My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Kalang Kabut


__ADS_3

Blammmm, Yona menutup pintunya dengan kencang hingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras. Wanita itu berlari menuju ranjangnya dan menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut. Yona meringis merutuki kebodohan dirinya yang sangat polosnya dengan mudah menerima minuman dari Steve.


Seharusnya Yona tahu kalau Steve menaruh dendam kepadanya karena penolakan yang Yona lakukan atas tawaran yang perusahaan lelaki itu tawarkan padanya. Bodohnya Yona yang mudah percaya dengan orang asing. Jika sudah seperti ini apa yang akan Yona lakukan? Regan pasti akan menggodanya habis-habisan dan selalu menjadikan masalah ini senjata bagi lelaki itu untuk melawan dirinya.


“Bagaimana ini?” ucap Yona menggigit kukunya dengan cemas.


Kaki wanita itu menendang-nendang selimutnya kesal, suara tawa di balkon kamar Regan membuat wanita mendengus sebal. Tentu saja Regan akan tertawa sekencang-kencangnya dan sepuas-puasnya karena berhasil membuatnya semalu ini karena menolak permintaannya.


Memangnya kalau Regan menurutinya, Yona tidak akan marah? Yang jelas Yona pasti akan sangat marah dan murka kepada Regan karena menjamah tubuhnya sebelum mereka menikah.


Yah, begitulah wanita memang selalu benar dan lelaki selalu saja salah.


“Diberitahukan untuk seluruh penumpang kapal pesiar, sebentar lagi kita akan mendarat di Pelabuhan Havana. Bagi seluruh penumpang bisa sarapan di kapal maupun di luar. Terimakasih atas perhatiannya.”


Yona menyibak selimutnya kasar, wanita itu berjalan kearah balkon. Dan benar sekali tebakannya, Regan berada disana dengan bertelanjang dada. Wanita itu mendengus, namun perhatiannya teralihkan ke dada bidang Regan yang sangat menggiurkan seperti roti sobek. Membuat perut Yona keroncongan saja dibuatnya.


“Usap air liurmu,” ejek Regan yang menangkap basah Yona menatapnya penuh minat.


Yona mendengus untuk kesekian kalinya, wanita itu memalingkan wajahnya menatap pemandangan Kota Havana dari tempatnya berdiri.


“Indah sekali!” pekik Yona dengan matanya berbinar bahagia.


Regan menoleh sekilas ke arahnya, lalu lelaki itu tersenyum melihat senyuman di wajah Yona yang sempat sirna beberapa jam yang lalu.


“Regan ayo mandi sekarang, aku tidak sabar ke Havana,” ucap Yona membuat Regan dengan sigap berdiri dari kursi santainya.


“Kamu ngajakin aku mandi?” tanya Regan dengan matanya yang kini berbinar seperti tengah mendapatkan jackpot.


“Hah?” tanya Yona balik menatap lelaki itu dengan tatapan anehnya.


Regan menatap Yona penuh harap, Yona terkekeh geli melihat tatapan mata Regan yang baginya terlihat sangat lucu.


“Tentu saja," jawab Yona sengaja menggoda lelaki itu.


“Benarkah? Kamu serius?” tanya Regan dengan matanya yang membulat sempurna.


Yona mengangguk.


“Dalam mimpimu!” lanjut Yona membuat senyuman dimata lelaki itu sirna.


Regan menatap Yona kesal, lelaki itu berjalan kearah batas balkon antara kamarnya dan kamar Yona.


“Hei, kamu lupa semalam kamu menggodaku dengan sangat agresif?” tanya Regan mengingatkan Yona atas apa yang Yona lakukan padanya semalam.


Wajah Yona bias seketika, wanita itu memalingkan wajahnya dari Regan karena malu mendengarkan Regan bercerita tentang kebodohannya semalam.


“Seharusnya kamu merasa beruntung aku lelaki baik-baik yang tidak menyentuh tubuh seorang wanita sebelum kita berada dalam ikatan pernikahan yang sah menurut agama kita. Kamu harus beruntung memiliki lelaki seperti diriku yang akan menjadi imam sekaligus kepala keluarga kita nanti,” ucap Regan membanggakan dirinya sendiri.


Tentu saja Yona harus bangga atas apa yang Regan lakukan padanya. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan suasana semalam? Yona secara terang-terangan menggodanya, menyentuh titik-titik sensitivnya yang membuat hasratnya bangkit, dan juga suara desahan Yona yang sangat menggairahkan bagi lelaki manapun yang mendengarnya.


Beruntunglah Yona, dia berhadapan dengan lelaki yang selalu memegang komitmennya dalam kondisi terburuk mereka sekalipun. Sekali tidak, maka Regan tidak akan melanggar batasan yang telah dia buat sendiri. Lelaki itu memang tiada duanya.


“Hmmmm, kamu pernah dengar pepatah mengatakan, siapa yang menebar garam di lautan hingga airnya terasa asin?” tanya Yona membuat Regan menyerngit.


“Tentu saja pemiliknya, Sang Kuasa. Sama halnya seperti dirimu, siapa yang membanggakanmu selain dirimu sendiri,” ejek Yona.


Regan berkacak pinggang.


“Berterimakasihlah dirimu wahai wanita agresif!” cibir Regan sangat kesal karena Yona bertingkah seakan dirinya tidak melakukan apapun semalaman.


“Berterimakasih? Untuk apa? Bukankah kamu menikmati setiap sentuhanku?” tanya Yona dengan kalimat frontalnya, membuat Regan terbelalak tidak menyangka wanita itu bisa mengatakan hal-hal seperti itu secara langsung didepan wajahnya.


“Wuahhhh, kamu bertingkah seakan kamu tidak menikmati apa yang kita lakukan. Regannn, aku tidak tahan lagi, Regan aku menginginkanmu,” ucap Regan menirukan bagaimana perkataan Yona semalam yang sukses membuat pikirannya kacau berantakan.


“Regannnnnnnnnnnnnnnn, tutup mulutmuuu!!!!!!” pekik Yona tidak kuasa mendengarkan lagi kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu.


Apa katanya tadi?


‘Regan aku menginginkamu?’


Yona menjambak rambutnya frustasi, kenapa dia bisa segila itu dengan mengatakan kalimat menjijikkan seperti itu didepan Regan? Rasanya Yona ingin sekali terjun dari balkon kamarnya, tenggelam dibawah sana saking malunya dia berhadapan dengan Regan.


Wanita itu menoleh ke arah Regan.


“Sekali lagi kamu membahasnya, aku sumpal mulutmu,” hardik Yona dengan mata tajamnya menusuk.


Lelaki itu justru terbahak ditempatnya, baginya kejadian itu seperti senjata ampuhnya untuk menggoda Yona dan membuat wanita itu tidak bertingkah lagi di depannya. 


“Tertawa saja terus sampai nanti kita pulang ke Indonesia. Byeeee!” ucap Yona berjalan masuk kedalam kamarnya, menutup pintu balkonnya dengan keras hingga membuat Regan berjingkat kaget.


“Dasar wanita labil, semalam sangat agresif, sekarang sangat galak, nanti sangat apa lagi hahhh? Byeeee juga!” teriak Regan menjawab ucapan Yona.



Entah takdir atau kebetulan, keduanya keluar dari kamar bersamaan. Regan dan Yona saling menatap, selanjutnya mereka membuang mukanya malas.


“Dasar, penguntit!” cibir Yona melirik sekilas kearah Regan.

__ADS_1


“Dasar wanita labil!” balas Regan tidak mau kalah.


Regan berjalan mendahului Yona untuk menuju ke deck lima tempat restaurant kapal pesiar itu berada. Mereka berdua saling mendahului jalan seperti anak kecil, hingga akhirnya Yona kesal dan menyenggol tubuh Regan hingga lelaki itu sedikit terpental.


Beberapa penumpang kapal yang melewati Regan dan Yona sampai terkekeh melihat keduanya yang terus saja saling menggoda.


“Mereka sangat romantis!”


“Benar, aku iri dengan mereka.”


Baik Regan maupun Yona sama-sama mendengus di tempatnya. Tidak tahukah mereka bahwa Regan dan Yona tengah berseteru? Mana ada romantic seperti keduanya? Apakah tahun ini bertengkar masuk dalam kategori romantic? Ada-ada saja mereka itu.


“Mana mau aku romantis-romantisan dengan lelaki gampangan seperti dirimu. Didekati banyak wanita saja sudah luluh,” sergah Yona, melipat tangannya kedepan dada.


“Kamu pikir aku mau sama kamu? Wanita labil, agresif dan juga bernafsu tinggi!” ucap Regan menekan kalimat terakhirnya hingga mata wanita itu terbelalak sempurna.


“Yaaaaa, tutup mulutmu!” teriak Yona kesal setengah mati.


“Terserah!” jawab Regan meninggalkan Yona untuk mencari tempat duduk yang kosong sesuai dengan fasilitas tiket kapal pesiar yang mereka pilih.


Yona menghentakkan kakinya kesal, mana ada lelaki bertanggungjawab seperti Regan? Dia meninggalkan Yona dan berjalan lebih dulu. Bukankah itu sangat keterlaluan sekali?


Para wanita single yang baru saja datang langsung berlari mengerumuni Regan yang tengah duduk sendirian disana dengan lima kursi yang masih kosong.


“Handsome.”


“Mr.Louis.”


“Kamu tampan sekali pagi ini.” 


Para wanita itu terlihat sangat berbinar melihat wajah tampan Regan di pagi hari mereka. Bagi mereka, wajah Regan seperti vitamin pagi yang membuat harinya nanti tambah semangat. Regan seperti moodboster bagi mereka.


“Apa-apaan ini?” tanya Yona pada dirinya sendiri saat dia sampai disana dan melihat Regan duduk bersama dengan para wanita-wanita pencari perhatian.


Yona menoleh ke sekelilingnya, berharap ada kursi yang kosong. Kalaupun tidak ada, sudah dipastikan Yona akan mengusir para wanita itu yang telah berani mengambil kursinya yang kosong.


“Oh, bukankah itu Miss Yona AW?” 


Para wanita itu menoleh, begitupula Regan. Lelaki itu merasakan hawa tidak enak saat matanya bertemu dengan Yona.


“Tidak apakah kami duduk di sini?” tanya salah satu wanita itu kepada Yona.


Hei, bisa-bisanya mereka bertanya seperti itu didepan Yona yang masih berdiri untuk mencari tempat duduk sesuai kelas yang dia beli.


“Silahkan duduk disini miss Yona, saya sudah selesai sarapan," ucap penumpang kapal pesiar disamping meja Regan.


“Thankyou, Sir,” ucap Yona berterimakasih kepada lelaki itu.


Ckck, Regan sangat tidak peka. Orang lain saja peka dengan mempersilahkan wanita itu duduk disana, tapi Regan malah terlihat sangat cuek dan tidak peduli dengan keberadaan Yona di sana.


“Tampan, kamu mau aku ambilkan makanan?”


‘Hm, bawakan saja lelaki itu beras merah dan jagung mentah biar bisa mengoceh seharian’ jawab Yona dalam hatinya yang terasa dongkol setengah mati.


“Kalau kamu yang mengambilkan, pasti akan aku makan,” jawab Regan membuat mereka terpekik.


“Apa yang biasa kamu makan untuk sarapan?”


Para wanita di sana menatap Regan dengan mata berbinar.


“Teh hangat, salad, dan roti bakar,” jawab Regan.


Yona menoleh kearah Regan yang duduk tidak jauh dari mejanya saat ini, tidakkah itu adalah menu sarapan Yona?


“Baiklah aku akan mengambilkannya untukmu.”


“Aku juga akan mengambilkannya untukmu."


“Aku juga, tunggu disini dan pastikan kamu memakan apa yang aku ambilkan.”


Yona menggelengkan kepalanya tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran para wanita itu. Tidakkah mereka lihat wanita yang menjadi tunangan Regan ada di sana? Tapi kenapa mereka nampak tidak peduli dengan kehadirannya dan malah meminta izin Yona untuk duduk bersama Regan.


Oke kalau begitu, duduk saja toh Yona tidak peduli dan juga tidak merasa keberatan.


“Enaknya jadi lelaki tampan, ada yang mengambilkanku makanan,” ucap Regan bersender dikursinya, sengaja membuat Yona merasakan cemburu.


“Katakan saja kamu lelaki mata keranjang,” cibir Yona.


“Eh sepertinya ada yang ngomong? Tapi siapa kenapa aku nggak bisa lihat?” tanya Regan kepada dirinya sendiri.


Lelaki itu mati-matian menahan tawanya saat ini.


“Tentu saja tidak kelihatan, ada belek dimatamu,” kesal Yona membuat Regan menutup mulutnya agar tidak terbahak sekarang juga.


Rombongan para wanita itu datang dengan nampan berisikan makanan untuk diri mereka sendiri dan juga Regan. Yona yang melihatnya merasakan darahnya mendidih terbakar api cemburu. 


“Ini makananmu,” ucap mereka.

__ADS_1


“Terimakasih,” ucap Regan tersenyum kearah mereka.


Regan mengambil satu nampan.


“Sepertinya kita tidak akan menghabiskan semua makanan ini, aku akan membaginya dengan meja sebelah,” ucap Regan diangguki mereka semua.


Regan menaruh nampan berisi susu sengar, salad, dan juga beberapa lembar roti bakar ke meja Yona. Tanpa mengatakan apapun, Regan hanya mengedipkan matanya menggoda kearah Yona. Sekesal apapun Regan kepada Yona, lelaki itu tidak akan pernah melupakan Yona dan membiarkan wanita itu merasa terlupakan olehnya.


Suara kursi berderet membuat Regan menoleh, Yona berdiri dari sana dan beranjak meninggalkan meja itu membuat Regan mengerutkan keningnya penasaran.


‘Ke mana wanita itu akan pergi?’ pikir Regan membatin.


Mata Regan mengawasi setiap langkah wanita itu, terlihat Yona mengambil sebotol yogurt di lemari pendingin yang ada di restaurant itu. Wanita itu membuka tutup yogurtnya dengan kasar, meneguknya hingga tandas tak bersisa sama sekali.


Berada didekat Regan dengan para wanita pemujanya membuat otak Yona tidak bisa berpikir jernih. Sebelum Yona melakukan hal-hal bodoh yang akan mempermalukan dirinya sendiri, akankah lebih baik jika dia sengaja menjauhkan diri dari Regan dan para wanita itu.


Yona memilih untuk naik ke deck delapan yang akan memanjakannya dengan berbagai barang branded yang tersedia di mall kapal pesiar itu.


Regan berdiri, lelaki itu kehilangan jejak Yona yang tiba-tiba saja lenyap dari penglihatannya.


“Yona,” gumam Regan menyebut nama wanita itu.


“Ada apa tampan?” tanya salah satu wanita itu yang merasa bingung dengan ekspresi wajah Regan yang terlihat sangat cemas.


“Maaf, sepertinya ada hal yang mendesak yang harus aku urus,” jelas Regan berpamitan kepada mereka di sana.


Regan tidak memperdulikan panggilan para wanita itu, yang terpenting adalah dia bisa menemukan Yona lagi.


“Bodoh, kenapa aku seperti anak kecil dan berperang dingin dengannya,” jeluh Regan merutuki kebodohannya sendiri.


Lelaki itu berlari, mencari keberadaan Yona yang entah kini berada di mana.


“Perhatian-perhatian, diberitahukan kepada seluruh penumpang kapal pesiar. Hari ini kita akan melakukan pemberhantian di Kota Havana dan akan kembali melanjutkan perjalanan pukul enam sore waktu setempat. Dimohon para penumpang kapal untuk kembali tepat waktu, karena keterlambatan bukan tanggungjawab pihak kapal pesiar. Terimakasih, dan selamat berlibur.”


Suara pemberitahuan bahwa kapal sudah menepi membuat degup jantung Regan tidak karuan. Kemanakah Yona saat ini?


Di sisi lain, wanita itu terlihat sangat menikmati berkeliling mall di sana. Ada berbagai banyak store barang branded yang mereka sediakan. Matanya tertuju pada long drees berwarna kuning tanpa lengan. Dengan langkahnya yang bersemangat, Yona memasuki store itu untuk melihat lebih dekat dress yang telah mencuri perhatiannya.


“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”tanya pelayan store tersebut menghampiri Yona.


“Apa ukuran dress ini?” tanya Yona kepada pelayan disana.


Pelayan itu segera mengecek ukuran dress yang diminati Yona saat ini.


“Size S, Miss.”


“Aku akan mengambilnya, di mana ruang gantinya?” tanya Yona.


Pelayan mempersilahkan Yona untuk masuk keruang ganti dan menjajal dress pilihannya.


“Miss tidak turun? Kapalnya sudah menepi.”


“Iya sebentar lagi. Berapa harganya?” tanya Yona menyodorkan black card Internasional miliknya.


Yona langsung memakai gaun summer itu yang sangat cocok dengan cuaca yang ada di Kota Havana. Warna kuning membuat tubuh wanita itu semakin bersinar dan juga terlihat sangat putih bersih.


Berbeda dengan Yona yang terlihat sangat bahagia dengan kegiatannya saat ini, Regan sangat cemas dan juga khawatir akan keberadaan Yona.


“Yona, ke mana dirimu?” gumam Regan meremas tangannya.


Lelaki itu sudah mengecek ke kamar Yona dan mengitari beberapa tempat ramai di dalam kapal, namun sosok wanita itu tidak juga dia temukan batang hidungnya.


Regan berlari ke pusat informasi.


“Saya mencari tunangan saya yang hilang, bisakah saya memakai microfon informasi ini?” tanya Regan.


“Miss Yona AW?” tanya petugas informasi itu memastikan.


Regan mengangguk mengiyakan.


“Berapa umurnya?” tanya petugas informasi.


“Dua puluh lima tahun,”jawab Regan membuat petugas informasi itu menatapnya bingung.


Mana ada wanita berumur dua puluh lima tahun bisa hilang?


“Mungkin sudah turun dari kapal. Sudah mencari ke kamar?”


Regan menggebrak mejanya.


“Jangan buang-buang waktumu, minggir biar aku saja,” ucap Regan mengarahkan microfon itu ke arahnya.


“Tess tesss, perhatian untuk semua penumpang kapal, siapapun yang melihat tunangan saya katakan padanya bahwa saya sedang mencarinya,” ucap Regan dengan bahasa Inggris.


Lelaki itu mengambil napasnya penjang. “Yona, di mana dirimu? Aku mencarimu kesemua sudut tapi aku tidak bisa menemukanmu. Kemarilah, aku menunggumu, aku merindukanku,” lanjut Regan dengan bahasa ibunya yang tidak dimengerti oleh petugas informasi maupun penumpang kapal lainnya.


Petugas informasi mengulangi ucapan Regan.

__ADS_1


“Perhatian-perhatian, untuk siapapun yang melihat miss Yona AW harap memberitahukan kepadanya bahwa tunangannya menunggunya di pusat infomasi.” 


__ADS_2