My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Proses Kelahiran


__ADS_3

Usia kehamilan dari Yona kini sudah memasuki sembilan bulan, dokter sudah memprediksi HPL Yona akan jatuh pada tanggal 14 bulan ini. Berbagai persiapan telah mereka persiapkan, mulai dari aneka macam perlengkapan bayi hingga box bayi yang sudah disiapkan dalam kamar Yona di rumah keluarga William. 


Bakal ketambahan dua anggota keluarga baru di rumah mereka tentu saja membuat Shinta dan Hendra sangat antusias menanti kelahiran cucu-cucu mereka. Binar bahagia setiap harinya menghiasi rumah keluarga William. Shinta tidak ingin Yona dan Regan membeli rumah untuk mereka tempati. Nampaknya dirinya tidak rela jika harus jauh dari Yona dan menantunya.


Rumah mewah yang sering kali terlihat sangat lengang karena kesibukan penghuninya, semenjak ketambahan Regan di sana suasa rumah utama menjadi hidup dan juga menyenangkan. Belum lagi nanti akan lahir cucu lelaki kembar yang pastinya akan semakin menambah keramaian di rumah itu dengan tangisan-tangisan bayi.


“Bengkaknya semakin parah,” ucap Shinta menatap kaki putrinya dengan tatapan tidak tega.


Kaki bengkak bagi wanita hamil memang hal yang biasa, akan tetapi juga menjadi pemandangan yang tidak menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya.


“Dokter sudah memberikan obat, Mommy tidak usah khawatir,” jawab Yona mencoba mengurangi kekhawatiran dalam diri mommynya.


Shinta duduk di samping kaki Yona, menyentuh kaki putrinya yang saat ini terlihat mengenaskan.


“Saat ini mungkin tidak ada lagi yang mau menawarimu iklan,” ejek Shinta menggelengkan kepalanya.


“Ada lah, siapa tahu banyak susu ibu hamil, dan perlengkapan bayi yang mau endorse Yona,” sahut Yona membela dirinya.


Shinta tertawa renyah, meskipun masih banyak job endorse berdatangan pada Yona namun Yona rupanya tidak pernah menerimanya. Wanita itu benar-benar ingin fokus atas kehamilannya yang pertama, dia tidak ingin kenikmatan sebagai seorang ibu hamil menjadi terpecah perhatiannya karena harus mengurus endorse-endorse yang terus berdatangan kepadanya.


Lagi pula, Yona dan Regan tidak kekurangan apapun selama ini. Penghasilan mereka berdua setiap bulannya sudah lebih dari kata cukup jika digunakan memenuhi segala kebutuhan mereka berdua. Regan sepertinya menunaikan semua ucapannya, lelaki itu selalu memberikan segalanya yang terbaik untuk Yona dan keluarganya. Regan tidak ingin istri dan keluarganya merasa kekurangan suatu apapun.


Lelaki itu juga telah diangkat sebagai Kepala Program Studi jurusan Management Bisnis di kampus milik yayasan keluarganya. Meski tugasnya bertambah tiga kali lipat dari biasanya, Regan selalu menyempatkan waktu untuk Yona dan kedua bayi dalam kandungan wanita itu.


“Semua pelengkapan si kembar sudah siap kan?” tanya Shinta memastikan bahwa kebutuhan kedua cucunya tidak ada yang terlewatkan.


Suara salam dari arah pintu membuat kedua wanita beda generasi menoleh. Di sana berdiri Ariana dan Machiko di sampingnya berjalan masuk ke dalam rumah.


“Grandma!” pekik Machiko berlari memeluk Shinta.


“Hei, sudah tiga hari kamu tidak datang ke rumah ini, Sayang,” cibir Shinta.


Kini keluarga Marva dan Ariana telah membeli satu rumah mewah yang tidak jauh dari rumah utama keluarga William. Meski Shinta dan Hendra sempat menolak niat putranya membeli rumah baru, tapi tetap saja bukan Marva namanya jika tidak bisa membujuk kedua orang tuanya.


Marva berdalih, bahwa rumah baru mereka sangat dekat dengan sekolah Machiko, putra tunggal mereka. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Shinta dan Hendra menyetujui kepindahan Marva dan keluarganya ke rumah baru mereka.


“Apa yang Kak Ana bawa?” tanya Yona menautkan kedua alisnya bingung.


Ariana meletakkan beberapa paper bag di atas meja ruang santai keluarga William. 


“Buat keponakan kembar Kakak lah,” jawab Ariana tesenyum, mengelus perut Yona yang kini begitu buncit karena usianya yang tinggal menghitung hari saja sudah melahirkan kedua jagoan idaman keluarga besar mereka.


“Astaga Kakak, kalian sudah mengisi penuh kamar baby dengan barang-barang pemberian kalian semua,” tutur Yona menggelengkan kepalanya.


Bukankah seharusnya dia dan Regan yang sangat antusias atas kelahiran kedua anak kembar mereka? Tapi kenapa justru keluarga dan seluruh teman-temannya yang terlihat begitu antusias sampai-sampai mengirimi banyak perlengkapan bayi pada Yona. Bahkan kamar baby yang nantinya akan digunakan ketika mereka beranjak besar sudah penuh oleh kiriman-kiriman dari mereka semua.


Tapi itu sangat menguntungkan bagi Yona maupun Regan, mereka jadi tidak perlu repot-repot membeli berbagai keperluan anak mereka nantinya.


“Aunty, kapan kedua adik bayi lahir?” Machiko menyentuh perut auntynya, mengelusnya dengan perlahan.


“Chiko mau mereka lahirnya kapan?” tanya Yona balik.

__ADS_1


Machiko nampak berpikir sejenak. “Em … kapan ya? Sekarang juga boleh,” sahut Machiko membuat Yona begitu gemas dengan keponakannya.


Meski status sebagai cucu satu-satunya keluarga William akan tercabut dari Machiko, tetapi Marva dan Ariana tidak pernah merasa iri ataupun memiliki perasaan yang buruk terhadap anak-anak Yona dan Regan nantinya. Mereka berdua malah sangat antusias menanti kelahiran anak kembar pasangan itu, menanti keponakannya lahir ke dunia ini.


Tidak ada perasaan apapun selain bahagia, tahta pada kodratnya tetap menjadi milik Machiko selaku anak dari Marva sekaligus cucu pertama Shinta dan Hendra.


“Regan belum pulang juga, Yon?” Ariana duduk di sofa kosong, meraih cemilan dari sana. Istri dari Marva memanggil salah satu pelayan untuk membuatkan dirinya dan Machiko minuman.


Yona mengelus perut buncitnya, menghela napasnya panjang karena napas wanita itu terasa sesak bersamaan membuncitnya perut miliknya karena sang buah hati berkembang di dalam sana.


“Nanti jam lima katanya,” ujar Yona menjawab pertanyaan dari kakak iparnya.


“Bagaimana perutmu? Sudah ada kontraksi?” 


Dari pengalamannya sendiri, tiga hari sebelum Machiko dia lahirkan di dunia dirinya selalu saja merasa mulas, tidak bisa tidur setiap malam.


“Rasanya seperti mulas dua dari tadi malam. Sepertinya jagoan-jagoanku bakalan jadi anak daddy nantinya. Mereka selalu diam setiap kali daddynya mengelus mereka, tidak mau diajak tidur sebelum mencium keringat Regan,” kikik Yona menggelengkan kepalanya.


Antara percaya dan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Yona tidak pernah bisa tidur jika perutnya tidak dielus Regan sampai kantuk menyergapnya. Yona juga lebih manja kepada Regan, selalu menempel layaknya perangko kertas setiap kali Regan berada di rumah. Sebelumnya, Yona tidak pernah percaya soal nyidam aneh para ibu hamil. Semenjak dirinya sendiri mengalaminya, Yona pada akhirnya mengerti dan faham mengapa para ibu hamil bertingkah aneh dan kekanakan.


Hubungannya dengan Regan juga berjalan baik-baik saja sampai saat ini. Satu tahun sudah mereka melewati perjalanan rumah tangga. Di antara mereka berdua, Reganlah yang selalu mengalah setiap kali dirinya dan Yona bersitegang atas sesuatu masalah. Tidak ingin memperpanjangnya, lelaki itu lebih memilih mengalah dari pada harus bertengkar.


“Machiko juga sama, dulu kakakmu yang nyidam aneh-aneh malah,” tutur Ariana menceritakan bagaimana pengalamannya dulu saat mengandung Machiko. Ketika itu, Marva justru yang nyidam aneh. Tidak tanggung-tanggung, Marva ingin membeli satu pohon mangga muda milik tetangga mereka. 


Yona tertawa, setiap kali mengingat kelakuan kakak lelakinya itu memang selalu membuatnya ingin tertawa ngakak sampai gulung-gulung. Untung saja dirinya tengah hamil saat ini, jadi cukup tertawa saja, tidak lebih.


Raut wajah Yona berubah, wanita itu dengan cepat mencengkeram lengan ibunya di sana.


“Why? Kamu kenapa Yona?” tanya Shinta terlihat khawatir.


Shinta berdiri, sedangkan Ariana menghampiri adik iparnya itu.


“Atur napasmu, bukankah HPLnya masih tiga hari lagi?” tandas Ariana tidak kalah gugupnya dengan Yona.


Yona menarik napasnya, menghembuskannya dengan kasar. Cairan terasa merembes dari kedua pahanya.


“Mommy, Yona sepertinya ngompol,” terang Yona saat merasakan bagian bawahnya basah oleh sesuatu.


Shinta dan Ariana menatap ke arah kaki Yona yang kini dipenuhi oleh ketuban. Ariana menutup mulutnya, dengan cepat wanita itu berteriak memanggil sopir pribadinya.


“Ketuban Yona sudah pecah, Mommy dan Kak Ariana bawa Yona ke rumah sakit. Iya kamu langsung ke sana saja,” pungkas Shinta berbicara dengan Regan dalam telepon.


Kedua wanita itu memapah tubuh Yona hingga ke mobil, dengan cepat Ariana berlari menuju kamar bayi untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah mereka persiapkan untuk hari kelahiran kedua anak kembar Yona. Mereka sudah siap, maju mundurnya tanggal persalinan.


Keringat bercucur dari kening Yona, mulutnya meringis sakit tak tertahankan dari perutnya. Tangan wanita itu mere*mas lengan ibunya dengan erat. Menyalurkan kesakitannya di sana.


“Jangan mengejan, atur napasmu dengan baik. Tidak boleh mengejan sebelum sampai di rumah sakit,” peringat Shinta kepada Yona.


Shinta tidak ingin cucunya lahir di dalam mobil, sekuat tenaga Yona harus bisa menahan diri agar tidak mengejan sebelum sampai di rumah sakit dengan tenaga medis professional yang akan menangani dirinya untuk melahirkan kedua jagoannya hadir di dunia ini.


Menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mereka sampai di Rumah Sakit Kasih Bunda. Ariana keluar memanggil perawat yang berjaga, meminta para perawat menyediakan kursi roda untuk Yona.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama, para perawat membantu Yona duduk di kursi roda dan membawanya ke dalam ruang persalinan sambari meminta pihak keluarga mengisi data pasien dan keluarga guna menyetujui segala proses persalinan nantinya sebagai pihak penanggung jawab atas Yona.


“Regan, panggil Regan, Mommy,” ucap Yona dengan napas tersengal-sengal.


“Mommy sudah mengabarinya, dia dalam perjalanan ke mari,” terang Shinta kepada Yona. “Tenangkan dirimu, bersiaplah untuk melahirkan jagoan-jagoan kalian,” lanjutnya menyemangati Yona agar bisa bertahan dalam proses persalinan normalnya.


Meski banyak yang mengatakan bahwa melahirkan anak kembar terlalu berisiko jika melalui proses persalinan normal, akan tetapi dokter pribadi mereka menyatakan bahwa posisi bayi Yona dalam keadaan baik dan bisa bersalin secara normal tanpa perlu operasi caesar. Semua telah mereka pasrahkan pada kehendak Tuhan, berdoa untuk kelancaran dan keselamatan ibu dan anak yang akan lahir.


Tangisan Yona akhirnya tidak terbendung juga, wanita itu baru merasakannya sekali. Seperti itulah perjuangan seorang ibu. Yona menarik tangan Shinta, memeluk pinggang ibunya dengan erat.


“Mommy, maafkan Yona atas semua kesalahan Yona, Mommy,” isak tangis Yona menghadapi kelahirannya.


Yona meminta maaf kepada ibunya, begitulah yang sempat dia dengar. Bahwa restu ibu akan melancarkan persalinannya.


“Mommy selalu memaafkanmu. Sayang, jangan menyusahkan mommy kalian ya, cepat keluar,” doa Shinta mengelus perut Yona.


Seorang bidan membantu Yona mengganti bajunya dengan baju bersalin.


“Bukaan tujuh,” ucap bidan yang mengecek kondisi Yona saat ini.


Yona mencengkeram lengan ibunya. “Mommy, mana Regan?” isak Yona seperti anak kecil yang tidak ditunggui orang tuanya ketika pertama kali masuk sekolah.


“Aku di sini, Sayang,” jawab Regan dengan raut wajah pucat pasi.


Lelaki itu tengah mengadakan rapat yayasan untuk membahas kurikulum baru penerimaan mahasiswa baru pada kampusnya. Tapi telepon masuk dari mertuanya membuat lelaki berlari keluar dari ruang rapat tanpa memikirkan hal lainnya selain kelahiran anak-anaknya dan keselamatan Yona.


Regan menghampiri istrinya yang kini berbaring di atas ranjang pasien. Lelaki itu mengelap keringat istrinya dengan lembut, mengecup kening Yona dengan penuh kasih sayang.


“Kita akan berjuang bersama,” bisik Regan seperti mantra penyemangat untuk Yona.


Dokter masuk ke dalam ruangan. 


“Siapa yang akan menemani persalinan? Suami atau ibunya?” tanya dokter. Sudah menjadi peraturan rumah sakit bahwa hanya satu keluarga yang boleh menemani selama proses persalinan.


“Suaminya,” sahut Regan dan Sinta bersamaan.


Shinta mengelus perut Yona sekali lagi sebelum melangkah keluar dari ruang persalinan. Ariana menghampiri ibu mertuanya, menuntun Shinta untuk duduk di kursi tunggu sambari berdoa atas kesalamatan Yona dan anak-anaknya.


Di dalam sana, proses persalinan mulai berlangsung. Dokter dan dua bidan membantu, membimbing, serta mengarahkan Yona.


“Satu kali mengejan harus keluar,” ucap dokter itu kepada Yona.


Tangan Yona meraih lengan Regan, memejamkan matanya dan melakukan satu kali sentakan untuk melahirkan anak pertama mereka. Pekikan Yona keluar bersamaan dengan keluarnya anak pertama mereka. 


Bayi itu menangis begitu kencang, membuat Regan dan Yona saling menatap. Regan tidak kuasa menahan air matanya mendengar suara tangisan anak pertamanya. Tangisan bayi yang sangat kencang terdengar juga dari luar ruangan. Di luar ruangan sudah datang juga Hendra dan Marva, mereka turut menemani jalannya persalinan anggota baru keluarga William.


Dokter meminta Yona untuk mengumpulkan tenaganya lagi, napas Yona terengah-engah. Wanita itu menarik napasnya lagi lalu menghembuskannya dengan kasar. Dokter membimbing Yona untuk melakukannya sekali lagi demi anak keduanya yang harus segera dilahirkan sebelum kehabisan air ketuban di rahimnya.


“Sekali lagi, tarik napas … hembuskan,” pandu dokter itu membimbing Yona.


“Arkhhh!” ringis Yona ketika satu bayi keluar dari pusat tubuhnya.

__ADS_1


Bidan meraih anak kedua Yona, namun bayi itu tidak menangis, tidak juga memiliki detak jantung.


“Dokter, bayinya tidak bernapas,” ujar bidan mendekatkan tubuh anak kedua Regan dan Yona pada dokter yang menanganinya.


__ADS_2