My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Makan Malam Bersama Pasangan Ruwet


__ADS_3

Yona sudah siap dengan gaun semi formal yang kini sudah dia pakai melapisi tubuh idealnya. Wanita itu menghampiri Regan yang duduk di ruang tamu menunggu dirinya selesai bersolek. Salah siapa lelaki itu mengajak Yona makan malam secara dadakan? Jangan salahkan Yona kalau Regan jadi menunggunya hampir 45 menit lamanya.


Yona mendekat kearah Regan, lelaki itu nampaknya sangat kelelahan mengajar seharian penuh sampai tertidur di sofa ruang keluarganya. Kasihan sekali, Regan masih tetap semangat mengajar meskipun memiliki keterbatasan penglihatan yang tidak bisa mengenali wajah orang. Bahkan semua mahasiswa dan para rekan kerjanya di kampus selalu memperkenalkan diri mereka lebih dulu ketika bersitatap dengan lelaki itu.


“Regan? Hei aku sudah siap,” ucap Yona lembut mengguncang pelan lengan Regan.


Tidak ada sahutan, Yona kembali mengguncang pundak Regan sampai lelaki itu mengerang tidak jelas.


“Aku sudah siap?” ucap Yona menyadarkan Regan dari alam mimpinya.


“Enghh, aku menunggumu lama sekali sampai-sampai aku ketiduran,” jawab Regan mengerjapkan matanya, membuka mata itu secara penuh.


“Yaaa!!!” pekik Yona ketika tubuhnya tiba-tiba ditarik Regan hingga duduk di pangkuan lelaki itu.


Regan memeluk tubuh Yona, menyandarkan kepalanya di pundak Yona. Regan merasa sandaran itu adalah sandaran ternyaman yang belum pernah dia rasakan selain orang tuanya. Kini ada satu orang lagi yang membuat Regan merasa jika dialah sandaran penyokong kehidupan Regan.


Dipeluknya wanita itu dengan erat, menghirup aroma cinta yang memabukkan hingga membuat dadanya bergemuruh seperti tabuhan gendering perang. Dielusnya tangan Yona, seakan tangan itu adalah tangan yang nantinya akan membangkitkan dirinya saat terpuruk. Regan mabuk, lelaki itu telah dimabuk cinta dari kekasihnya. Regan telah mabuk oleh rasa yang menggebu di dalam hatinya. Perasaan membuncah, seirama dengan denyut nadinya yang mungkin akan melemah jika kehilangan wanita itu.


“Aku mencintaimu,” ucap Regan disela-sela pejaman matanya.


Tubuh Yona menegang, seakan ada aliran listrik yang kini mengalir dalam darahnya. Wanita itu mengubah posisi duduknya, berhadapan dengan Regan. Posisi mereka sangat dekat, tidak ada satu jengkal tangan. Deru napas mereka saling bertukar, menyatuh dan melebut menjadi satu kenikmatan yang disebut cinta.


“Aku juga mencintaimu,” jawab Yona, memberanikan dirinya mencium singkat bibir Regan.


Regan mengulum senyumnya, lelaki itu menarik tengkuk Yona. Merasakan kenikmatan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Bibir mereka menyatu, saling menyecap satu sama lain. Tangan Yona melingkar di leher Regan hingga tubuh mereka semakin bersemangat untuk memberikan pagutan kasih sayang diantara mereka berdua.


Pagutan itu semakin dalam, sedalam jurang perasaan yang mungkin tidak mampu lagi bagi mereka keluar dari sana. Cecapan, indera perasa mereka bermain bersama secara kompak untuk memuaskan rasa cinta diantara keduanya.


Napas mereka tersengal-sengal, keduanya melepaskan pagutan mesra itu dan menghirup napas sedalam-dalamnya sebelum melakukan pagutan kasih sayang itu sekali lagi dan berulang-ulang sampai mereka merasa sudah cukup.


“Terimakasih Yona, sudah berada di sampingku,” ucap Regan mencium kedua kelopak mata Yona dengan lembut.


“Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu,” jawab Yona menatap Regan lekat.


“Untuk apa?” tanya Regan bingung, tidak mengerti dengan apa yang Yona maksudkan.


“Terimakasih sudah mengizinkanku tetap berada di sampingmu, aku bahagia,” jawab wanita itu tersenyum lembut kearah Regan.


Regan mengelus puncak kepala Yona, lelaki itu hendak mencium kembali bibir Yona tapi wanita itu segera memalingkan wajahnya.


“Kamu lupa atau bagaimana, kita mau dinner kan?” tanya Yona mengingatkan Regan.


“Aku terlalu bahagia sampai tidak ingin kita pergi kemanapun, aku ingin hanya kita berdua,” jawab Regan, menyelipkan rambut Yona ke belakang daun telinga wanita itu.


“Iya hanya kalian berdua, kami tidak terlihat di mata kalian?” tanya Shinta menatap tajam Regan dan Yona yang kini duduk pangku-pangkuan di depannya.


Yona dengan cepat berdiri dari pangkuan Regan, begitupun Regan yang dengan cepat merapikan diri dan berdiri.


“Apa yang kalian lakukan di ruang tamu? Tidak malu kalau para pekerja di rumah tahu kelakuan kalian?” sindir Hendra menatap anak dan calon menantunya tajam.


“Kami tidak melakukan apapun daddy, tadi Regan hanya menyelamatkan Yona saat Yona terlilit karpet. Kalian kenapa selalu berperangsaka buruk terus dengan Yona,” keluh Yona mencebikkan bibirnya kesal.


“Tidak melakukan apapun? Huhh kalian tidak pandai mengeles rupanya,” sahut Shinta melipat tangannya ke depan dada.


“Memangnya kalian melihat Yona dan Regan melakukan sesuatu?” tanya Yona menatap mommy dan daddynya dengan tatapan menelisik.


“Kami tidak melihatnya dan kami bersyukur untuk itu,” jawab Shinta menyentil hidung Yona hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


Regan menarik Yona, lelaki itu berdiri di depan Yona untuk melindungi wanita yang dia cintai dari hadapan Shinta.


“Mommy mertua, jangan sakiti Yona. Sentil saja aku sepuas mommy mertua,” ucap Regan membuat Shinta dan Hendra tidak bisa menahan tawa.


Regan menatap orang tua Yona dengan bingung, kenapa juga mereka tertawa. Ada yang salah dengan ucapannya atau mungkin penampilannya? Rasanya tidak, Regan berpenampilan seperti biasanya dan tidak aneh menurutnya. 


Lalu apa? Kenapa Shinta dan Hendra tertawa seperti itu.


“Sudahlah sayang kita masuk ke dalam saja,” ucap Hendra sambari terkekeh tidak tahan dengan apa yang kini dia lihat.


“Hahaha, iya iya aku juga tidak tahan tertawa terus,” kekeh Shinta menatap Regan dengan geli.


Sedangkan Yona menatap orang tuanya dengan tatapan waspada, kenapa juga mereka tiba-tiba tertawa seperti itu? Padahal dia dan Regan tidak mengatakan apapun yang berkemungkinan sangat lucu bagi mereka.


“Mereka itu kenapa?” gumam Yona menatap kedua orang tuanya yang kini berjalan masuk ke dalam.


“Yonaa kenapa lipstikku berpindah ke bibir Regannn?” teriak Shinta dari dalam diiringi kekehan membahanya.


Mata Yona dan Regan saling bertatapan, Yona langsung memegangi wajah Regan untuk dia cek. Betapa gilanya ini, disudut bibir Regan terdapat lipstick Yona menempel di sana. Dengan cepat Yona mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, wanita itu mengelap bekas lipstick yang ada di bibir Regan.


“Sialan, pantas saja daddy dan mommy terkikik seperti itu,” umpat Yona merasa sangat malu dengan apa yang akan dia katakan nanti ketika bertemu dengan orang tuanya lagi.


“Kamu sih pakai ninggalin bekas segala,” cibir Regan mengusap bibirnya dengan jemari tangannya.


“Kok aku? Yang nyium-nyium kan kamu. Kenapa nyalahin aku?” tanya Yona tidak terima.


“Aku nyium kamu? Kamu duluan Yona yang nyium aku,” jawab Regan tidak mau kalah.


Yona mendengus, lelaki satu di depannya ini memang tidak pernah mau mengaku.


“Kamu ya, nyalahin aku ter-.”


Ucapan Yona terhenti ketika Regan mencium singkat bibirnya, “Itu baru benar aku yang menciummu lebih dulu, ayo kita pergi sekarang. Aku sudah lapar,” ucap Regan mengedipkan matanya menggoda, mendahului Yona untuk menuju mobil yang terparkir di luar rumah Keluarga William.


Dada Yona kembali bergetar, ciuman singkat seperti itu saja mampu membuat dirinya tidak bisa bekata-kata lagi.


“Mommy, Daddyyy, Yona pergi dulu sama Regannn,” teriak Yona berpamitan kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Hmmmm hati-hati,” jawab Hendra dari ruang keluarga.


Shinta berdiri, melihat Yona yang baru saja keluar rumah menyusul Regan. Wanita itu kembali duduk di samping suaminya, merebahkan tubuhnya dengan paha sang suami sebagai bantalan.


“Sayang, sepertinya rencana kita benar-benar sukses,” kekeh Shinta merasa bahagia.


“Ya semoga saja ini akan berjalan lancar seperti apa yang kita harapkan selama ini,” jawab Hendra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang menampilkan berita tentang kematian suami Bunga Citra Lestari itu.


Cinta kita melukiskan sejarah,menggelarkan cerita penuh suka cita.


Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tahu, cinta kita sejati.


Lagu cinta sejati wara-wiri di layar televisi sejak berita kematian suami dari BCL itu menyeruak ke media.


“Kasihan sekali ya sayang,” ucap Shinta merasakan duka yang dialami BCL sebagai seorang wanita.


Hendra mengelus puncak kepala istrinya, “aku tidak bisa membayangkan jika aku harus meninggalkanmu suatu hari nanti,” ucap Hendra membuat Shinta mendongak menatap mata suaminya.


“Kita tidak pernah tahu batas umur seseorang, yang perlu kita lakukan hanya saling menghargai dan mencintai selama orang yang kita cintai masih ada,” jawab Shinta tersenyum kearah suaminya.


“Apa kamu akan menikah lagi jika nanti aku mati lebih dulu daripada dirimu?” tanya Hendra membuat Shinta bangkit dan duduk dengan tegap.


“Apa yang kamu bicarakan daddy, kenapa aku harus menikah lagi saat hatiku sudah dipenuhi racun-rancun cintamu yang sudah menjalar hingga ke akarnya,” sahut Shinta menatap tepat di manik mata suaminya.


“Aku kira kamu akan menikah lagi.”


Shinta menggeleng, “Sudah tua, mana ada yang mau menikahiku,” kekeh Shinta merasa geli sendiri.


Hendra membawa wanita itu ke dalam pelukannya, “Siapa tahu, kan punyamu masih rapat dan hangat,” ucap Hendra terdengar sangat mesum.


“Mulai lagi kan otak mesumnya,” keluh Shinta tertawa.


*****


“Kamu balas chat siapa?” tanya Regan saat Yona sibuk dengan ponselnya.


Yona terkikik geli, wanita itu menoleh kearah Regan. “Ini, Sisil tanya lagi dimana.” Jawab Yona menerangkan.


Regan memicingkan matanya, “Tumben-tumbenan Sisil tanya, kenapa emangnya?” tanya Regan penasaran.


“Mereka mau makan malam bareng kita,” jelas Yona membuat mata Regan terbelalak.


“Apa? Mereka mau makan malam bareng kita? Mereka siapa saja ?” tanya Regan terdengar sangat frustasi dibuatnya.


“Siapa lagi ya teman-temanmu lah Regan, kamu ini kenapa kaget seperti itu?” tanya Yona memicingkan matanya dengan kelakuan Regan yang sangat aneh menurutnya.


“Terus kamu jawab apa? Kamu kasih tahu tempat kita mau makan malam?” tanya Regan menatap Yona dengan sebal.


Yona mengangguk antusias, wanita itu terkekeh geli melihat wajah frustasi Regan yang sangat lucu di matanya.


“Kenapa memangnya?” tanya Yona berpura-pura bodoh, Yona tahu benar jika Regan sangat enggan diganggu dalam acara makan malam mereka.


“Kita ganti tempat makan saja, aku lagi pengen makan penyet tempe di pinggir jalan,” ucap Regan membuat Yona tertawa terbahak-bahak.


“Eh kasihan tauk, kamu kok jahat banget sama mereka,” ucap Yona memukul pelan lengan Regan karena tidak tahan dengan apa yang lelaki pikirakan tentang teman-temannya.


Akhirnya Regan menyerah saja, lelaki itu tetap melajukan mobilnya melesat menuju restaurant bergaya italia yang mala mini dia pilih untuk makan malam romantic bersama Yona. Meskipun akan ada para pengacau yang ikut makan malam bersama mereka berdua, tapi Regan bisa apa? Teman-temannya memang kurang ajar!


Regan berjalan keluar lebih dulu dari mobolnya tanpa mempedulikan Yona yang mencebikkan bibirnya kesal karena tidak dibukakan pintu mobil lebih dulu oleh Regan.


“Hei tunggu aku,” teriak Yona berjalan tergesa-gesa menyusul Regan.


Restaurant bergaya itali itu sangat sepi, namun para pelayan kini sudah siap menyambut kedatangan mereka berdua. Penerangan yang remang-remang, ditambah dengan alunan musik mellow membuat suasana restaurant itu semakin menarik. Yona menatap kesekeliling, menyapu seluruh meja yang tidak berpenghuni.


“Mari saya antar ke meja yang sudah Anda pesan Pak Regan,” ucap sang manager restaurant yang turun langsung menyapa Regan dan Yona.


Regan telah memboking seluruh restaurant untuk makan malam spesialnya dengan Yona. Bahkan Regan menyewa salah satu penyanyi untuk mengisi makan malam romantic mereka berdua.


“Regan, kamu memboking seluruh restaurant?” tanya Yona menyuarakan rasa penasaran yang kini menghinggap dalam pikirannya.


“HM,” jawab Regan dengan singkat.


Yona merasa menyesal sudah mengacaukan acara makan malamnya dengan Regan karena mengizinkan Sisil dan yang lainnya datang bergabung bersama mereka.


“Selamat menikmati hidangannya.”


Regan menarik kursi, mempersilahkan Yona untuk duduk. Lelaki itu langsung memilih duduk di depan Yona hingga mereka bisa saling berhadapan. Ada banyak makanan yang sudah tersedia di meja, bahkan para pelayan juga mengirim lagi makanan tambahan sampai meja terasa sangat penuh oleh makanan dan minuman yang telah Regan pesan sebelumnya.


“Aunty Yona, Uncle Regan,” pekik Nayna dan Varo melambaikan tangannya menyapa Yona dan Regan yang kini duduk diantara cahaya lilin yang temaram.


Yona dan Regan menoleh, di sana berdiri Sisil, Nata, Viona, Racka, Nadia, Fernand, Nayna, Varo, dan si kunyuk Rehan. Ah Regan tahu kenapa mereka semua bisa tiba-tiba tahu kalau dia dan Yona akan makan malam bersama. Itu pasti karena mulut lemes Rehan yang sudah pasti mengompori teman-temannya untuk ikut malam bersama dengannya.


Sialan benar kamu Rehan Prehantara Kusuma!


“Nayna, Varo,” panggil Yona membalas lambaian tangan dari Nayna dan juga Varo.


Kedua anak itu berlari, mereka duduk di samping Yona. 


“Aunty cantik sekali malam ini, Uncle Regan juga,” ucap Nayna memuji aunty dan unclenya yang memang terlihat begitu beraura malam ini.


“Nayna juga sangat cantik, Varo apalagi semakin tampan,” kekeh Yona mengacak gemas rambut panjang Nayna yang menjuntai hingga mencapai pinggang anak itu.


Nata meminta para pelayan untuk menata meja makan yang akan mereka tempati bersama-sama. Mereka segera duduk ketika para pelayan dengan sigapnya menyiapkan meja dan kursi secara memanjang.


Salah satu pelayan menyodorkan menu makanan, tapi Rehan menolaknya.

__ADS_1


“Sudah bawakan saja semua makanan yang kalian sajikan,” ucap Rehan membuat semua orang menatapnya takjub.


“Wuahhh di traktir nih?” tanya Fernand menatap Rehan dengan mata berbinar.


Rehan menggeleng, “bukan aku, kan kita numpang makan malam sama pasangan ruwet generasi terakhir, Regan dan juga Yona,” kekeh Rehan disusul kekehan dari yang lainnya.


Mereka tertawa, suasana begitu pecah ketika satu sama lain melemparkan ejekan dan saling mengolok-olok kisah mereka satu per satu. Regan hanya mendengus kesal dalam hatinya, lelaki itu mengelus barang kecil yang kini ada dalam saku jasnya. Gagal sudah Regan akan mengutarakan keseriusannya kepada Yona.


Entah mengapa, Regan selalu gagal melingkarkan cincin pada jari manis Yona. Pertama cincin itu menggelinding tidak tahu kemana saat mereka naik kapal pesiar. Dan sekarang saat dia hendak mengutarakan keseriusannya kepada Yona lagi ada saja penghalangnya.


“Selamat menikmati makanannya, kalau ada yang dibutuhkan silahkan panggil kami saja,” ucap pelayan itu setelah meletakkan semua makanan di sana.


“Mommy aku mau kepiting saus tiram itu,” pekik Nayna menunjuk kepiting berukuran besar yang ada di depannya.


Sisil mengangguk, dengan telaten wanita itu membuka cangkang kepiting dan menyuapkannya kepada putrinya. Malam ini baby Zio dan baby Valeria ada di rumah bersama dengan orang tuanya yang kebetulan kembali dari San Diego beberapa hari yang lalu.


“Sayang, aku mau ayam parmigiananya dong,” ucap Fernand kepada Nadia.


Nadia segera mengambilkan potongan ayam parmigiana dan menaruhnya ke dalam piring Fernand. 


“Aku juga mau Nad,” ucap Rehan menyodorkan piringnya.


Regan hanya memutar bola matanya kesal, yang lainnya sangat tidak tahu diri bahwa mereka telah mengganggu makan malam romantic yang sudah dirinya persiapkan beberapa hari yang lalu khusus untuk wanitanya seorang, Yona Anantasya William.


“Buka mulutmu,” perintah Yona kepada Regan.


Wanita itu menyuapkan potongan jamur dengan saus marsala kepada Regan. Hatinya yang panas sekarang terasa seperti diguyur hujan es saat Yona dengan telaten menyuapi dirinya.


“Aku mau saus shrimp fra diavolo dong sayang,” ucap Regan dengan sengaja menekan kata sayang di depan teman-temannya, sengaja menyindir semua temannya yang mengganggu malam mereka berdua.


“Cieilehhhh, sayang-sayangan. Kalian?” pekik Nadia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


“Apaan sih Nad, bikin heboh aja. Sayang suapin aku lagi, biarkan saja pengganggu ini, tidak usah kamu hiraukan,” ucap Regan meminta Yona untuk kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Seorang pelayan datang, “ini yang paling special ya Pak Regan,” ucap pelayan itu meletakkan hidangan yang masih tertutup.


“Apa itu?” tanya Nayna penasaran.


Regan mencegah tangan Nayna yang hendak membukanya, “no, itu bukan untuk Nayna,” ucap Regan menggelengkan kepalanya.


Mata Nayna berkaca-kaca, anak itu memeluk mommynya dengan erat.


“Mommy, apa Nayna nakal? Kenapa Uncle Regan nggak mau berbagi makanannya dengan Nayna?” tanya Nayna terisak.


Sisil dan Nata sontak saja menatap Regan dengan tajam, kenapa juga lelaki itu harus mencegah Nayna saat ingin membuka hidangan itu?


“Nayna bisa membukanya, jangan menangis,” ucap Yona membuat Regan melebarkan matanya.


Mati sudah, bisa malu dia dihadapan semua teman-temannya.


Nayna membuka tudung saji itu, matanya berbinar melihat ada cake seukuran telapak tangan orang dewasa berbentuk love. Di atas cake itu tertulis, ‘Yona, I Love You’.


Semua mata kini menatap Yona dan Regan bergantian, mereka merasa tidak enak kepada pasangan itu.


“Sepertinya itu cake untuk orang dewasa sayang, berikan sama Aunty Yona,” pinta Sisil memberikan pengertian kepada Nayna.


Nayna mengangguk, “nanti kalau sudah besar Nayna mau cake seperti itu ya Uncle?” tanya Nayna dijawab anggukan kepala Regan.


Mereka tertawa dengan kepolosan Nayna, Sisil menyengol tangan Yona.


“Kamu tidak membalas ucapan dari Regan diatas cake itu?” Tanya Sisil menatap Yona menggoda.


“Hah? Mm, iya aku sudah membalasnya kok. Iya kan Re?” ucap Yona meminta persetujuan dari Regan.


Regan malah menggeleng, “kapan? Aku belum pernah mendengarnya.” Jawab Regan membuat Yona menatapnya mendelik.


Perasaan belum ada dua jam Yona mengatakan perasaannya kepada Regan yang disusul dengan pagutan antara keduanya. Mungkinkah otak Regan benar-benar bermasalah sampai semudah itu melupakan ucapannya?


“Iya katakan sekarang juga,” ucap Nadia tersenyum menatap Yona.


“Aku menunggunya juga,” kekeh Viona menyetujui ucapan Sisil.


Yona menyesal sudah membiarkan para pasangan ruwet itu untuk makan malam bersamanya. Lain kali Yona tidak akan menjawab pertanyaan mereka semua.


“Regan, I love you too,” ucap Yona menjawab apa yang telah Regan tulis diatas cake.


“Aku tidak dengar, kamu dengar tidak?” tanya Racka pada yang lainnya.


Yona mendengus, wanita itu menarik panas dan menghembuskannya kembali.


“Regan, I LOVE YOU TOO.” Ucap Yona penuh penekanan.


Regan tersenyum bahagia, lelaki itu beridiri dari tempat duduknya dan menyondongkan tubuhnya kea rah Yona. Lelaki itu kembali mencium Yona dengan sangat panas di depan semua orang. Sisil dan Viona sontak saja menutup mata anak-anak mereka.


Tidak peduli ada meja yang menghalangi mereka, masalah sebesar apapun yang menghalangi hubungan keduanya akan mereka lewati dengan keyakinan bernama cinta.


-----------------------------------------------


HALLOOOO SELAMAT BERAKTIVITAS DAN SELAMAT MEMBACA YAA.


JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK LIKE, KOMEN, DAN SEGERA FOLLOW AKUN AUTHOR,


YANG KEMAREN TANYA ‘’KAK LOVE YOU BOSS DAH ADA VERSI EBOOK?” JAWABANNYA SUDAH LAUNCHING MBEBBB SILAHKAN DIBURU SI LOVE YOU BOSS UNTUK DIBACA SAMBIL MESAM MESEM GITU SAMA PASANGAN CECILIA FANYANDRA CORLYN DAN ADINATA DIRGA PRATAMA.


HARGA NORMAL RP.70.000 SEKARANG DISKON JADI RP52.500 SAJA.

__ADS_1


KUYYYYYY SEGERA DIBELI EBOOKNYA HEHEHEHE. 


DAN JUGA JANGAN LUPA MAMPIR DI AKUN DRE*AME YUKKK 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2