
Mereka bertiga, Yona, Sisil dan Nata berlari menuju lift Rumah Sakit Kusuma untuk naik ke lantai lima di mana Regan berada. Mendapatkan kabar jika Regan sudah mampu menggerakkan tangannya membuat mereka sangat bahagia. Ini adalah kabar yang paling mereka tunggu-tunggu.
“Stoppp!” teriak mereka bertiga begitu lift ganjil hampir tertutup.
Dengan sigap Sisil melemparkan tasnya ke tengah pintu lift hingga membuat lift itu kembali terbuka.
“OMG, aku merelakan tas ratusan juta punyaku lecet demi dirimu,” ucap Sisil menatap tasnya yang sedikit lecet karena lemparannya.
Sisil meraih tasnya kembali dan menarik baju Nata untuk mengelap tasnya. Sedangkan lelaki itu hanya mendengus kesal dengan tingkah istrinya yang selalu seenaknya saja dalam bertingkah. Mana ada tas lebih berharga dari pada kebersihan baju suaminya? Sisil benar-benar istri yang keterlaluan.
“Apa?” tanya Sisil ketika merasakan tatapan jengkel Nata yang lelaki itu arahkan kepada dirinya.
“Tidak ada,” jawab Nata memalingkan wajahnya menghindari perdebatan mereka berdua yang mungkin tidak akan pernah ada hentinya.
Untung saja hanya ada mereka bertiga dan satu perawat di sana yang menyaksikan keanehan pasangan itu. Meskipun mereka terlihat sangat harmonis dan tanpa cela, mereka berdua tetaplah pasangan pada umunya yang terkadang bertengkar, cemburu, dan saling kesal satu sama lain. Tidak ada hubungan di dunia ini yang sempurna, mereka diciptakan memang memiliki tujuan untuk saling menyempurnakan satu dengan yang lainnya. Kalaupun kamu tidak sempurna, carilah seseorang yang bisa menyempurnakan, bukan seseorang yang pergi untuk mencari yang sempurna.
“Maafkan suami saya yang berisik,” ucap Sisil kepada perawat yang berada dalam satu lift dengannya.
Mata Nata terbelalak. “Aku? Aku yang berisik? Bukannya kamu?” tanya Nata mendengus kesal.
Yona hanya menghembuskan napasnya kasar mendengar pasangan itu yang terkadang sangat berisik ketika beradu mulut.
“Diam kalian berdua!” hardik Yona membuat Sisil dan Nata berhenti saling menunjuk.
Sisil merapikan bajunya yang dia pakai, sedangkan Nata mengibaskan kaosnya yang tadi sempat dijadikan lap dadakan oleh Sisil.
Ting!
Mereka bertiga keluar dari lift dan berlari kecil menuju ruang rawat Regan. Di sana sudah ada ayah dan bunda Regan, ada Rehan, dan juga pasangan Nadia & Fernando yang saat mendapatkan kabar bahwa Regan menggerakkan tangannya masih berada dalam ruangan Rehan. Terlihat dokter yang menangani Regan mengecek kondisi Regan.
Mata lelaki itu masih terpejam, namun tangannya beberapa kali bergerak dan membuat Lili langsung saja memanggil perawat yang berjaga dan menghubungi Rehan untuk segera ke sana.
Semua orang menatap Regan penuh harap, mereka berdoa untuk kesadaran Regan. Berdoa semoga lelaki itu segera membuka matanya dan kembali sehat seperti sedia kala sebelum musibah ini menimpa dirinya hingga berada dalam keadaan seperti ini.
“Bunda, bagaimana keadaan Regan?” tanya Yona menghampiri Lili yang sama khawatirnya dengan Yona.
Lili menggenggam tangan Yona. “Tadi Bunda lihat tangan Regan bergerak satu kali, terus Bunda panggil nama dia. Bunda pegang tangan Regan, tangannya bergerak lagi,” jelas Lili dengan matanya memerah menahan tangis.
Yona mengelus punggung dari ibunda lelaki yang dia cintai.
“Yona juga merasakan tangan Regan bergerak sekali, Yona pikir itu hanya perasaan Yona,” jelas Yona menceritakan bahwa Yona sempat merasakan tangan Regan bergerak ketika wanita itu menggenggam tangan Regan.
Ternyata itu bukan hanya perasaan Yona, itu memang gerakan tangan Regan yang entah menunjukkan kemajuan atas tubuhnya atau mungkin hanya gerakan reflex tangannya seperti tangan orang-orang pada umumnya yang terkadang berdenyut sendiri seperti bergerak.
“Dokter Irawan, bagaimana keadaan putra saya?” tanya Septian setelah dr.Irawan selesai mengecek kondisi tubuh Regan.
Semua orang mendekat kearah dr.Irawan, mereka nampak sangat penasaran tentang kondisi Regan saat ini.
“Kondisinya masih sama, tidak ada reaksi apapun saat saya melakukan pemeriksaan. Mungkin gerakan tangan Regan karena kontraksi otot tangannya yang menyebabkan tangannya seperti bergerak beberapa kali. Itu normal, orang sehat juga terkadang mengalaminya,” jelas dr.Irawan memberikan semua orang penjelasan.
Terlihat dr.Irawan memberitahu perawat untuk memberikan suntikan sesuai dengan apa yang dr.Irawan arahkan.
“Kita tunggu saja perkembangannya, tidak usah khawatir. Lagi pula Regan memiliki teman-teman dokter sehebat Dokter Rehan dan Dokter Fernando. Kita berdoa saja untuk pasien semoga lekas sadar dan kembali sehat seperti sedia kala,” ucap dr.Irawan diamini semua orang di sana.
Dr.Irawan berpamitan kepada semua orang untuk melanjutkan tugasnya mengecek pasien lainnya. Kini semua orang mendekat kearah Regan,
“Kenapa kamu masih menutup matamu hah? Sehari saja pesanmu tidak aku balas kamu pasti marah-marah, awas saja kalau kamu sadar nanti kamu udah bikin kita semua menunggu!” ucap Yona menangis di samping Regan.
Semua orang tidak kuasa melihat Yona menangis seperti itu, Nadia mengelus punggung Yona untuk menenangkannya.
“Dia akan segera sadar, kita mendoakan yang terbaik untuk Regan,” kata Nadia menenangkannya.
__ADS_1
Mereka semua ikut merasakan kesedihan yang Yona rasakan. Semua wanita di posisinya pasti akan hancur melihat tunangannya berada dalam kondisi seperti itu tidak sadarkan diri selama lima hari. Belum lagi banyak hujatan yang Yona terima karena pertunangannya yang batal ditambah dengan tuduhan yang sampai saat ini belum terselesaikan.
Waktu telah berlalu, Sisil dan Nata berpamitan pulang karena Nayna terus menanyakan mommynya sejak tadi. Maklum saja, anak usia enam tahun memang masih dekat-dekatnya dengan sang mommy. Disusul oleh Nadia dan Fernando yang harus kembali dari sana karena sekarang giliran sift lelaki itu untuk bertugas.
Kini tinggallah Yona dan Regan di sana karena Lili dan Septian harus keluar untuk mengurus sesuatu lebih dulu. Yona terus menggenggam tangan Regan, berharap keajaiban itu ada dan membuat mata lelaki itu terbuka bersama dengan kesadaran Regan yang telah kembali. Hidup Yona benar-benar hancur melihat Regan terbaring tidak berdaya seperti ini.
“Aku sangat merindukanmu,” lirih Yona mengecup tangan Regan dan mengelusnya.
Yona tersenyum, membayangkan bagaimana tingkah menyebalkannya Regan saat Yona ketahuan mencium lelaki itu. Yona teringat ketika Regan dengan binary bahagianya menggoda Yona habis-habisan karena sudah ketahuan mencium wajah lelaki itu ketika dirinya terlelap.
“Pembohong!” lirih Yona tersenyum mengingat Regan berpura-pura tertidur saat itu. Kalau saja Yona tahu Regan tidak tidur, mungkin Yona tidak akan berani mencium wajah lelaki itu dan berakhir dengan segala godaan yang Regan tujukan kepadanya.
“Regan kalau kamu tidak segera bangun, maka aku akan menjadi asisten dosenmu lagi dan mengajar para mahasiswa strata satu yang tampan-tampan. Ah iya aku dengan kelas malamnya ada yang perwira TNI yang tampan itu kan? Awas saja aku akan menggoda lelaki itu kalau kamu tidak segera bangun!” ancam Yona seakan Regan mendengarkan ucapannya.
Yona mendengus, bahkan dia mengancam untuk dekat dengan lelaki lain tidak juga membuat Regan membuka matanya. Padahal Yona berharap Regan sedang mengerjai dirinya dan akan segera bangun ketika Yona mengancamnya untuk dekat dengan lelaki lain jika Regan tidak segera membuka matanya.
Punggung Yona kembali bergetar, rasanya Yona ingin berteriak, memaki, dan mengguncang tubuh Regan agar lelaki itu segera membuka matanya.
“Yaaa Regan aku merindukan tatapan jahilmu, aku merindukan segala ejekan mautmu, aku merindukan semua tentang dirimu,” ucap Yona dengan suaranya yang bergetar hebat.
Yona menundukkan kepalanya menangis sesegukan di sana, suara tangisannya bahkan memenuhi seluruh ruang rawat lelaki itu.
“Bodoh, kamu lelaki bodoh yang pernah aku temui,” isak Yona dengan matanya menatap kepala Regan yang tengah terbalut perban.
Perlahan, Yona menyentuh perban itu dengan hati-hati.
“Kenapa kamu sok jagoan menolongku hah? Seharusnya biarkan saja perampok sialan itu memukulku. Kenapa kamu harus menghukumku seperti ini Regan? Aku mohon, buka matamu,” isak Yona tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membangunkan Regan dari tidur panjang lelaki itu.
Mungkinkah Regan mati? Ah tidak mungkin. Membayangkannya saja Yona sudah tidak sanggup apalagi harus menjalaninya. Bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun, Yona pasti akan menemui Regan dan menuntut lelaki itu atas perasaan cinta yang sudah hadir dan tumbuh sedalam itu dihatinya.
“Dasar lelaki tidak bertanggung jawab, habis membuatku jatuh cinta dengamu kamu akan membiarkanku seperti ini begitu?” tanya Yona kepada Regan yang masih memejamkan matanya.
Mata Yona terasa sangat berat, wanita itu memejamkan matanya dengan tangannya bertumpu di ranjang Regan dengan tangannya menggenggam erat tangan Regan berharap tangan yang dia genggam akan bergerak.
*
Di alam bawah sadar Regan…
Disuatu tempat, Regan berjalan dengan tertatih menatap kesekelilingnya. Di sana sangat ramai, banyak orang berlalu lalang dengan aktifitas yang biasa penduduk sana lakukan. Regan menghampiri beberapa orang yang tengah berbincang didepannya.
“Maaf, apakah saya boleh bertanya dimana ini?” tanya Regan dengan bahasa inggris karena sepertinya bangunan dan semua penduduk di sana seperti orang bule.
“Kita ada di Bath,” jawabnya membuat Regan terbelalak.
Di Bath? Kota di Inggris yang sangat indah dengan bangunan bersejarahnya itu bukan?
“Dari mana asalmu anak muda? Kenapa wajahmu seperti bukan wajah orang Inggris?” tanya salah satu lelaki itu.
Regan menggangguk. “Saya bukan berasal dari Inggris, asal saya dari Indonesia,” jawab Regan membuat dua lelaki itu mengangguk.
Rasanya Regan seakan pernah menginjakkan kakinya di Kota Bath. Tapi untuk apa dan dengan siapa Regan datang ke Kota Bath yang sangat jauh dari Indonesia.
“Mungkinkah aku kemari untuk menemui Rehan?” pikir Regan karena hanya Rehan lah temannya yang pernah menetap di Inggris beberapa tahun untuk menempuh study strata satunya beberapa tahun sebelum pindah ke Indonesia saat Olivia mengidap penyakit yang sangat mematikan itu.
“Berikan aku makanan yang sama seperti ini, Mam,” ucap Regan kepada pelayan stan makanan dipinggir jalan yang dia singgahi.
Regan duduk menatap jalanan yang terlihat sangat ramai karena hari ini adalah hari kerja di sana. Lelaki itu tersenyum, akhirnya dia bisa berlibur ke Kota Bath setelah pekerjaan panjangnya yang tidak bisa dia tinggalkan selama beberapa bulan ini.
Regan menikmati hidangan yang dia pesan, lelaki itu duduk bersama dengan dua lelaki yang tadi dia tanyai.
“Oh ya Sir, didekat sini apa tempat wisata yang rekomended untuk saya datangi mumpung saya berada di sini?” tanya Regan kepada mereka berdua.
__ADS_1
“Romance Bath,” jawab mereka kompak.
Romance Bath? Kenapa Regan tiba-tiba merasa sedih mendengar tempat itu disebutkan? Ada apa ini? Kenapa Regan rasanya ingin menangis sekarang juga.
“Tidak jauh dari sana ada jembatan Pulteney Bridge, sayang sekali kamu datang sendiri ke sini.”
Regan mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa?” tanya Regan penasaran.
“Di sana ada peramal yang legendaris, dia bisa meramal masa depan seseorang seperti meramal jumlah anak yang akan kamu miliki nanti,” jelasnya membuat Regan terlihat sangat antusias dengan cerita kedua lelaki itu.
“Kalian akan mengalami banyak guncangan, tapi ada dua bulan di sini. Artinya, anak kembar.”
Entah dari mana asal suara itu, Regan menggelengkan kepalanya menghilangkan suara itu yang terus berputar seperti kaset rusak didalam otaknya. Regan sampai memukul kepalanya pelan berusaha menghilangkan suara itu.
“Kalian akan mengalami banyak guncangan!”
“Ada dua bulan disini artinya anak kemba*”
Tidak, kenapa suara itu terus berputar dalam otak Regan. Siapa yang mengatakan kalimat itu? Dan siapa yang akan memiliki anak kembar? Kenapa rasanya Regan sangat merindukan seseorang yang bahkan Regan tidak tahu siapa seseorang itu.
“Jembatan apa yang tadi kalian bicarakan?” tanya Regan lagi.
“Jembatan Pulteney Bridge, tidak jauh dari sini.”
“Kemana aku harus pergi?” tanya Regan kepada mereka berdua.
“Naik saja bus koridor tiga,” jawab mereka diangguki Regan.
Regan mengeluarkan uang dolar sejumlah makanan yang sudah dia pesan dan segera berlari untuk menuju jembatan Pulteney Bridge tanpa memperdulikan teriakan pelayan stand akan kembalian uangnya. Yang terpenting dalam pikiran Regan adalah segera datang ke sana dan memastikan bahwa suara itu adalah suara sang peramal legendaris yang mereka tadi bicarakan.
Ada perasaan yang tidak bisa Regan ungkapkan sekarang. Air mata terus menetes bersamaan dengan langkah kakinya yang terus saja menapaki jalanan. Regan berhenti di halte bus di sana, menunggu bus koridor tiga yang akan membawanya ke jembatan itu.
Tidak berapa lama, bus itu datang dan dengan cepat Regan masuk kedalam sana.
“Halte Pulteney Bridge,” ucap Regan diangguki sang petugas bus.
Petugas bus menanyakan kartu transportasi milik Regan, lelaki itu menggeleng tanda bahwa dia tidak memilikinya. Regan menyodorkan uang dollar kepada petugas.
“Lain kali harus memakain kartu transportasi ya!” ucap petugas itu mengingatkan Regan.
Regan hanya mengangguk, lelaki itu memilih untuk segera duduk di sana. Regan menatap keluar jendela bus, dedaunan yang gugur semakin membuat hati lelaki itu meronta tidak karuan.
“Kenapa rasanya aku ingin menangis?” lirih Regan menghapus air matanya.
Setelah melewati beberapa halte pemberhentian, akhirnya Regan sampai di halte yang dekat dengan Jembatan Pulteney Bridge. Regan segera turun dari bus dan berjalan menyeberangi jalan untuk mendekat kearah jembatan. Regan menatap kesekeliling jembatan yang menurutnya sudah tidak asing lagi.
“Sepertinya aku pernah datang ke mari,” lirih Regan bergumam.
Regan melihat ditepi sungai ada banyak kapal sampan yang akan membawa para wisatawan yang datang untuk berkeliling sungai itu. Regan berjalan mendekat kearah sana sambari mengingat dengan siapa dan kapan dia datang ke sana.
“Aku ingin naik kapal menyusuri sungai ini!” ucap seseorang dengan suara yang sangat dia kenali.
Regan menoleh, namun tidak ada siapapun disampingnya. Mungkinkah Regan hanya berhalusinasi sekarang?
“Pokoknya aku mau naik kapal ini, titik.” Suara itu lagi-lagi melintas di indera pendengaran lelaki itu.
Regan menutup telinganya, lelaki itu sudah tidak tahan lagi mendengar suara-suara aneh yang secara tiba-tiba dia dengar. Apa mungkin sekarang Regan menjadi manusia indigo yang bisa mendengar, merasakan dan melihat mereka yang tidak kasat mata?
“Yang perlu kalian yakini, cinta bisa membuat kalian tetap bersama.”
“Tidakkkkkkk!!!! Kalian siapa hahhh kenapa menggangguku?” teriak Regan frustasi dan menjambak rambutnya dengan kacau.
__ADS_1
---
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN FOLLOW YAA ❣️❣️❣️❣️❣️🤫