
Kota Bath, Somerset, South West England
Regan mendaratkan kakinya di sebuah Kota di Inggris yang terkenal akan nuansa klasiknya. Setelah menempuh penerbangan selama 14 jam, Regan benar-benar jetlag dibuatnya. Itu dengan jett pribadi yang dia pinjam dari Corlyn Family. Dia bisa menempuh perjalanan lebih lama lagi dengan pesawat biasa, kurang lebih 18-20 jam perjalanan.
Ini semua demi Yona, Regan tidak mau membiarkan Yona pergi dengan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
Regan akan menemui wanita itu, mengatakan segalanya termasuk perasaannya kepada Yona yang selama ini dia simpan rapat di dalam hatinya.
Regan menunjukkan alamat yang Rehan kirimkan padanya lewat pesan kepada sopir taxi yang ada kini dia pilih untuk mengantarkan tujuannya. Sang sopir taxi itu mengangguk pertanda mengerti arah tujuan Regan.
Decakan kagum keluar dari mulut Regan begitu taxinya melaju melewati bangunan-bangunan bernuansa klasik dan megah yang ada di Kota Bath. Seperti namanya, kota itu berhubungan dengan airnya. Bangunannya dicat dengan warna cream senda yang semakin mempercantik Kota itu.
Kenapa Regan tidak tahu Kota itu sangat indah. Yang sering Regan kunjungi bersama keluarga dan temannya diwaktu yang senggang hanya sekitar London, Kota Metropolitannya Inggris.
"Thank you," ucap Regan setelah menggesekkan kartu debit ke mesin ATM yang taxi itu sediakan.
Regan sudah mempersiapkan kartu debit yang bisa dia gunakan untuk bertransaksi di negara itu.
Regan menatap takjub bangunan rumah di depannya. Keluarga William memang tidak main-main dengan memanjakan keturunannya.
__ADS_1
Bangunan rumah itu terlihat simple namun sangat elegan dan berkelas. Di sekelilingnya terdapat pepohonan hijau dan rumput terbentang luas di sana.
Regan mendorong pagar besi hitam menjulang tinggi itu, kakinya melangkah masuk kedalam rumah itu. Mungkin nanti setelah menikah, Regan akan meminta rumah yang seperti itu di kota lain.
Regan tersenyum geli dengan pemikirannya. Dia tidak akan meminta apapun dari keluarga Yona jika dia mampu membelinya sendiri.
Tangannya menyentuh tombol bel di pojok atas pintu utama.
"Siapa itu ?" tanya Shinta yang tengah duduk bersantai dengan keluarga yang lain di taman belakang rumah itu.
"Biar Marva yang buka, Mom," ucap Marva bergegas berjalan ke depan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu sepagi itu.
Sepertinya Marva telah menyerahkan segala hal yang berkaitan dengan perusahaan kepada asisten pribadinya. Dan jika ada yang mendesak bisa dikirim lewat email saja karena Marva benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya setelah Ariana baru saja keguguran ditambah lagi keluarga besarnya jarang sekali bisa berkumpul seperti itu karena belahan dunia mereka yang berbeda.
Klek, pintu terbuka otomatis setelah Marva menekan tombol open yang ada di belakang pintu utama rumahnya.
Regan menoleh. "Regan?" tanya Marva memastikan.
"Iya Kak, saya Regan. Reganera," ucap Regan memperkenalkan dirinya karena ini pertama kalinya pertemuan mereka.
Marva tersenyum, lelaki itu menelisik kedatangan Regan ke.sana. Mungkinkah karena Yona yang berada di negara itu, dan Regan tidak bisa jauh dari Yona? Wah, ini berita besar rupanya.
"Ayo masuk, semua orang ada di belakang," ucap Marva mempersilahkan Regan masuk, mendahului Regan didepannya agar Regan mengikuti langkahnya.
Marva melambaikan tangannya kepada Ariana yang tengah duduk disamping Yona.
__ADS_1
"Apa?" tanya Ariana tanpa suara.
Marva menunjuk Yona, membuat Ariana mengangguk.
"Itu, kakakmu," tunjuk Ariana membuat Yona menoleh.
"Why?" tanya Yona.
"Ada yang mencarimu Yona," kekeh Marva membuat semua orang menatap ke arah Marva.
Marva memberikan isyarat Regan untuk berjalan kearahnya, betapa terkejutnya Yona melihat Regan berada disana dalam waktu sesingkat itu. Untuk apa Regan kesana, dan apa motivasi lelaki itu sehingga bisa senekad itu.
Lelaki itu pasti sudah gila.
"Regan?" ucap Yona spontan saat matanya menangkap Regan berdiri di samping kakaknya.
Regan menanggalkan koper kecilnya di sana, lelaki itu berjalan tergesa-gesa kearah Yona. Membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Bahkan mata Regan sampai berkaca-kaca saat dirinya bisa melihat Yona lagi.
Bukan hanya Yona yang terkejut, seluruh keluarga yang ada di sana ikut terkejut dengan kedatangan Regan dan juga aksi Regan saat ini.
Regan mengelus puncak kepala Yona, lelaki itu mencium puncak kepala Yona berkali-kali.
"Re-Regan kenapa kamu?"tanya Yona salah tingkah mencoba melepaskan pelukan Regan karena semua mata keluarganya menatap mereka berdua.
Regan semakin mempererat pelukannya, tidak peduli dengan tatapan mata seluruh keluarga Yona di sana.
__ADS_1
"Kamu, jangan pernah pergi tanpa memberitahuku lagi!"