My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Work Kiss


__ADS_3

Makanan mereka telah habis tak tersisa, Yona mengelap mulutnya dengan tissue. Regan menunjuk mulutnya sendiri dengan jari telunjuknya. Yona menyerngit bingung melihat tingkah Regan saat ini.


"Kenapa? Kamu tiba-tiba bisu?" Tanya Yona bingung karena Regan menunjuk bibirnya tanpa bicara apapun.


Yona menyerngit bingung, Regan menggelengkan kepalanya.


"Apaan Regan! Aku tidak bisa bahasa isyarat tahu!" Ucap Yona kesal.


Regan memejamkan matanya dan mendesah, bodoh sekali wanita itu yang tidak tahu kode darinya.


"Maksudnya tolong elapin bibir aku," jawab Regan memutar bola matanya karena Yona tidak paham dengan kodenya.


Sedangkan Yona hanya melongo tidak percaya mendengar ucapan lelaki itu.


"Memangnya bibir kamu lantai yang perlu dielapin?" Ejek Yona dengan tangannya mengelap bibir Regan.


"Hei itu tissue yang baru saja kamu gunakan kan? Jorok sekali," cibir Regan menyebikkan bibirnya.


Yona hanya terbahak melihat ekspresi wajah Regan yang kini terlihat sangat kesal karena ulahnya. Wanita itu kembali mengambil tissue yang masih bersih dan mengarahkannya ke bibir lelaki itu.


"Bukan bekasmu lagi kan?" Tanya Regan menatap Yona penuh waspada.


Yona menggeleng, "Bukan, baru nihh liat!" Ucap Yona menyodorkan tissue yang dia pegang di depan mata Regan sampai lelaki itu memejamkan matanya takut tercolok tangan Yona.


"Minggir-minggir!" Kesal Regan berdiri dari tempat duduknya membuat Yona tertawa melihat wajah Regan yang menahan kesal.


"Kamu mau kemana?" Tanya Yona penasaran saat Regan berjalan menuju tangga rumahnya.


"Mau ambil tas kerjaku, kenapa?" Tanya Regan kembali.


"Bukannya kamu kemaren demam ya? Apa tidak bermasalah kamu langsung bekerja?" Tanya Yona merasa khawatir dengan kesehatan lelaki itu.


"Suhu badanku sudah agak mendingan kok, kayak nggak apa-apa aku ngajar juga nggak berat kan," jawab Regan tersenyum kearah Yona.


Lelaki itu berlari kecil menaiki tangga rumahnya untuk mengambil tas kerjanya sebelum dia telat absensi kehadiran di kampus tempatnya mengajar.


"Huhh dasar keras kepal," cibir Yona melihat betapa giatnya lelaki itu dalam bekerja dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang pengajar.


“Non Yona, sudah selesai makannya?” tanya Bik Sri yang baru saja datang ke ruang makan menghampiri Yona.


Yona tersenyum dan mengangguk, “Sudah bik, masakan bunda enak sekali.” Ucap Yona mengagumi kelihaian Lili saat memasak.


“Nyonya besar memang pintar sekali memasak, bibi saja sampai kalah sama beliau kalau soal memasak mah,” kekeh Bik Sri seraya membersihkan piring yang ada di meja makan.


“Bik Sri sudah lama ya kerja di rumah ini?” tanya Yona penasaran karena sepertinya Bik Sri tahu banyak tentang keluarga Regan.


Bik Sri mengangguk membenarkan, “Sudah hampir dua puluh tahun lamanya non. Bibi betah di sini.” Jawab Bik Sri terkekeh.


Semua yang bekerja di keluarga Abimanyu Louis memang mengatakan hal yang sama, mereka sangat betah bekerja bersama keluarga itu. Selain mereka yang sangat baik dan memanusiakan manusia, mereka juga begitu pengertian kepada para pekerja di rumah mereka. Keluarga Regan juga tidak segan memberikan libur dan uang tambahan untuk para pekerja mereka yang dirasa layak mendapatkannya.


“Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Regan membuat Yona dan Bik Sri menoleh.


Lelaki itu sudah memakai jas formalnya dengan sepatu pantofel yang sudah terpasang rapi di kaki jenjang Regan. Yona tidak berkedip beberapa detik, lelaki itu sungguh memiliki tubuh yang sangat proporsional dan juga menggiurkan.


“Yona, kamu tidak mendengarku?” tanya Regan saat Yona tidak menjawab ucapannya.


Bik Sri tersenyum geli melihat ekspresi Yona saat ini, wanita paruh baya itu memilih undur diri membawa piring kotor ke dapur untuk dia cuci. Sedangkan Yona gelagapan begitu Regan memanggil namanya lagi.


“Yona-,”


“Aku mendengarnya Regan, aku tidak tuli.” Jawab Yona menggelengkan kepalanya.


Regan menyodorkan tas milik Yona kepada wanita itu. Hampir saja Yona melupakan tasnya di kamar Regan jika lelaki itu tidak membawakan tasnya turun ke bawah.


“Regan tapi aku membawa mobil, aku akan pulang sendiri,” ucap Yona kepada Regan.


Bagaimana nasib mobilnya jika Yona diantarkan pulang oleh lelaki itu? Belum lagi mengantarkan Yona ke rumah wanita itu pasti menghabiskan banyak waktu.


“Sekarang sudah jam setengah sepuluh Regan, kamu harus segera berangkat ke kampus,” ucap Yona kepada Regan.


“Tapi aku ingin mengantarkanmu pulang Yona,” jawab Regan bersikukuh.

__ADS_1


“Regan, kamu bisa telat kalau mengantarkanku pulang lebih dulu. Rumahku kearah mana sedangkan kampus kearah mana,” jawab Yona menatap Regan tidak percaya.


“Memangnya kenapa kalau telat? Itu kan kampus milik-,”


“Iya aku tahu itu kampus milik yayasan keluargamu, tapi kamu kan bekerja di sana. Bersikaplah yang professional,” ucap Yona memberikan Regan peringatan.


Regan menyerah pada akhirnya, dia mana pernah menang adu argument dengan Yona?


“Kalau begitu hati-hati di jalan,” ucap Regan mendekat kearah Yona, mencium kening Yona dengan lembut.


Regan sendiri tidak tahu, apa yang membuatnya melakukan hal-hal diluar kebiasaannya. Menjadi stalker, ekting sakit untuk mendapatkan perhatian, berbagi ranjang dengan seorang wanita, berbagi piring dengan orang lain, dan sekarang Regan mencium kening Yona dengan mesranya seakan-akan mereka berdua adalah seorang kekasih yang telah lama menjalin hubungan.


Regan tersenyum lembut, lelaki itu mengantarkan Yona hingga ke garasi rumahnya.


“Bisa keluar sendiri?” tanya Regan sebelum Yona masuk ke dalam mobilnya.


“Aku sudah ahli dalam hal menyetir,” jawab Yona tersenyum.


“Pantas saja kamu ahli menyetir hatiku untuk tetap fokus padamu,” jawab Regan membuat wajah Yona memerah malu.


Regan mengacak rambut Yona pelan, lelaki itu membukakan pintu kemudi untuk Yona mempersilahkan wanita itu segera masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih Regan,” ucap Yona tersenyum meskipun dia tahu jika senyumannya juga kemungkinan tidak akan terlihat jelas di mata lelaki itu.


Yona membalikkan badannya, wanita itu memberanikan diri untuk memberikan kecupan di pipi lelaki itu.


“Work kiss mungkin?” ucap Yona tersenyum malu.


Regan tersenyum, lelaki itu merasakan ada yang aneh dengan jantungnya yang kini berdebar tidak karuan karena ciuman singkat dari Yona meskipun hanya sekilas di pipinya.


“Hati-hati di jalan,” ucap Regan saat Yona sudah masuk ke dalam mobil.


Yona menyalakan mesin mobilnya, wanita itu membuka kacanya dan melambaikan tangannya kearah Regan.


“Selamat mengajar, My Sweet Dosen,” kekeh Yona diikuti kekehan dari Regan yang merasa geli mendengar julukan yang Yona pilihkan untuknya.


Regan segera menuju mobilnya begitu mobil yang dikendarai Yona meninggalkan halaman rumahnya. Sepertinya sekali-kali telat tidak masalah demi memastikan wanita yang membuat hatinya bergetar tiba di rumah dengan aman dan selamat.


Yona menyerngitkan keningnya melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya berdiri di depan gerbang rumahnya. Lelaki itu menaiki motor yang biasanya dia pakai untuk menarik penumpang. Yona mengklakson lelaki itu hingga menoleh kearahnya. Yona membuka kaca spionnya, 


“Yogi? Kenapa datang kemari? Dari mana kamu tahu rumah kakak?” tanya Yona beruntun.


“Kak Yona? Aku melihatnya dari kartu nama yang kakak berikan saat itu,” jawab Yogi membuat Yona teringat bahwa dirinya sendiri yang memberikan kartu namanya kepada Yogi.


“Ayo masuk, kenapa kamu berada di luar gerbang saja? Bawa motormu masuk sekalian,” ajak Yona memberikan kode kepada Yogi untuk mengikutinya masuk ke dalam.


Setelah memarkirkan mobilnya, Yona segera keluar menghampiri Yogi yang baru saja menyandarkan motornya dan melepas helm lelaki itu. Yona tersenyum senang melihat Yogi datang ke rumahnya,


“Ada apa?” tanya Yona penasaran.


Yogi merogoh sesuatu dari jaket kulit yang dia pakai. Satu tiket konser bertema ‘Ambyar’ dia tunjukkan kepada Yona.


“Yogi nggak tahu apa yang kakak suka, tapi untuk membalas kebaikan Kak Yona aku belikan ini.” Ucap Yogi menyodorkan tiket konser itu kepada Yona.


Yona menerimanya dengan senyuman sumringah seperti biasanya. Bukankah itu salah satu konser untuk tim ambyar yang tengah hits akhir-akhir ini? Wuah Yogi memang tahu apa yang kini tengah dia rasakan. Yona butuh tempat yang tepat untuk meluapkan emosi dan perasaannya.


Tanpa diduga, ada seseorang yang menyerobot tiket konser itu dari tangan Yona hingga mereka berdua menatap siapa yang berani mengambil tiket konser itu dari tangan Regan.


“Pak Regan,” ucap Yogi merasa tidak enak bertemu Regan di sana.


“Kamu mengenalku? Atau mungkin kamu salah satu mahasiswaku?” tanya Regan memicingkan matanya, mengingat tubuh lelaki itu dalam ingatannya.


Yogi mengangguk, “Semester kemaren saya masuk kelas bapak,” jawab Yogi.


Regan menatap Yogi dengan tajam, “Kamu ngapain datang ke sini? Ada keperluan apa?” tanya Regan menatap Yogi penuh curiga.


“Saya-,”


“Dia datang mengantarkan pesananku Regan, kamu sendiri ngapain datang ke sini bukannya ke kampus?” tanya Yona balik membuat wajah Regan menjadi pias.


“Memangnya salah aku datang ke rumahmu? Kamu tidak suka? Padahal aku welcome saja saat kamu datang ke rumahku dan mengin-“ Yona membekap mulut Regan yang sudah seperti ember bocor membicarakan Yona menginap di rumahnya.

__ADS_1


Memang ya mulut Regan itu sangat lemes dan tidak tahu tempat!


Regan menatap tiket itu, membaca tulisan yang tertulis di tiket itu. Regan terkekeh geli membaca apa yang tertulis di tiket konser.


“Tiket ambyar apa ini? Anak muda jaman sekarang dikit-dikit ambyar memangnya nasi kucing lepas karetannya?” ucap Regan geli.


Yona hanya mendengus mendengar ucapan Regan, wanita itu merasa tidak enak dengan Yogi yang sudah membelikan tiket itu untuk Yona.


“Sebaiknya kamu segera pergi ke kampus sebelum terlambat,” pinta Yona menatap Regan.


“Memang sudah terlambat, em sepuluh menit mungkin,” jawab Regan mengecek jam di arloji yang melilit di tangannya.


“Sudah tahu terlambat kenapa kamu datang ke sini?” tanya Yona yang sudah tidak tahu lagi bagaimana jalan pikiran dari Regan.


Regan menunjuk Yogi, “Ini gara-gara dia aku kemari,” jawab Regan membuat Yogi menatapnya bingung begitu juga dengan Yona.


“Kenapa gara-gara saya pak?” tanya Yogi bingung.


Regan mengangguk, jika saja dia tidak melihat Yogi berbicara dengan Yona dan melihat Yona meminta lelaki itu masuk ke dalam gerbang mungkin saja Regan akan melajukan mobilnya ke kampus setelah melihat Yona sampai di rumah dengan selamat.


Kalau sudah melihat lelaki lain dekat dengan Yona rasanya Regan sangat tidak terima. Maka dari itu Regan memutuskan untu menghampiri mereka berdua.


“Ya karena aku melihatmu berbicara dengan wanitaku dan masuk ke dalam gerbang,” ucap Regan.


Yona mengusap wajahnya frustasi, wanita itu sampai menghela napasnya bingung mendengar alasan Regan yang semakin menggila.


“Terus kamu datang ke sini dan sengaja membolos begitu?” tanya Yona melipat tangannya ke depan dada.


“Membolos? Aku dosennya kenapa aku dikatakan membolos?” tanya Regan tidak terima.


“Memangnya yang bisa membolos hanya mahasiswa? Dosennya juga bisa, kamu ini contohnya,” ucap Yona tidak mau kalah.


Yogi hanya menatap mereka berdua dengan tatapannya jenaka, dia seperti melihat adegan romance komedi secara langsung jika melihat Regan dan Yona saling bertengkar seperti sekarang ini.


“Kamu kenapa senyum-senyum! Ngeledekin saya?” tanya Regan menatap Yogi yang kini terkikik melihat interaksi Regan dan Yona.


Yogi menggeleng, dia tidak punya maksud untuk menertawakan mereka berdua ataupun meledek Regan dan Yona. Yogi hanya merasa geli saja ada pasangan yang suka bertengkar dan berselisih faham tapi masih bisa dekat dan tidak bisa saling menjauh.


“Yona kamu tidak adil sekali, kamu mengusirku tapi tidak mengusir dia juga,” ucap Regan tidak terima.


“Baiklah, kalian berdua pergi sekarang,” ucap Yona menyerah, wanita itu menatap Yogi meminta pengertian yang dijawab anggukan kepala dari Yogi.


Yona mendekat kearah Regan, “Kemarikan tiketnya,” ucap Yona meminta tiket itu untuk dikembalikan kepada dirinya.


“Ini kamu yang beli?” tanya Regan curiga.


“Iya, aku mau lihat konser itu,” jawab Yona dengan tangannya terulur meminta tiket itu segera dikembalikan kepadanya.


“Kamu mau pergi dengan siapa? Kenapa dua?” tanya Regan memicingkan matanya menatap Yona dan Yogi bergantian.


Alarm di otak Yona berbunyi, wanita itu tidak boleh membiarkan Regan menaruh curiga kepada Yogi karena bisa-bisa Yogi akan mendapatkan nilai buruk jika Regan telah menunjukkan kuasanya di kampus milik keluarganya.


“Ah itu, aku kan mau mengajakmu sebenarnya. Sayang sekali sudah tidak surprise lagi,” jawab Yona meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Regan tersenyum, tidak menyangka Yona akan memberikannya surprise meskipun hanya tiket nonton konser ala anak muda milenial. Tiket konser saja membuatnya sangat bahagia apalagi tiket bulan madu mereka nanti.


“Sekarang kalian pergi, Yogi juga,” ucap Yona tersenyum kepada keduanya.


‘Lain kali aku akan mengganti tiket konser itu dengan tiket berlibur untukmu Yogi, maafkan kakak,’ batin Yona merasa tidak enak karena seharusnya mungkin dia dan Yogi yang pergi nonton konser malah dia dan Regan yang akan berangkat.


Kedua lelaki itu berpamitan kepada Yona, dan tiket itu masih ada pada Regan karena Regan takut jika Yona akan meninggalkannya dan pergi bersama orang lain.


“Yona ada yang tertinggal,” ucap Regan berjalan kearah Yona.


“Apa yang tertinggal?” tanya Yona menunduk ke tanah, mencari sesuatu yang mungkin terjatuh.


Cup, Regan memberikan kecupan di pipi Yona hingga hawa panas menjalar di tubuh wanita itu.


“Aku melupakan work kissku,” ucap Regan mengedipkan matanya kearah Yona.


Yona mengulum senyumnya, ada kebahagiaan di mata wanita itu melihat aura wajah bahagia yang keluar dari lelaki yang sangat dia cintai. Kelakuan aneh dan segala tingkah menyebalkan Regan namun semakin membuat Yona jatuh lebih dalam pada pesona lelaki itu yang menurutnya tidak biasa.

__ADS_1


"Hati-hati Regan, Yogi," teriak Yona melambaikan tangannya kearah mereka berdua.


__ADS_2