
Tiga hari sudah Regan telah kembali bersama orang-orang yang dia cintai. Agenda lelaki itu hari ini adalah melepas benang jahitan di kepalanya. Kata Dokter Irawan, Regan boleh pulang ke rumah dua hari lagi setelah menjalani beberapa terapi yang harus Regan jalani sebelum kembali pulang ke rumah.
Bersama dengan Yona, Regan menunggu Dokter Irawan dengan penuh kecemasan.
“Kamu yakin kepalaku tidak akan terbuka setelah jahitan ini dilepas?” tanya Regan sekali lagi kepada Yona.
Wanita itu hanya memutar bola matanya jengah. Regan selalu saja membesar-besarkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk mereka perdebatkan. Mana mungkin kepala Regan akan terbuka saat jahitannya dilepas?
“Memangnya jahitan baju sampai lepas?” tanya Yona balik memutar bola matanya jengah.
“Kamu tidak sedang mengejekku kan?” Regan memicingkan matanya, menatap Yona dengan kesal.
Yona menggelengkan kepalanya. “Why? Kenapa aku harus mengejekmu?” tanya Yona menatap Regan dengan bingung.
Regan menatap wajahnya dari pantulan kaca yang saat ini dia pegang. Matanya menatap dengan seksama bekas-bekas jahitan yang mungkin akan membekas nantinya.
“Kamu tahu di mana operasi plastik terbaik?” Regan mendongak, menatap Yona yang saat ini asyik makan buah apel hijau.
“Em, Korea Selatan mungkin?” jawab Yona nampak menimang jawabannya sendiri. Dia sudah berulang kali ditawari dokter-dokter estetika dari negara kumpulan oppa-oppa itu. Namun Yona tidak pernah menerimanya meskipun diiming-imingi endorsement dari mereka. Memangnya apa lagi yang harus Yona rubah?
Memiliki wajah seperti ini saja dia sudah sukses menjelajahi pasar modeling Internasional yang membuat namanya melambung tinggi.
“Kita akan terbang ke sana setelah aku sembuh,” ucap Regan.
Mata Yona berbinar bahagia. Ah betapa Yona ingin sekali datang ke negara Korea Selatan pada musim semi. Di saat bunga-bunga bermekaran memenuhi jalanan di sana.
“Kamu serius? Kita akan liburan ke sana?” tanya Yona dengan wajahnya berseri. Tentu saja ini akan menjadi kabar bahagia karena mimpinya berlibur ke Korea Selatan menjadi kenyataan.
Jangan salah, bahkan Yona pernah makan siang bersama dengan Presiden Korea Selatan dan rombongannya. Kebetulan saat itu Yona mendapatkan kehormatan undangan makan siang karena salah satu keluarga Presiden Korea Selatan mengidolakan Yona dan ingin bertatap muka langsung dengan sang model.
Setelah itu? Yang jelas Yona tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sana karena jadwal pemotretan dan shoting iklan yang sangat padat sehingga Yona hampir tidak pernah melancong ke beberapa negara selain memiliki tujuan pekerjaan di sana. Hmm, membosankan sekali memang hidup Yona selama ini. Meskipun begitu, Yona merasa beruntung bisa merasakan segala keburuntungan hidupnya di umurnya yang masih begitu muda.
“Liburan? Memangnya aku mengatakan kalau kita akan liburan ke Korea Selatan?” tanya Regan memicingkan matanya.
Mulut Yona menganga, wanita itu meletakkan gagang apel di piring kosong.
“Bukannya kamu barusan bilang kita akan ke sana setelah kamu sembuh total?”
“Iya, tapi bukan liburan,” sahut Regan mendengus.
“Hah? Lalu apa?” Mata Yona kini memicing, menelisik ekspresi wajah Regan yang tiba-tiba saja bersemu kemerahan seperti menahan malu.
Jangan bilang Regan baru saja bermimpi bersama dengan aktris Korea Selatan sampai Regan mau menemui aktris itu secara nyata? Tidak-tidak, Yona tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Aku mau operasi kulit kepala di sana,” jawab Regan menunduk malu.
“Apa? Operasi kulit kepala? Yang benar saja!” pekik Yona membelalakkan matanya.
Siapa juga yang mau memiliki bekas jahitan sepanjang itu di bagian bawah kepalanya. Bagaimana kalau rambut Regan tidak bisa tumbuh di sana dan menampakkan bekas-bekas jahitan yang tentunya tidak akan bagus untuk penampilan lelaki itu.
Yona tertawa terbahak-bahak, baru kali ini dia mendapati Regan bergitu perfectionis atas penampilannya sendiri. Biasanya lelaki itu tergolong cuek namun selalu rapi pada setiap penampilannya sehari-hari.
“Kamu menertawakanku?” tanya Regan dengan kesal.
Yona tidak berhenti tertawa, ini sungguh moment yang sangat langka bagi Yona.
Tawa Yona terhenti ketika Dokter Irawan bersama satu orang perawat masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi, Mas Regan, Mbak Yona. Sepertinya kalian sedang bahagia ya?” Dokter Irawan menyapa Regan dan Yona bergantian.
“Iya Dokter,” jawab Yona tersenyum lembut lalu terkekeh geli juga pada akhirnya, masih teringat ucapan Regan yang ingin operasi plastik kulit kepalanya.
Dokter Irawan mengecek kondisi tubuh Regan seperti biasa, terlihat Dokter Irawan dan perawatnya berbicara mengenai obat dan cairan suntikan yang harus perawat pastikan untuk diberikan kepada Regan.
“Sudah siap untuk dicabut benang jahitannya?” tanya Dokter Irawan membuat Regan terbelalak.
“Siap, Dokter. Sejak Regan terbangun dari tidurnya, dia terus menanyakan kapan benangnya akan dicabut. Tidak sabar katanya,” kekeh Yona sengaja menggoda Regan untuk saat ini.
__ADS_1
Dokter Irawan mengangguk dan tersenyum. “Benar begitu Mas Regan? Rupanya Mas Regan tidak sabar untuk melepas benangnya,” kekeh Dokter Irawan pada akhirnya.
Yona menutup mulutnya, mencoba untuk tidak terbahak ketika Dokter Irawan hendak melakukan tugasnya.
“Tunggu-tunggu, Yona ke mari!” panggil Regan meminta Yona untuk duduk di samping ranjangnya.
Melihat ekspresi wajah Regan dipenuhi kecemasan, akhirnya Yona mengikuti kemauan Regan. Wanita itu berjalan ke tepi ranjang dan duduk di sampingnya.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Dokter Irawan diangguki Regan.
Lihatlah betapa manjanya Regan kepada Yona. Tangan lelaki itu menggenggam erat telapak tangan Yona dengan matanya yang kini terpejam.
“Rilex saja, Mas Regan,” kekeh Dokter Irawan ketika menyadari betapa tegangnya Regan untuk saat ini.
Lelaki itu menggigit bibir bawahnya saking tegangnya. Membayangkan benang yang sudah melekat di antara kulit kepalanya kini harus dicabut membuat Regan bergidik ngeri merasakan ngilu dan juga sakit pada kepalanya.
Dengan perlahan, Dokter Irawan mengoleskan cairan sterilisasi sebelum memotong benang-benang itu kemudian dia cabut satu persatu.
“Arhh,” pekikan akhirnya keluar dari mulut Regan, membuat Yona dan perawat yang ada di sana menahan senyumnya mati-matian.
Regan langsung memeluk tubuh Yona dengan erat, menikmati gelenyar beribu perasaan ketika satu per satu benang dicabut dari kepalanya.
“Satu lagi, ini akan menjadi yang terakhir,” ucap Dokter Irawan kepada Regan.
Lega, akhirnya setelah merasakan betapa nikmatnya setiap helai benang yang dicabut dari kepalanya. Pada akhirnya semua telah selesai hingga benang terakhir.
Dokter Irawan kembali mengoleskan cairan di kepala Regan.
“Dokter, apa di bagian jahitan ini akan botak selamanya?” tanya Yona mengedipkan matanya, memberi kode kepada Dokter Irawan untuk ikut ekting bersama dengannya.
“Iya, mungkin sepuluh tahun lagi baru tumbuh rambut barunya,” jawab Dokter Irawan menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan itu yang sering berubah-ubah setiap harinya.
“Apa? Sepuluh tahun? Yang benar saja, Dokter?” pekik Regan terkejut mendengar jawaban dari Dokter Irawan yang merawatnya selama ini.
“Kamu harus sabar menunggunya untuk tumbuh, begitu juga dengan cinta. Benarkan teori saya?” tanya Dokter Irawan mengedipkan matanya ke arah Yona.
“Apa kita harus operasi tanam rambut juga, Regan?” tanya Yona dengan wajah dibuat-buat seolah dirinya tengah mengkhawatirkan kekasihnya.
“Memangnya ada?” tanya Regan balik, nampak berminat dengan kalimat Yona.
Yona mengelus puncak kepala Regan. “Rambut jagung seperti cocok untuk tumbuh di sini,” jawab Yona disertai dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.
“Yona, kamu senang kali,” jawab Regan menatap Yona dengan matanya menyipit kesal.
Yona berhenti tertawa, wanita itu justru mengendus seperti hewan peliharaan yang mencium aroma aneh bagi indra penciumannya.
“Regan, kamu mencium sesuatu tidak?” tanya Yona dengan keningnya berkerut, mengendus di sekitarnya untuk bau aneh yang kini menyapa penciumannya.
Regan menggeleng, lelaki itu juga ikut mengendus.
“Aku tidak mencium apapun,” jawab Regan.
Mata Yona kini melebar sempurna, mulutnya menganga menatap Regan.
“Jangan-jangan … kamu ngompol, ya?!” pekik Yona dengan matanya terbelalak.
Sontak saja Regan meraba selangkangannya. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya ketika merasakan bagian bawahnya sedikit basah. Mungkin sesuatu yang keluar tidak sengaja saat Regan menahan napas beberapa saat lalu ketika Dokter Irawan mencabut benang di kepalanya.
“Ini bukan ngompol!” sahut Regan kelabakan mencari-cari alasan.
Yona melipat tangannya ke depan dada. “Lalu apa dong?” tanya Yona menelisik.
“Ini … ini itu cairan lelaki. Ah sudahlah kamu tidak akan mengerti,” ucap Regan memalingkan wajahnya karena malu.
“Astaga Regan, kamu sudah besar tapi masih ngompol?” kekeh Yona tidak mampu menutupi kegelian dalam benaknya.
Tentu saja Yona paham benar mengapa Regan sampai ngompol di celana. Lelaki itu hanya tidak sadar telah kencing di celana saking tegangnya merasakan cabutan demi cabutan benang di kepala lelaki itu. Tapi bolehkan kalau Yona sedikit bermain-main dengan Regan?
__ADS_1
“Kamu ini enggak malu sama Chiko? Chiko saja enggak pernah ngompol loh!” keluh Yona menatap Regan dengan pandangan tidak percaya.
“Berhenti mengejekku, sekarang bantu aku mengganti celanaku,” jawab Regan membuat mata Yona terbelalak.
Membantu Regan mengganti celananya? Heol, bisa-bisa Yona melihat si kecil milik Regan lagi.
“Tidak bisa, kamu menunggu Ayah atau biar aku panggilkan perawat lelaki untuk membantumu,” jawab Yona gelagapan.
“Aku tidak mau, bagaimana kalau perawat lelakinya suka pisang sama pisang? Ayah kan ngurus kampus, Yona!” Regan menatap kesal Yona.
“Kalau begitu aku panggilkan Rehan saja?” tawar Yona dengan senyuman terukir di bibirnya.
“Rehan sudah pamit libur karena Aileen sedang sakit, kamu kemaren tidak dengar pas dia datang ke sini?”
Gawat, kenapa keadaan justru berbalik menghimpit Yona? Mana mungkin Yona membantu Regan mengganti celananya. Bisa-bisa mata Yona terkontaminasi dengan bayangan sesuatu milik Regan di bawah sana.
“Kamu mau membiarkan milikku gatal karena kelamaan tidak ganti dalaman?” ucap Regan menyadarkan Yona dari lamunannya.
Wanita itu gelagapan. Dengan cepat Yona meraih kursi roda yang sudah tersedia di sana. Wanita itu membantu Regan untuk duduk di kursi roda, lalu mendorongnya menuju kamar mandi yang ada di dalam ruang perawatan Regan.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil celana gantimu,” ucap Yona meninggalkan Regan di dalam kamar mandi.
Yona berjalan menuju lemari pakaian, mengambil satu buah celana dalam dan celana ganti untuk Regan. Yona terdiam sesaat menatap celana dalam milik Regan. Dengan cepat Yona mengusir bayangan sononoh dari otaknya.
Baiklah, Yona akan membantu lelaki itu untuk mengganti celana dalamnya tanpa membuka matanya. Cara yang sangat ampuh guna menghindari terkontaminasinya mata Yona karena pemandangan unik yang hanya akan dia lihat nantinya.
“Ini, kamu yang melorotkannya ke bawah, aku pegangi tubuhmu dari belakang,” ucap Yona kepada Regan.
“Mana bisa aku berjongkok kalau kamu pegangi dari belakang?” tanya Regan berdecak dengan pemikiran Yona saat ini.
Sabar-sabar, Yona harus sabar menghadapi bayi tua di depannya kini.
“Hmm aku akan buka celanamu sekarang dengan mata tertutup,” jawab Yona pada akhirnya mengalah.
Dada Yona bergemuruh tidak karuan rasanya, ini pertama kalinya Yona melakukan hal segila ini. Menggantikan celana dalam lelaki yang belum sah menjadi suaminya? Astaga, mimpi apa Yona selama ini sampai bisa mengalami adegan menggelikan seperti sekarang ini. Siapapun yang melihat mereka, mungkin orang itu akan berpikiran Yona menjadi wanita mesum yang mencuri kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan kondisi tak berdaya Regan untuk saat ini.
Yang benar saja, bahkan Yona enggan sekali melakukan itu jika tidak dalam kondisi terjepit seperti sekarang.
“Aku buka sekarang?” tanya Yona nampak ragu-ragu.
“Besok lebaran saja, biarkan sampai kering,” sahut Regan dengan ketus.
Dasar lelaki tidak tahu malu!
“Regan, kamu tidak malu jika aku melihat … itumu?” tanya Yona dengan matanya menelisik.
“Aku sekarang sedang sakit Yona, orang sakit kan pasrah,” jawab Regan berlagak polos.
Dalam hati lelaki itu bersorak bahagia karena sudah membalikkan keadaan. Sebenarnya Regan bisa mengganti celananya dengan posisi duduk di toilet. Hanya saja Regan ingin memberikan senam jantung kepada Yona. Siapa tahu Yona beneran mau menggantikan celana milik Regan.
Yona mengacak rambutnya frustasi. Wanita itu menatap Regan sekali lagi, mencari cara agar dirinya bisa melewatkan adegan menggelikan seperti saat ini.
“Baiklah, anggap saja ini tidak pernah terjadi,” ucap Yona pasrah.
Wanita itu mulai membungkukkan badannya, mencondongkannya ke depan menghadap Regan.
“Regan, Yona, apa yang sedang kalian lakukan?” pekik Lilian dengan matanya terbelalak menatap Regan dan Yona di dalam kamar mandi.
Melihat posisi Yona saat ini membuat ibu dari Regan itu membalikkan badannya, memunggungi pasangan muda di dalam sana.
“Segera keluar kalau sudah selesai,” ucap Lilian melangkahkan kakinya meninggalkan Regan dan Yona.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah ini Lilian pasti akan salah paham kepada dirinya dan juga Regan. Kemungkinan paling buruknya, wanita itu akan melapor kepada orang tua Yona, dan Yona akan mendapatkan satu paket ceramah dengan bonus amarah berbasis VIP dari orang tuanya.
Sedangkan Regan justru mengulum senyumnya.
Yes, akhirnya aku dan Yona bakal dinikahkan secepatnya. Batin Regan bersorak di dalam hatinya.
__ADS_1
“Kalian harus segera menikah,” ucap Lilian tanpa basa-basi saat Yona mendorong kursi roda Regan keluar dari kamar mandi.