My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Kapten Ri


__ADS_3

“Yona, sepertinya aku terkena virus corona deh,” ucap Regan dengan wajah tegang.


Yona langsung bangkit menghampiri Regan, “kamu tidak becanda kan?” tanya Yona tidak kalah tegang. Wanita itu memegang tangan Regan, “astaga aku tidak boleh menyentuhmu nanti aku tertular,” ucap Yona dengan mengangkat tangannya ke atas.


Regan menyentuh pundak Yona, “heii jangan pegang nanti aku tertular virusnya,” ucap Yona khawatir.


“Tidak bisa menyebar dan menular, hanya ada di diriku.”


“Maksud kamu apa?” tanya Yona memicingkan matanya.


“Virus Corona, Cerita Cintaku Mung Karo Yona,” jawab Regan receh.


Yona tersenyum dengan wajah tersipu malu, “ihhhhh kamu membuatku kesel tahu nggak, rasain nihhh!” ucap Yona mencubit lengan Regan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


Kedua manusia itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar tamu yang telah Livia dan Dokter Gustin Justavo siapkan untuk mereka. Kamar yang besarnya hampir mirip dengan luas kamar pribadi milik Yona di rumah keluarga besarnya. Mereka menatap langit-langit kamar itu dengan pikiran yang kemelut di dalam otak mereka.


Regan menoleh ke arah Yona, Regan menatap wanita itu yang kini memejamkan matanya.


“Kamu tidur?” tanya Regan dijawab gelengan kepala wanita itu.


“Tidak, kenapa?” tanya Yona menoleh menatap Regan.


Wajah mereka saling berhadapan, suara deru napas Regan dan Yona beriringan menjadi satu. Regan menyangga kepalanya dengan tangannya, lelaki itu memegang wajah Yona dengan satu tangannya yang lain.


“Maafkan aku membawamu ikut ke sini,” ucap Regan dengan tulus, lelaki itu merasa tidak enak karena telah mengajak Yona melakukan pemeriksaan pertama untuk dianalisis nantinya oleh Dokter Gustin Justavo.


Regan hanya merasa dengan adanya wanita itu akan semakin membuatnya bersemangat dalam menjalani segala pemeriksaan kesehatannya. Regan merasakan ketakutan dalam dirinya, lelaki itu takut mendengar hal yang buruk tentang kesehatannya. Maka dari itu, Regan mengajak Yona agar Regan tidak putus asa ketika Dokter Gustin Justavo mengatakan hal yang buruk sekalipun.


Wanita itu bagaikan penyemangat dalam diri Regan, ada keyakinan yang membuat Regan terus ingin dekat dengan Yona. Mungkin karena wanita itu membawa banyak keberuntungan serta kebahagiaan dalam hidup Regan selama ini.


“Kenapa minta maaf Regan? Lagi pula aku kan yang memaksa untuk ikut ke mari. Aku senang sekali menemani di setiap proses kehidupanmu,” ucap Yona menjawab permohonan maaf dari Regan yang menurutnya tidak bersalah sama sekali.


“Kamu tidak merasa keberatan menemaniku di saat-saat seperti ini?” tanya Regan menatap lekat mata Yona.


Yona menggeleng dengan cepat, “aku menikmati setiap perjalanan kehidupan bersamamu, tidak peduli apapun yang nantinya akan menghalangi kita,” jawab Yona dengan yakin.


Regan tersenyum, lelaki itu membelai pipi Yona dengan lembut. Regan bahagia bisa berbagi suka dan dukanya dengan wanita sebaik Yona. Wanita yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali matanya melihat sosok itu yang mampu membuatnya panas dingin. Baru pertama kali, Regan benar-benar merasakan perasaan yang sedalam itu dengan seseorang. Baru kali ini, Regan merasakan takut kehilangan seorang wanita yang sama sekali belum pernah dia rasakan sebelumnya. Regan mencintai Yona, mencintai wanita yang menerima segala kekurangannya.


Wanita lain mungkin akan pergi setelah mendengar keterbatasan yang kini Regan alami, keterbatasan penglihatan dan juga ingatan masa lalunya yang kadang mengecoh dan mengejeknya yang lupa tentang semua masa lalunya. Jahat sekali, Regan tidak ingat apapun tapi kilasan-kisalan dari potongan masa lalu lelaki itu terkadang menari-nari di dalam pikiran Regan seakan mengejek lelaki itu tanpa memberinya ampun.


“Aku ingin tidur, jangan ganggu aku,” ucap Yona mencari posisi ternyaman untuknya menuju kea lam mimpi.


Regan mengulurkan tangannya, “senderkan kepalamu di sini, aku ingin melihatmu dari dekat,” ucap Regan meminta Yona untuk menjadikan tangannya sebagai bantal tidurnya.


“Tidak, kepalaku berat karena ada banyak pikiran di dalamnya,” jawab Yona tidak enak jika harus membuat lelaki itu pegal nantinya setelah dirinya bangun.


“Kepala seukuran melon mana mungkin berat, banyak pikiran itu yang kamu pikir apa? Sepertinya kamu tidak pernah berpikir deh ketika melakukan apapun,” kekeh Regan membuat Yona mendengus sebal.


“Tertawalah, kamu pasti senang sudah berhasil mengejekku. Aku tidak akan membalasmu, santai saja teruslah tertawa mengejek karena itu adalah keahlian Reganera Abimanyu Louis,” jawab Yona mendelikkan matanya tajam.


Regan menarik tengkuk Yona hingga kepala wanita itu bersender di tangannya, “tidurlah, katamu kamu mau tidur. Apapun yang sedang kami pikirkan, lupakan sejenak,” ucap Regan menyentuh kepala Yona dengan lembut.


Hangat, itu adalah kesan pertama saat tangan kekar lelaki itu menyentuh kepala Yona dengan sangat lembut. Membelai anak rambut Yona, dan mencium puncak kepala wanita itu hingga membuat anggota tubuh Yona yang lainnya merasa iri.


“Tidurlah, kamu hanya boleh memikirkanku dan memimpikan diriku. Jangan berani-beraninya kamu memimpikan seseorang lelaki lain dalam pikiranmu, apalagi kamu berani memimpikan lelaki lain. Aku akan mengejarmu meskipun dalam mimpi,” ucap Regan membuat Yona mendengus.


“Memangnya kamu punya telepati sampai bisa masuk ke dalam alam mimpiku? Dasar tidak masuk akal!” ucap Yona menatap Regan mengejek.


“Lihat saja nanti kalau kamu tidak percaya,” jawab Regan dengan tatapan wajah serius.


Yona terkekeh ringan, terkadang ucapan Regan memang terdengar sangat serius meskipun mereka tengah bercanda. Dan bisa dikatakan semua ucapan Regan memang sangat serius, berbeda dengan ucapan Yona yang memang terdengar sangat receh tidak bermanfaat, alias unfaedah.


“Padahal aku sedang ingin memimpikan Kapten Ri,” ucap Yona dengan wajah yang ditekuk, pertama wanita itu kini merasa sedih.


“Kapten Ri? Siapa Kapten Ri itu? Kapten mana? TNI AD, TNI AU, atau TNI AL?” tanya Regan menatap Yona meminta penjelasan.


“Ah kamu memang tidak pernah mengikuti berita yang sedang trending sekarang ini, semua wanita di dunia ini bahkan mengelu-elukan namanya,” ucap Yona menjelaskan sosok lelaki yang dipanggilnya Kapten Ri.


“Aku juga sangat dielu-elukan banyak wanita, kenapa kamu hanya menyombongkan lelaki Ri-Ri itu, namanya siapa? Duri?” tanya Regan merasakan kepanasan di dalam hatinya.


Yona mendengus, sudah mulai lagi kan sifat sombong Regan yang kini keluar dari kandang.


“Duri memangnya ikan, huhhh kamu ini katrok sekali. Makanya punya gadget itu buat browsing, hello google siapa Kapten Ri, begitu! Kamu punya gadget buat chattingan di grup whattsapp dengan para cecunguk-cecunguk itu sih yang isinya membahas majalah funny saja,” jawab Yona terang-terangan mengejek Regan.


Regan menganga mendengarkan mulut pedas Yona yang selalu menyudutkannya setiap kali Regan menanyakan lelaki lain yang dimaksud oleh wanita itu.


“Memangnya sepenting apa lelaki itu sampai aku harus bertanya dengan Mbah Google? Saudara bukan, kerabat juga bukan, tidak penting sama sekali!” jawab Regan menarik tangannya dari kepala Yona dengan kasar.


Yona meringis ketika tangan Regan ditarik paksa oleh lelaki itu, sialan sekali Regan. Lelaki itu sendiri yang menawarkan tangannya kini malah lelaki itu juga yang mengambilnya secara paksa. Dasar lelaki sinting yang sangat menyebalkan!


“Kapten Ri juga mana mau punya suadara udik kayak kamu, nama setenar Kapten Ri saja kamu tidak tahu? Sudahlah, kamu mungkin tidak akan bisa menyamai idaman para wanita tahun ini,” ucap Yona membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Regan.


Regan menatap Yona dengan mengejek, bahkan lelaki itu menjulurkan lidahnya di belakang Yona.

__ADS_1


“Berhenti menjulurkan lidahmu sebelum aku menariknya keluar dari mulutmu!” ucap Yona membuat wajah Regan pias seketika.


Dari mana Yona tahu jika Regan sedang menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Yona? Mungkinkah Yona memiliki mata bantin yang bisa melihat ke segala arah meskipun wanita itu tidak melihatnya secara langsung? Astaga, Yona bahkan tidak perlu menengok ke belakang untuk menebak apa yang tengah Regan lakukan.


“Kamu tahu dari mana aku menjulurkan lidah?” tanya Regan penasaran.


“Tahu lah, masa tempe!” sahut Yona tanpa menengok ke arah lelaki mengesalkan di belakangnya.


Regan terkekeh kecil, “kamu benar-benar mau tidur? Aku butuh teman bicara, kalau nanti aku kesepian bagaimana?” tanya Regan mengguncang pelan tubuh Yona.


“Aku bersumpah akan memotong tanganmu jika kamu berani mengganggu tidurku, Reganera Abimanyu Louis!” sentak Yona saling kesalnya karena lelaki itu terus saja mengganggunya.


“Galak sekali,” cibir Regan menarik tangannya kembali dari lengan Yona.


Regan mencebikkan bibirnya kesal, lelaki itu setengah bangkit dari tidurnya, melihat wajah Yona yang kini terpejam memunggungi dirinya. Huhh, padalah niat hati Regan ingin melihat wajah damai itu tertidur dengan begitu nyenyak dalam rengkuhannya. Semua ini dikarenakan Kapten Ri yang mengganggu moment keharmonisan mereka sebagai pasangan.


Awas saja, Regan akan mengirimkan nama lelaki bernama Kapren Duri itu kepada teman-temannya. Regan tidak akan mengampuni lelaki bernama Kapten Duri itu. Itulah janji Regan saat ini karena kesal setengah mati.


“Memangnya siapa Kapten Duri itu sampai Yona membelanya mati-matian? Aku yakin lelaki itu pasti lelaki tampan. Yona kan memang gila sekali dengan lelaki tampan,” ucap Regan bergumam pada dirinya sendiri.


Lelaki itu merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar yang kini mereka tempati, matanya lalu beralih menatap punggung Yona. Lelaki itu mendesah, “apa-apaan ini kenapa hanya menatap punggungnya saja!” keluh Regan.


Saat lelaki itu hendak membalikkan tubuh Yona, dirinya teringat akan ancaman Yona bahwa wanita itu akan memotong tangan siapa saja yang berani mengganggu tidurnya saat ini. Hmmm, mengerikan sekali Yona ketika memberikan ancaman. Tapi kalau tidak diberikan ancaman seperti itu, mungkin Regan akan mengganggu tidurnya dengan berbagai cara.


Regan memilih mengambil ponselnya, lelaki itu langsung membuka chat grup whatsapp dari teman-teman cecunguknya. Regan mengetikkan sesuatu di sana dengan matanya menatap tajam dengan keningnya berkerut.


Carikan aku nama Kapten di Indonesia, namanya Kapten Ri. Ri siapa aku juga tidak tahu, sepertinya namanya Duri.


Regan menoleh ke arah Yona, lihat saja Regan akan menilai lelaki seperti apa yang membuat Yona sampai membela lelaki itu mati-matian. Tunggu saja tanggal mainnya, Regan akan membuktikan kepada Yona bahwa hanya dia seorang lah yang pantas untuk Yona.


Terlihat di sana Fernand sedang mengetikkan sesuatu, ‘siapa itu Kapten Ri?’ jawab Fernand di dalam grup mereka berlima. Sedangkan Nata membalas pesan Regan dengan emotikon menghendikkan bahunya tidak tahu.


“Mereka ini kudet sekali, masa tidak tahu juga siapa Kapten Duri? Untunglah aku ada temannya, jadi masih aman sama-sama kudet,” ucap Regan ketika melihat jawaban yang ditulis teman-temannya.


Regan bangkit dari ranjang, bisa tekanan batin jika dirinya harus bertanya lebih lanjut tentang siapa Kapten Ri kepada teman-temannya yang sama-sama kudetnya dengan dirinya.


“Mungkin Dokter Gustin dan istrinya tahu siapa itu Kapten Ri?” gumam Regan berpikir.


Tapi, mana mungkin mereka mengenal Kapten Ri jika yang dimaksudkan Yona adalah Kapten dari Indonesia? 


“Kapten kan ada dua kemungkinan, Kapten Pilot, atau Kapten angkatan bersenjata?” pikir Regan sekali lagi.


Lelaki itu memutuskan keluar dari kamar, lebih baik dirinya mencari teman bicara dari pada berada dalam satu kamar yang sama dengan Yona dan hanya menatap punggung wanita itu saja.


“Kalian di sini rupanya,” ucap Regan membuat Livia menoleh ke arah lelaki itu.


“Regan, duduk ke mari. Aku pikir kalian istirahat,” jawab Livia menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Regan duduk di kursi yang ada di sebelah Livia, lelaki itu menatap novel yang Livia pegang saat ini.


“Karya siapa?” tanya Regan nampak penasaran dengan novel yang kini dipegang Livia Justavo.


“Ini karya penulis Indonesia, aku mendapatkannya langsung dari penulisnya. Saat itu aku terlambat ikut pre order novel ini,” jawab Livia menunjukkan sampul depan novel yang dia pegang.


Regan hanya mengangguk, “banyak juga ya author di Indonesia,” ucap Regan.


Livia menganggukkan kepalanya, “aku selalu suka novel-novel tulisan Tiya Corlyningrum, ceritanya selalu menarik dan saling berhubungan satu sama lain. Setiap anak tokohnya pasti menjadi pemeran utama dan juga mempunyai cerita percintaan yang sangat layak untuk dibaca,” jelas Livia menceritakan penulis dari Indonesia yang dia sukai hingga saat ini.


“Aku akan membeli novelnya jika kembali ke Indonesia nanti,” ucap Regan yang terlihat begitu penasaran dengan sosok penulis yang Livia ceritakan.


“Aku pastikan kamu tidak akan menyesal sudah membelinya,” jawab Livia meyakinkan Regan.


Dokter Gustin Justavo menepi, lelaki itu meminta sang istri untuk memberikannya handuk.


“Sayang berikan aku handuk,” ucap Dokter Gustin Justavo kepada sang istri.


Regan menatap keharmonisan mereka berdua, semoga saja kelak dirinya bisa hidup bersama dengan Yona dan juga anak-anaknya kelak dengan sama baiknya dari Livia dan Dokter Gustin Justavo.


Deringan di ponsel Regan membuat lelaki itu dengan cepat merogoh saku celananya dan melihat siapa yang kini menelpon dirinya. Tanpa sengaja, Livia juga melihat nama seseorang yang tertera di layar ponsel Regan.


“Aku ganti baju dulu di dalam, kalian ngobrol-lah dengan nyaman,” ucap Dokter Gustin Justavo mengacak pelan rambut istrinya.


Regan mengangkat panggilannya, “Hallo?” sapa Regan membuka pembicaraan setelah durasi panggilan muncul di layar ponselnya.


“Eh monyet kita ribut di grup nyari Kapten Ri malah elo menghilang begitu saja!” ucap seseorang di sana yang masih bisa Livia dengar suaranya.


Wanita itu menoleh menatap ponsel Regan yang menunjukkan foto profil Rehan dengan Melodi, Livia tersenyum tanpa sadar. Semua sudah membaik sejalan dengan beriringnya waktu. Semua orang telah bahagia dengan pilihannya sendiri-sendiri. Livia dengan Gustin Justavo, dan Rehan yang membuka pintu hatinya untuk Melodi.


“Emangnya kalian sudah menemukan siapa itu lelaku?” tanya Regan penasaran.


“Belum lah, Kapten di Indonesia ada banyak monyet. Itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami!” jawab Rehan setengah berteriak sampai Regan menjauhkan ponselnya dari telinganya.


“Mungkin dia seorang pilot, atau mungkin TNI AU, TNI AD, TNI AL?” tanya Regan membuat Rehan memutar bola matanya di seberang sana.

__ADS_1


“Memangnya siapa lelaki itu? Selingkuhannya Yona? Atau cem-ceman baru Yona?” tanya Rehan.


“Cem-ceman itu apa? Tahu bacem?” tanya Regan balik membuat Livia tidak kuasa menahan senyumnya melihat interaksi mereka yang tidak berubah sama sekali meskipun umur mereka telah bertambah dewasa.


“Kamu ini katrok sekali tidak mengerti apa itu cem-ceman, cem-ceman itu gebetan,” ucap Rehan menjelaskan panjang kali lebar kepada Regan.


Oke fix, sudah ada dua orang dalam sehari ini yang mengatainya katrok dan kudet. Besok-besok, Regan kemana-mana akan terhubung dengan google saja.


“Sudahlah, aku malah bicara denganmu. Pastikan kalian menemukan Kapten Duri itu,” ucap Regan menutup panggilan mereka secara sepihak.


Regan menatap Livia meminta pengertian, “maaf kalau aku berteriak, temanku memang suka menjengkelkan,” ucap Regan diangguki Livia.


“Kamu sedang mencari siapa memangnya?” tanya Livia penasaran.


“Ah tidak, itu hanya karena Yona membandingkan aku dengan lelaki bernama Kapten Ri. Katanya Kapten Ri menjadi idola wanita dunia saat ini,” jelas Regan menerangkan maksudnya.


“Oh Kapten Ri, kamu tidak tahu siapa itu Kapten Ri?” tanya Livia menatap Regan dengan tatapan ‘apa kamu serius?’.


Regan mengangguk, lelaki itu memang tidak tahu siapa  Kapten Ri yang dibanding-bandingkan dengan lelaki setampan dirinya.


“Ya Tuhannn, dia bahkan sering wara-wiri di media sosial apalagi di instagram,” jelas Livia membuat Regan menautkan alisnya karena penasaran.


“Dia sefamous itu sampai wara-wiri di instagram?” tanya Regan dengan mata membulat sempurna.


“Iya, dia juga sangat tampan,” jawab Livia semakin membuat Regan terbelalak.


Sangat tampan dan juga famous? Astagaaaa pantas saja Yona sampai ingin memimpikan lelaki bernama Kapten Ri itu.


“Kalian membicarakan siapa?” tanya Dokter Gustin Justavo yang sudah berganti baju dengan baju rumahannya.


Livia tersenyum menatap suaminya, “ini, Regan tidak tahu Kapten Ri,” ucap Livia membuat Dokter Gustin menatap Regan.


“Serius, kamu tidak tahu siapa itu Kapten Ri?” tanya Dokter Gustin dengan tatapan geli.


Regan memutar bola matanya jengah, mungkin setelah ini penghargaan untuk lelaki paling kudet di dunia akan jatuh kepada dirinya, memalukan sekali!


“Kapten Ri memang gagah, jadi semua wanita tentu akan tergila-gila dengannya,” jawab Dokter Gustin Justavo.


Sampai Dokter Gustin Justavo juga memuji lelaki itu? Sehebat apa lelaki yang bernama Kapten Ri itu?”


“Siapa dia?” tanya Regan sangat penasaran.


“Dia itu tentara angkatan darat,” jawab Dokter Gustin Justavo duduk di antara Livia dan Regan.


Seorang tentara angkatan darat? Regan tidak akan minder meskipun pangkat lelaki itu sudah Kapten sekalipun.


“Tentara mana? Indonesia?” tanya Regan.


“Korea Utara, Kapten Ri itu tentara Korea Utara,” jelas Livia membuat Regan terbelalak.


“Korea Utaraa?” pekik Regan yang terkejut.


Livia dan Dokter Gustin Justavo terkekeh melihat ekspresi wajah Regan yang sangat lucu bagi mereka. Ternyata ada juga orang-orang sepolos Regan di usianya sekarang.


“Dia itu tokoh utama drama Korea, Crash Landing On You judul dramanya,” jawab Yona di belakang mereka membuat ketiga orang itu menoleh.


Tokoh utama dalam drama dan disandingkan dengan diri Regan yang ada di dunia nyata? 


“Selamat, kamu berhasil mengeprank diriku,” jawab Regan membuat semua orang terkekeh melihat wajah pias Regan saat ini.


-


-


-


NUMPANG PROMO, SPOILER MY HOPE SEASON 1 YANG ADA DI APP DRE*AME (bintangnya dihapus)


“Jadi kalau ingin belajar keyboard dengan cepat, rahasianya hanya satu. Kalian harus menghafal benar jaral tujuh nada penyusun. Do-re-mi-fa-so-la-si-do,” jelas Valeria memberikan arahan untuk anak-anak didiknya yang kini dengan serius memperhatikan Valeria.


Berbeda dengan anak-anak didik Valeria yang menatap valeria memperhatikan, Frederick justru tersenyum sendiri dengan isi pikirannya. Lelaki itu membayangkan saat dirinya dan Valeria duduk bersama di depan keyboard itu dan melantunkan lagu romance yang mewakili perasaan mereka.


Ah, andai saja itu benar-benar terjadi.


“Cantik,” ucap Frederick membuat seluruh mata menatap kearahnya begitu juga Valeria yang menatap lelaki itu bingung.


Frederick mengerjapkan matanya, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Siapa yang cantik, Sir?” tanya salah satu murid Valeria menatap Frederick dengan tatapan jenakanya.


“Itu, intonasi nadanya sangat cantik sekali,” jawab Frederick tergagap.


Semua orang tertawa menertawakan wajah Frederick yang kini merah padam.

__ADS_1


“Hari ini cukup sampai disini saja kelasnya, selamat bertemu kembali hari Jumat,” ucap Valeria menutup kelas musiknya untuk hari ini.


__ADS_2