinta sudah tidak muda lagi dan sudah tidak pantas untuk saling membalas ejekan satu sama lain.


“Susah memang ngomong sama orang kolot,” cibir Shinta meninggalkan suaminya di sana dengan mulut menganga.


Hendra melempar koran yang dia baca ke meja, lelaki itu berdiri dari tempatnya dan menatap punggung Shinta yang kini menjauh.


“Dasar, ibu dan anak sama saja,” cibir Hendra berlalu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Lelaki itu harus membersihkan dirinya dan menyegarkan otaknya setelah beradu mulut dengan istrinya. Meskipun begitu, keduanya tidak pernah saling mendiamkan satu sama lainnya untuk waktu yang lama. Paling dua jam saling berdiam diri membuat keduanya tidak betah dan akhirnya saling mengalah untuk meminta maaf.


Shinta membuka kamarnya, melihat suaminya tengah bertelanjang dada.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Shinta memalingkan wajahnya karena malu.


Aneh sekali, mereka telah menikah puluhan tahun, tapi Shinta masih saja merasa malu saat melihat tubuh polos suaminya maupun ketika suaminya menyentuh dirinya layaknya suami istri yang saling mencintai.


“Mandilah, masa mau ngepel,” jawab Hendra menoleh kearah istrinya.


Lelaki itu tersenyum geli melihat semburat merah diwajah istrinya.


“Hm ya sudah, kamu mandi saja. Aku akan mandi di kamar Yona,” ucap Shinta berbalik.


Terlambat, Hendra lebih cepat menarik tangan wanita itu hingga wanita itu jatuh dalam dada bidangnya yang bisa membuat wanita manapun ingin jatuh dalam pelukan Hendra.


“Kenapa kita tidak mandi bersama saja?” tanya Hendra sontak saja membuat dada Shinta mencelos.


“Ih apaan sih, bukannya mandi malah nanti kita-“ Ucapan wanita itu terhenti, tidak kuasa melanjutkannya lagi karena malu.


“Malah nanti kita apa?” tanya Hendra penasaran dengan kalimat wanita itu yang terputus.


“Kita anu, kita bertengkar. Iya kita kan suka bertengkar,” ujar Shinta meskipun terdengar sangat tidak masuk akal bagi lelaki itu.


Hendra menenggelamkan wajahnya dilekukan leher sang istri, menghirup aroma tubuh wanita yang sudah melahirkan anak-anaknya dan menjadi istri sekaligus ibu dan baik selama ini. Shinta adalah wanita yang baik, tidak pernah menuntut banyak hal dari suaminya, tapi terkadang wanita itu sangat labil dan mengesalkan seperti halnya sifat Yona. Like daughter like mother!


“Kita harus menjemput Yona dan Regan dua jam lagi, lepaskan tanganmu,” pinta Shinta mencoba melepaskan tangan lelaki itu.


Dengan malas, Hendra melepaskan pelukan tangannya dan menatap istrinya kecewa.


“Padahal kita sudah lama tidak mandi bersama, kamu kejam sekali,” keluh Hendra menekuk wajahnya.


Shinta tersenyum. “Aku tahu apa yang ada dalam otak mesummu itu, cepatlah mandi,” ucap Shinta meninggalkan suaminya di dalam kamarnya.


Wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar Yona untuk mandi di sana.



Didalam pesawat yang akan membawa mereka ke Indonesia, tepatnya di Bandung. Yona sibuk dengan kamera yang kini ada di tangannya. Sedangkan Regan hanya menekuk wajahnya sebal merasa dicuekkan oleh wanita cantik di sampingnya.


Entah sudah keberapa kalinya, wanita itu berdecak kagum dengan hasil potretan Regan di kamera lelaki itu. Rupanya Regan lumayan berbakat untuk jadi fotografer jika dilihat dari hasil jepretannya kini.


“Lihat, aku terlihat sangat cantik di sini,” kata Yona memuji dirinya sendiri dengan penuh rasa bangga dalam dirinya.


Yona tersenyum sangat bahagia, wanita itu menoleh ke arah Regan karena sejak tadi ucapannya tidak dihiraukan oleh Regan.


“Kamu tidur?” tanya Yona memastikan mata lelaki itu terpejam ataukah masih terjaga.


“Hmmm,” jawab Regan malas.


Yona mencubit gemas hidung lelaki itu.


“Mana ada orang tidur bisa menjawab? Ada-ada saja kamu ini,” kekeh Yona.

__ADS_1


Kening Yona menyerngit, dari sekian banyak fotonya dan foto berduanya dengan Regan kenapa foto lelaki itu di sana hanya beberapa saja?


“Regan, kenapa fotomu di sini sedikit sekali?” tanya Yona mengguncang kaki lelaki itu.


Regan menoleh ke arah Yona. “Kamu lupa?” tanya Regan balik.


“Kenapa memangnya?” tanya Yona menimpali lagi.


Mata Yona menyipit, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Regan.


“Memangnya kamu pernah memotret diriku? Kamu selalu memintaku memotret dirimu sendiri,” seloroh Regan membuat Yona menganga.


“Benarkah? Astaga, aku tidak ingat,” ucap Yona.


Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, untung saja Regan bukan orang gila foto seperti dirinya yang sedikit-sedikit harus mengabadikan moment perjalanannya. Wanita itu merangkul lengan Regan, Yona sangat bahagia melewatkan liburan tahun barunya bersama dengan lelaki baru dalam hidupnya.


“Terimakasih,” ucap Yona mendongakkan wajahnya kearah Regan.


“Untuk apa?” tanya Regan menyerngit.


“Sudah membuatku bahagia dengan liburan ini, dan juga lamarannya,” jawab Yona tersenyum sangat lembut, membuat dada Regan seakan berdesir dibuatnya.


“Aku juga berterimakasih, sudah mau meluangkan waktu untukku dan menerima lamaranku,” ucap Regan diangguki Yona.


Regan meraih tangan Yona, mencium tangan wanita itu. Sudah beberapa orang yang ditengah perjalanan mereka yang meminta foto bersama dengan pasangan viral tersebut. 


“Satu lagi, sepertinya aku akan menjadi lebih terkenal dari pada dirimu,” kekeh Regan membuat Yona mendaratkan cubitannya di perut datar lelaki itu yang berotot.


Setelah menempuh perjalanan udara yang sangat lama, akhirnya mereka mendarat juga di Bandung dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Yona menunggu Regan yang sedang mengambil beberapa barang kecil mereka di cabin pesawat.


“Sayang, apa daddy dan mommy sudah menjemput kita?” tanya Regan menghampiri Yona disana.


Yona mengangguk. “Aku sudah bilang kalau pesawat kita landing jam tiga sore,” jawab Yona.


“Ya sudah kalau begitu, kita ke tempat pengambilan bagasi,” jawab Regan diangguki Yona.


Regan meminta Yona untuk membawa beberapa bingkisan kecil-kecil yang sempat mereka simpan di cabin pesawat. 


“Aku yang akan mengambil kopernya,” jelas Regan diangguki Yona.


Lelaki itu menuju baggage claim area, mengambil tiga koper besar yang terdiri dari satu miliknya, satu milik Yona, dan satu lagi berisikan oleh-oleh yang mereka bawa dari perjalanan mereka kali ini untuk keluarga dan teman-teman mereka.


“Iya, Pak,” jawab Regan tersenyum.


“Pasti kena cash mahal ya?” tebak petugas itu yang sangat hapal benar berapa biaya yang akan ditanggung penumpang ketika titipan barangnya melebihi kapasitas bagasi.


Regan hanya menjawabnya dengan senyuman, tidak enak rasanya untuk memberitahu nominal yang dia keluarkan untuk penitipan barangnya dan Yona di bagasi pesawat.


“Biar aku bantu,” ucap seorang wanita yang sangat lelaki itu hapal.


“Nadia, kamu di sini?” tanya Regan memastikan.


Nadia hanya tersenyum singkat.


“Kamu pikir hanya dirimu dan Yona yang berlibur? Aku juga baru saja pulang berlibur. Me time,” kekeh Nadia membuat Regan ikut tersenyum kearahnya.


Nadia membantu Regan untuk membawakan satu koper lelaki itu keluar dari tempat itu, meskipun satu tangannya yang lainnya menarik koper miliknya sendiri.


“Calon tunanganmu memang berlebihan, lihat saja satu koper masih tidak cukup dan masih ada beberapa paperbag ditangannya?” tanya Nadia menggelengkan kepalanya.


“Yonaa!” panggil Nadia membuat pemilik nama itu menoleh.


Yona terbelalak melihat Nadia berjalan beriringan dengan Regan, dan membawakan satu koper miliknya.


“Nadia?” pekik Yona sangat antusias melihat Nadia disana.


Yona melambaikan tangannya, wanita itu bahkan berlari memeluk Nadia tanpa peduli tatapan orang-orang disekitar mereka. Keduanya sudah lama tidak bertemu, mungkin tiga bulan lebih setelah kegilaan mereka mabuk bersama.


“Kamu juga pulang berlibur?” tanya Yona.


“Berlibur apanya, aku ada project di Thailand. Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur dengan baik,” jawab Nadia menceritakan kegiatannya yang menguras waktu dan tenaganya.


“Kami juga punya kerjaan untukmu,” ucap Regan membuat Nadia menoleh menatap kearahnya.


“Kerjaan apa? Jangan-jangan kalian mau bertunangan? Benar apa yang beredar di medsos itu?” pekik Nadia dengan matanya berbinar bahagia mendengar berita baik itu akhirnya datang dari pasangan kucing dan tikus itu.


Baik Yona maupun Regan mengangguk mengiyakan, Nadia langsung memeluk kedua sahabatnya dengan erat. 


“Aku sudah tahu sejak awal kalau Regan mencintaimu.”

__ADS_1


“Nadia!” ucap Regan tidak terima karena rahasianya terbongkar di depan Yona.


Mereka bertiga berjalan bersama-sama menuju pintu keluar bandara untuk menunggu jemputan mereka.


“Aku tidak menyangka lelaki yang super duper protectif padamu membiarkan tunangannya pergi ke Thailand seorang diri,” jawab Yona.


“Dia dokter yang sangat sibuk Yona, beda dengan lelakimu,” ejek Nadia menatap Regan dengan jenaka.


Mereka tertawa.


“Yona, Regan.” 


Keduanya menoleh, daddy dan mommy Yona telah menjemput mereka.


“Daddy, Mommy,” panggil Yona memeluk daddy dan mommynya yang sudah satu minggu ini dia tinggalkan.


“Eh Nadia?” panggil Shinta ketika matanya menangkap Nadia disana.


Nadia menunduk hormat, wanita itu mencium tangan daddy dan mommy Yona dengan sopan.


“Kamu juga menunggu jemputan Nad?” tanya Shinta diangguki Nadia.


“Iya Tante, tapi belum ada kabar lagi. Mungkin sedang mengoperasi pasien,“ jawab Nadia.


“Kenapa tidak bareng saja sama kita, kita bawa mobil dua. Iya kan Dad?” tanya Yona kepada daddynya.


Yona sengaja meminta daddy dan mommynya membawa dua mobil karena barang-barang yang dia bawa lumayan banyak dan sangat tidak mungkin untuk mereka paksa dalam satu bagasi mobil saja.


“Boleh kalau tidak merepotkan,” ucap Nadia pada akhirnya.



Mereka tidak langsung mengantarkan Nadia pulang ke rumahnya, melainkan mengajak wanita itu untuk makan bersama di acara penyambutan kedatangan Yona dan Regan. Ckck, mommy Yona memang sangat berlebihan.


“Yona dan Regan pergi hanya satu minggu dan tante buatkan pesta?” tanya Nadia menatap Shinta tidak percaya.


Shinta menarik tangan Nadia agar wanita itu mendekat ke arahnya.


“Ini itu acara lamaran yang sungguhan, keluarga Regan sudah mempersiapkan kejutan untuk Yona dan Regan,” bisik Shinta membuat Yona dan Regan waspada atas berbagai rencana tidak terduga dalam otak wanita itu.


Nadia hanya ber’oh’ ria mendengar penjelasan dari Shinta.


“Kamu sendiri kapan marriednya?” tanya Shinta kepada Nadia.


“Insyaalllah pertengahan bulan depan," jawab Nadia membuat semua orang disana ikut merasakan kebahagiaan wanita itu.


Sudahlah, biarkan kesakitan dan penderitaan wanita itu terbayar lunas oleh kebahagiaannya saat ini. Tidak ada yang bisa menyembuhkan luka, selain keihklasan batin orang itu sendiri menerima segala cobaan yang telah Tuhan berikan kepadanya.


“Dia menelepon,” ucap Nadia menunjukkan nama lelaki itu yang tertera di layar ponselnya.


“Angkat saja, suruh dia ke mari juga,” ucap Yona diangguki Nadia.


Yona, Regan dan orang tua wanita itu masuk kedalam rumah mewahnya. Yona dan Regan sangat terkejut melihat rumah keluarga William dihiasi seperti itu dengan berbagai pernak-pernik pesta.


“Selamat datang sebagai pasangan yang sebenarnya,” teriak Lili dan Septhian menyambut kedatangan Yona dan Regan.


Mata mereka berdua terbelalak, keduanya saling menatap. Mereka seharusnya tahu jika hal seperti ini akan terjadi setelah aksi lamaran mereka diatas kapal pesiar sangat viral di media sosial.


“Selamat Sayangg,” ucap Lili mencium pipi Yona dan memeluk calon menantunya itu.


“Mommy, Bunda, ada apa ini?” tanya Yona merasa bingung.


“Tentu saja perayaan kalian sudah resmi menjadi pasangan sesungguhnya,” jawab Shinta membuat Yona dan Regan menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika orangtuanya bisa melakulan hal-hal yang sama sekali mereka tidak duga sebelumnya.


Lili menyerahkan kotak beludru kepada Regan.


“Ini!” ucap Lili membuat Regan menyerngit.


“Apa ini?” tanya Regan kepada bundanya.


“Cincin, apa lagi? Kamu ini teledor sekali sampai-sampai cincin saja bisa hilang,” cibir Lili.


Para orang tua meminta Regan melamar ulang Yona didepan mereka. Tidak tahukan para orang tua itu jika Regan sangat gugup setengah mati jika harus mengulang lamarannya lagi.


“Tapi Regan sudah melamar Yona, tidak perlu melamar lagi.”


“Ini itu adat kita, pihak lelaki harus melamar wanita didepan orang tua pihak wanita,” ucap Septhian memberikan pengetahuan kepada Regan.


Regan menatap kotak beludru itu, tangannya membukanya perlahan. Satu cincin pertunangan yang simple namun elegan berada disana dengan anggunnya. Regan menatap Yona, wanita itu tidak akan berubah pikiran dan menolaknya kan?

__ADS_1


“Tapi bagaimana jika Yona berubah pikiran dan menolak Regan? Hei Yona, jangan menolakku, mengerti?”


__ADS_2