My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Kedatangan Olivia Justavo


__ADS_3

Sidang perkara atas tuduhan perampokan berdasarkan pasal 365 KUHP dengan pemberatan yang melibatkan lebih dari satu pelaku dan menyebabkan korban memiliki luka berat akhirnya menjadi siding final perkara hukum Regan dan Yona. Sidang peradilan pidana yang menjadikan Regan dan Yona sebagai pemenangnya. 


Kedua pelaku dijatuhi hukuman penjara empat tahun lamanya. Penyakit yang kini Regan derita akibat tindak pidana perampokan kala itu. Bagi Regan, hukuman itu belum setimpal dengan apa yang Regan dan Yona rasakan selama ini. Regan tidak bisa membayangkan, jika wanita itu bukan Yona, mungkin mereka akan meninggalkan Regan dengan kekurangan yang lelaki itu miliki.


Seandainya wanita itu bukan Yona, Regan bisa pastikan mereka akan lebih memilih mencari lelaki lain dengan segala kesempurnaan yang mereka milik. Tapi beruntunglah Regan, meskipun Yona menjadi salah satu kandidat wanita paling diidolakan banyak kaum adam, namun wanita itu tidak pernah goyah dalam menentukan pilihannya.


Delapan bulan sudah mereka kenal, dekat, dan memiliki rasa satu sama lainnya. Tidak mungkin Yona akan meninggalkan Regan begitu saja tanpa adanya kejelasan di antara mereka berdua.


Regan meraih tangan Yona, menautkan jemarinya di sela-sela jemari Yona. Lelaki itu tersenyum menatap Yona. Mereka berdua keluar dari ruang sidang dengan senyuman merekah di wajahnya.


“Akhirnya, semuanya telah usai. Mereka mempertanggung jawabkan perbuatan mereka di dalam penjara,” ucap Yona tersenyum lembut kepada Regan.


Regan mengangguk, meskipun Regan tidak mampu melihat rona bahagia pada wajah Yona, setidaknya Regan bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Yona lewat nada bicara wanita itu.


“Kamu serius memberikan nafkah kepada keluarga para terdakwa?” tanya Regan tidak menyangka jika Yona akan berbesar hati memberikan nafkah pada keluarga para pelaku perampokan yang menyebabkan hubungan mereka goyah.


Yona merangkul lengan Regan dengan mesra. “Kalaupun mereka berdua bersalah, aku harap kita tidak kehilangan rasa kemanusiaan kita Regan. Mereka menjadi tulang punggung keluarganya, dan kini harus mendekam di penjara. Percayalah, segala kebaikan akan berbuah manis,” ucap Yona meyakinkan Regan.


Regan menghentikan langkahnya, lelaki itu menangkup wajah Yona.


“Kau tahu, tidak ada wanita yang lebih mulia hatinya dari pada dirimu,” ucap Regan membuat hati Yona menghangat.


Yona terkekeh ringan. “Tentu saja, bahkan logam mulia kalah indah dari diriku. Benarkan?” tanya Yona penuh percaya diri.


Regan mengacak lembut rambut Yona, merangkul pinggang wanita itu untuk menuju tempat parkir mobilnya berada. Lelaki itu mulai terbiasa dengan kekurangan yang dia miliki. Menatap banyak orang dengan wajah samar-samar tidak lagi menjadi hal menakutkan bagi dirinya. Justru, Regan merasa bahwa Tuhan tengah menunjukkan kepada Regan, bahwa seindah-indahnya fisik semua orang tidak akan mampu menandingi kecantikan wanitanya.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Yona penasaran dengan tatapan mata yang Regan tujukan kepada dirinya.


“Tidak, aku hanya penasaran bagaimana ekspresi wajahmu saat ini,” jawab Regan.


Yona mengulum senyumnya, meraih ujung rambut Regan, menyisirnya dengan jemari tangannya.


“Aku percaya, Dokter Gustin pasti tengah mengupayakan pengobatan terbaik untukmu,” ucap Yona meyakinkan Regan untuk mempercayakan kesembuhannya pada Tuhan lewat tangan Dokter Gustin Justavo.


Lelaki itu mengangguk. “Kalau aku sembuh, kita mau jalan-jalan ke mana?” tanya Regan menoleh ke arah Yona.


Yona nampak berpikir sejenak. “Aku ingin ke Jepang, saat musim Bunga Sakura bersemi,” jawab Yona membayangkan betapa cantiknya negara itu ketika Bunga Sakura berhamburan memenuhi jalanan. Pasti sangat menyenangkan berada di sana, apalagi bersama lelaki yang kita cintai.


“Umh, aku menyetujuinya,” ucap Regan. 


Mata Yona langsung berbinar bahagia mendengar jawaban yang keluar dari mulut Regan. Tidak menyangka Regan akan menyetujui keinginannya.


“Regan, kamu serius?” Yona menatap Regan dengan menelisik.


“Iya Yona, tapi … setelah kita menikah, bulan madu di sana,” lanjut Regan membuat senyuman di wajah Yona mendadak lenyap seketika.


Apa-apaan Regan itu, kenapa berlibur harus menunggu mereka menikah lebih dulu. Seharusnya Yona sudah mencurigai sejak awal bahwa Regan tidak mungkin mengajaknya berlibur ke luar negeri tanpa adanya alasan khusus yang menguntungkan bagi dirinya.


“Sudah, masuk sana,” ucap Regan mendorong Yona masuk ke dalam mobil.


Yona mendengus dengan perlakuan Regan kepadanya. Padahal baru beberapa detik Yona merasa bahagia. 


Hari ini, Yona dan Regan berencana menjemput Gustin Justavo dan Olivia dari bandara. Kedatangan Gustin Justavo dan Olivia bukan tanpa sebab, keduanya telah memutuskan untuk memberanikan diri menemui keluarga Olivia, meminta restu dari keluarga Bellvaria atas pernikahan yang mereka bangun dan juga meminta maaf karena telah menipu seluruh keluarga Olivia di Indonesia.


Yona merem*s tangannya gugup, meskipun bukan dia yang akan menyelesaikan permasalahan, akan tetapi wanita itu turut merasakan kegugupan dalam dirinya.


“Regan, kamu pikir bagaimana reaksi Om Ozan dan Tante Bella bakal menerima mereka?” tanya Yona meminta pendapat dari Regan.


Regan nampak berpikir, sebenarnya Regan menyaksikan benar kehancuran keluarga Bellvaria setelah kematian Olivia. Untung saja, kehadiran Melodi di tengah keluarga itu seakan menjadi obat yang telah dialami keluarga Bellavaria karena kematian dari Olivia. Menurut Regan, kalau dia telaah lebih jauh lagi, sudah benar keputusan Olivia untuk mengubur segala masa lalunya dan memilih menjalani hidup barunya bersama dengan Gustin Justavo.

__ADS_1


Lagipula, kehidupan Olivia berjalan begitu baik ketika hidup bersama Gustin. Lelaki itu begitu menjaga Olivia seperti menjaga dirinya sendiri.


“Entahlah, kalau menurutku sudah tepat keputusan Olivia untuk tidak muncul di depan keluarganya lagi,” jawab Regan.


“Kamu ini bagaimana, dulu kamu bilang Olivia harus datang ke Indonesia. Sekarang berubah lagi perkataanmu! Ini nih yang membuat omongan lelaki jangan dipercaya seratus persen!” ucap Yona menatap Regan dengan kesal.


Mendengar cibiran dari Yona, Regan sontak menoleh ke arah wanita itu. 


“Coba deh kamu pikir, aku tidak yakin Rehan sudah melupakan Olivia dari hatinya. Dilihat dari cara Rehan bercerita tentang Olivia saja sudah ketahuan kan kalau lelaki itu masih menaruh perasaan dengan Olivia,” jelas Regan kepada Yona.


Yona nampak menimang. “Tapi Regan, pernikahan macam apa tanpa baying-bayang orang tua. Orang tua Gustin telah meninggal, sedangkan orang tua Olivia masih hidup semua. Bukankah seharusnya mereka menjadikan itu sebuah rasa syukur?” tanya Yona mengutarakan argumennya tentang kehidupan Olivia.


Hembusan napas panjang keluar dari mulut Regan. “Sudahlah, sebelum mereka datang ke sini, mereka pasti sudah mempersiapkan segalanya,” jawab Regan.


Ya benar sekali apa yang Regan katakan, sebelum datang ke Indonesia, Olivia maupun Gustin Justavo pasti membicarakan kemungkinan yang terjadi ketika mereka bertemu dengan orang tua Olivia. Entah penolakan, ataupun diterima oleh orang tua Olivia, hanya doa yang mampu meluluhkan sekeras-kerasnya hati seseorang.


Seseorang yang telah mereka tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya juga. Regan dan Yona menghampiri Olivia dengan Gustin Justavo yang ada di belakangnya dengan menarik koper mereka berdua.


“Salamat datang kembali di Indonesia, Olivia,” ucap Yona memeluk Olivia yang telah menjadi sahabatnya dalam beberapa bulan belakangan in.


Olivia tersenyum lembut, dengan memakai long outer, celana kain, dipadukan dengan high heels membuat Olivia begitu menawan. Wajah Olivia sudah sejak dulu terkenal baby face, tidak menua meskipun usianya terus bertambah dari tahun ke tahun.


“Aku sudah memberi kabar kepada Nadia,” ucap Yona diangguki Olivia.


Regan menepuk pelan lengan Gustin Justavo, lelaki itu menyapa teman, sekaligus dokter yang menanganinya.


“Kamu sudah siap bertemu mertuamu?” kekeh Regan mencoba mencairkan suasana.


Rencananya, Olivia dan Gustin Justavo akan menginap di rumah Yona sebelum mereka masuk ke dalam rumah keluarga Bellvaria. Menginap di rumah Yona, menjadi salah satu pertimbangan ketika kemungkinan mereka diusir dari rumah keluarga Bellvaria.


Siapa yang tahu bagaimana reaksi keluarga Olivia melihat anaknya yang sudah beberapa tahun ini mereka anggap telah meninggal malah muncul kembali di depan mereka.


Mendengar keyakinan suaminya, Olivia tersenyum bahagia. Sekalipun keluarganya akan menyalahkan Gustin Justavo, Olivia yakin bahwa orang tuanya pasti akan menerima Gustin Justavo sebagai menantu mereka, suami dari Olivia—putrinya.


Regan mengajak mereka semua untuk segera masuk ke dalam mobil sebelum mereka terlalu larut bersiap mengunjungi rumah keluarga Bellvaria. Mereka menuju rumah Yona terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh dan beristirahat sejenak.


“Kamu mau ke mana?” tanya Yona ketika Regan ikut turun dari mobil.


“Mampir ke rumahmu,” jawab Regan berjalan mendahului Yona selaku pemilik rumah.


Yona membuka pintu rumahnya dan memberi salam kepada penghuni rumahnya, meskipun wanita itu tidak yakin ada yang mendengar salamnya.


“Ayo masuk,” ucap Yona membuka lebar pintu rumahnya, mempersilahkan Olivia dan Gustin Justavo masuk ke dalam rumahnya.


Olivia dan Gustin Justavo melangkah masuk, mereka menatap ke sekeliling ruangan bergaya klasik dengan nuansa gold yang begitu kental.


“Emas asli,” ucap Yona seakan bisa menebak isi pikiran Gustin Justavo ketika melihat lemari display dengan berbagai patung mini berwarna gold.


“Ini asli semua?” tanya Gustin Justavo tidak percaya.


Yona terkekeh geli, sedangkan Olivia lebih memilih diam mendengarkan perbincangan mereka. 


“Yona, kamu sudah pulang?”


Suara Shinta membuat mereka berempat menoleh kompak ke arah wanita itu. Shinta tersenyum lembut melihat Yona datang bersama para tamunya yang nampak begitu asing di mata Shinta.


“Ada tamu rupanya, kenapa tidak dipersilahkan duduk?” Shinta berjalan menghampiri mereka berempat, berniat menyapa tamu Yona selaku nyonya besar di rumah itu.


“Mommy, ini Dokter Gustin Justavo. Dokter yang menangani Regan di Singapura,” jelas Yona.

__ADS_1


Shinta tersenyum menyapa. “Senang bertemu dengan Anda, Dokter Gustin. Saya sering mendengar kehebatan Anda dari anak-anak ini,” kekeh Shinta sangat ramah dengan Shinta.


“Senang bertemu dengan Anda, Nyonya William,” sapa Gustin Justavo membungkuk hormat di depan Shinta.


“Ish, jangan terlalu formal begitu Dokter Gustin,” ucap Shinta merasa tidak enak.


Lalu Yona menarik Olivia untuk mendekat ke arah dirinya. “Dan ini Olivia Dera Bellvaria, sekarang menjadi Olivia Justavo, istri Dokter Gustin Justavo,” jelas Yona kepada mommynya.


Mulut Shinta menganga menatap sosok wanita cantik di depannya. Untung saja Regan dengan cepat memegang tangan Shinta, menopang tubuh Shinta yang terasa tak bertenaga. Shinta mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ada di depannya ini bukanlah halusinasi semata.


“Yona, dia anaknya Dokter Ozan yang sudah meninggal bukan?” tanya Shinta memastikan ingatannya.


Dokter Ozan adalah dokter keluarga mereka. Di saat pemakaman Olivia, Shinta dan Hendra menyempatkan waktu datang ke sana untuk berbela sungkawa pada keluarga Bellvaria yang sudah seperti kerabat sendiri.


“Salam kenal, Tante,” ucap Olivia, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Shinta menggelengkan kepalanya, lelucon macam apa kini yang dilakukan Yona dan Regan sampai membawa wanita mirip dengan Olivia datang ke rumah mereka.


“Yona, kamu ini tidak gila kan? Kamu membawa wanita mirip Olivia ke rumah ini,” bisik Shinta merasa tidak enak dengan keluarga Bellvaria dan juga Rehan apabila mereka tahu kejadian kali ini.


Yona menggeleng, tangannya menarik Olivia untuk mendekat ke arah mommynya. Memberikan celah kepada sang mommy untuk menelisik kebenaran dan keaslian atas sosok Olivia Dera Bellvaria yang dia kenal sebelumnya.


“Mommy, ceritanya panjang sampai Olivia bisa kembali hidup. Hari ini mereka akan datang ke rumah keluarga Olivia untuk mendapatkan restu mereka,” jelas Yona mengerti kebingungan yang tengah dirasakan sang mommy.


Shinta hanya mengangguk, mengelaknya sekalipun tidak bisa menghilangkan wajah itu dari hadapannya karena memang sosok di hadapannya adalah Olivia. Lalu apa yang telah terjadi sebelumnya? Dan, siapa yang dikubur dalam kuburan berbatu nisan nama Olivia? Kenapa mereka seberani itu bermain dengan takdir.


Kecanggungan begitu terasa di antara mereka semua. Yona mengajak Olivia dan Gustin Justavo untuk beristirahat di kamar tamu. Sedangkan Regan mencoba untuk menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada Olivia.


Suara bel berbunyi, Shinta dan Regan menoleh ke arah pintu utama rumah keluarga William. Sosok yang ingin mereka hindari pada hari ini malah berdiri di sana dengan senyuman merekah menyapa Shinta dan Regan.


Dia adalah Rehan Prehantara Kusuma, lelaki yang sampai detik ini masih mencintai Olivia dalam relung hatinya paling dalam. Shinta menoleh ke samping, memastikan bahwa Yona telah mengajak Olivia bersama Gustin masuk ke kamar tamu.


“Rehan, kau di sini?” tanya Regan terdengar begitu kaku.


Rehan memicingkan matanya, menatap bingung Shinta dan Regan yang kini menatapnya dengan tatapan horror.


“Tante, kenapa kalian menatapku seperti melihat setan saja?” tanya Rehan terkekeh geli.


Rehan menatap Yona yang kini bercengkrama dengan satu wanita dan satu lelaki berjalan menjauhi dirinya. 


Punggung itu, kenapa rasanya terlihat tidak asing bagiku. 


Rehan membatin sosok wanita yang hanya mampu dia lihat dari belakang. Rambut hitam legam sepunggung, dan juga tinggi badannya begitu sama dengan wanita di dalam hatinya.


“Ah iya, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Shinta mengalihkan tatapan mata Rehan dari sosok Olivia.


Rehan menyodorkan undangan kepada Shinta dan Regan. “Syukuran tujuh bulanan Melodi,” ucap Rehan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dalam dirinya.


Sebentar lagi Rehan akan memiliki anak, seorang penerus, putri kembar yang akan mewarnai hidup Rehan dan Melodi. Anak yang sangat mereka harapkan dan begitu mereka nantikan selama beberapa bulan menikah.


“Terus kenapa kamu di sini bukannya mempersiapkan acara?” tanya Shinta kepada Rehan yang tak lain adalah adik dari Arina menantunya.


“Tante, kan di rumah banyak orang,” jawab Rehan merasa aneh dengan pertanyaan Shinta.


“Di mana kalian akan mengadakan syukurannya?” Kini Regan yang bertanya, mewakili rasa penasaran dalam dirinya.


“Di rumah pihak wanita lebih dulu, jadi di rumah keluarga Bellvaria karena keluarga kandung Melodi kan tidak tinggal di sini,” jelas Rehan membuat mata Shinta dan Regan terbelalak.


“Apa, di rumah keluarga Bellvaria?” pekik Yona dari belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2