
Tatapan menusuk dilayangkan Yona kepada Regan, sepertinya lelaki itu memang sengaja untuk membuatnya malu di depan Lili dan juga Septian. Lihat saja bagaimana bahagianya Regan melihat wajah Yona yang merona merah karena malu. Astaga, mungkin memang benar kedua manusia tersebut diciptakan untuk saling bermusuhan, namun juga saling mencintai satu sama lainnya.
Kekehan keluar dari mulut Regan, tentu saja itu membuat Yona kesal setengah mati. Lenyap sudah harapannya untuk sayang-sayangan dengan Regan ketika lelaki itu bangun dari tidur panjangnya. Nyatanya, ketika lelaki itu tersadar dari koma, Regan justru merindukan wayah merona dari wanita yang begitu dia cintai sepenuh hatinya.
“Sini, biar Bunda lihat apa isinya. Bunda jadi kepo, mantap-mantap itu apa sih? Clubbing?” tanya Lilian dengan polosnya.
Regan dan Yona sontak saja menoleh menatap Lilian. Jadi ibu dari Regan tidak tahu apa yang disebut mantap-mantap? Syukurlah, kalau begitu Yona tidak usah malu dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya.
Memang dasar ya mulut Yona, selalu saja kelepasan dan suka sekali jujur ketika ditanya seseorang. Setelah ini, Yona akan menyabet piala penghargaan wanita paling polos sedunia kehaluan.
“Itu, Dokter Irawan sudah datang,” pekik Yona dengan mata berbinar bahagia.
Regan mengulum senyumnya, melihat wanitanya tidak berubah meski waktu telah mengikis hari-hari tanpa dia lewati bersama Yona. Akan tetapi Yona masih tetap berperilaku sama dengan Yona yang dulu, Yona pujaan hatinya.
Penampilan Yona telah berubah seiring berjalannya waktu. Rambut yang sempat panjang sepunggung, kini berubah sepanjang pundak wanita itu. Wajahnya tetap saja cantik, kulit putih bak porselin mengkilat begitu alami seperti Dewi Yunani.
“Yona terlihat senang sekali Regan sudah membuka matanya,” goda Dokter Irawan tanpa tahu alasan mengapa Yona sampai sebahagia itu ketika dirinya masuk ke ruang perawatan Regan.
Dokter, tentu saja aku sangat bahagia karena Anda menyelamatkan nyawaku. Yona tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya.
“Tentu saja Dokter, ini sudah menjadi impian kami semua setahun ini,” jawab Lilian mewakili perasaan Yona.
“Bunda benar, Dokter. Yona telah menunggu lama untuk dilamar lelaki itu,” ucap Yona menyilangkan tangannya ke depan dada.
“Ayo kita menikah sekarang juga,” jawab Regan dengan spontan membuat semua mata menoleh ke arahnya.
Yona mendengus. “Mengangkat kepala bolamu saja kamu masih keliyengan, apalagi ijab qobul di depan penghulu. Bisa-bisa kamu kejang-kejang,” ejek Yona memutar bola matanya kesal.
Mata Regan terbelalak. Apa maksud Yona berkata seperti itu? Regan kejang-kejang saat berhadapan dengan penghulu? Hmm, yang benar saja. Momentum itu tentu saja sudah menjadi impiannya sejak setahun yang lalu saat dia melamar Yona di kapal pesiar.
“Kepala bola katamu? Bunda, tolong ambilkan Regan kaca,” ucap Regan dengan suara yang masih lemah.
Dokter Irawan justru terkikik geli. “Masih ganteng Mas Regan, sudah tenang saja. Nona Yona pasti masih setia dengan Mas Regan apapun keadaannya,” kekehnya menggoda.
Kini Dokter Irawan langsung mendekati Regan.
“Maaf ya,” ucap Dokter Irawan melakukan pemeriksaan pada mata Regan.
Terlihat Dokter Irawan mengangguk kecil. “Ayo saya bantu menyandar ke belakang,” kata Dokter Irawan membantu Regan menyandarkan tubuhnya ke belakang, bersandar pada bantal yang sudah ditata rapi di sana.
Regan memejamkan matanya, kepalanya terasa berputar-putar ketika tubuhnya diajak bersandar.
“Kepala saya kenapa pusing begini ya, Dok?” tanya Regan penasaran.
“Tidak apa, Insyaallah akan membaik seiring berjalannya waktu. Ini jahitannya juga sudah mongering, kita akan mencabutnya dua hari lagi sebelum benangnya menyatu dengan daging,” jelas Dokter Irawan kepada Regan.
Dokter Irawan mengecek tangan Regan. “Mas Regan gerakkan tangannya ke atas, seperti ini,” jelas Dokter Irawan memberikan petunjuk kepada Regan.
Dengan gemetaran, Regan mengangkat tangannya ke atas. Lelaki itu bahkan menahan napasnya merasakan ngilu pada tulang-tulangnya. Mungkinkah ini efek setahun dirinya berbaring di tempat itu?
“Ini benar tahun dua ribu dua puluh?” tanya Regan kepada semua orang.
Mereka mengangguk membenarkan, hembusan napas kasar dikeluarkan Regan begitu mendengar jawaban dari mereka. Matanya menatap Yona yang kini nampak memperhatikan segala pemeriksaan yang Dokter Irawan lakukan kepada dirinya.
Sudah berapa banyak air mata yang kamu keluarkan untukku sampai lingkaran hitam menghiasi mata indahmu?
Regan ingat jelas, betapa Yona menjaga kecantikan wajahnya sampai Yona selalu marah kalau Regan berani mengganggu tidurnya.
“Bawa ke sini, Suster,” pinta Dokter Irawan meminta seorang suster membawa alat tes penglihatan kepadanya.
Di sana terdiri dari tes kebutaan huruf dan juga angka.
“Mas Regan, ini angka berapa?” tanya Dokter Irawan mengangkat kertas bertuliskan angka ke atas.
Regan menatapnya. “Sepuluh,” jawab Regan membuat Yona dan orang tuanya merasa lega.
“Ini warna hijau ya, Mas?” tanya Dokter Irawan kepada Regan.
“Tidak, itu warna merah,” jawab Regan dengan benar sekali lagi.
Dokter Irawan memberikan kotak itu kepada suster lagi.
“Mas Regan saya bantu berdiri perlahan ya,” kata Dokter Irawan.
__ADS_1
Suster meraih botol infus Regan, lalu Dokter Irawan membantu Regan berdiri. Kakinya terasa lemas hingga Regan roboh ke ranjang lagi.
“Kaki saya rasanya kaku, tidak bisa digerakkan,” ucap Regan meringis merasakan kesemutan yang luar biasa ketika kakinya menyentuh lantai rumah sakit.
Yona dan orang tua Regan menatap Regan dengan penuh cemas.
“Kenapa itu Dokter?” tanya Lilian dan Yona bersamaan, keduanya sama-sama cemas akan kondisi Regan saat ini.
Dokter Irawan tersenyum lembut. “Itu tentu saja tidak menjadi masalah, sudah biasa bagi pasien yang baru saja sadar dari komanya. Regan hanya perlu menjalani beberapa terapi pemulihan agar ototnya bisa berfungsi secara normal lagi seperti sedia kala,” ucap Dokter Irawan menjelaskan.
“Syukurlah kalau bisa kembali seperti normal lagi, Dokter,” jawab Yona merasa lega.
“Sudah tidak ada yang perlu dicemaskan, nanti saya akan sering-sering datang ke sini untuk mengecek perkembangan kondisi fisik Regan,” seloroh Dokter Irawan. Lelaki itu menepuk pelan lengan Regan. “Tapi untuk urusan hati dan perasaan biarkan Dokter Yona Anantasya William yang memeriksanya,” kekeh Dokter Irawan menggoda Yona dan Regan bersamaan.
Yona mengulum senyumnya malu, sedangkan wajah Regan langsung memerah seperti remaja yang baru saja ketahuan tengah jatuh cinta pada seorang gadis.
“Mari, saya permisi dulu,” pamit Dokter Irawan bersama susternya keluar dari ruangan Regan.
Septian menyenggol lengan istrinya, membuat Lilian langsung menoleh menatapnya.
“Apa?” tanya Lilian bingung dengan ekspresi wajah suaminya.
Septian berdeham berkali-kali. “Ekhem … ekhem,” deham Septian seperti memberi kode kepada Lilian.
Mata Septian menunjuk Regan dan Yona bergantian, di saat itu pula istrinya baru saja mengerti apa yang sedang diucapkan lelaki itu.
“Ah iya, kita belum makan ya, Yah?” tanya Lilian mengada-ngada, mencari-cari alasan untuk keluar dari ruangan putranya, memberikan ruang kepada Regan dan Yona menyalurkan kerinduan mereka selama setahun terpisahkan oleh ambang kematian.
“Yona juga belum makan, Yona saja yang beli. Bunda dan Ayah di sini saja,” sahut Yona tanpa mengerti bahwa Lili dan Septian hanya beralasan saja demi mereka berdua.
“Sudah kamu di sini saja, pijitin aku biar otot kakiku lemas,” ucap Regan menahan Yona agar tetap berada di sana bersama dengannya.
Lelaki itu begitu rindu segala sesuatu tentang Yona. Cara wanita itu kesal, wajah cantiknya saat tersipu malu, sorot mata tajam ketika dirinya marah, lalu segala macam omelan yang selalu keluar dari mulut Yona ketika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Iya, kamu di sini saja menemani Regan. Bunda dan Ayah makan dulu, nanti kita bawakan untuk Yona. Titip Regan ya, Sayang,” jawab Lili tersenyum kepada Yona.
“Dititipin memangnya aku barang?” gumam Regan menggelengkan kepalanya mendengar kalimat ibunya.
Pintu ruangan telah tertutup, kini suasana begitu canggung. Yona sendiri tidak tahu harus memulai perbincangan dari mana. Setahun lamanya tidak bertegur sapa membuat Yona kehilangan bahan pembahasan untuk menjadi topic pembicaraan mereka kali ini.
Yona berjalan mendekat ke arah Regan.
“Duduk di sini,” ucap Regan lagi menunjuk kursi di samping ranjangnya kepada Yona.
Sedangkan Yona hanya mengikuti apa yang lelaki itu perintahkan kepada dirinya.
“Pegang ini,” perintah Regan menyodorkan tangannya kepada Yona.
Yona memicingkan matanya, tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Regan saat ini.
“Pijitin,” lanjut Regan membuat Yona memutar bola matanya malas. Sepertinya Regan ingin mengerjai Yona untuk kedua kalinya dalam sehari ini. “Kamu tidak mau?” tanya Regan memicingkan matanya.
Dengan dengusan sebal, akhirnya Yona meraih tangan Regan dan memijitnya perlahan.
“Awww, kamu terlalu keras Sayangku,” ucap Regan meringis kesakitan saat Yona mencengkeram tangannya dengan keras.
“Lebay banget sih!” cibir Yona menatap Regan dengan memicingkan matanya.
“Astaga Yona, aku baru saja bangun dari koma. Kamu bukannya manja-manjain aku malah baca novel mantap-mantap tidak jelas itu. Kamu tahu enggak, baca novel begituan bisa bikin imajinasimu menjadi liar, tidak baik itu untuk kamu sendiri. Baiknya untuk kita berdua,” ucap Regan tanpa malu, membuat Yona menganga tidak percaya mendengar ucapan kekasihnya.
Yona hanya menghela napasnya panjang, percuma juga dia membantah setiap perkataan Regan karena pada akhirnya dia akan selalu kalah persepsi dengan lelaki itu.
“Kamu ingin makan buah?” tanya Yona.
“Memangnya boleh?” tanya Regan balik.
Terjadi saling tatap-tatapan di antara mereka berdua. “Kenapa tidak boleh? Kamu makan buah jeruk, bukan buah simalakama lho,” tanya Yona balik.
Regan malah tertawa kecil mendengar ucapan dari Yona.
“Sini, suapi aku buah jeruknya,” jawab Regan dengan bersemangat.
Dengan telaten, Yona mengupas buah jeruk itu dan menyuapkan satu per satu bah jeruk itu kepada Regan.
__ADS_1
“Aku selalu bermimpi tentangmu,” ucap Regan tersenyum. Gerakan tangan Yona terhenti, wanita itu menatap manik mata Regan dengan lekat.
“Apa yang kamu impikan?” tanya Yona penasaran dengan mimpi Regan.
“Banyak sekali, aku sampai lupa,” jawab Regan tersenyum lembut, “terimakasih, sudah selalu hadir dalam mimpiku,” lanjut Regan menarik tangan Yona hingga wanita itu mendekat ke arahnya.
Regan memeluk pinggang Yona dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada lekukan tubuh Yona, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang begitu dia rindukan selama ini.
“Aroma tubuhmu masih sama, bahkan dalam mimpiku juga aromanya tetap sama,” lirih Regan memejamkan matanya. Berada dekat dengan Yona menjadi tempat paling membahagiakan bagi dirinya.
Yona mengelus punggung Regan. “Seharusnya aku yang berterimakasih denganmu, terimakasih sudah memimpikan diriku selama ini,” jawab Yona tidak mampu menutupi rasa haru dalam benaknya.
Regan mendongakkan wajahnya. “Cium aku,” pinta Regan tanpa merasa malu.
Astaga, kenapa Regan menjadi sefrontal itu setelah bangun dari komanya?
“Regan, enggak enak lah ini kan ruangan ada CCTVnya,” jawab Yona mencebikkan bibirnya.
“Kalau enggak ada CCTV kamu mau? Kita ke kamar mandi saja, yuk?” ajak Regan dengan polosnya.
“Sepertinya aku harus memanggil Dokter Irawan untuk memeriksa isi kepalamu!” sahut Yona menatap Regan dengan bengis.
“Aku suka melihat wajah kesalmu,” kekeh Regan kembali menenggelamkan wajahnya pada lekukan tubuh Yona.
Tidak ada yang berubah, wanita yang dia cintai tetap sama seperti saat dulu sebelum Regan harus menghadapi kegelapan selama satu tahun lamanya.
“Regan?”
Regan mendongak. Yona mengecup kening Regan dengan lembut.
“Hadiah untukmu, karena kamu sudah mengingatku sampai detik ini bahkan dalam mimpimu sekalipun.”
Yona selalu dihantui satu ketakutan, di mana Regan mungkin saja kehilangan ingatannya ketika kerusakan bagian kepalanya itu terjadi. Yona sempat pesimis, dia tidak tahu harus melakukan apa lagi jika sampai Regan tidak mengingat tentang dirinya.
Syukurlah, Yona sudah terpatri dalam hati dan pikiran lelaki itu hingga tidak akan pernah lekang oleh waktu.
“Terimakasih, sudah bersedia menungguku kembali dari ambang kematian,” ucap Regan mengelus lembut tangan Yona.
Mungkin jika wanita itu bukan Yona, dia akan pergi memilih lelaki lain dari pada menunggu lelaki yang bahkan tidak jelas bagaimana keadaannya. Lelaki yang setiap harinya dibayang-bayangi kematian menjemputnya kapan saja.
Ketukan di pintu ruang rawat Regan membuat keduanya menoleh. Perawat tersenyum dan berjalan masuk membawa rantang makanan dan satu baskom berisi air hangat untuk membasuh tubuh Regan.
Regan menatap baskom air itu dengan kening berkerut, berbagai spekulasi tiba-tiba bermunculan di dalam pikirannya.
“Tunggu, itu buah mengelap tubuhku kan?” tanya Regan menatap dua perawat dan Yona secara bergantian.
Mereka semua mengangguk. “Iya, memangnya kenapa?” tanya Yona ikut merasa bingung dengan ekspresi wajah Regan untuk saat ini.
“Siapa yang mengelap tubuhku selama ini?” tanya Regan dengan mata melebar sempurna.
“Perawat lah,” jawab Yona dengan spontan.
Wanita itu mengulum senyumnya, seakan tahu apa yang kini ada dalam benak kekasihnya. Regan pasti tengah berpikir bahwa perawat yang selama ini mengelap tubuhnya ketika dia tidak sadarkan diri. Tentu saja ini menjadi kesempatan baik Yona membalas dendam kepada Regan karena sudah membuatnya malu di depan Lili dan Septian.
Yona menahan senyumnya mati-matian, ekspresi wajah Regan kini mulai kebingungan.
“A-apa? Pe-perawat?” tanya Regan dengan gugup.
Yona mengangguk dengan cepat. “Hei, memangnya kenapa? Kamu punya tanda lahir di bagian sensitifmu? Atau ada bekas luka rahasia yang nyempil di mana gitu?” tanya Yona mengedipkan matanya ke arah perawat, mengajaknya untuk berkompromi dengan dirinya.
“Astaga Yona, kenapa kamu tega sekali membiarkan wanita lain menjamah tubuhku? Tubuhku tidak suci lagi sekarang kan!” jawab Regan dengan wajah memerah karena kesal bercampur malu.
Yona berpura-pura tidak berdosa. “Itu kan sudah menjadi tugas perawat untuk membersihkan tubuhmu, Regan,” sahut Yona begitu totalitas.
“Tugas perawat apanya? Ini sudah menjadi tugasmu lah! Kan hanya kamu yang melihat dedek kecilku selama ini. Masa kamu tega membiarkan para perawat ini melihat si kecil?” tanya Regan merasa tidak terima benda keramat masa depannya dilihat oleh wanita lain selain Yona.
“Yona melihat dedek kecil kamu Regan? Kapan?” pekik Shinta yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Regan.
Semua mata menoleh ke belakang.
Mati aku! Ucap Regan dan Yona bersamaan ketika menyadari tanda emergency yang muncul bersamaan dengan tatapan menelisik dari Shinta William.
------------------------------------------
__ADS_1
HELLO READERS TERCINTA, JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL MY SWEET DOSEN. KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERMANFAAT SEKALI BAGI AUTHOR.
AYO APRESIASI NOVEL FAVORIT KALIAN DENGAN VOTE ❣️❣️🥰