
'Hmmmmm gurita darat?' gumam Regan mencebikkan bibirnya.
Regan terkekeh, lelaki itu sepertinya sangat menikmati bermain-main dengan Yona seperti anak kecil bermian kucing-kucingan. Lelaki itu memutar kursi kerjanya dan tertawa sendiri seperti orang gila.
"Kenapa aku sesenang ini mendengar suaranya yang selalu naik sepuluh oktaf karena kesal?" Pikir Regan mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja.
Hati lelaki itu menghangat, hanya mendengar suara dari Yona saja sudah membuatnya bahagia. Ah betapa senangnya Regan jika bisa melihat wajah wanita itu.
"Aku ingin melihat wajahnya, mungkin dia akan semakin lucu dan menggemaskan dengan semburat merah di pipinya karena marah" kekeh Regan menggelengkan kepalanya, entah kenapa jika berurusan dengan Yona membuat Regan seperti anak kecil yang kehilangan akal sehatnya.
Didepannya, absensi mahasiswa yang sebenarnya belum dia kembalikan ke Bagian Akademik Kemahasiswaan.
Regan merogoh ponselnya, mencari-cari nama Yona disana. Ponsel Regan baru, karena ponselnya sudah dijadikan alat bukti yang kini berada di Kejaksaan untuk keperluan berkas perkara. Kalaupun tidak dijadikan alat bukti, mungkin keluarga Regan akan tetap memberinya ponsel yang baru karena banyak sekali kenangan Regan dan Yona didalam sana. Bukannya tidak ingin Regan kembali mengingat Yona, tapi dokter sudah mewanti-wanti seluruh orang agar tidak ceroboh dan membahayakan nyawa Regan.
"Hallo?" Ucap wanita yang kini berada diseberang sana.
"Datang ke ruanganku sekarang juga kalau kalian mau absensi!" Ucap Regan menjawab sapaan Yona diseberang telepon.
"Oh jadi ini nomer punya kamu?" Tanya Yona menduga-duga.
Regan mematikan telepon mereka dengan cepat, takut Yona akan bertanya lebih jauh lagi di telepon. Betapa bodohnya Regan tidak memprivasi nomor ponselnya hingga Yona mengetahui jika nomor itu adalah nomornya.
Jujur saja, Regan selalu misscall nomor Yona kapanpun lelaki itu ingin. Tidak jarang, Regan selalu menelpon Yona hanya sekadar ingin mendengar suara Yona sebelum lelaki itu memejamkan matanya.
Kekanakan sekali memang, tapi itulah yang hanya bisa Regan lakukan untuk mengobati rasa penasaran didalam hatinya yang membuncah akan keadaan Yona. Kalau ditanya kenapa tidak jujur saja jika itu nomor ponselnya, jawabannya hanya satu, Regan malu harus menghadapi godaan Yona.
Mendengar Regan memberikannya perintah untuk datang ke ruangan lelaki itu, Yona langsung segercap mungkin mengajak Naomi mengikuti dirinya untuk menemui lelaki gurita darat itu didalam ruangannya.
"Kamu yakin itu suara Regan?" Tanya Naomi takut jika itu hanya nomor iseng yang malah membuat mereka kena damprat lagi oleh dosen sinting itu.
Yona mengangguk, "Iya, lihat bulu kudukku meremang. Itu tandanya kalau benar jika yang menelponku tadi adalah Regan. Suaranya memang membuat bulu kuduk orang berdiri" kekeh Yona membuat Naomi ikut tertawa bersamanya.
Mereka berdua berjalan menuju ruangan Regan.
"Kamu yang ngetuk pintunya, kan kamu yang di telepon" ucap Naomi membuat Yona mendengus ditempatnya.
Yona mengetuk pintu ruangan Regan, "tok..tokk..tokkk" , "Permisi pak?" Ucap Yona membuka pintunya perlahan.
Regan menatap Yona dan Naomi disana, "Masuk" jawab Regan memberikan perintah.
Kedua wanita itu melenggang masuk kedalam ruangan Regan.
"Mau apa kamu kemari?" Tanya Regan membuat Yona dan Naomi saling menatap.
"Loh bukannya bapak nelpon saya suruh kita datang kesini?" Tanya Yona dengan raut wajah bingung, begitu juga Naomi yang kini berdiri disamping Yona menatap kedua orang aneh itu dengan kerutan di keningnya.
"Saya?" Tanya Regan menunjuk dirinya sendiri.
Yona mengangguk, wanita itu mengeluarkan ponselnya berniat untuk menunjukkan nomor yang baru saja menelepon dirinya dan meminta dia dan Naomi datang ke ruangan Regan untuk absensi kehadiran.
"Ini pak, ini nomor bapak bukan?" Tanya Yona memicingkan matanya kearah Regan penuh dengan kecurigaan yang membuncah didalam otaknya.
Regan berpura-pura melihat layar ponsel Yona, lelaki itu juga menunjukkan ekspresi bingungnya yang membuat Yona dan Naomi melemparkan tatapan mata menyipit kearah lelaki itu.
"Kapan saya punya nomor ini? Kamu kok sok tahu banget tentang hidup saya" jawab Regan mendaratkan kembali pantatnya ke kursi kebesarannya.
Sok tahu tentang hidup lelaki itu katanya? Iya benar, bahkan Yona sangat tahu bagaimana bentukan kepemilikan Regan yang melungker tidak jelas bentukannya itu. Berani-beraninya Regan mengatainya sok tahu?
Jangan sampai Yona membongkar segala aib lelaki itu, termasuk boxer spongebob yang sering lelaki itu pakai sejak SMP dan masih terus dia gunakan untuk tidur sampai sekarang. Ah bagaimana reaksi lelaki itu jika Yona membahas tentang boxer legenda milik lelaki itu?
Yona terkikik sendiri dengan isi pikirannya.
"Yon, kamu nggak papa kan?" Tanya Naomi menyenggol lengan temannya untuk kembali ke alam sadarnya lagi.
Yona menoleh, "Hah? Oh nggak apa apa kok hanya lucu aja." Ucap Yona menetralkan wajahnya kembali.
Regan menyerngit menatap Yona yang tiba-tiba saja tertawa sendiri seperti orang gila.
"Kalau tidak ada yang perlu kalian bicarakan sana keluar" usir Regan menatap keduanya.
"Bapak mengusir kami lagi?" Pekik Naomi menatap Regan tidak percaya.
Nasib sial apa lagi yang akan mereka terima hingga harus diusir oleh gurita darat itu untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Kamu membentak saya?" Tanya Regan membelalakkan matanya tidak terima.
"Bapak mempermainkan kita??" Tanya Yona menyambung pertanyaan Regan.
Kini Yona dan Naomi saling berpegangan tangan, menyatukan kekuatan mereka untuk melawan Regan yang telah mendzolimi mereka sejak tadi pagi.
"Hei kalian berdua sekongkol melawan dosen kalian?" Tanya Regan menatap keduanya dengan dengusan khas lelaki itu, sangat-sangat menjengkelkan di mata Yona.
"Pokoknya tidak bisa, kita harus absensi kehadiran!" Sergah Yona melipat tangannya kedepan dada.
"Iya aku setuju!" Jawab Naomi ikut melipat tangannya kedepan dada.
Kedua wanita itu menatap Regan penuh intimidasi, membuat Regan bergidik ngeri membayangkan kedua wanita itu akan menghancurkan isi ruangannya.
Regan membuka laci mejanya, mengeluarkan map biru yang berisi absensi kehadiran kelas Management Operasional Bank.
"Ini, saya kasihan melihat kalian" ucap Regan pada akhirnya berpura-pura kasihan kepada Yona dan Naomi, meskipun didalam hatinya Regan sedang sangat bahagia mengerjai Yona lagi dan lagi.
Yona dan Naomi terpekik gembira, mereka berdua langsung mengambil absensi itu dengan binar mata yang berkilat bahagia.
"Terimakasih pak" ucap Yona dan Naomi bersamaan ketika mereka berdua telah selesai menandatangani absensi kehadiran mereka.
"Hmmm" jawab Regan sok cuek.
Yona tersenyum, "Kalau begitu kami permisi pak" ucap Yona berpamitan.
"Kamu pulang naik apa?" Ucap Regan membuat Yona menoleh.
"Saya pak? Saya bawa mobil tadi" jawab Yona, menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya.
'Mungkinkah Regan akan mengajakku pulang bareng dan makan malam bersama?' batin Yona bersorak bahagia.
"Bukan kamu, tapi Naomi" ucap Regan membuat senyuman di wajah Yona lenyap begitu saja.
Naomi menoleh menatap Regan bingung, kenapa dirinya?
"Sa.saya pak?" Tanya Naomi memastikan sekali lagi.
Naomi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa tidak enak dengan Yona yang kini menatapnya lekat.
"Saya bawa mobil pak" jawab Naomi pada akhirnya.
"Kalau begitu saya nebeng pulang ke rumah ya?" Tanya Regan.
"Ne..beng saya pak? Hehe iya boleh" ucap Naomi dengan kekehan kakunya, merasa atmosfir di ruangan itu terasa sangat panas dan siap membakar semua orang yang ada didalam sana.
Naomi menatap Yona meringis, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi dengan pertanyaan Regan.
"Katanya kamu mau keluar? Kenapa masih disini?" Tanya Regan menatap Yona yang masih berdiri kaku disana.
Yona menoleh menatap Regan, memicingkan matanya tajam menusuk kearah lelaki itu. Apakah Regan sudah mulai kehilangan kewarasannya hingga meminta wanita lain mengantatkannya pulang saat ada Yona disana?
Yona merem*as tangannya, dia melupakan sesuatu. Regan telah melupakan dirinya dan semua perasaan lelaki itu kepada Yona. Mana mungkin Regan memikirkan perasaan Yona saat ini jika lelaki itu saja tidak mengingat apa-apa tentang Yona dan kenangan mereka berdua?
Tanpa menjawab pertanyaan Regan, Yona melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Naomi bisa bantu saya sebentar?" Tanya Regan membuat Naomi yang baru saja ingin menyusul Yona jadi menghentikan langkahnya.
"Bantu apa pak?" Tanya Naomi.
Regan berdiri dari tempat duduknya, melihat pintu ruangannya tertutup. Lelaki itu tersenyum menatap pintu, lebih tepatnya punggung yang mengilang dibalik pintu ruangannya.
Regan berjalan kearah gorden jendela ruangannya, mengintip Yona dari sana. Lelaki itu terkekeh geli melihat Yona berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal menjauhi ruangan Regan.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Naomi kembali karena melihat Regan tertawa tidak jelas seperti itu.
"Tidak ada, kamu bisa keluar sekarang juga. Ah, aku tidak jadi nebeng denganmu aku lupa kalau aku tadi bawa mobil sendiri" jawab Regan kepada Naomi.
Naomi mendengus, seharusnya Naomi tahu kalau Regan sengaja membuat Yona cemburu. Tapi kenapa harus dengan dirinya? Regan bisa saja membuat Naomi dan Yona salah paham.
"Kalau kamu menyukai Yona, kenapa tidak mengatakannya langsung?" Tanya Naomi dengan bahasa non formalnya.
Regan mengalihkan matanya dari kaca, lelaki itu menaikkan alisnya menatap Naomi.
__ADS_1
"Tidak usah dijawab, saya permisi" ucap Naomi meninggalkan Regan disana sendirian.
Regan menghendikkan bahunya, tidak mengerti arah pembicaraan Naomi tadi.
"Aku? Menyukai wanita aneh itu?" Gumam Regan kepada dirinya sendiri.
Syukurlah, Regan bisa membuat alasan agar Yona tidak menanyai dirinya tentang nomor ponsel yang sering menelepon Yona di malam hari.
*
"Keselllll kesellllll pengen aku injekkkkk-injek itu muka ngeselin banget!" Teriak Yona meluapkan kekesalannya didalam mobilnya.
Wanita itu memukul setirnya, seperti menyalurkan kemarahannya dengan Regan ke setir mobilnya yang tidak salah apa-apa. Mungkin saja, jika setir itu bisa berbicara dia akan protes kepada Yona karena menjadikannya kambing hitam atas kesalahan orang lain.
"Bukan kamu, tapi Naomi. Hahahahaha dasar lelaki gurita darat! Memangnya hanya dia saja yang bisa seperti itu!" Ucap Yona menatap dirinya dari pantulan kaca tengah mobilnya.
Dengan kecantikan yang dia miliki saat ini, mungkin Yona mampu menakhlukkan hati para lelaki lajang konglomerat atau mungkin artis-artis yang sudah Go-Internasional. Setelah Yona membuktikan betapa hebatnya daya tariknya, Yona akan memukul telak lelaki itu yang sudah membuatnya sangat kesal setengah mati.
"Dia pikir aku akan cemburu? Begitu? Ihhhh pengen aku gorengggg terus aku potong-potong itu orang. Eh tapi sayang banget, nggak ada lelaki setampan itu lagi di hidupku" ucap Yona berbicara ngawur kepada dirinya sendiri.
Ketukan di kaca mobilnya membuat Yona menoleh. Ada raut keterkejutan luar biasa yang ditunjukan ekspresi wajah Yona begitu melihat siapa yang ada disana.
"Nin..no?" Ucap Yona tergagap, matanya melebar melihat Nino mantan kekasihnya berada di luar mobilnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ucap Nino memberikan gerakan kepada Yona untuk menurunkan kaca mobilnya.
Bukannya menurunkan kaca mobilnya, Yona malah membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Yona memicingkan matanya, menatap Nino dengan wajah tidak suka.
"Aku tadi ke rumahmu, satpam rumahmu bilang kamu sedang ke kampus. Jadi aku memberanikan diri menemui dirimu" ucap Nino menatap Yona dengan senyumannya, yang dulu pernah membuat hati wanita itu luluh.
Tapi sekarang tidak lagi, bagi Yona lelaki itu hanyalah masa lalunya yang harus Yona lupakan. Yona tidak akan memaafkan lelaki yang telah berselingkuh darinya.
"Apa tujuanmu kemari?" Tanya Yona, melipat tangannya ke depan dadanya.
Nino tersenyum, tangan lelaki itu hendak menyentuh kepala Yona namun segera di tepis kasar oleh wanita itu.
"Jaga batasanmu!" Hardik Yona tidak suka.
"Kenapa? Aku dengar pertunanganmu dengan lelaki itu batal. Itu tandanya kalian tidak berjodoh Yona." Ucap Nino membuat Yona mendengus menatapnya.
"Lalu siapa yang berjodoh denganku? Kamu? Lelaki yang bahkan berani berselingkuh dariku" kekeh Yona menatap Nino mengejek.
"Lagi lagi kamu membahas masalah itu, tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal?" Tanya Nino mencoba meraih tangan Yona tapi ditolak mentah-mentah oleh wanita itu.
"Jangankan memulai semuanya dari awal, melihat wajahmu saja aku sudah malas. Minggir!" Ucap Yona mendorong tubuh Nino, berusaha masuk kembali ke dalam mobilnya.
Nino tidak menyerah, lelaki itu mencekal pintu mobil itu agar tidak tertutup. Sekalipun tangannya akan terluka, Nino rela demi bisa berbicara dengan Yona.
"Lepaskan tanganmu dari pintu mobilku, aku tidak mau di tuduh melakukan penganiayaan terhadapmu" ucap Yona mendorong tangan Nino namun tetap tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kita bicara" ucap Nino pantang menyerah.
Yona mendesah pasrah, wanita itu melepaskan tangannya dari pintu mobilnya.
"Kita ke cafe seberang jalan, bagaimana?" Tanya Nino yang tidak bisa Yona tolak lagi.
"Sekali ini saja, setelah itu jangan menemuiku lagi" ucap Yona diangguki Nino.
Mereka memilih menaiki mobil, Nino menawarkan diri untuk mengemudi tapi Yona menolaknya. Siapa yang tahu Nino akan mengajaknya bunuh diri?
Sedangkan dibelakang mereka, Regan menatap Yona dan Nino dengan tatapan sangat marah. Lelaki itu berlari menuju mobilnya untuk mengikuti kemana mobil Yona akan pergi.
Regan tidak akan membiarkan Yona dan lelaki itu lepas begitu saja.
"Berani-beraninya lelaki itu menyentuh wanitaku dan berada dalam satu mobil yang sama hahhhhhh sialannnnnn!!" Umpat Regan mencengkeram kemudi mobilnya dengan sangat erat seakan ingin meremukkannya.
---
*TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA GABUNG 'GRUP CHAT TIYA CORLYNINGRUM' YAAAA 😄😄😄
OH IYA JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR. KALAU BERKENAN BERIKAN VOTE JUGA BIAR MY SWEET DOSEN MASUK PERINGKAT 🥳ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1