
Yona memasuki rumahnya, hari ini merupakan hari yang sangat berat baginya. Niat hati ingin mengerjai Regan dan Nino, malah dirinya yang merasa dipermalukan seperti itu. Yona tidak habis pikir dengan daddynya, kenapa seorang ayah setega itu dengan anaknya.
Hikkss, isakan Yona keluar dari mulut wanita itu ketika dirinya sudah memasuki rumahnya.
Apa yang harus Yona lakukan?
Kak Marva!
Yona segera merogoh ponselnya dari tas yang tadi dia pakai, dia mencari kontak kakaknya Marva. Mungkin Marva bisa membantunya keluar dari penjara emas itu. Bolehlah, dia dijodohkan dengan siapapun, asalkan jangan main merampas kartu kreditnya.
"Hello adik kecil?"
"Huwaaaaa Kakakkkk, hiksss," pekik Yona ketika teleponnya sudah tersambung dengan Marva yang kini berada di London, menghandle anak perusahaan keluarga William.
"Kenapa? Masalah perjodohanmu?" kekeh Marva di.sana.
"Bukan, Daddy memblokir kartu debit Yonaaaa," adu Yona kepasa kakaknya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sampai Daddy semarah itu?"
"Yona menolak bertunangan dengan Regan," jawab Yona.
Terdengar hembusan napas dari Marva, sebagai kakak Marva tidak ingin adiknya menikah karena paksaan. Karena pernikahan adalah hal yang sakral, sekali seumur hidupnya.
Tapi Marva banyak mendengar tentang Regan dari adik iparnya yang kebetulan teman baik Regan. Regan lelaki yang sangat baik dan tidak pernah bermain wanita seumur hidupnya. Yang Marva dengar, Regan berasal dari keluarga baik-baik, dan memiliki karier yang cukup bagus.
Marva tidak masalah dengan Regan, masalahnya adalah kekeras kepalanya Yona dan daddynya.Yona ingin hidup bebas seperti sebelumnya, dan daddynya ingin Yona menjadi wanita yang bisa diandalkan.
"Terus, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Marva merasa kasihan kepada adiknya.
"Bisakah Kakak mengirimi Yona uang? Lewat siapa ya? Ah, lewat adiknya Kak Ana saja," ucap Yona memberikan usul.
"Baiklah, nanti Kakak minta Rehan memberikan uang cash padamu," jawab Marva akhirnya membuat Yona bernapas lega.
Tidak salah Yona mengadu kepada Marva, kakaknya selalu yang terbaik.
Dari kecil Marva tidak suka melihat Yona sakit maupun menangis. Apapun yang Marva punya akan dia berikan untuk adik satu-satunya yang sangat manja kepada keluarganya.
__ADS_1
Yona bisa bernapas dengan leluasa mulai saat ini.
.
Berbeda dengan kemarin, Yona minggu ini datang sebelum Regan sampai di kelas. Wanita itu nampaknya ingin menunjukkan bahwa dia bisa tepat waktu agar tidak mendapat ejekan terus menerus dari Regan yang ujung-ujungnya akan di laporkan kepada daddynya.
Yona menyipit melihat penampilan Regan pagi ini, lelaki itu semakin fresh dengan gaya rambutnya terbaru.
"Saya akan adakan responsi untuk materi kemarin, silahkan keluarkan kertas, tulis nama dan nim kalian," ucap Regan sesaat setelah memberi salam pembuka perkuliahan untuk hari ini.
Mulut Yona menganga mendengar kata responsi, dia sama sekali tidak punya materi yang kemarin Regan ajarkan. Bagaimana nanti jika dia mendapatkan nilai C dalam mata kuliah Regan? Bisa mati dibunuh dia dengan daddynya.
"Soal yang pertama," ucap Regan,
Yona cepat-cepat mengambil secarik kertas, menuliskan nama dan nimnya.
"Jelaskan tentang teori management klasik dan modern! Waktu menjawab tiga menit."
Tiga menit? Yang benar saja. Yona bahkan tidak tahu inti dari teori-teori itu.
Tangan Yona mencoba membuka ponselnya, mencari tahu jawaban itu di Google.
"Soal nomer dua," ucap Regan mempercepat pertanyaannya karena tahu Yona sedang berusaha membuka ponselnya, mencoba mencari tahu jawaban lewat Google.
Regan tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Regan tahu benar jika Yona tidak memiliki materi itu. Dan Regan sengaja mengeluarkan soal yang Yona tidak bisa.
Apakah Regan sedang menggunakan kekuasaannya untuk keuntungannya sendiri?
Tentu saja tidak, itu agar Yona lebih sering masuk kuliah dan fokus terhadap perkuliahannya
Perkuliahan atau dirinya?
"Jangan buang waktu untuk mencari jawaban di Google," sindir Regan.
Yona memandang Regan sengit, sepertinya lelaki itu sengaja mengawasinya dengan ketat.
Ini benar-benar tidak adil.
__ADS_1
"Kumpulkan pekerjaan kalian sekarang juga," ucap Regan memberikan perintah.
Semua mahasiswa, termasuk Yona mengumpulkan hasil jawabannya di meja dosen.
Regan duduk di sana, memilah jawaban dari mahasiswanya. Dia begitu tertarik dengan lembar jawab Yona.
Ketemu, ucap Regan membatin.
Dia menatap lembar jawaban Yona dengan ekspresi tidak percaya. Wanita itu sama sekali tidak menulis apapun di sana. Regan menatap Yona, pandangan mereka bertemu. Bahkan Yona sampai memicingkan matanya karena kesal setengah mati dengan Regan.
'Apa??' seperti itulah kini tatapan mata menantang dari Yona.
"Yona Anantasya William, ulangi responsimu setelah kuliah saya akhiri," ucap Regan dengan nada dinginnya.
Mengulangi responsi lagi? Sendirian? OMG, diulangi sampai 100x pun hasilnya tetap sama.
Regan menyuruh Yona untuk menemuinya di ruangannya, mau tidak mau wanita itu hanya menuruti saja permintaan lelaki yang menyandang status sebagai dosennya kali ini.
"Duduk," ucap Regan menunjuk kursi di depannya.
"Kenapa jawabanmu kosongan? Memangnya kamu sedang pesan bakso?" tanya Regan serius.
"Aihhh, aku lapar mendengar kata bakso," ucap Yona mengelus perutnya rata.
Regan mendengus, wanita itu punya banyak sekali cara untuk membuatnya kesal.
"Aku terpaksa memberikanmu nilai C di mata kuliahku jika kamu tidak berubah," ucap Regan penuh dengan peringatan.
"Aku tahu ini akal-akalanmu supaya Daddy marah denganku," jawab Yona memicingkan matanya menatap Regan curiga.
"Hei Yona, ini masalah kuliahmu. Jangan hubungkan dengan masalah pribadi kita."
"Benarkah? Lalu apa artinya kamu mengadu kepada daddy tentang nilai responsi terakhir kali?" tanya Yona menyindir Regan.
Regan menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Yona.
__ADS_1
"Haruskah aku menutup mulutmu dengan paksa?" tanya Regan menaikkan alisnya.
Wajah mereka sangat dekat, bahkan Yona sampai menahan napasnya saking dekatnya posisi mereka saat ini.