My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Nonton Konser Pakai Kemeja


__ADS_3

Lelaki itu berjalan kearah lantai dua kampusnya, Regan menuju Bagian Akademik Kemahasiswaan setelah selesai mengajar dua kelas sehari ini. Banyak petuga akademik yang menyapa Regan, tahu bahwa lelaki itu adalah putra ketua yayasan kampus mereka. Regan membalas sapaan mereka dan tersenyum membalas mereka satu persatu meskipun wajah mereka nampak tidak jelas di matanya.


“Pak Regan ada yang bisa saya bantu?” tanya Mbak Desi, petugas bagian akademik yang khusus mengurusi semua perihal tentang fakultas managemen di kampusnya.


“Saya ingin mengembalikan absensi mahasiswa,” jawab Regan menyodorkan absensi itu kepada Mbak Desi.


Mbak Desi itu menerimanya, “Bapak masih ada kelas lagi bukan untuk mahasiswa kelas karyawan?” tanya Mbak Desi memastikan.


Regan mengangguk, tapi sepertinya malam ini Regan tidak akan melakukan tugasnya sebagai seorang pengajar karena harus pulang lebih awal untuk menemui Yona dan pergi nonton konser ambyar seperti yang telah mereka janjikan. Rasanya Regan sudah tidak sabar lagi untuk segera menjemput Yona untuk menonton konser yang sudah Yona siapkan sebelumnya.


“Mbak, sepertinya nanti malam saya tidak bisa mengajar. Bisa tolong berikan tugas untuk mata kuliah saya nanti malam?” tanya Regan.


“Memangnya ada apa pak? Pak Regan sakit lagi?” tanya Mbak Desi penasaran.


“Ah bukan, tapi saya ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan,” jawab Regan menjelaskan.


Benar kan kalau masalah hati dan perasaan itu tidak bisa ditahan lebih lama atau mungkin ditunda? Sedetik saja Regan telat menangkap mangsanya, mungkin pejantan lain akan dengan cepat merebut Yona dari dirinya. Jangan harap Regan akan memberikan pejantan lainnya mendekati miliknya.


‘Pejantan? Memangnya ayam?’ batin Regan terkekeh geli dengan ungkapan yang dia buat sendiri.


“Iya bisa pak, nanti malam biar saya yang memberikan tugas kepada mahasiswa Pak Regan,” jawab Mbak Desi mengangguk.


“Sebentar, saya tulis dulu di kertas,” ucap Regan.


Lelaki itu duduk di kursi yang kosong, Regan mengeluarkan bolpoint dan secarik kertas dari tas kerjanya. Regan menuliskan tugas apa yang harus mahasiswanya kerjakan untuk mengisi kekosongan kelasnya nanti malam.


‘Carilah pengertian, fungsi, macam-macam, dan ruang lingkup managemen operasional’ tulis Regan di atas kertas putih yang kini ada di hadapannya.


Regan menyerahkan secarik kertas itu kepada Mbak Desi, “Terimakasih sudah mau membantu saya,” ucap Regan.


“Sama-sama pak,” jawab Mbak Desi yang merasa tidak keberatan sama sekali dimintai tolong oleh Regan.


Selain karena Regan adalah anak ketua yayasan kampusnya, Regan juga sangat baik dan juga begitu sopan kepada semua orang tanpa tebang pilih. Lelaki itu selalu bersikap sama kepada semua orang sekaligus rendah hati meskipun dirinya adalah anak dari ketua yayasan kampus yang mungkin saja bisa berlaku seenak jidatnya.


Bahkan Regan baru sekali ini telat berangkat ke kampus hanya karena mengikuti Yona sampai ke rumahnya dan menegur wanita itu yang membiarkan lelaki lain berada di rumah wanita itu meskipun mereka hanya berbicara di depan rumah saja.


Regan mengambil ponselnya, mengecek siapa tahu Yona mengirimkan pesan ataupun menelpon dirinya. Regan memang selalu menggunakan mode silent jika diirnya sedang mengajar atau mungkin berada dalam meeting pentingnya agar tidak mengganggu saat sedang serius.


“Apa yang sedang wanita itu lakukan sekarang?” gumam Regan yang tidak mendapatkan notifikasi apapun dari Yona.


Ponsel Regan baru, sedangkan ponsel lama lelaki itu sengaja Lili simpan dan mengatakan kepada Regan jika ponsel lelaki itu hilang di tempat kejadian lelaki itu kecelakaan. Lili sengaja menyimpan ponsel Regan karena ponsel itu menyimpan banyak sekali foto, video, draf panggilan dan juga pesan lelaki itu dengan Yona. Lili tidak ingin Regan memaksakan dirinya untuk mengingat kenangannya yang telah lalu bersama Yona. Lili hanya berdoa semoga kenangan Regan bisa kembali dengan sendirinya.


‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk silahkan coba lagi.’


Regan mengerutkan keningnya, kenapa nomor Yona sibuk? Memangnya apa yang kini Yona lakukan hingga nomornya sibuk? Siapa yang sedang wanita itu hubungi?


“Jangan-jangan brondong tadi pagi yang dia hubungi,” pikir Regan curiga kepada Yona.


Dengusan keluar dari mulut Regan, lelaki itu berkali-kali menghubungi Yona namun tidak ada salah satu pun panggilannya yang tersambung dengan wanita itu.


"Sepertinya Yona menyembunyikan sesuatu dariku," pikir Regan dengan cepat berlari menuju mobilnya yang ada di parkiran mobil kampusnya.


*


Yona tertawa, mendengar ucapan dari seseorang yang kini tengah berbicara dengannya lewat telepon. Wanita itu kini mengganti posisi duduknya, dengan menyesap coklat hangat yang cocok untuk cuaca dingin di daerahnya.


Wanita itu tersenyum, "Sepertinya jaketmu aku jual, Joseph," ucap Yona diikuti kekehannya.


Lelaki yang bernama Joseph terkekeh, "Aku rasa model internasional kita mulai bangkrut, bukankah begitu nona?" Tanya Joseph membuat Yona tertawa terbahak.


Joseph memang bisa saja untuk mencairkan suasana. Mereka baru saja kenal beberapa hari ini, tapi rasanya Yona begitu akrab dengan lelaki yang dia sapa dengan nama 'Jo' tersebut.


"Tidakkah kamu berniat memberikan donasi untukku, Jo?" Tanya Yona.


"Oh ayolah, kamu saja sini yang meminjamiku modal membuka satu galery lagi,” jawab Joseph membuat Yona mengulum senyumnya.


"Katakan? Berapa yang kamu butuhkan? Aku tidak mau kalau jumlahnya hanya sedikit," ucap Yona yang membuat keduanya tertawa dengan ucapan wanita itu.


"Aku lupa tengah berbicara dengan siapa, chaebol Keluarga William," jawab Joseph.


Yona mengerutkan keningnya begitu mendengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Wanita itu beranjak menuju balkon kamarnya, melihat ke bawah sana siapa yang datang.


"Regan?" Gumam Yona ketika melihat mobil Regan berhenti di garasi rumahnya.


"Kita sambung lagi nanti, Jo." Ucap Yona mematikan panggilan telepon mereka berdua.


Ada pemberitahuan panggilan tak terjawab beserta tiga pesan dari lelaki yang kini ada di bawah sana. Yona segera merapikan bajunya dan bergegas turun ke bawah.


"Non Yonaaaa, ada Den Regan kemarii," teriak salah satu pelayan memanggil Yona.


"Iya aku turun ke bawah," teriak Yona menutup pintu kamarnya dan berjalan menuruni tangga rumahnya.


Wanita itu tersenyum menyapa Regan, ya meskipun Yona tahu jika senyumannya mungkin tidak terlihat di mata lelaki itu.


"Kan kita janjian jam tujuh malam, ini baru jam lima sore," ucap Yona menatap Regan penasaran.


Regan mendekat kearah Yona, "Kamu tadi habis telponan sama siapa?" Tanya Regan memicingkan matanya curiga.


"Ah tadi temanku di Perancis nelpon. Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Yona.


"Tidak, kenapa aku cemburu," jawab Regan tidak mengakui bahwa dirinya tengah cemburu dan curiga kepada Yona karena nomor ponsel wanita itu selalu saja sibuk.


Yona meraih kerah kemeja Regan, merapikan kemeja lelaki itu.


"Wajahmu merah saat cemburu," bisik Yona di telingan lelaki itu.


Regan menarik tubuh Yona hingga jatuh dalam dekapannya. Mata mereka bertemu, degupan jantung keduanya semakin kencang saat deru napas mereka saling bertukar dan menyapu wajah mereka dengan hangat.


"Astagaaaaa, kalian ini kalau mau mesra-mesraan jangan di depan pintu gini dong. Gimana kalau ada tamu yang datang? Kalian ini sudah dewasa tapi tidak tahu tempat!" Pekik Shinta yang baru saja pulang dari acara meetingnya dengan Lili membahas perkara hubungan anak-anak mereka lebih lanjut.

__ADS_1


"Mommy?"


Yona langsung mendorong tubuh Regan untuk menjauh dari tubuhnya. Wanita itu gelagapan saat wajah mommynya menatapnya mengejek. Yona bisa menebak, mommynya pasti akan melaporkan hal ini kepada bundanya Regan dengan alibi hubungan Regan dan Yona semakin membaik dari hari ke hari.


"Kalian mau pergi?" Tanya Shinta menghampiri mereka.


Yona dan Regan mengangguk kompak, karena memang keduanya akan menonton konser ambyar bersama di salah satu mall pusat kota yang ada di Bandung.


"Kita mau nonton konser mommy," jawab Regan membuat Yona menoleh kearah lelaki itu.


Mommy? Apa lelaki itu sadar apa maksud panggilannya itu kepada Shinta?


"Konser? Kalian mau nonton konser apa memangnya?" Tanya Shinta penasaran.


"Konser ambyar," jawab Yona membuat mata Shinta terbelalak.


"Konser ambyar? Sejak kapan kamu jadi anak dangdutan Yona?" Tanya mommy Yona dengan nada tidak percaya.


Wanita dua anak itu menatap anak bungsunya dengan mata melongonya. Pasalnya, Shinta selama ini tidak pernah tahu Yona menyukai musik dangdut dan semacamnya. Yona bahkan jarang sekali menikmati alunan musik dan lebih suka menonton drama-drama luar negeri.


"Sejak sekarang lah mom," jawab Yona.


"Mommy dengar konser itu selalu ramai, hati-hati dengan barang bawaan kalian ya," peringat Shinta menasehati Yona dan Regan.


Regan mengangguk, "Regan akan hati-hati membawa Yona mommy," jawab Regan dengan sorot mata tegasnya, memperlihatkan bahwa lelaki itu memang bisa diandalkan.


"Hah kenapa aku? Memangnya aku barang bawaan?"


"Kata mommy kita harus hati-hati dengan barang bawaan kita," jawab Regan dengan polosnya.


"Itu barang, bukan orang! Kamu tidak perlu membawaku dengan hati-hati. Mungkin di sana aku yang akan repot menjaga bayi dewasa seperti dirimu," cerca Yona membuat Regan mendengus.


"Ya sudah mommy ke dalam dulu, mau istirahat setelah meeting yang sangat panjang tadi," ucap Shinta kepada Regan dan Yona.


Sepeninggalan Shinta, kedua manusia dewasa itu saling memicingkan matanya kesal. Entah apa yang membuat mereka berdua kesal. Keduanya memang tidak bisa ditebak dan selalu membuat keributan.


"Kita berangkat sekarang saja," ucap ucap Regan pada akhirnya.


"Sebentar aku ganti baju dulu, kamu tidak mau kan aku keluar dengan baju seperti ini?" Tanya Yona menunjuk pakaian yang kini dia pakai.


Hit pants hitam dan t-shirt kelonggaran yang begitu nyaman untuk dia kenakan.


"Justru aku lebih senang kamu tidak pakai apa-apa," kekeh Rehan membuat mata Yona melebar sempurna.


"Dasar dosen mesum!"


Yona menghentakkan kakinya kesal, wanita itu berlalu menuju kamarnya meninggalkan Regan sendirian di ruang tamu. Lelaki itu mengamati banyak foto yang tergantung di ruang tamu dengan berbagai ukuran dan juga pose.


Regan melangkah mendekat kearah foto gadis kecil yang menyita perhatiannya.


"Mungkin ini Yona saat dia masih kecil," ucap Regan tersenyum.


Lelaki itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Berharap dia bisa melihat foto semasa kecil wanita yang telah menyita perhatiaannya sejak awal.


"Sudah dewasa juga dia masih cantik kan?"


Regan menoleh, Hendra berdiri di belakanganya dengan pakaian formal yang masih lengkap. Menandakan jika lelaki itu baru saja pulang dari kantor.


"Daddy," panggil Regan, berjalan kearah Hendra dan mencium tangan lelaki itu.


Daddy? Pikiran Hendra langsung melayang kemana-mana. Mungkinkan Regan sudah mengingat masa lalunya? Atau ada sesuatu diantara Regan dan Yona semalam hingga lelaki itu tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan daddy.


"Menunggu Yona? Sudah ketemu?" Tanya Hendra.


"Sudah dad, Yona lagi ganti baju."


Hendra mengangguk, "Ya sudah nikmati saja waktu menunggumu, daddy keatas dulu," ucap Hendra berpamitan meninggalkan Regan di sana.


"Huhhh, memang aku selalu saja menunggunya," ucap Regan mendesah karena Yona yang tidak paham perasaannya.


Salah siapa Regan tidak mengungkapkan perasaannya secara langsung. Setelah ini, Regan akan memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya kepada Yona.


"Regan, ayo," ucap Yona menghampiri Regan.


Wanita itu sudah terlihat sangat cantik, memakai atasan tanpa lengan dipadukan dengan rok dibawah lutut berwarna senada.


Regan merasakan gejalar hangat seperti sengatan listrik ketika melihat wanita itu. Memakai apapun, dan dalam keadaan bagaimanapun. Wanita itu memang terlahir sangat cantik dan menjadi pusat perhatian semua orang.


Regan mengangguk, Yona berjalan lebih dulu membiarkan Regan mengikutinya di belakang.


"Kamu pernah menonton konser sebelumnya?" Tanya Yona saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Regan menggeleng, ini adalah kali pertama dirinya menonton konser. Pengalaman pertamanya dalam hidupnya selama dua puluh tujuh tahun ini.


"Sepertinya aku yang akan menjaga barang bawaanku," ucap Yona memasang wajah sedihnya membuat Regan tertawa di sampingnya.


"Kamu menyebalkan sekali, tapi aku suka," ucap Regan mengacak pelan rambut Yona.


Lelaki itu melajukan mobilnya ke arah mall yang menjadi tempat mereka nonton konser. Selama perjalanan, Regan menggenggam tangan Yona dengan erat, seakan takut wanita itu tiba-tiba menghilang dari sisinya.


Regan berlari kecil keluar mobil saat mereka telah sampai di pelataran parkir mall khusus mobil. Lelaki itu membukakan pintu untuk Yona, mempersilahkan wanita itu keluar dari mobil seperti tuan puteri.


"Konsernya di lantai berapa?" Tanya Regan kepada Yona.


"Di lantai enam mall ini," jawab Yona.


Lelaki itu menggandeng tangan Yona, tidak ingin wanita itu beranjak sedikitpun dari sisinya. Yona merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dirinya jelaskan. Rasa bahagia saat lelaki yang dia kira akan pergi dari hidupnya ternyata masih berdiri bersamanya hingga hari ini.


"Kamu mau beli minum?" Tanya Regan diangguki Yona.

__ADS_1


"Sebentar, aku belikan dulu," ucap Regan meminta Yona untuk menunggunya.


Lelaki itu mengatre dengan pembeli lainnya, menunggu sampai gilirannya tiba.


"Mau pesan apa kak?" Tanya pelayan salah satu kedai minuman itu kepada Regan.


"Caramel hazelnut kasih boba sama cheese juga," jawab Regan membaca daftar menu di sana.


"Berapa kak?" Tanya pelayan itu.


"Saya mau dua," jawab Regan.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya, seperti pernah melakukan hal ini sebelumnya.


"Baik saya ulangi, dua caramel hazelnut. Ada tambahan lagi?"


Regan menggelengkan kepalanya, bukan menjawab pertanyaan dari pelayan itu, melainkan menyingkirkan rasa pening di kepalanya yang tiba-tiba saja datang.


“Aku sering ke luar negeri, tapi manager dan kedua asistenku selalu menemaniku.“


Regan mengerjapkan matanya, bukankah itu suara Yona?


“Mereka selalu membelikanku minum saat menunggu jemputan dari hotel tiba.“


Iya, Regan yakin jika itu suara Yona. Tapi kenapa dalam ingatan Regan mereka berdua tengah berada di ruang tunggu bandara?


"Ini kak pesanannya, delapan puluh ribu rupiah," ucap pelayan itu menyadarkan Regan dari lamunannya.


Lelaki itu membuka dompetnya, menyodorkan uang seratus ribu kepada pelayan itu. Regan mengambil pesanannya dan berjalan menghampiri Yona, mengindahkan teriakan pelayan yang memanggilnya untuk uang kembaliannya.


"Ini minumannya," ucap Regan kepada Yona.


Yona menatap kening Regan yang berkeringat, wanita itu mengusap kening Regan dengan lembut.


"Kamu pasti merasa gerah ya mengantre?" Tanya Yona tersenyum lembut kearah Regan.


Regan hanya tersenyum sekilas kearah Yona,


"Yona, pernahkah kita berada di Bandara sebelumnya?" Tanya Regan membuat Yona tersedak minumannya.


Uhukk uhuk.


"Apa maksudmu?" Tanya Yona bingung.


"Aku seperti melihat kilas balik saat kita berada di bandara," jawab Regan membuat Yona menatapnya.


"Kamu mungkin sedang mengingat film yang pernah kamu tonton Regan," jawab Yona.


"Benarkah tapi sepertinya itu suaramu," kukuh Regan dengan ingatannya.


Yona memegang lengan Regan, "Jangan dipikirkan, ayo," ajak Yona menarik tangan lelaki itu untuk menuju lantai enam.


"Aunty Yona! Uncle Regan!"


Pekikan anak kecil menghentikan langkah Regan dan Yona. Mereka berdua menoleh, di sana berdiri Nayna bersama dengan Sisil dan juga Varo anak Racka dari istri pertamanya sebelum menikah dengan Viona.


Nayna melambaikan tangannya, berlari kearah Regan dan Yona.


"Aunty dan uncle di sini juga?" Tanya Nayna dengan binar bahagia.


Yona tersenyum, "Kebetulan sekali kita bertemu di sini sayang," ucap Yona mengacak poni Nayna gemas.


Sisil dan Varo berjalan kearah mereka,


"Kalian mau kemana?" Tanya Sisil penasaran.


"Kita mau nonton konser, kalian sendiri? Mana Viona?" Tanya Yona mencari sosok Viona yang tidak terlihat.


"Ini anak-anak ngajak nonton bioskop, Viona di rumah sama baby Zio dan baby Valeria," jawab Sisil diangguki Yona dan Regan.


"Uncle, uncle Re mau nonton konser apa?" Tanya Nayna menarik-narik ujung kemeja Regan.


"Nonton konser orang dewasa pokoknya," jawab Regan membuat Nayna memutar bola matanya kesal.


"Kalian beneran nonton konser?" Tanya Sisil menatap penampilan Regan saat ini dengan kerutan di keningnya.


"Iya Sisilllllll," jawab Yona jengah dengan pertanyaan Nyonya Corlyn itu yang sama sejak tadi.


Varo menepuk jidatnya, "Uncle, mana ada nonton konser pakai kemeja dan celana kerja seperti itu?" Tanya Varo menatap Regan dengan tatapan jenakanya.


Yona langsung menoleh kearah Regan, begitu juga Regan yang langsung menatap penampilannya sekarang.


"Iya, uncle lucu sekali," kekeh Nayna membuat wajah Regan merona malu.


"Regan Regan, mau konser apa mau ngajar kamu ini," ejek Sisil diiringi dengan kekehannya.


Yona ikut tertawa, membuat Regan menatap wanita itu dengan kesal. Kenapa juga Yona tidak mengingatkannya akan penampilannya saat ini?


"Uncle Regan lucu sekali, nonton konser pakai kemeja," kekeh Nayna terkikik geli mengejek uncle mereka.


"Regan, sepertinya kamu harus membeli baju ganti sebelum kamu menjadi pusat perhatian di konser nanti," ucap Yona terkekeh geli.




-


Kakak-kakak readers yang cakep dan tantikkkk, jangan lupa like, komen, dan follow akun author ya 🙏 Jangan lupa juga votenya untuk My Sweet Dosen supaya masuk rangking 20 besar.

__ADS_1


Untuk kakak-kakak yang berkenan cerita Queenayna, Machiko, Valeria, Zio, dan Velove bisa langsung cussss intip ke platform Dre*ame sekarang juga. Judulnya What Is Love? , My Hope , Velove Love.


Ditunggu kedatangannya 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2