My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Aku Melihatmu, Kamu Sangat Cantik


__ADS_3

“Bagaimana kalau kita party? Merayakan mereka sah menjadi sepasang kekasih?” usul Rehan menatap semua orang disana.


Sedangkan pasangan yang malam ini tengah berbahagia kini duduk berdampingan seperti tidak ingin ada yang memisahkan mereka berdua. Tangan Regan terus menggenggam erat jemari Yona, menunjukkan betapa bahagianya lelaki itu malam ini.


“Anak-anak bagaimana?” tanya Viona yang paham arah mana yang akan mereka pilih malam ini.


“Biarkan sama aku, kamu dan Racka disini saja. Lagi pula Zio juga sedang tidak enak badan,” ucap Sisil menjawab pertanyaan Viona.


“Titip anak-anak ya Sil,” jawab Viona tersenyum.


Viona mengelus puncak kepala Devaro, meskipun anak itu bukan anak kandungnya tapi dia tidak pernah membeda-bedakan antara anak kandung dan mana anak tiri. Valeria dan Devaro sama-sama anaknya, tidak ada yang akan berubah sekalipun mama kandung Varo bangkit kembali dari kematian.


“Ayo pamit dulu sama uncle dan aunty,” pinta Sisil kepada Nayna dan Varo.


Kedua anak itu mencium tangan mereka satu per satu, Nayna menatap Regan sekali lagi.


“Uncle janji ya kalau Nayna besar nanti bakalan dikasih cake yang sama kayak aunty Yona?” tanya Nayna sekali lagi, memastikan Regan tidak akan membohonginya.


“Iya uncle janji, ciyusss Nayna,” ucap Regan mengacak pelan rambut luruh milik Nayna.


Anak itu mengangguk, sudah lega rasanya jika dirinya telah menanyakan apa yang ada dalam pikirannya. Sisil dan Nata berdiri dari tempat duduknya, “kita balik dulu ya,” pamit Sisil tersenyum kearah mereka.


“Gue balik dulu, have fun kalian,” ucap Nata melambaikan tangannya kepada teman-temannya yang masih tertinggal di restaurant itu.


Kini personil berkurang, tapi tidak mengurangi semangat mereka untuk berpesta merayakan kebahagiaan pasangan Regan dan Yona malam ini. Rehan segera memanggil pelayan,


“Bawakan kami minuman yang paling mahal dan enak,” ucap Rehan dengan binar mata bahagia.


Rasain lu nyet, siapa suruh elu ninggalin gue sendiri dan makan malam dengan Yona. Makanya lain kali ajakin gue.


“Baik pak, ada lagi yang mau ditambahkan?” tanya pelayan dengan sopan.


“Oh ya, kami butuh cemilan karena kami akan disini sampai restaurant ini tutup,” jawab Rehan kembali membuat semua orang terkekeh geli kecuali Regan yang kini memicingkan matanya menatap Regan.


Regan tahu jika monyet berbentuk manusia yang satu itu sengaja untuk memesan banyak hidangan agar tagihan yang harus dia bayar semakin fantastis.


“Hei kamu itu pesan yang serba mahal emang kamu yang bayarin?” tanya Regan memicingkan matanya kesal kepada Rehan.


“Kita kan lagi merayakan kebahagiaan kalian, iya nggak teman-teman?” tanya Rehan meminta persetujuan dari teman-teman mereka.


Semua orang mengangguk dengan kekehan di mulut mereka, “kalian ini sudah dewasa, Rehan juga kamu kan mau punya anak kenapa masih banyak tingkah sih,” keluh Nadia tidak tahu lagi kemana jalan pikiran para lelaki dewasa tapi berotak seperti anak-anak.


“Umur boleh dewasa, tapi jiwa kita tetap remaja Sunshine,” sahut Fernand membela kaum laki-laki.


“Remaja apanya, tidak malu sama uban di kepalamu,” ejek Nadia menyindir Fernand.


Fernand terbelalak, tidak menyangka Nadia akan mengungkapkan rahasianya kepada semua orang. Satu uban di kepalanya adalah rahasia besar yang telah dia sembunyikan selama ini.


“Itu bukan uban, itu rambut mati Sunshine. Kamu harus bisa membedakannya, rambut mati itu karena stress yang berlebihan. Kami ini dokter mikirnya harus pintar, ada ilmu baru langsung kami telaah baik-baik dan akan kami gunakan untuk mengobati pasien. Kamu ini nggak paham gitu ya soal kedokteran, makanya dulu kuliahnya ambil kedokteran biar paham soal rambut mati,” jelas Fernando panjang kali lebar seperti rumus volume balok.


Nadia memejamkan matanya, begitulah lelaki yang kini menjadi belahan jiwanya. Selalu mempunyai alasan yang sangat bertele-tele ketika terpojokkan.


“Benar nggak Han?” tanya Fernand kepada Rehan.


“Enggak tuh, gue dokter tapi nggak ada ubannya. Mungkin raga lo sebenarnya udah tua, jadi ya begitu muncul uban,” jawab Rehan menghendikkan bahunya.


“Sialan elo ya, awas aja elo kalau butuh gue. Gue males ngeladenin elo lagi,” keluh Regan mendengus sebal.

__ADS_1


“Stop!!! Kalian ini kenapa malah bahas uban di sini sih. Ini mbaknya menunggu pesanan kalian, emang mau dikasih minum air keran hahh?” pekik Yona melerai teman-temannya yang sangat kekanakan.


“Sabar sayang, mereka memang seperti itu. Untung aku tidak seperti mereka, iya kan?” tanya Regan memeluk pundak Yona dengan mesra.


“Kau lebih parahh!!!” jawab Yona, Rehan, dan Fernand bersamaan.


Regan menatap mereka berdua, “wahh sejak kapan kalian bertiga menjadi kompak?” tanya Regan menatap Yona, Rehan, dan Fernand penuh curiga.


“Bukan urusanmu!” jawab mereka bertiga lagi dengan kompaknya.


Nadia dan Viona terkekeh melihat wajah Regan yang kuwalahan menghadapi Yona, Rehan, dan Fernando. Sedangkan Racka hanya berdecak kesal melihat interaksi para orang dewasa tapi labilnya melebihi anak-anaknya saat sedang memperebutkan sesuatu.


“Eh kasian ini kalian ditunggu kok malah ribut terus sih,” keluh Viona merasa tidak enak dengan pelayan yang sejak tadi berdiri di samping meja mereka untuk menunggu pesanan yang akan mereka pilih sebagai hidangan pelengkap party malam ini.


“Sudah bawakan kami minuman dari beberapa merk yang kalian punya, makanan pelengkapnya juga ya mbak,” ucap Racka akhirnya mewakili mereka semua yang ada di sana.


“Minum air keran saja kenapa sih kalian ini, sok-sokan high class segala,” cibir Nadia menatap semuanya mengejek.


Pelayan itu tersenyum geli, tidak disangka kumpulan para elite ternyata tidak sesombong yang semua orang pikirkan. Para pasangan konglomerat yang menjadi tamu restaurant tempatnya bekerja itu sangat baik, sangat sopan kepada para pelayan meskipun derajat sosial mereka jauh berbeda. 


Jika bayangan orang-orang kalau semua orang kaya itu sombong, angkuh, dan juga tidak bisa menghargai orang lain disekitarnya maka itu salah. Contoh nyata di depannya ini membuat para pelayan sadar tidak semua orang kaya seperti itu. Bahkan orang yang benar-benar kaya tidak akan menyombongkan kekayaannya karena semua orang sudah tahu betapa kayanya mereka.


Sangat berbeda sekali dengan OKB atau orang kaya baru, mereka akan memamerkan semua yang dia miliki. Memposting semua yang baru saja dia beli dengan dalil mencari uang itu mahal, maka pamerkan apa yang kamu punya. Heol, itu alasan klasik jiwa-jiwa missqueen mereka yang meronta-ronta ingin dicap sebagai orang kaya, kaya orang maksudnya.


Kelima pasangan ruwet itu menyontohkan arti hidup, dimana semua orang adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain. Harta, kekayaan, status sosial yang tinggi, tidak aka nada artinya jika Sang Pemiliknya sudah menariknya kembali dengan berbagai cara. Jadi mereka benar-benar menjaga harta yang mereka miliki, membaginya dengan orang-orang yang membutuhkan.


“Memangnya Melodi enggak nyariin kamu?” tanya Nadia menatap Rehan penasaran.


“Aku sudah memberitahu Melodi kalau aku bersama kalian,” jawab Rehan diangguki teman-temannya.


Kedua manusia itu tersenyum, berada dalam kehangatan teman-teman mereka sudah merupakan satu anugrah tersendiri. Jaman sekarang mana ada teman yang benar-benar tulus? Mereka akan datang saat butuh, dan akan pergi ketika ketika yang membutuhkannya. Sama seperti saudara, saudara akan menganggap kita kalau kita kaya dan punya uang, tapi mereka akan berlaku seperti orang lain ketika kita jatuh miskin.


Beruntunglah orang-orang yang memiliki teman yang tulus dan saudara-saudara yang saling mengasihi.


“Kamu mau minum juga?” tanya Regan menatap Yona dengan waspada.


“Iya, kenapa memangnya?” tanya Yona balik, bingung dengan arti tatapan mata Regan yang kini menatapnya waspada.


“Kamu tidak boleh minum, kamu ingat besok kamu ada kelas pagi dan ada responsi juga kan?” ucap Regan mengingatkan wanita itu bahwa besok pagi aka nada responsi di kelasnya,


Semua orang menatap penuh curiga, “aku curiga Regan akan berlaku nepotisme, memberikan nilai Yona yang baik karena Regan mencintai mahasiswinya sendiri,” ucap Viona menatap Regan curiga.


Wuahhh nepotisme katanya? Bahkan Regan sangat menyebalkan karena memberikan nilai C di mata kuliah lelaki itu semester lalu. Jika Yona bisa memilih, wanita itu tidak akan sudi untuk berada dalam satu kelas yang diampu oleh Regan jika saja dirinya tidak terlanjur memilih mata kuliah lelaki itu. Sebenarnya bukan mata kuliah asli yang diampu oleh Regan, lelaki itu hanya menggantikan dosen wanita yang cuti melahirkan sampai pertengahan bulan depan.


Huhh, Yona sangat menantikan hari itu tiba supaya dirinya tidak terkena kesialan bertubi-tubi ketika diampu oleh Regan yang sangat menyebalkan dan selalu mencari-cari kesalahannya saat di kelas.


“Apa nilai yang baik? Dia bahkan memberikanku nilai C di mata kuliahnya,” cibir Yona yang kelepasan membahas masa lalunya dengan Regan sebelum lelaki itu kehilangan ingatannya.


Regan memicingkan matanya, “kapan aku memberikanmu nilai C?” tanya Regan menatap Yona penasaran. Seingatnya dia belum pernah memberikan nilai C kepada Yona, karena ini adalah mata kuliah pertama yang Regan ampu dan ada Yona juga di dalam kelas itu.


“Em, maksudnya kamu pasti akan memberikan nilai C untukku, iya kan? Mengaku saja, aku sudah hafal gelagat mengesalkanmu,” ucap Yona menguraikan isi hatinya.


“Jangan negative thinking dengan seseorang, itu tidak baik. Iya kan Han?” tanya Regan meminta bantuan kepada temannya.


Rehan mencebik, kalau begini saja lelaki itu baru memanggil namanya. Coba saja kalau lagi adem ayem, mana pernah Regan mengingat dirinya.


“Mana gue tahu,” tanya Rehan menghendikkan bahunya acuh.

__ADS_1


Minuman telah diantar, dan makanan pendamping juga telah siap tersaji di atas meja. Mereka menuangkan botol itu ke dalam gelas, suara dentingan gelas mereka disusul gelak tawa memenuhi penjuru restaurant yang temaram. Nuansa lagu romantic dengan pencahayaan remang-remang menambah kedekatan mereka semua.


Racka mengajak Viona untuk berdansa, begitupun Nadia dan Fernand. Kedua pasangan itu berdansa dengan sangat luwesnya diatas dance floor yang tersedia. Mereka bergerak, menari, berputar beriringan seirama denga alunan melodi lagu yang terasa begitu pas dengan gerakan mereka berdua.


Kepala Regan tiba-tiba sangat berat, seperti ada beban berat kini menimpanya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan aneh yang kini melintas dalam otaknya. Regan meringis, dia seperti melihat kapal pesiar mewah dan juga laut lepas dalam ingatannya. Riuhnya gelegar kembang api menghiasi langit malam, serta tepuk tangan yang menggema di kapal pesiar itu membuat Regan merasa de javu oleh kejadian itu.


Siapa yang Regan gandeng malam itu? Kenapa semua orang memekik bahagia ketika wanita itu bersedia menerima uluran tangannya.


“Maukah kamu berdansa denganku?” 


Itu adalah suara Regan, apakah itu artinya bayangan yang kini ada dalam pikirannya adalah nyata? Tapi kapan dia naik kapal pesiar itu? Rasanya Regan tidak pernah ingat jika dirinya pernah traveling menaiki kapal pesiar. Ataukah itu hanya halusinasi semata?


“Aku tidak menyangka kamu akan melakukan lamaran di tengah-tengah lautan.”


Bukankah itu adalah suara Yona, hei kenapa suara Yona terdengar begitu nyata? Siapa yang melamar Yona di tengah-tengah lautan?


Regan menoleh kearah Yona, wanita itu tersenyum sangat bahagia melihat kedua pasangan di depan mereka berdansa dengan begitu mesranya.


“Maafkan aku, aku gagal melingkarkan cincin itu di jari manismu.”


Oh shit!! Kenapa rasanya dialog mereka saling berhubungan? Apakah mereka berdua memiliki hubungan di masa lalu? Regan benar-benar frustasi dibuatnya. Dirinya tidak tahu lagi dengan siapa dirinya harus bertanya. Tidak ada barang yang tersisa sebelum kecelakaan itu terjadi, bahkan ponselnya saja hilang entah kemana. 


Regan hanya tidak tahu, orang tuanya menyembunyikan ponsenya dan menutup semua media yang telah memberitakan kabar tentang Regan dan Yona.


“Regan, kamu kenapa berkeringat begitu?” tanya Yona menatap Regan dengan panik.


Wanita itu mengelap keringat di kening Regan, “kamu merasa tidak enak badan?” tanya Yona kepada Regan.


“Lo kenapa? Ada masalah dengan kepala lo?” tanya Rehan menatap Regan.


Regan menggeleng, tidak ingin membuat Yona maupun teman-temannya yang lainnya merasa cemas. Biarlah nanti dia berkonsultasi saja dengan Dokter Gustin Justavo ketika mereka bertemu, menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada dirinya.


Lelaki itu frustasi, tangannya hendak menuangkan kembali minuman ke dalam gelasnya. Namun Yona mencegahnya, “kamu tidak boleh minum minuman beralkohol Regan, ingat kesehatanmu,” ucap Yona menyentuh tangan Regan.


Sentuhan tangan wanita itu begitu hangat, jantung berdebar ketika aroma tubuh Yona menyeruak memasuki indera penciumannya. Regan mengerjapkan matanya, wajah Yona terlihat sangat jelas saat ini, lalu lelaki itu menoleh kearah Rehan dan yang lainnya.


Kenapa Regan bisa melihat wajah mereka dengan jelas saat jantungnya berdetak tidak karuan? Apakah jantungnya memompa darah lebih kencang hingga memperlancar syaraf matanya menuju otak?


“Aku melihatmu,” ucap Regan membuat Yona terdiam membisu.


“Apa?” tanya Yona tidak mengerti apa maksud ucapan Regan.


“Kamu sangat cantik,” ucap Regan yang semakin membuat Yona kebingungan.


Apakah Regan sudah mabuk?


-------------------


OEYYY SELAMAT MALAM DAN SELAMAT BEGADANG UNTUK AUTHOR PENGEJAR 60.000 KATA DALAM SEBULAN HEHE.


BAGI READERS, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YAHHHH KARENA HANYA ITU APRESIASI YANG AKU SENDIRI TUNGGU-TUNGGU.


KENAPA LIKE 2 PART YANG KEMARIN DIKIT KALI MAK CIKKKK, HIKSS AKU JADI PENGEN NANGIS GULUNG-GULUNG NIH :’(


BTW, JANGAN LUPA YA YANG MAU BELI EBOOKNYA LOVE YOU BOSS CAPCUS AJA KE GOOGLE PLAY  STORE.


BABAYYYYYY AKU MAU BOBOK CANSTIK DULU SOALNYA WAKTU UP DI TEMPATKU PUKUL 01:07WIB.

__ADS_1


__ADS_2