My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lili


__ADS_3

Darah bercucuran keluar dari kepala lelaki itu, disampingnya Yona memegang tangan Regan dengan satu tangannya menekan kepala Regan dengan kain sobekan dari bajunya berharap bisa mengurangi pendarahan lelaki itu. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Yona tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan lelaki yang sangat dia cintai.


“Regan, aku mohon bertahanlah. Aku mohon kepadamu,” lirih Yona dengan air matanya yang terus saja meluruh bersamaan dengan cucuran keringat di kening wanita itu.


Pikiran Yona hanya satu, semoga Regan bisa selamat dan bisa kembali sehat seperti semula.


Citttttttt, mobil polisi yang dia tumpangi sudah berhenti di pintu masuk Unit Gawat Darurat rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Polisi itu berlari masuk kedalam rumah sakit untuk memanggil perawat yang ada disana.


“Ada pasien, kepalanya mengeluarkan darah karena hantaman benda tajam,” ujar polisi itu sontak saja membuat para perawat dan dokter yang berjaga disana berlari keluar.


“Bawa ranjang pasien, sekarang juga. Cepat!” teriak sang dokter memberikan komando kepada anak buahnya.


Mereka berlari menuju mobil, para perawat laki-laki membantu untuk membopong tubuh Regan dan dibaringkan di ranjang rumah sakit. Dokter jaga mengecek kondisi Regan lewat mata lelaki itu dan mengecek denyut jantung Regan.


“Detak jantungnya lemah,” kata sang dokter meminta perawat membawa masuk pasien ke dalam.


“Siapkan ruang operasi, cek tekanan darah dan cari darah yang cocok untuk tranfusi darah,” jelas sang dokter diangguki para perawat disana.


Dokter itu menoleh ke arah Yona.


“Bisa mengurus data diri pasien dan mengisi persetujuan operasi untuk pasien?” tanya dokter itu dijawab anggukan dari Yona.


Yona berjalan kearah meja administrasi, semua orang menatapnya karena darah yang memenuhi baju wanita itu ditambah baju bagian bawahnya sobek membuatnya terlihat seperti atasan crop. Belum lagi wajahnya yang sembab karena air mata. Yona nampak seperti hancur lebur menjadi satu.


Dengan langkah kakinya yang gemetar, Yona melangkahkan kakinya dan duduk di meja administrasi.


“Anda wali pasien UGD yang baru saja masuk?” tanya petugas administrasi itu dijawab anggukan lesu dari Yona.


Wanita itu menatap nanar meja putih didepannya, pandangannya kosong dengan tangannya yang bergetar.


“Minum,” lirih Yona yang masih bisa mereka dengar.


Perawat memberikan Yona minuman air putih.


“Tenangkan diri anda, dokter pasti akan menanganinya dengan sebaik mungkin. Setelah tenang, isi formulir ini dan tanda tangani persetujuan operasi untuk pasien,” ucap perawat itu mengelus pundak Yona yang masih bergetar, antara ketakutan dan juga sangat cemas.


Yona mendongak menatap perawat di sana.


“Bisakah aku meminjam telepon rumah sakit? Ponselku tertinggal di mobil,” jelas Yona.


Perawat itu mengangguk. “Silahkan,” jawabnya tersenyum lembut mengerti bagaimana kondisi Yona saat ini.


Tangan wanita itu bergetar menekan tombol angka yang menjadi nomor telepon rumahnya, suara telepon tersambung membuat hatinya sedikit merasa lega.


“Hallo? Dengan keluarga William di sini?”


Itu suara mommynya!


“Mommy, mommy ini Yona,” isak Yona membuat Shinta menegang disana begitu mendengar suara putrinya yang terdengar sedang menangis terisak.


“Yona? Ini benar dirimu?” tanya Shinta memastikan jika telepon yang masuk bukan telepon para penipu yang sengaja membuat drama seakan putrinya tengah dalam musibah dan membutuhkan uang.


“Mommy, Regan, hiks,” isak Yona menyebut nama calon menantunya membuat Shinta yakin itu suara putrinya.


“Apa yang terjadi Sayang? Di mana kalian? Kenapa sampai selarut ini kalian belum juga pulang?” tanya Shinta sangat cemas karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih dua puluh menit tapi putrinya belum juga menunjukkan tanda-tanda pulang ke rumah.


Sejak tadi Shinta telah menunggu kepulangan Yona dengan perasaan yang sangat cemas. Payud*ra wanita itu terasa nyeri, kebiasaan yang seperti firasat seorang ibu ketika anak-anaknya dalam masalah atau sedang tertimpa kesulitan.


“Yona di Rumah Sakit Muktiharjo, Mommy. Mommy cepat ke sini. Yona takut sendiri Mommy,” isak Yona dengan berurai air mata, tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekelilingnya yang menatapnya dengan penasaran.


“Iya, Mommy akan ke sana sekarang juga, tenangkan dirimu Sayang,” ucap Shinta menenangkan putrinya.


Shinta menutup teleponnya, wanita itu berlari memasuki rumahnya dan membangunkan suaminya yang baru saja tertidur setelah menunggu Yona yang tidak pulang-pulang ke rumah. Shinta mengguncang tubuh suaminya dengan tidak sabar.


“Sayang, Sayang bangun! Yona ada di rumah sakit,” ucap Shinta membangunkan suaminya.


Mata Hendra langsung terbuka sempurna begitu mendengar nama putrinya disebut sang istri. 


“Apa? Yona di rumah sakit?” tanya Hendra memastikan pendengarannya tidak keliru.


Shinta mengangguk, wanita itu mengambil outer panjang yang menutupi baju tidurnya karena tidak mungkin jika dia harus berganti baju lebih dulu karena anaknya sedang kesusahan disana.

__ADS_1


“Tidak tahu, dia menangis menyebut nama Regan dan mengatakan mereka di rumah sakit,” jelas Shinta langsung saja membuat Hendra bangkit dari tidurnya dan mengambil jaketnya.


“Hubungi keluarga Regan,” ucap Hendra kepada istrinya.


Mereka berdua berlari kecil menuju mobil, Shinta merasakan dadanya berdebar tidak karuan mengingat suara isakan Yona yang terdengar begitu menyayat hatinya.


“Hallo Lili?” ucap Shinta meremas tangannya gugup, takut jika Lili akan pingsan begitu mendengar berita yang akan dia sampaikan.


“Shinta? Ada apa menelpon semalam ini?” tanya Lili penasaran.


“Bisa datang ke Rumah Sakit Muktiharjo sekarang? Anak-anak kita ada di sana,” ucap Shinta dengan matanya terpejam, berharap jika Lili tidak pingsan saat ini.


“Apa yang terjadi Shinta? Anak-anak tidak apa apa kan?” pekik Lili terduduk lemas di pinggir ranjangnya membuat Septian terbangun mendengar suara pekikan istrinya.


“Aku juga belum tahu, segera ke sana ya. Aku ini perjalanan ke rumah sakit,” ucap Shinta.


“Iya aku akan ke sana segera,” jawab Lili menutup teleponnya.


Wanita itu menoleh ke arah suaminya yang terlihat tengah menunggunya memberitahu alasan Lili terpekik seperti itu dengan wajahnya yang terlihat sangat cemas.


“Sayang, ada apa?” tanya Septian menghampiri istrinya.


“Regan dan Yona ada di rumah sakit. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga,” ucap Lili mere-mas ponselnya dengan cemas.


Baik Lili maupun Septian segera berangkat menuju Rumah Sakit Muktiharjo secepat mungkin. Lili menangis dalam perjalanannya kesana, dalam hatinya dia berdoa semoga Regan dan Yona baik-baik saja.


“Sayang tenangkan dirimu,” ucap Septian menggenggam tangan Lili, memberikan kekuatan kepada istrinya.


Lelaki itu mengambil air minum dari dalam dashboarnya, memberikannya kepada Lili untuk membuat istrinya lebih tenang.


Lili menerimanya, dan meneguknya perlahan mengisi tenggorokannya yang terasa kering.


‘Semoga kalian baik-baik saja,’ batin Lili berdoa untuk keselamatan Regan dan Yona.



Shinta dan Hendra berlari memasuki rumah sakit Muktiharjo yang Yona sebutkan dalam teleponnya. Shinta berjalan ke arah meja informasi untuk menanyakan dimana dimana Yona dan Regan saat ini.


“Pasien yang baru saja masuk,” imbuh Hendra kepada petugas informasi.


Petugas itu membuka daftar pasien yang baru saja masuk.


“Tidak ada pasien atas nama Yona, Pak,” ucap petugas informasi membuat Shinta dan Hendra saling menatap.


Itu artinya Regan yang tengah dirawat di rumah sakit ini!


“Reganera Abimanyu Louis,” ucap mereka berdua bersamaan.


“Masih ada di ruang operasi, silahkan Bapak dan Ibu lurus saja nanti belok kanan,” jelas petugas informasi itu diangguki mereka berdua.


Shinta dan Hendra berlari kecil menuju ruang operasi, mereka melihat sosok Yona berdiri didepan ruang operasi dengan tubuhnya yang penuh dengan darah.


“Yona sayang,” pekik Shinta memanggil putrinya.


Yona menoleh, wanita itu menangis semakin kencang saat melihat mommy dan daddynya berlari kearahnya. Wanita itu langsung berhambus memeluk mommynya dengan erat,


“Mommy, Mommy ... Regan ada di dalam ruang operasi,” isak Yona dengan tubuhnya yang bergetar.


Shinta mengelus puncak kepala putrinya, Shinta menuntun Yona untuk duduk di kursi tunggu.


“Yona, apa yang terjadi?” tanya Shinta memegang kedua tangan putrinya, menenangkan putrinya yang terus saja menangis meski matanya sudah sembab karena terlalu lama menangis dan mengeluarkan air mata.


“Kami pulang dari rumah Naomi, ada motor yang jatuh di depan kami. Regan menolongnya, tapi ternyata mereka perampok. Mereka membawa pisau, Yona memukul salah satu penjahat itu dengan linggis sebelum mereka menusuk Regan, hiks. Regan mengalahkan satu penjahat lainnya, tapi ternyata penjahat itu mengambil linggis yang Yona buang dan menghantamkannya kepada Regan. Hiks, semua ini tidak akan terjadi kalau Yona tidak bersikeras mengantarkan undangan itu ke rumah Naomi, Mommy,” isak Yona dalam pelukan mommynya.


Hendra mengelus pundak putrinya, memberikan kekuatan kepada putrinya yang tengah mengalami kejadian buruk.


“Shinta, Yona, apa yang terjadi? Di mana Regan?” 


Mereka semua menoleh ke asal suara, Lili berdiri disana dengan wajah cemas dan juga pucat pasi. Septian mengajak istrinya untuk duduk di samping Yona,


“Apa yang terjadi Yona? Mana Regan?” tanya Lili dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Re..regan berada di dalam ruang operasi, Bunda,” lirih Yona menundukkan kepalanya, bersamaan dengan air matanya yang meluruh.


“A..apa yang terjadi? Kenapa putraku berada didalam ruang operasi?” tanya Lili dengan air mata yang siap menetes sekarang juga.


“Iya Yona, apa yang terjadi?” tanya Septian tidak kalah khawatirnya dari Lili.


Mereka tidak bisa membayangkan jika terjadi hal yang buruk kepada Regan. Regan adalah anak mereka satu-satunya, putra sematawayang mereka yang mereka jaga dengan penuh perhatian dan juga penuh dengan kehati-hatian. 


Hendra menjelaskan semuanya kepada Lili dan juga Septian, mereka berhak tahu karena mereka adalah orang tua Regan.


“Di mana penjahatnya? Polisi sudah mengurusnya?” tanya Septian geram.


Awas saja jika Septian bertemu dengan penjahat itu, dia pasti akan membalaskan setiap luka yang sudah Regan dapatkan karena ulah mereka.


Yona tersentak, wanita itu memikirkan bagaimana kondisi pelaku yang dia pukul dengan linggis. Jangan-jangan lelaki itu meninggal dunia ditempat?


Yona menoleh ke arah sang daddy.


“Daddy, coba cari tahu pelaku yang Yona pukul pakai linggis. Dia tidak mati kan?” tanya Yona dengan matanya merah berlinang air mata.


Baik Hendra maupun Shinta, mereka berdua sama-sama terkejut mendengar ucapan Yona. Tidak menyangka jika ada kejadian lebih buruk lagi dari perampokan, perlindungan diri yang menghilangkan nyawa orang lain.


“Tenangkan dirimu, Daddy akan bicara dengan polisi yang menangani kasus ini,” ucap Hendra mengelus puncak kepala putrinya.


Hendra merogoh ponselnya, lelaki itu memberikan perintah kepada tim kuasa hukum keluarga William untuk mengurus kasus ini hingga menemukan pelaku yang melarikan diri. Hendra tidak akan membiarkan mereka lolos dari jeratan hukum.


Lampu operasi telah mati, pertanda bahwa operasinya telah selesai di lakukan. Pintu ruang operasi terbuka, dokter keluar dari sana.


“Dokter, bagaimana hasilnya?” tanya Lili menghampiri dokter itu.


Dokter yang menangani Regan mengangguk.


“Alhamdulillah, puji syukur karena tempurung kepala pasien tidak sampai retak parah. Pasien butuh istirahat total dan masih belum bisa dijenguk,” jelas sang dokter diangguki mereka semua.


“Tapi kondisinya sudah normal kan dokter? Putra saya tidak gagar otak kan?” tanya Lili merundung dokter itu dengan pertanyaan.


“Kita lakukan pengecekan setelah pasien sadar ya bu, untuk kondisi vitalnya sangat bagus tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


Suara ranjang yang didorong membuat mereka semua menoleh, terlihat Regan terkapar tidak berdaya diatas ranjang yang didorong oleh dua perawat laki-laki. Lili langsung menghampiri Regan melihat bagaimana kondisi anaknya.


Air mata Lili meluruh tanpa peringatan melihat kepala putranya yang kini penuh dengan perban. Wanita itu menyentuh tangan putranya,


“Bunda mohon Sayang, kamu harus kuat dan membuka kembali matamu,” ucap Lili terisak.


“Regann,” isak Yona bergetar melihat Regan memejamkan matanya disana.


Lelaki itu terlihat begitu damai dengan matanya yang terpejam, bibir lelaki itu sangat pucat dengan perban yang melingkari kepala lelaki itu. Andai saja Yona tidak ngeyel untuk mampir ke rumah Naomi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


Semua ini salah Yona, tidak seharusnya Regan berada di ranjang itu. Mungkin Yona yang seharusnya ada disana jika Regan tidak mendorongnya saat itu karena tahu salah satu penjahatnya membawa linggis yang Yona lempar untuk memukul salah satu diantara mereka.


Yona merasa sangat berdosa dan bersalah atas kejadian yang menimpa Regan.


“Loh, saya meminta Anda untuk beristirahat dan dirawat juga. Kondisi Anda sangat lemah, apalagi setelah tranfusi darah yang Anda lakukan,” ucap sang dokter menatap Yona kaget karena melihat Yona masih berdiri disana meskipun dengan tubuh yang sangat lemah.


Shinta menatap tangan Yona, semua orang di sana juga baru menyadari jika Yona baru saja melakukan tranfusi darah. Belum lagi baju wanita itu yang terlihat sangat lusuh penuh dengan noda darah, ditambah dengan sobekan kasar di baju wanita itu.


“Suster, tolong rawat nona ini,” ucap sang dokter memberikan perintahnya kepada salah satu suster yang lewat.


“Baik Dok,” jawab suster itu.


Shinta memegangi tangan Yona, suster yang diberikan perintah oleh dokter yang menangani Regan datang kembali dengan membawa kursi roda untuk Yona.


“Mommy, tapi Regan, Yona tidak mau berpisah dari Regan,” isak Yona menolak ketika suster memintanya untuk duduk di kursi roda dan menerima perawatan.


“Sayang kamu harus dirawat juga, tubuhmu sangat lemas,” ucap Shinta memberikan pengertian kepada Yona.


Yona menatap Regan sekali lagi, memastikan jika lelaki itu akan baik-baik saja. Baru saja tangan Yona berusaha untuk menyentuh tubuh Regan, tangannya ditepis kasar oleh Lili. Bunda Regan itu menatap Yona, matanya menyala seakan menyalahkan Yona atas musibah yang terjadi kepada putranya.


Bukankah seharusnya Yona yang terkapar tidak berdaya di sana, bukan malah Regan!


“Aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi dengan putraku!” hardik Lili membuat seluruh orang disana menatapnya tidak menyangka.

__ADS_1


“Bunda?” “Lili?” ucap mereka bersamaan.


__ADS_2