
Dengan wajah ditekuk masam, Yona berdiri dari tempat duduk itu sebelum para mahasiswa lainnya menyadari keberadaan dirinya. Yona menoleh kebelakang menatap sekilas mahasiswa yang menolak saat dirinya menawarkan diri berfoto. Yona mendengus, berani-beraninya bocah kemarin sore membuatnya malu setengah mati.
Yona melangkahkan kakinya menuju mushola yang ada kampus itu, wanita itu memilih untuk menunaikan ibadahnya sebelum masuk ke dalam kelas yang akan dia ampu sebagai perwakilan dari Regan.
“Menyebalkan sekali mereka!“ cibir Yona mengingat wajah songong mahasiswa itu.
Setelah menunggu beberapa saat, Yona segera melangkahkan kakinya menuju lantai tujuh setelah urusannya dengan Tuhannya telah selesai. Wanita itu mengambil absensi dari bagian kemahasiswaan dan memberitahu bahwa dia yang akan menggantikan Regan mengajar.
“Ini Miss Yona, Pak Regan sudah menelpon kami bahwa beliau mengirimkan asisten dosennya,“ jelas pegawai kemahasiswaan itu tersenyum ramah kepada Yona.
“Terimakasih, Bu,“ ucap Yona tak kalah sopannya.
Wanita itu menekan tombol lift, menunggu lift itu terbuka untuk mengantarnya menuju lantai tujuh. Mata Yona melebar saat mahasiswa lelaki yang tadi menolak foto dengannya juga berada disana. Wanita itu tidak peduli, matanya fokus ke depan mengahdap pintu lift yang tertutup.
Ting!
Suara lift terbuka, Yona keluar dari lift tersebut disusul mahasiswa lainnya di belakangnya. Yona membuka pintu ruangan bertuliskan 7.1 di sana. Sudah ada beberapa mahasiswa yang sudah duduk manis disana menunggu kedatangannya.
__ADS_1
“Selamat siang semuanya,“ ucap Yona menyapa mahasiswa di sana.
Seperti dugaan Yona, semua mahasiswa di sana menatap Yona dengan mata melebar takjub melihat Yona berada dalam kelas mereka. Ini menjadi bukti bahwa Yona masih dikagumi banyak orang, meskipun mahasiswa tengil yang satu itu tidak mengaguminya toh Yona juga tidak peduli dengannya.
Yona menatap pintu ruangan yang saat ini diketuk. Suara pintu dibuka membuat beberapa mahasiswa ikut menoleh ke arah pintu. Mahasiswa lelaki dan gerombolannya masuk ke dalam kelas membuat Yona mengulum senyum devilnya.
‘Hmmm, sepertinya aku punya cara membalas rasa malu ku,‘ batin Yona tersenyum devil.
Yona membuka absensi mahasiswa yang ada ditangannya, wanita itu memberikan absensi kepada salah satu mahasiswa disana untuk diedarkan.
“Sebelum kuliah saya mulai, ada baiknya kalau saya memperkenalkan diri lebih dahulu meskipun banyak yang sudah mengenal saya. Saya Yona Anantasya William, bisa panggil saya Miss Yona disini saya selaku asisten dosen dari Pak Reganera,” jelas Yona dijawab anggukan dari mereka semua.
“Si mul-, em maksud saya Pak Regan ada urusan di Ristekdikti,“ jawab Yona.
Wanita itu mencari flashdisk yang telah Regan berikan tadi malam, seingat Yona dia telah memasukkannya ke.dalam tas.
"Shitt!“ umpat Yona saat dirinya teringat bahwa flashdisk yang Regan berikan dia masukkan kedalam dompet koin yang ternyata masih tergeletak di meja riasnya.
__ADS_1
Matilah Yona, Regan pasti akan ngamuk besar kepada dirinya. Yona mengusap tengkuknya kaku, wanita itu menatap seluruh mahasiswa di kelasnya yang juga menatapnya dengan tatapan penasaran. Yona tersenyum kearah mereka, wanita itu berdiri untuk keluar dari ruangan dia harus menghubungi Regan sekarang juga.
“Regan angkatt,“ ucapnya saat panggilannya terhubung ke contact Regan.
“Hallo?”
“Regan ada hal yang mendesak,“ ujar Yona tanpa basa-basi.
“Iya apa? Katakanlah,“ tanya Regan di seberang sana.
“Flashdisknya ketinggalan di rumah, bagaimana ini?” cicit Yona khawatir jika Regan akan mengamuk seperti gajah kehilangan gadingnya.
Terdengar suara helaan napas kasar dari sana, Yona mengigit bibirnya cemas.
“Ya sudah nanti materi akan aku kirim ke elearning saja, mereka suruh membukanya di sana,“ jelas Regan.
Elearning? Jika memang bisa seperti itu kenapa Regan harus merepotkan dirinya untuk mengisi kelasnya?
__ADS_1
“Aku tutup dulu, have fun, aku mencintaimu,“ ucap Regan segera menutup panggilan Yona sebelum Yona menyemprotnya dengan berbagai makian wanita itu.