My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Hadiah Dosen Pengganti


__ADS_3

Satu bulan berlalu, tidak ada tanda-tanda kemajuan akan kondisi Regan. Tidak ada jalan lain, Regan harus kembali menjalani operasi yang nantinya bisa membuatnya kembali melihat dengan benar. Dr.Irawan tidak bisa memberikan kepastian, karena dr.Irawan sendiri harus menunggu dokter luar negeri yang sering menangani pasien seperti Regan bisa menyempatkan dirinya datang ke Indonesia.


Atau, Regan yang pergi kesana dan melakukan operasi di tempat tugas sang dokter.


"Siapa nama dokternya dr.Irawan?"


"Dia dokter muda seumuran dengan kamu dr.Rehan. Tapi dia memang sangat pinter dan menjadi ahli bedah terbaik di Negaranya" ucap dr.Irawan menjelaskan.


Rehan nampak tertarik dengan penjelasan yang dr.Irawan jelaskan.


"Kamu sebagai dokter spesialis kanker harus bekerja sama dengan dokter ahli bedah seperti dirinya" kekeh dr.Irawan semakin membuat Rehan semakin penasaran dengan sosoknya.


"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Rehan.


"Dia laki-laki, dr.Gustin Justavo" ucap dr.Irawan memberitahu nama lelaki itu.


Gustin Justavo? Kenapa nama itu terasa sangat menyakitkan untuk Rehan dengar. Bukankah lelaki itu yang pernah menangani Olivia sebelum Olivia menghembuskan napas terakhirnya? Iya, benar. Saat itu Gustin Justavo baru menyelesaikan studynya sebagai ahli bedah.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Rehan yang merasa ingin bertemu dengan Gustin karena ada sesuatu yang harus Rehan tanyakan. Tentang kematian Olivia yang rasanya sangat aneh setelah dia terjun langsung dalam spesialis kanker.


"Kamu bisa mendampingi Regan jika ingin bertemu dengannya" jawab dr.Irawan.


Baiklah, Rehan akan menunggu sampai hari itu tiba. Rehan akan bertemu dengannya, lelaki yang sangat misterius bagi Rehan.


Disisi lain, Yona sudah kembali beraktifitas di kampus untuk melanjutkan studynya di semester baru ini. Yona melihat jadwal pelajaran di ponselnya.


"Yonaa" pekik Naomi melambaikan tangannya berlari kecil kearah Yona.



Naomi merasa sangat menyesal, karena mengantarkan undangan ke rumahnya Yona dan Regan malah mendapatkan musibah yang sampai membuat teman baiknya itu merasakan kesakitannya setiap hari.


"Kamu kuliah?" Tanya Yona kepada Naomi.


Yona tidak menyalahkan siapapun dalam musibah dan kesialan yang dia rasakan. Baginya ini sudah menjadi suratan takdir Yona untuk menerima kebahagiaan dan kesusahan sesuai porsinya. Yona juga selalu mengatakan kepada Naomi untuk tidak menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Yona dan Regan. Karena semua tidak akan terjadi tanpa kehendak dari Tuhan.


Naomi mengangguk, wanita itu tersenyum.


"Aku ada mata kuliah Management Operasional Bank, kamu sendiri?" Tanya Naomi kepada Yona.


Yona mengusap layar ponselnya, melihat jadwal kuliahnya hari ini.


"Hei kita sama, aku juga Management Operasioanal Bank. Di lantai 5.4 kan?" Tanya Yona diangguki Naomi.


Mereka tertawa, tidak menyangka jika hari pertama masuk kuliah mereka berada dalam satu kelas.


"Semoga besok kita satu kelas lagi" kekeh Yona diangguki Naomi.


"Aku dengar Ibu Sulistriana cuti melahirkan, kira-kira siapa dosen penggantinya?" Tanya Naomi penasaran.


Mereka saling menatap satu sama lain,


"Jangan-jangan??" Pekik mereka berdua terbelalak membayangkan sosok seseorang yang sangat menyebalkan menjadi dosen mereka.


Yona sampai bergidik ngeri, mengibaskan tangannya ke udara.


"Tidak tidak, jangan sampai dia mengajar diriku lagi. Aku mendapatkan nilai C di mata kuliahnya semester kemarin" ucap Yona bercerita kepada Naomi tentang betapa gilanya Regan dalam memberikan nilai, tidak memandang siapa dan bagaimana.


"Hah? Jadi yang dulu itu serius?" Pekik Naomi menutup mulutnya karena seluruh mata yang mereka lewati spontan menoleh kearah Naomi dan Yona.


"Dia benar-benar dosen berengs*k" decih Yona merem*s tangannya kesal.


Yona pikir, Regan hanya bercanda dengan ucapannya. Atau itu hanya sekedar gurauan yang keluar dari mulut lelaki itu untuk membuat Yona kesal. Tapiiiiiii, setelah tiba hari dimana Yona mengambil lembaran hasil studynya Yona baru sadar kalau apa yang dikatakan Regan itu benar adanya.


"Wuahhhh mengesalkan sekali yaa" ucap Naomi menjawab kekesalan Yona.


Yona mendekat kearah Naomi, meminta wanita itu untuk mendekatkan telinganya.


"Dia punya kelainan kejiwaan, bipolar" ucap Yona membuat mata Naomi terbelalak.


"Hahaha Yona kamu ini pasti bercanda kan?"


"Bayangin aja, dia bisa sangat marah dan selanjutnya dia tertawa sendiri. Hrrrrr, untung saja aku belum jadi ber-"


Tiba-tiba seseorang dibelakang mereka berdua menabrak Yona dan Naomi dengan kasar. Membuat kedua wanita itu terpental di tempatnya.


Yona menoleh kearah seseorang itu, matanya terbelalak melihat sosok yang mereka bicarakan berada disana dengan tatapan membunuh yang terang-terangan Regan layangkan kepada dirinya.


"Pak Re..gan?" Gagap Yona menunduk hormat.


Mendengar temannya menyebut nama Regan, Naomi langsung menoleh kearah Regan dan ikut membungkuk hormat.


"Pagi pak" ucap Naomi meringis didalam hatinya.


"Dosen berengsek yang kalian bicarakan mendengar semuanya" ucap Regan membuat kedua wanita itu ternganga dibuatnya.

__ADS_1


Yona dan Naomi saling menatap,


'Bagaimana ini?' ucap Naomi lewat tatapan matanya.


Yona hanya meringis, sejak kapan lelaki itu berada dibelakang mereka? Apa Regan sengaja membuntuti Yona dan menjadi stalker dirinya? Hahhh Yona tidak menyangka Regan akan melakukan hal seperti itu hanya karena Yona beberapa hari tidak menjenguknya.


Lagi pula, kenapa juga Yona harus menjenguknya disaat Regan sudah sehat tubuhnya meskipun otak dan penglihatan lelaki itu masih bermasalah. Dan juga, Yona selalu dibuat kesal oleh Regan saat mereka berdua bersama.


"Bapak mengikuti saya?" Tanya Yona melontarkan tuduhannya kepada Regan.


Regan menatap Yona tidak mengerti, kenapa juga Regan harus mengikuti Yona? Bukankah koridor yang kini mereka lewati adalah jalan satu-satunya untuk menuju lift yang akan membawa mereka naik ke lantai lima.


"Untuk apa saya mengikuti kamu?" Tanya Regan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Yona.


Lelaki itu melenggang meninggalkan Yona dan Naomi yang masih tercengang di tempatnya. Regan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kedua wanita disana.


"Saya tidak mengizinkan mahasiswa masuk setelah saya memasuki ruang kelas" ucap Regan membuat Yona dan Naomi mengerjap, mencerna apa yang baru saja Regan ucapkan.


Regan kembali melanjutkan langkahnya, dan detik kemudian lift terbuka. Regan masuk kedalam, memencet tombol lantai lima disana.


"Itu artinya kita tidak boleh masuk kalau Regan masuk ke ruang kelas mendahului kita!" Ucap Naomi yang baru mengerti apa ucapan lelaki itu.


Yona menoleh kearah Naomi, mereka berdua membelalakkan matanya dan langsung berlari menuju lift.


"Yaaaaaa tungguuuuuuu" teriak Yona dan Naomi mencegah pintu lift tertutup.


Sayangnya, pintu lift sudah terlanjur tertutup. Sedangkan satu lift lagi masih berada di lantai 9. Dan lift satunya sedang diperbaiki.


"Kita naik tangga!" Ucap Yona diangguki Naomi.


Mereka berlari menaiki tangga, Yona dan Naomi berteriak meminta semua orang menyingkir dari jalan mereka.


"Minggirrrrr ini hidup dan mati kamiiiii" teriak Yona membuat beberapa orang yang berjalan menaiki tangga langsung menyingkir ke tepi.


Yona melirik sekilas, sialan dia baru sampai di lantai dua.


"Huh huhhh dosen sial*n" umpat Yona dengan napasnya yang terengah-engah.


Sedangkan Naomi dibelakangnya juga sama halnya dengan Yona.


"Sepertinya aku harus menurunkan berat ba..danku lagi" ucap Naomi tersengal-sengal.


Yona menoleh sebentar kearah Naomi, "Aku sudah bilang kan, lelaki itu memiliki ganggu..aan kejiwaan" ucap Yona dengan napasnya yang tidak beratur.


"Hahhhhh satu lantai lagi" ucap Naomi saat dirinya melihat tulisan lantai 4 disana.


Akhirnya, mereka sampai di lantai lima. Mereka berlari menuju ruang kelas mereka, dan disaat itu pula Regan menoleh kearah mereka dengan kekehan mengejek khas lelaki itu melenggang masuk kedalam kelas.


"Aishhhh lelaki gila!" Umpah Naomi menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada didepan ruangan kelas mereka.


Disusul Yona disamping wanita itu, Yona mengelap keringatnya sebesar biji jagung dan mengibaskan tangannya didepan wajah berharap mendapatkan angin yang menyegarkan setelah berlarian seperti itu.


"Kita masuk saja?" Tanya Naomi dengan napasnya yang masih tersengal-sengal.


"Hah? Hiya sebentar lagi huhhh kakiku rasanya sangat kebas" ucap Yona menghembuskan napasnya kasar, menghirupnya lagi dan menghembuskan napasnya kembali.


Mereka berdiri, Yona mengetuk pelan pintu ruang kelasnya. Wanita itu membuka pintu dengan perlahan, membuat Regan mendongak menatap dirinya.


"Maaf pak saya terlambat" ucap Yona melangkah dua jangkah kedepan.


"Keluar" jawab Regan membuat Yona dan Naomi menatapnya.


Mereka berdua menatap ruang kelas yang masih belum penuh. Bukankah itu artinya banyak mahasiswa yang akan terlambat di hari pertama kuliah mereka?


Naomi menarik tangan Yona, meminta Yona untuk keluar saja.


"Kita keluar saja dari pada dapat nilai C" bisik Naomi membuat Yona berbalik badan dan keluar dari ruang kelasnya.


Yona mendengus, wanita itu menutup pintu dengan kasar.


"Kamu lihat kan betapa mengesalkannya kelakuan lelaki itu!" Sungut Yona menghentakkan kakinya kesal.


Naomi terkekeh, lucu saja melihat Yona dan Regan yang terkadang saling bertengkar tapi juga sangat romantis. Keduanya memiliki ciri khas sendiri akan sifat mereka dan itu membuat semua orang yang mengenal Regan dan Yona sudah hafal dengan kelakuan mereka berdua.


"Taufik, Janet, kamu mau masuk kedalam?" Tanya Yona melihat teman kuliahnya di semester kemarin.


"Yona? Iya. Apa sudah ada dosen?" Tanya Janet kepada Yona.


"Dosen pengganti, pak Regan yang menggantikannya" jawab Yona diangguki Janet.


"Kalian berdua tidak masuk?" Tanya Taufik penasaran karena melihat Yona dan mahasiswi baru yang belum dia kenal duduk diluar kelas.


"Kami tidak diperbolehkan masuk, coba saja kalian" ucap Naomi membuat Janet dan Taufik saling menatap ragu.


Taufik sebagai laki-laki disana mengetuk pintu ruang kelas, dibelakangnya ada Janet yang sudah cemas.

__ADS_1


"Iya masuk saja" ucap Regan dengan sengaja mengeraskan suaranya, berharap Yona mendengarnya.


"Terimakasih pak" ucap Taufik dan Janet bersamaan.


Taufik mundur kebelakang untuk memberitahu Yona dan Naomi. Tapi suara Regan menghentikannya,


"Kamu mau keluar juga mas?" Tanya Regan dengan suara dinginnya membuat Taufik meringsut dan masuk kedalam ruang kelas.


"Tutup pintunya." Lanjut Regan diangguki Taufik.


Yona mendengus, berani beraninya lelaki itu bersikap tidak adil dengan Yona dan Naomi. Padahal Yona dan Naomi datang lebih dulu dari pada Taufik dan Janet. Lalu kenapa Yona dan Naomi diusir keluar tapi yang baru saja datang di perbolehkan masuk oleh Regan.


Lagi lagi ada satu mahasiswa yang baru saja datang,


"Masuk saja, jangan lupa tutup pintunya nanti ada pembelot masuk kedalam ruang kelas" ucap Regan dengan setengah berteriak.


"Pembelot katanya? Benar benar mengesalkan lelaki itu, apa dia ingin aku remukkan tulang ekornya sekarang juga hahhhh??" Teriak Yona sangat kesal.


Naomi hanya tertawa disamping temannya, tidak tahu harus menjawab apa untuk kekesalan Yona yang sudah sampai diatas ubun-ubun wanita itu.


"Setelah dia membuat kita lari-larian kayak orang gila, dia meminta kita keluar dan mengatakan kita pembelot? Hahahaha hebat sekali lelaki itu"


Yona tertawa, bukan tawa bahagia melainkan tawa miris yang membuat beberapa orang yang melewatinya menoleh kearah Yona.


"Dia tidak gila karena pertunangannya batal kan?" Bisik mereka dengan mata menatap Yona kasihan.


"Lebih baik kita sarapan, dari pada disini ngapain orang kita nggak dibolehin masuk" ucap Naomi diangguki Yona.


"Benar sekaliiii kita sarapan sajaa hahhaahhaa lagi pula dosennya yang tidak memperbolehkan kita masuk kannnn?" Jawab Yona dengan berteriak, berharap Regan mendengarnya didalam sana.


Lelaki itu menatap keluar pintu, Regan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil seperti mendapatkan mainan baru yang sangat menyenangkan bagi dirinya.


"Enak saja mereka mau sarapan setelah mengatakan hal-hal buruk tentang diriku" gumam Regan mencari cara untuk memberikan Yona pelajaran.


Regan menatap Taufik,


"Panggilkan mahasiswi yang ada didepan ruang kelas" ucap Regan memberikan perintah.


"Yona dan temannya pak?" Tanya Taufik memastikan.


Regan mengangguk, detik selanjutnya Taufik berjalan keluar dari ruang kelas menghampiri Yona dan Naomi yanh kini berdiri didepan lift, menunggu lift terbuka.


"Yona, kalian dipanggil Pak Regan" ucap Taufik membuat kedua wanita itu menoleh.


"Kenapa? Kami kan sudah diusir?" Tanya Yona namun dijawab gelengan kepala dari Taufik pertanda lelaki itu juga tidak mengetahuinya.


Yona menatap Naomi, mereka berdua mengangguk dan menuruti saja kemauan dosen sint*ng mereka untuk masuk ke ruangan kelas menghadap dosen itu.


Mereka bertiga masuk kedalam ruang kelas, Yona beradu pandangan dengan Regan.


"Anda memanggil kami berdua pak?" Tanya Yona.


"Kalian mau tanda tangan di absensi atau tidak?" Tanya Regan kepada Yona dan Naomi.


"Kami mau pak" jawab Naomi dengan cepat.


Regan menatap Yona, menaikkan alisnya menunggu jawaban dari wanita itu.


"Iya pak saya juga mau" jawab Yona membuat lelaki itu tersenyum kemenangan.


'Setelah ini, nikmati hadiah yang akan aku berikan kepada kalian berdua' ucap Regan didalam hatinya tersenyum devil.


'Apa yang akan kamu rencanakan Reganera!' ucap Yona didalam hatinya, menatap Regan dengan sorot matanya tajam.


"Pergi ke perpustakaan, cari buku yang berhubungan dengan management perbankan yang ditulis oleh Ikatan Bankir Indonesia" ucap Regan kepada mereka berdua.


"Lalu pak?" Tanya Naomi memicingkan matanya menatap Regan.


"Kalian ringkas bukunya dan saya tunggu hingga mata kuliah ini selesai" jawab Regan membuat Yona dan Naomi terbelalak.


"Apaa??? Jadi kami hanya memiliki waktu lima puluh menit saja?" Pekik Yona menatap jam tangan yang ada kini melingkar di tangan kirinya.


"Kalian keberatan?" Tanya Regan melipat tangannya kedepan dada.


Naomi menyenggol Yona, meminta temannya itu untuk tidak membuat ulah lagi atau mereka akan diberikan nilai C karena Regan bukan tipe dosen yang mudah memberikan ampun.


"Tidak pak, saya sangat senang sekali hahhaa" kekeh Yona dengan sorot matanya ingin mencekik Regan sekarang juga.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, kalian membuang waktu tiga menit" ucap Regan mengingatkan bahwa waktu mereka berdua terus berjalan.


"Baik pak kami permisi" ucap Naomi menarik tangan Yona keluar dari kelas untuk menuju ke perpustakan kampus mereka demi mendapatkan satu absensi yang tidak boleh mereka kosongi.



---

__ADS_1


*Gong Xi Fat Cai


Yuan kuaile xìngfu yong ban nin zuoyou 🙏🙏🙏*


__ADS_2