My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Pesuruh, Penjaga, dan Tissue Pengganti


__ADS_3

"Regan, ambilkan antingku." Lagi-lagi, Yona memanggil Regan untuk mengambilkan beberapa barang pribadinya.


Entah sudah keberapa kali wanita itu memerintah Regan yang kini duduk di ruang gantinya. Regan mendesah, meskipun begitu Regan tetap mengambilkan anting Yona sesuai kemauan wanita itu.


Regan berdiri, berkacak pinggang menatap Yona yang kini masih di makeupin oleh ahlinya. Salah satu MUA terkenal di Indonesia yang sudah menjadi langganan para artis Indonesia.


"Memangnya di mana managermu itu?" ucap Regan menahan kesalnya karena diperintah sejak mereka datang ke lokasi.


"Dia kan ada di luar," ucap Yona tanpa menatap Regan, masih memejamkan matanya dengan pulasan brush di matanya, mengaplikasikan eyeshadow di sana.


"Menjengkelkan!" keluh Regan kembali duduk di tempatnya.


Yona mengulum senyumnya, dia tahu benar bahwa lelaki itu kini mati-matian menahan emosinya karena dirinya.


Debora, masuk ke dalam ruangan Yona. Meminta wanita itu untuk segera keluar karena persiapan pemotretan sudah selesai dan telah siap.


"Jagain tasku ya," ucap Yona.


Regan mendengus, selain menjadi pesuruh wanita itu, kini dia harus menjaga barang-barang disana.


"Ini makanan ringan untuk mengisi waktu senggang Anda selagi menunggu," ucap Debora meletakkan satu paperbag dari toko kue terkenal dinsana.


Dia hanya mengangguk, ternyata pekerjaan seorang model sangat membosankan seperti ini. Tidak ada yang menarik sama sekali. Regan meregangkan tubuhnya di sofa panjang yang ada disana.


Selagi menunggu Yona, mungkin lebih baik Regan tidur mengistirahatkan tubuhnya setelah perjalanannya kemari yang menyita energinya.


Suara cekikikan beberapa orang membuat Regan terbangun.


"Kalian siapa?" pekik Regan ketika dua orang lelaki lenjeh menatapnya lapar.


Regan langsung bangkit dari posisinya, dia menatap kedua lelaki itu dengan pandangan waspada.


"Kamu baru bangun?" tanya Yona yang baru saja keluar dari berganti baju.

__ADS_1


Rupanya suara kedua orang itu membangunkan Regan.


"Yona, siapa mereka?" tanya Regan menunjuk kedua orang itu.


"Mereka asisten pribadiku di Paris," jawab Yona membuat mata Regan terbelalak.


Sedari tadi, kedua lelaki itu menatap Regan dengan terpesona. Mereka tidak tanggung-tanggung mengungkapkan ketertarikannya kepada Regan hingga Regan menyerngit.


Yona terkekeh geli, jika dari luar Regan terlihat gagah. Ternyata Regan sangat takut dengan sebangsa lelaki lenjeh. Regan terus menempel dindekat Yona, tidak membiarkan para asisten Yona mendekatinya sejengkalpun.


"Kapan selesainya?" keluh Regan.


"Sebentar lagi Re, pemilik kebun mengajak kita berkeliling," ucap Yona dijawab helaan napas dari Regan.


Kini mereka mengikuti langkah pemilik kebun, mengajak mereka berkeliling sambari menikmati suasana di kebun.


Yona menggenggam tangan Regan, mengajak lelaki itu untuk mengikuti langkahnya. Mereka berdua berjalan beriringan, sangat serasi. Membuat para kru pemotretan yang kini berjalan bersama mereka menatap Yona dan Regan iri.


"Kamu mau?" tanya Yona ketika tangannya memetik buah strowberry segar.


Yona menyodorkan buah itu ke mulut Regan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Yona penasaran.


"Manis," jawab Regan menatap kedua mata Yona.


Yona mengambil satu buah lagi, memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Bwah , manis apanya. Asam sekali," keluh Yona bergidik saat rasa asam menyapa mulutnya untuk pertama kali.


Regan tertawa, lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan memotret Yona dengan ekspresinya yang menggemaskan.


"Kamu mengerjaiku ya?" tuduh Yona menatap Regan.

__ADS_1


"Punyaku manis Yon, karena aku makan sambil menatapmu," ucap Regan sungguh-sungguh.


"Ish gombal!" ucap Yona menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Sepertinya penilaian Yona terhadap Regan salah, lelaki itu tidak sekaku yang dia bayangkan. Regan selalu bisa membuatnya berdebar dengan sentuhan kecil maupun ucapan-ucapan manisnya yang sebenarnya sangat sederhana. Regan selalu memperlakukannya dengan baik walaupun terkadang lelaki itu menyebalkan.


"Kalau menatapku?" tanya asisten Yona membuat Regan bergidik ngeri.


"Berhenti menggodanya, Em," ucap Yona memarahi Emanuel asistennya.


"Ekhemmmm, dibelainnnn," goda Debora membuat Yona dan Regan salah tingkah.


*


Yona menitikkan air matanya, sebentar lagi Debora, Emanuel, dan Aharon akan kembali ke Paris. Yona memeluk mereka bertiga.


"Maafkan jika aku memiliki salah jika selama ini merepotkan kalian," ucap Yona.


"Aku sedih sekali, tidak ada model kita yang secerewet kamu lagi," isak Emanuel memeluk Yona.


Tangisan Yona semakin pecah saat Debora, Emanuel, dan Aharon memasuki mobil yang menjemput mereka untuk kembali ke Paris dimana agensi mereka didirikan.


"Aku akan mengunjungi kalian," teriak Yona melambaikan tangannya.


Regan mengelus punggung Yona, Yona memeluk Regan dengan erat dan menangis di sana.


"Hiks..hiksss," isak Yona tak tertahankan. Mereka seperti keluarga kedua bagi Yona. Berat rasanya berpisah begitu saja setelah mereka melakukan perjalanan panjang untuk sampai di Indonesia.


Debora memiliki banyak pekerjaan lain yang tidak bisa dia tunda meski sebentar saja.


"Stttt, kalian bisa bertemu lagi nanti," ucap Regan mengelus puncak kepala Yona.


Yona meraih kemeja Regan, menggunakan kemeja lelaki itu untuk mengelap air mata dan ingusnya. Sedangkan Regan hanya melongo tidak percaya, selain jadi pesuruh dan penjaga, kini lelaki itu dianggap tissue oleh Yona.

__ADS_1


__ADS_2