
Benar tebakan Dokter Gustin Justavo, para wanita menangis dengan sesegukan ketika adegan sedih di dalam drama itu muncul. Mereka semua sudah menonton drama Crash Landing On You secara maraton dengan durasi yang dipercepat.
Waktu sepertinya berlalu dengan cepat, tidak terasa menonton drama secara maraton kali ini memakan waktu hampir tiga jam lamanya. Bahkan Regan dan Dokter Gustin Justavo sampai meme98uij
jamkan matanya saking lelahnya mereka meladeni para wanita yang sudah kehilangan akal sehat dan kewarasannya karena sosok dari Kapten Ri Jung Hyuk yang tidak lain adalah Kim Hyun Bin.
"Aku sudah bisa menebaknya, para wanita itu memang sulit untuk tidak menangis di adegan-adegan penuh bawang bertebaran," ucap Dokter Gustin Justavo setengah berbisik, takut jika suaranya mungkin akan membuat Livia sang istri dan juga Yona kembali marah karena mereka berdua berbicara terus saat drama berlangsung.
Regan mengangguk mengiyakan, lelaki itu sendiri tidak tahu kemana arah pikiran dari para wanita yang tidak pernah merasa bosan dengan drama-drama Korea yang mereka tonton secara berulang-ulang tanpa merasa bosan sama sekali.
"Mata kalian tidak lelah melihat layar televisi sejak tadi, sudahlah matikan saja televisinya. Sebentar lagi kan waktunya makan malam, lebih baik kita mandi saja dulu," ucap Regan mengajak Yona untuk segera mandi dan membersihkan diri.
"Em, kalian saja dulu kalau sudah selesai panggil kami ya," jawab Yona memberikan tanggapan atas ajakan Regan.
Regan mendengus sebal, itulah yang membuat Regan enggan menuruti keinginan para wanita untuk menemani mereka menonton drama Korea yang sebenarnya sama sekali tidak penting dan hanya membuang-buang waktu saja.
"Ya sudah, aku kembali ke kamar saja dulu," pamit Regan diangguki Livia dan Yona.
Sedangkan Dokter Gustin Justavo merasa sendirian sekarang. Lelaki itu menatap istrinya dan Yona yang nampak antusias melihat drama korea yang sebenarnya sudah pernah mereka tonton.
Apakah semua wanita seperti itu? Selalu menonton kembali drama-drama kesukaan mereka?
"Sayang, aku mandi duluan ya?" Tanya Dokter Gustin Justavo yang terdengar begitu ambigu di pikiran Yona.
Mandi duluan? Memangnya mereka sering mandi bersama-sama? Hmmm romantis sekali pasangan di depannya kini.
"Iya, sana mandi dulu ambil pakaian yang ada di tumpukan atas ya," ucap Livia kepada suaminya.
Dokter Gustin Justavo mengangguk, lelaki itu meninggalkan kedua wanita yang masih betah menongkrongi drama korea yang menurut para lelaki biasa-biasa saja tampang pemeran utama lelakinya.
"Gustin tidak pernah mau bajunya dicuci atau disetrika oleh pelayan rumah, harus aku sendiri. Kalau makanan dia memang orangnya agak cuek, tidak harus aku yang memasaknya sendiri," kekeh Livia menjelaskan tentang kebiasaan suaminya yang sudah menjadi ritual sehari-hari oleh Livia untuk melayani suaminya dengan segenap hatinya.
Yona tersenyum dan mengangguk, wanita itu bisa belajar banyak hal tentang kehidupan rumah tangga dari Livia. Yona baru sehari bertemu dengan wanita itu, tapi rasanya mereka begitu dekat hingga merasa nyaman satu sama lain untuk bercerita.
"Kalian sudah lama menikah?" Tanya Yona penasaran.
"Baru berjalan satu tahun bulan depan, semoga saja sampai maut memisahkn kita," ucap Livia penuh harap.
Yona mengamin'i ucapan Livia, "aku dengar dirimu dari Indonesia, asal mana?" Tanya Yona.
Livia termenung, tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Yona.
"Aku tidak lagi tinggal di sana, sebelumnya aku tinggal di Bandung. Ada satu hal yang harus membuatku meninggalkan Indonesia, sama seperti tokoh novel yang aku baca. Dia meninggalkan Indonesia untuk menyembunyikan kehamilannya. Sedangkan aku pergi dari Indonesia untuk melupakan segalanya," kekeh Livia malah menceritakan cerita novel yang dia baca sebelumnya.
"Oh ya? Novel apa?" Tanya Yona penasaran.
"Judulnya Love You Boss, karya Tiya Corlyningrum," jawab Livia.
"Bisa beli di mana? Aku tertarik sekali," jawab Yona.
Livia tersenyum, "kamu dan Regan memang berjodoh, tadi Regan juga bertanya di mana dia bisa membeli novel itu. Tapi kamu bisa mendownloadnya langsung lewat google play store," jelas Livia tentang novel yang dia baca.
"Apa kamu pernah merasa, setiap kali kamu dan pasanganmu ingin melangkah ke jenjang serius pasti ada saja halangannya?" Tanya Yona kepada Livia.
"Tentu saja ada, karena pernikahan itu mengandung pahala yang sangat besar. Maka dari itu, banyak pasangan yang diuji ketika hendak menikah. Kamu pasti mengalaminya kan?" Tanya Livia tersenyum.
"Iya, aku seperti merasa tidak sanggup saat itu. Tapi ada getaran di dalam dadaku yang membuatku terus saja ingin memperjuangkan cintaku. Karena di dalam sini sudah ada nama seorang lelaki yang amat sangat aku cintai," jawab Yona membuat Livia tersenyum mengerti.
"Akupun sama, aku harus dihadapkan dua pilihan. Kembali dengan lelaki di masa laluku atau tetap bersama dengan Gustin yang saat itu belum menjadi suamiku," jelas Livia menceritakan sisi kegalauan yang pernah dia hadapi sebelum memantapkan hatinya untuk memilih Gustin Justavo hingga kini mereka bisa menikah dan bersatu.
Dangsinege deulil ge eobseoseo
Naui maeumeul deulyeoyo
Geudaeege badeun ge manhaseo
__ADS_1
Pyohyeoneul da hal suga eobseoyo
Najimaghan insae
Sumanheun nae maeum goi dama
Geudaeegelo geonnemyeon
Nae maeum jogeum alkkayo
Eotteon iyulo manna
Nawa salangeul hago
Eotteon iyulo naege wa
Hamkke isseojun dangsin
Lagu dari IU yang berjudul I Give You My Heart mengalun di drama Crash Landing On You dengan apiknya.
Budi haengboghan naldo
Salda jichineun naldo
Modu geudaeui gyeote naega
Isseojul su issgil
Eotteon sosig boda deo
Aetage gidalyeojineun geudae
Eosgalliji anhge yeogi
Gidalilgeyo
Sumanheun geulium goi dama
Geudae naegelo ol ttaemyeon
Geu sone jwieojulgeyo
Regan yang baru saja selesai mandi mengerutkan keningnya karena melihat Yona yang masih belum kembali ke kamar tamu. Regan membuka pintu kamar tamunya. Lelaki itu harus mencari cara agar Yona segera mengakhiri menonton drama itu sekarang juga.
Regan segera mengambil ponselnya, lelaki itu memprivat nomornya untuk menghubungi nomor ponsel Yona. Suara dering ponsel Yona begitu nyaring memekakkan telinga Regan. Dengan cepat lelaki itu memanggil Yona yang masih terlihat asyik mengobrol dengan Livia di sana.
"Yona, ponselmu berdering," panggil Regan kepada Yona.
Yona menoleh, "aku angkat telepon dulu, siapa tahu penting. Sesi tanya jawab curhat colongan kita lanjutkan nanti saja," kekeh Yona pamit kepada Livia.
Livia mengangguk, "aku juga mau mengecek suamiku sebentar," jawab Livia pada akhirnya.
Yona segera berdiri dari tempat duduknya, wanita itu mengekor di belakang langkah Regan yang jangkahnya lebih panjang darinya.
"Siapa yang menelpon?" Tanya Yona menatap Regan.
Regan menghendikkan bahunya pertanda tidak tahu.
"Aku tidak melihatnya tadi," ucap Regan menjawab pertanyaan dari Yona.
Yona berjalan menuju meja nakas tempatnya menaruh ponsel. Kebetulan tadi ponselnya kehabisan batrai dan mengharuskan wanita itu mengisi dayanya lebih dahulu. Wanita itu mengerutkan keningnya, melihat dua panggilan tak terjawab dadi nomor yang tidak dikenal.
"Siapa ini yang menelpon? Kenapa nomornya panggilan yang disembunyikan? Seperti orang kurang kerjaan saja!" Cibir Yona.
Ya emang aku kurang kerjaan, biar kamu berhenti nonton Kapten Ri yanh hanya dalam drama itu!
__ADS_1
Menit berikutnya, ponsel Yona kembali berdering. Nama Sisil tertera di layar ponselnya semakin membuat Yona kebingungan. Kenapa juga hari ini para pasangan ruwet itu menelponnya?
Yona menggeser tombol hijau di sana hingga muncul durasi panggilan pertanda bahwa panggilan mereka telah terhubung.
"Sisil? Ada apa?"
Oh gosh! Sisil aku berhutang padamu, aku berjanji akan membalas kebaikanmu saat ini.
Regan tersenyum bahagia melihat Sisil menelpon Yona, akhirnya ada juga yang menyelamatkan dirinya.
"Yona! Ada kabar menegangkan untukmu. Maksudku untuk kalian!" Pekik Sisil di seberang sana membuat Yona mematikan tombol loudspeakernya.
"Ada apa? Kabar menegangkan semacam apa? Kamu tidak berniat menikah lagi kan?" Tanya Yona mengulum senyumnya.
Sisil terdengar menghembuskan napasnya panjang, "dengarkan aku baik-baik, sebelumnya pastikan kamu sekarang ada temannya," ucap Sisil membuat Yona dan Regan saling menatap.
"Iya iya, ini aku sedang sama Regan. Kenapa?" Tanya Yona semakin penasaran.
"Ngomong-ngomong, kalian ini di mana? Bukan rumah angker atau hotel angker kan?" Cerocoh Sisil di seberang sana tanpa jeda sama sekali.
Yona menggeleng spontan meskipun wanita itu tahu jika Sisil tidak akan melihatnya.
"Tidak, aku menginap di rumah keluarga Dokter Gustin Justavo. Rumahnya juga tidak ada masalah," ucap Yona menjelaskan.
Sisil terdengar berbicara dengan Nata di sana, "kalian yakin mata kalian tidak salah lihat?" Tanya Sisil sekali lagi kepada Nata dan Fernando yang kini duduk di depannya.
Nata dan Fernando menggeleng dengan cepat.
"Aku serius, kami sama-sama melihatnya Sisil!" Ucap Fernando meyakinkan Sisil.
Sisil kembali fokus kepada panggilannya dengan Yona. Wanita itu menarik napasnya panjang dan menghembuskannya kembali.
"Yona, Regan, kalian sepertinya harus memasang pelindung diri dari arwah gentayangan," ucap Sisil membuat Yona dan Regan melebarkan matanya.
Regan sontak saja meringset mendekat ke arah Yona. Perihal bangsa goib dan arwah-arwah gentayangan, Regan memang tidak berani.
"Kamu ini bicara apa Sisil? Kami tidak mengerti dengan ucapanmu," tanya Yona yang sama sekali tidak paham dengan ucapan Sisil barusan.
"Dengar, Nata dan Fernando melihat bayangan orang sudah meninggal saat tadi mereka video call dengan kalian. Makanya itu aku tidak berani video call dengan kamu saat ini," ucap Sisil menjelaskan.
"Hah? Bayangan orang sudah meninggal? Siapa yang kamu maksud?" Tanya Yona dengan setengah berteriak.
Yona merasakan bulu kuduknya meremang, wanita itu menatap ke seluruh penjuru kamar tamu Keluarga Justavo dengan menelisik.
"Olivia! Dia mendiang kekasih Rehan!" Ucap Sisil dengan menggebu-gebu.
"Apahhhh? Kalian tidak bercanda kan? Mana ada orang meninggal arwahnya gentayangan? Di agama kita menentang keras persepsi itu Sisil," ucap Yona enggan memercayai ucapan Sisil.
"Yona, kami bersumpah bahwa kami benar-benar melihatnya di belakang kalian tadi. Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Nata menyela.
"Ti..tidak, kami tidak apa-apa," sahut Yona menjawab.
Yona menarik Regan untuk segera mendekat ke arahnya. Suasana di dalam kamar itu tiba-tiba saja terasa horor dan mencekam.
"Sepertinya kalian harus melakukan penangkal arwah gentayangan," ucap Sisil terkekeh semakin memperkeruh suasana.
"Yaaaa Sisil!" Pekik Yona merasa kesal.
-
SYUKUR ALHAMDULILLAHHHHHHHH ...
AKHIRNYA TARGET BULAN FEBRUARI INI TERPENUHI JUGA BERKAT DUKUNGAN TEMAN-TEMAN READERSKU YANG TERUS MENDUKUNG AUTHOR UNTUK CRAZY UP MESKIPUN BEBERAPA HARI YANG LALU JUJUR SAJA AUTHOR MAU MENYERAH MENUNAIKAN 60K PADA BULAN INI...
SEMOGA SAJA AUTHOR DIBERIKAN KESEHATAN, KELANCARAN MENGERJAKAN SKRIPSI, DAN JUGA DIBERIKAN IDE YANG MENGALIR DERAS SEPERTI AIR MATA INI KETIKA MELIHAT KAPTEN RI BERPISAH SAMA YON SE RI WKWKWKWK..
__ADS_1
TERIMAKASIH SEKALI LAGI UNTUK KALIAN SEMUA "MY SWEET DOSEN LOVERS"