My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Ungkapan Cinta Regan


__ADS_3

Tidak ada hujan jika tidak ada angin, begitulah peribahasa yang nampaknya sangat cocok untuk kisah percintaan Yona dan juga Regan. Tidak mungkin Regan jauh-jauh dari Indonesia untuk datang ke Inggris jika bukan karena ingin bertemu dengan Yona.


Berbanding terbalik dengan Regan, Yona justru menjaga jarak dengan Regan karena kesalahpahaman terakhir kali yang membuat Yona pergi tanpa sepatah katapun kepada Regan.


"Yona, antarkan Regan ke kamar tamu," ucap Ariana kepada adik iparnya.


"Iya, Regan pasti lelah setelah perjalanan jauhnya kemari demi Yona," ucap Shinta tersenyum menggoda.


Yona memutar bola matanya jengah dengan ucapan yang terlontar dari mulut ibunya. Sepertinya Regan sudah menjadi idola di kalangan keluarga besarnya.


"Sudah sana, tunggu apa lagi?" ucap Marva yang lama kelamaan jengah melihat interaksi Yona dan Regan seperti magnet. Yang satu menjauh yang satu mendekat, giliran yang satu mendekat satunya lagi menjauh. Kalau seperti itu terus kapan mereka akan bersatu?


"Kayaknya Yona nggak mau Regan menginap di kamar tamu," ucap Regan tiba-tiba.


"Hah? Jangan begitu Yona, Regan jauh-jauh kemari itu buat kamu," kini giliran Hendra yang memarahi putrinya.


"Mungkin Yona mau Regan sekamar dengan dia," goda Regan membuat Yona terbelalak.


Wuah, hebat sekali perkembangan Regan yang sudah berani menggodanya di depan keluarga besarnya. Biasanya lelaki itu akan mati kutu jika berhadapan dengan keluarga intinya saja.


"Ayo ikuti aku!" ucap Yona pada akhirnya.


"Serius, kamu mau ajak Regan satu kamar dengan kamu, Dek?" tanya Marva menatap Yona tak percaya.

__ADS_1


"Haisshh, kenapa punya kakak bodoh sekali," ejek Yona berdecak sebal.


Wanita itu berjalan menunjukkan arah kepada Regan, tiba-tiba saja Yona berhenti melangkah. Wanita itu menoleh kearah Regan dan menatap lelaki yang kini berada dihadapannya dengan penasaran.


"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" tuduh Yona kepada Regan.


"Apa memangnya?" tanya Regan balik karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Yona.


"Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari?"


"Aku sudah bilang Yona, aku merindukanmu, kamu mendengar ucapanku kan? Aku merindukanmu, merindukan Yonaku!" ucap Regan menunjuk Yona di depannya.


Yona menatap Regan dengan teliti, menilai ucapan Regan apakah benar-benar jujur ataukah hanya alasan lelaki itu untuk mengusik hidupnya.


"Dia anak dari adiknya Bunda, Maisha," jawab Regan menjelaskan.


Adik sepupu Regan? Ck, rupanya Yona sudah tersulut api cemburu hingga tidak berpikir dengan baik dan hanya mengandalkan perasaannya sebagai wanita saja.


"Owh," jawab Yona mengangguk.


Wanita itu menarik tangan Regan untuk mengikutinya hingga mereka sampai diruang tamu yang ada di lantai satu rumah kakaknya.


"Kapan kamu akan pulang?" tanya Yona begitu saja.

__ADS_1


Dalam hatinya, Yona merutuki pertanyaan yang baru saja dia ucapkan. Kalau bisa jujur, Yona akan mengatakan dia begitu merindukan Regan. Dua hari tanpa berkomunikasi dengan lelaki itu sudah membuat hidup Yona terasa hampa dan juga sepi.


Untung saja Regan bertekad datang menyusulkan ke Inggris.


"Aku akan pulang jika kamu pulang," jawab Regan menatap Yona.


"Kenapa begitu?" tanya Yona dengan polosnya.


"Aku tidak mau pulang jika separuh jiwaku di sini," ucap Regan membuat Yona tersipu.


Regan menggenggam kedua tangan Yona, lelaki itu mencium tangan Yona.


"Aku sadar, aku bukan apa-apa tanpamu Yona," ucap Regan dengan matanya yang sangat tulus.


Dada Yona rasanya ingin meledak mendengar Regan mengatakan hal-hal manis seperti itu. Regan memang bukan lelaki romantis seperti teman-temannya, lelaki itu cenderung kaku dan juga cuek. Tapi Regan juga sangat peduli kepada dirinya.


Regan memeluk Yona dengan erat.


"Berjanjilah, kamu tidak akan pergi tanpa memberitahuku dulu," pinta Regan, menatap lekat manik mata Yona.


Yona mengangguk. "Aku berjanji."


"Aku mencintaimu Yona."

__ADS_1


__ADS_2