My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Godaan


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi rupanya para penumpang kapal masih betah berada di tempat pesta daripada kembali ke kamar mereka untuk istirahat maupun tidur. Mereka masih asyik mengobrol dengan para penumpang lainnya dan saling berkenalan guna mengakrabkan diri mereka.


Begitu juga Regan dan Yona, mau tidak mau mereka berdua duduk melingkar diantara para penumpang kapal yang nampaknya ingin mengenal mereka lebih dekat untuk menyambung tali silahturahmi maupun sekadar berkenalan dengan mereka berdua, si pasangan trending untuk malam ini.


“Wuah rupanya Anda seorang dosen?” tanya salah satu penumpang di sana.


“Iya, saya mengajar mata kuliah tertentu, baik di kelas strata satu maupun pascasarjana,” jelas Regan.


Istri dari lelaki itu menatap Yona penuh kekaguman.


“Tadi saya pikir Anda hanya mirip dengan Yona AW, ternyata memang benar itu Anda. Saya sangat beruntung bisa melakukan perjalanan liburan ini bersama Anda,“ ucap salah satu penumpang kapal disana yang ternyata sangat mengidolakan Yona.


Mereka juga telah mengambil foto bersama dengan Regan dan Yona sebagai kenang-kenangan yang nanti bisa mereka pamerkan di media sosial mereka dan menjadi cerita yang sangat menarik untuk mereka ceritakan nanti dengan keluarga maupun teman-teman mereka di darat begitu mereka menyelesaikan trip kapal pesiar ini.


“Kami juga beruntung bisa satu kapal dengan kalian semua yang sudah dekat seperti sanak keluarga kami sendiri. Bukan begitu Sayang?” tanya Regan tersenyum kearah Yona.


“Em, tentu saja,” jawab Yona tersenyum kearah mereka yang kini duduk melingkari dirinya dan juga Regan.


Wanita itu menguap, matanya sudah terasa berat karena angin laut yang kini menerpa wajahnya. Yona mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mengurangi kantuknya karena disana masih sangat ramai dan Yona tidak enak untuk kembali ke kamarnya lebih dulu.


Seorang pelayan menawarkan mereka minuman, semua orang mengambil minuman itu. Baru saja tangan Yona ingin meraih minuman yang masih berada di nampan, tapi sebuah tangan mencekalnya.


Yona menoleh kearah Regan, menatap Regan pandangan kesalnya.


“Tidak untuk minuman beralkohol, Sayang,“ ucap Regan menatap Yona penuh peringatan.


Ingatan Regan kembali ke waktu dimana Yona mabuk dan melakukan hal-hal gila yang membuat Regan hampir kehilangan kewarasannya sebagai lelaki sejati. Belum lagi berbagai racauan wanita itu yang sukses membuat Regan kesal setengah mati.


“Kamu tidak ingat terakhir kali kamu mabuk dengan Nadia hmm?” tanya Regan dengan Bahasa Indonesia yang pastinya tidak akan dimengerti oleh para penumpang kapal lainnya di sana.


“Menyebalkan sekali,“ jawab Yona mendengus sebal.


Wanita itu berdiri dari sana.


“Mau ke mana?” tanya Regan memegang tangan Yona.


“Kamar mandi, mau ikut?” tanya Yona balik.


“Boleh jika kamu mengizinkan,“ kata Regan mengedipkan matanya menggoda ke arah Yona.


“In your dream!” jawab Yona membuat Regan tertawa.


Yona melangkahkan kakinya meninggalkan Regan dengan beberapa penumpang kapal pesiar yang duduk melingkar satu meja dengan lelaki itu. Yona menghentakkan kakinya kesal, memangnya dia anak dibawah umur yang harus dilarang minum minuman beralkohol? Hei, umurnya hampir dua puluh lima tahun, dan Yona terbiasa hidup di luar negeri yang menganggap minuman beralkohol itu minuman yang biasa saja. Bahkan setiap makan malam dan juga pesta pasti tidak ketinggalan kehadiran minuman itu.


Yona menoleh sekilas ke arah Regan, lelaki itu terlihat sangat asyik menikmati obrolannya dengan para penumpang lainnya di sana. Yona bertanya dengan salah satu kru kapal pesiar, mencari kamar mandi yang bisa dia gunakan saat ini.


“Permisi, dimana saya bisa mencari kamar mandi?” tanya Yona dengan Bahasa Inggris.


“Lurus saja Nona, nanti ada tulisannya di sana,” jawab kru kapal pesiar .


“Terimakasih,“ ucap Yona dengan senyuman ramah khas wanita itu.


Yona berjalan mengikuti arahan kru kapal pesiar, akhirnya dia menemukan kamar mandi di sana.


*


Wanita itu menatap wajahnya di pantulan kaca kamar mandi, setelah itu dia keluar dari kamar mandi untuk kembali bergabung bersama Regan dan yang lainnya di sana.


Tanpa sengaja, wanita itu keluar berpapasan dengan seorang lelaki yang memakai topi hingga menyembunyikan hampir setangah dari wajah lelaki itu. Mata mereka bertemu beberapa detik, kemudian mereka berlalu begitu saja karena arah mereka berdua yang berlawanan.


Yona tiba-tiba merasakan bulu kuduknya meremang, mungkinkah karena gaun yang dia pakai kini gaun tanpa lengan? Angin malam sepertinya sukses menembus kulit Yona hingga wanita itu menggigil kedinginan. Yona menghentikan langkahnya, pandangannya menatap lurus ke depan sana.


Tangannya mengepal, ingin rasanya Yona berlari kearah mereka dan meneriaki para wanita itu yang terang-terangan menggoda Regan dengan pakaian sexy yang mereka kenakan kini.


Cuih, Yona berdecih melihat Regan yang terlihat sangat santai meskipun dikelilingi para wanita-wanita seperti mereka. Atau mungkin Regan menikmati apa yang kini para wanita itu lakukan kepadanya? Ah, tentu saja Regan adalah lelaki normal. Lelaki normal mana yang tidak suka dikerubungi banyak wanita seperti makanan yang dikerubungi lalat-lalat yang kelaparan.


“Cari kesempatan sekali mereka,” cibir Yona dengan matanya yang berkilat marah.


Yona mengambil minuman yang kini tengah dibawa pelayan pesta itu melewatinya, tidak tanggung-tanggung wanita itu mengambil satu botol langsung tanpa menuangkannya di gelas.


“Thank you,” ucap Yona mengangkat botol itu di depan pelayan pesta.

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk dan berpamitan untuk meninggalkan Yona melanjutkan pekerjaannya. Sebuah tepukan di bahu Yona membuat wanita itu menoleh.


“Miss Yona AW?” tanya seseorang lelaki yang diperkirakan berumur empat puluh tahunan.


“Benar,” jawab Yona menatap lelaki itu menelisik.


“Perkenalkan, saya Steve. CEO dari Paris Magazine,“ ucapnya menyodorkan tangan kepada Yona.


Paris Magazine? Iya Yona ingat perusahaan itu. Pernah beberapa kali Yona mendapat tawaran iklan dari sana, tapi sayang Yona sudah memutuskan untuk hiatus dari dunia yang telah membesarkan namanya.


Wanita itu menerima uluran tangan Steve, Yona tersenyum hangat kearah lelaki itu.


“Saya mendengar dari mantan manager Anda soal berita mundurnya Anda dari dunia modeling.” 


Yona mengangguk, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


“Iya, saya memutuskan kembali ke Indonesia untuk sebuah hal.”


‘Perjodohan dengan lelaki yang tengah tertawa dengan para wanita di sana,’ lanjut Yona dalam hatinya.


“Saya melihat Anda dan tunangan Anda tadi, saya ingin menyapa sejak tadi. Tapi tidak enak, jadi saya menunggu kesempatan ini. Mari duduk sebentar, sambil berbincang,“ ajak Steve mempersilahkan Yona duduk.


Yona mengangguk, wanita itu mengikuti Steve duduk di salah satu kursi kosong yang tak begitu jauh dari mejanya dengan Regan. Dari sini Yona bisa melihat jelas senyuman yang lelaki itu berikan kepada para wanita sialan yang menggodanya.


“Lihat saja senyumnya sampai mulutnya mau sobek!” cibir Yona mendengus kesal memakai bahasa ibunya.


Steve menatap Yona penasaran dengan apa yang baru saja Yona katakan.


“Ada masalah, Nona?”


“Hah? Oh tidak ada Mr.Steve,“ jawab Yona gelagapan.


Mereka berdua membicarakan beberapa project yang telah Yona tolak sebelumnya. Project-project itu kini tengah menjadi trending karena berhasil menembus angka penjualan yang tinggi. Rasanya Yona menyesal menolaknya, mungkin dia akan mendapatkan keuntungan besar jika menerima project itu.


“Shittt!!!” umpat Yona dengan mencengkeram botol minuman yang ada ditangannya.


Steve terbelalak, sepertinya dia tidak salah berbicara. Kenapa Yona bisa semarah itu dan mengumpat di depannya.


“Maaf?” 


Steve mengikuti arah pandang Yona, lelaki itu baru mengerti sekarang. Yona terlihat sangat cemburu melihat calon tunangannya duduk diantara para wanita disana.


“Bukankah dia lelaki yang tadi bersamamu?” tanya Steve penasaran.


“Bukan, dia hanya mirip saja. Tidak mungkin wanita sepertiku mau dengan lelaki jelalatan seperti dirinya,” keluh Yona dengan tatapan mata membara karena amarah yang kini memuncak di ubun-ubunnya.


Steve terkekeh, lelaki itu memanggil pelayan dan meminta memberikan minuman dan makanan ringan lagi untuk Yona.


Sedangkan Regan disana sejak tadi berharap Yona untuk segera datang kesana dan menyelamatkan dirinya dari para wanita-wanita itu yang terlihat ingin memakan Regan hidup-hidup. Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, entah sudah berapa kalinya dia menolak tawaran para wanita itu saat mereka secara langsung tanpa malu mengajaknya berkencan.


“Maaf, saya sudah memiliki kekasih.”


“Ah wanita asia payah dalam urusan ranjang,“ ejek mereka dengan tatapan nakal mereka.


Payah dalam urusan ranjang katanya? Bahkan tanpa menggunakan pakaian minim bahan Yona mampu membuatnya bergairah. Tanpa perlu merayunya seperti itu, Yona telah membuatnya kelimpungan. Yona juga tidak perlu melakukan hal-hal yang mempermalukan harga diri wanita seperti mereka untuk menarik perhatian Regan.


Dengan apa adanya yang ada dalam diri wanita itu, Regan dengan tegas menyatakan bahwa dia sangat mencintai wanita itu tanpa peduli segala kekurangan yang ada pada Yona.


Regan mencari sosok wanita itu di sekelilingnya, tapi wanita-wanita disana menghalanginya untuk bebas mencari sosok Yona. Baru saja wanita itu pergi dari sana, Regan sudah sangat merindukannya. Entahlah, Regan seperti kecanduan untuk selalu melihat wanita itu setiap saat.


Yona bagaikan obat saat dirinya sakit, dan juga oksigen yang bisa membantunya bernapas. Mungkin tanpa adanya Yona, Regan tidak akan bisa merasakan kebahagiaannya sekarang yang tidak bisa diukur dengan harta benda dan juga uang.


‘Kemana wanita itu? Mungkinkah dia kembali ke kamarnya?’ batin Regan merasakan kecemasan yang luar biasa dalam hatinya.


“Permisi!“ ucap Regan mencoba untuk berdiri dari sana dan mencari Yona.


Angin laut begitu dingin menusuk kulitnya, Regan sangat cemas jika mungkin saja Yona terluka ataupun sakit karena ini pertama kalinya wanita itu bermalam di kapal pesiar. Apalagi Yona tadi mengenakan gaun tanpa lengan dengan belahan kaki sampai diatas lutut.


Regan melihat sekilas Yona di belakang sana, lelaki itu menoleh kembali untuk memastikannya. Regan terbelalak melihat Yona yang kini menatapnya dengan tatapan marah. Regan langsung berdiri dari sana, lelaki itu sampai naik ke kursi dan melompat dari atas kursi untuk bisa keluar dari kerumunan para wanita disana.


Regan berlari ke arah Yona, lelaki itu melebarkan matanya saat melihat Yona memuntahkan isi perutnya. Seorang lelaki memegangi Yona, raut wajah lelaki itu tidak kalah khawatirnya dari Yona.

__ADS_1


“Yona!“ panggil Regan menghentikan langkah Steve yang hendak membawa Yona pergi dari sana.


Tubuh Yona terasa lemas, aroma minuman keras merasuk ke dalam penciuman Regan saat lelaki itu mendekati Yona.


“Anda siapa?” tanya Regan mengambil alih tangan Yona, membawa wanita itu mendekat kearahnya.


“Saya Steve, saya kenal Yona saat dia berada di Perancis,“ ucap Steve memperkenalkan dirinya.


Yona tanpa peringatan menampar Regan dengan keras.


“Kamu menikmatinya hahhhhh?” teriak Yona menatap Regan dengan marah meskipun wanita itu terlihat sangat kacau karena mabuk.


“Ayo aku akan mengantarmu ke kamar,” ucap Regan membopong tubuh Yona.


“Tunggu, Anda siapanya Yona?” tanya Steve memastikan.


“Saya calon tunangannya,“ jawab Regan.


Steve mengangguk, lelaki itu menyingkir membiarkan Regan membawa Yona pergi dari sana. 


Sialan, percuma aku menaruh obat perangsang di minumannya.


Steve yang merasa gagal untuk membuat Yona malu nantinya.


Steve sangat marah saat mendengar agency Yona menolak bekerjasama dengan perusahaannya. Padahal jika Yona yang didapuk menjadi modelnya, mungkin wanita itu akan membawa keuntungan yang berlimpah untuk perusahaannya. Ingin sekali Steve membalaskan sakit hatinya dengan membuat wanita itu malu karena video bugilnya tersebar di internet.


Siapa yang akan mengidolakan wanita itu lagi? Meskipun Yona telah mundur dan hiatus dari dunia modeling, tapi namanya tetap bertengger ditempatnya karena wanita itu sering melakukan kegiatan sosial yang menyita perhatian netizen dan akhirnya terus melambungkan nama Yona hingga detik ini.


“Hiks, kamu jahat sekali!“ isak Yona menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


Wanita itu menangis, membuat Regan mendesah karena kecolongan membiarkan Yona menenggak minuman sialan yang akan membuat Yona mengacau tidak jelas.


“Kamu puas bersama para wanita itu hahhh? Lepaskan aku, aku tidak sudi dipegang lelaki sepertimu sialan!“ teriak Yona saat Regan membawanya masuk ke dalam kamar.


Yona menatap kamar itu dengan kening berkerut.


“Kyaaa, ini bukan kamarku. Kamu membawaku kemana? Tidak, tidak, kamu tidak boleh menjamahku disini. Huuuuhuuhuu,“ isak Yona seakan-akan Regan akan menjamah tubuhnya.


Yona berlari dengan sempoyongan masuk kedalam selimutnya, tapi aneh kenapa tubuhnya terasa sangat terbakar dan dadanya berdegup sangat kencang.


“Regan, tubuhku kenapa panas sekali?” tanya Yona dengan setengah sadar.


Wajah wanita itu merah, terlihat sekali jika Yona sangat kepanasan.


“Mungkin karena aku sangat marah denganmu, pergi dari siniiiii!“ teriak Yona melemparkan bantalnya kearah Regan.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya melihat kegilaan Yona ketika wanita itu mabuk berat. Betapa terkejutnya Regan saat Yona menyobek gaunnya dengan kasar, wanita itu sampai berguling-guling tidak jelas.


Alarm dalam otak Regan berbunyi.


“Sialan, lelaki itu pasti memasukkan obat perangsang dalam minuman Yona!” umpat Regan.


Regan mundur ke belakang saat Yona kini menatapnya penuh nafsu, wanita itu tersenyum namun terlihat sangat menyeramkan bagi Regan.


“A-apa yang akan kamu lakukan?” tanya Regan waspada dengan tatapan Yona yang tidak terlihat seperti biasanya.


Yona tertawa renyah.


“Kamu harus bertanggung jawab Regan, bukankah ini alasanmu membawaku ke hotel ini?” tanya Yona berjalan ke.arah Regan.


Wanita itu semakin mendekat kearah Regan, Yona mencekal tangan Regan, menatap lelaki itu dengan membara.


“Aku tidak tahan lagi, bukakan gaun ini untukku. Hmm?” pinta Yona dengan napasnya yang kini menerpa wajah Regan hingga bulu kuduk lelaki itu meremang.


Yona melingkarkan tangannya di tengkuk Regan, wanita itu dengan berani memberikan kecupan-kecupan singkat di wajah Regan.


Tidak, ini sama saja bunuh diri. Batin Regan menolak gejolak batin yang menghinggapinya.


Regan harus mencari cara sebelum Yona melancarkan aksinya dan Regan kehilangan akalnya. Regan segera menarik tangan Yona untuk masuk kedalam kamar mandi.


“Kamu ingin kita melakukannya di sini?” tanya Yona menatap Regan tidak percaya.

__ADS_1


“Kamu bilang tubuhmu kepanasan bukan?” tanya Regan dijawab anggukan dari Yona.


Regan menyalakan shower di sana, membiarkan air itu mengguyur tubuhnya dan juga tubuh Yona dibawah pancuran shower itu. Regan menarik pinggang Yona, lelaki itu mencium Yona dengan sangat lembut, berharap sentuhan-sentuhan kecilnya bisa memuaskan libido Yona yang tengah naik karena obat perangsang yang dia minum.


__ADS_2