
Rumah keluarga Louis terlihat sangat ramai, banyak sanak keluarga mereka yang datang untuk menjenguk Regan yang sudah diperbolehkan pulang. Septian sengaja mencegat para tamu yang ingin datang menjenguk Regan sebelum mereka masuk kedalam bertemu dengan Regan.
Septian meminta semua orang untuk tidak membahas masalah pertunangan Regan dengan Yona. Maupun membahas perkembangan kasus yang menimpa Regan dan Yona hingga berakhir kekacauan seperti sekarang ini.
Banyak tamu yang mendoakan Regan untuk cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas dengan normal seperti sebelumnya. Bahkan para rekan kerja Regan dan beberapa mahasiswanya ikut datang menjenguknya.
Semua orang merasa kasihan kepada Regan dan Yona. Seharusnya mereka berdua sudah bertunangan dan semakin dekat. Tapi nampaknya proses percintaan mereka tidak semudah yang orang pikirkan. Kini keduanya harus terpisah oleh batasan yang ada pada diri Regan.
"Aku punya kenalan dokter si Singapura yang sering menangani pasien lupa ingatan seperti Regan. Nanti aku akan mengirimkan kontaknya padamu" ucap sanak saudara keluarga Louis kepada Septian yang kini mengantarkan mereka keluar dari rumah setelah menjenguk Regan.
"Terimakasih mas sudah datang menjenguk Regan" ucap Septian memeluk saudara jauhnya sekilas.
"Aku turut sedih mendengar semua yang terjadi pada putramu. Tapi kami selalu mendoakan yang terbaik untuk Regan. Jangan menyerah, Regan membutuhkan semangat orang-orang disekitarnya" ucap saudara Septian merasa simpati.
Septian menepuk pelan pundak saudara jauhnya, "Sekali lagi terimakasih" ucapnya tersenyum.
Septian menatap mobil yang ditumpangi keluarga saudaranya keluar dari gerbang rumahnya. Baru saja dia hendak masuk ke dalam rumah, mobil mewah memasuki pelataran rumah mereka dengan mengklakson mobil membuat Septian menatap mobil mewah itu menyerngit heran karena tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya.
Seorang lelaki berpawakan atletis keluar dari mobil, disusul wanita dari kursi penumpang dan juga seorang anak lelaki yang berusia tidak jauh dari usia Devaro putra Racka. Septian menatap mereka lekat, namun lelaki itu langsung menyadari tamu yang datang ke rumahnya itu ketika Yona juga keluar dari mobil yang sama.
"Itu pasti keluarga Marva" gumamnya tersenyum, ini pertama kalinya Septian bertemu langsung dengan putra dari keluarga William.
Marva, Arianna, Machiko dan Yona berjalan kearah Septian.
"Siang om" sapa Marva sangat hangat, mencium tangan lelaki itu dengan sopannya.
Disusul Arianna, Yona , dan si bocah banyak tingkah Machiko.
"Ini rumah uncle Re mom? Besar sekali pilarnya" ucap Machiko menatap pilar pilar besar rumah Regan dengan mata berbinar.
Bocah itu berlari mendekati pilar utama, memeluk pilar itu seakan-akan ingin mengukurnya dengan kedua tangannya.
"Wuahhh, tanganku tidak cukup untuk memeluknya. Mommy kemari, coba tangan mommy yang memeluknya" pinta Machiko melambaikan tangannya memanggil sang mommy untuk mendekat kearahnya.
"Machiko kemari, jangan bermain di rumah orang" ucap Arianna memeringati putra sematawayangnya.
"Biarkan saja, ayo masuk kedalam" ucap Septian mempersilahkan keluarga Marva masuk kedalam rumahnya.
Mereka masuk kedalam rumah, Machiko dibelakang mereka menatap takjub desain rumah keluarga Louis dengan decakan kagumnya. Anak itu bukannya tidak pernah melihat rumah megah atau bangunan mewah sebelumnya. Machiko sudah terlalu sering melihat bangunan-bangunan seperti itu, hanya saja rumah keluarga Louis ini memiliki desain yang sangat unik.
"Bunda, Regan, lihat siapa yang datang" ucap Septian membuat Lili yang baru saja memberikan minum kepada Regan menoleh disana, begitu juga Regan.
"Uncle, kenapa kepala uncle dihiasi begitu?" Tanya Machiko berlari kearah Regan yang duduk di sofa ruang keluarga.
Arianna mencoba menahan tubuh Machiko tapi terlambat. Gerakan gesit anaknya tidak mampu untuk dia kendalikan lagi.
Machiko duduk dengan antusias disamping Regan, membuat Lili sangat gemas dengan Machiko yang begitu tampan apalagi manik mata lelaki itu dan juga bulu matanya yang sangat lentik untuk ukuran lelaki.
"Uncle bermain dokter-dokteran?" Tanya Machiko menatap Regan penasaran.
Regan menautkan alisnya bingung, tidak mengenal siapa anak lelaki yang sangat cerewet itu. Regan menatap semua orang, ada satu postur tubuh yang sangat dia hafal di luar otaknya. Ada Yona disana bersama tamu asing yang kini datang menjenguknya.
"Dia keponakan Yona, namanya Machiko" ucap Lili menerangkan.
"Ohh" jawab Regan mengangguk.
Regan berdiri, menyalami Marva dan juga Arianna.
"Senang bertemu kalian kakak" ucap Regan diangguki Marva dan Arianna.
"Kami sangat cemas begitu mendengar kondisi terakhirmu dari Yona. Jadi kami langsung datang ke sini dari Bath, Inggris" ucap Arianna membuat Regan menatapnya bingung.
Bath? Inggris? Bukankah itu tempat yang ada dalam mimpinya? Kenapa keluarga kakaknya Yona berasal dari sana?
"Kalian tinggal disana?" Tanya Regan memastikan.
"Iya, kamu kan pernah ke-" ucapan Arianna berhenti saat Yona mencubit lengannya pelan.
Arianna menatap tajam kearah adik iparnya, "Beraninya kamu mencubit kakak" ucap Arianna berbisik.
"Kakak mau membunuhnya?" Bisik Yona balik.
Arianna ternganga, wanita itu nampaknya baru menyadari kesalahan apa yang baru saja dia buat. Dengan cepat Arianna mengubah ekspresi wajahnya.
"Kamu kan pasti pernah mendengar tentang Kota Bath" jawab Arianna disertai kekehan kecil yang keluar dari mulut wanita cantik satu anak itu.
"Hahaha" tawa tiba-tiba saja keluar dari mulut Yona membuat semua orang menatapnya bingung, apalagi Regan.
Machiko menepuk bokong Regan berkali-kali, sontak saja itu menjadi pemandangan lucu bagi semua orang karena tidak ada yang pernah menepuk bokong Regan sebelumnya.
__ADS_1
'Bocah sialan, untung ada nyokap bokap elu' umpan Regan didalam hatinya.
"Uncle uncle, ayo kita main dokter-dokteran. Aku mau jadi dokternya" ucap Machiko membuat Regan terbelalak disana.
Arianna menarik Machiko untuk mendekat kearahnya, "Sayang, uncle kan sedang sakit. Kapan-kapan saja mainnya" ucap Arianna memberikan pengertin kepada putranya.
'Uncle? Kapan aku menjadi unclemu?' batin Regan mendengus.
"Aduh kok malah pada berdiri gini sih, ayo Yona ajak kakak kakakmu untuk duduk" ucap Lili diangguki Yona.
"Duduk kak" ucap Yona mengajak Marva dan Arianna duduk.
"Bunda buatkan minum dulu ya" ucap Lili beranjak meninggalkan mereka.
Arianna mengkode Yona dengan menyenggol lengan adik iparnya itu untuk menyusul Lili ke dapur membuatkan minuman untuk mereka disana.
Yona segera menyusul Lili ke dapur, "Bunda biar Yona bantu" ucap Yona kepada Lili.
"Tidak usah sayang, kembali saja ke sana dengan yang lainnya" ucap Lili tersenyum.
"Ihh bunda kayak sama siapa aja, bunda mau buat apa itu?" Tanya Yona saat Lili mengeluarkan buah-buahan dari kulkas.
"Mau buat jus melon" ucap Lili menjawab ucapan Yona.
"Wuahhhh Yona sangat menyukai jus melon buatan bunda. Pernah beberapa kali Yona minum punya Regan, enak sekali" ucap Yona dengan raut wajah berbinar.
Lili hanya terkekeh kecil mendengar Yona memuji jus buatannya. Memang benar, jus buatan Lili sangat enak. Meskipun ada pelayan di rumahnya, Lili selalu memasak sendiri untuk suami dan anaknya, hanya beberapa kesempatan saja Lili meninggalkan kewajibannya itu.
Ditempatnya, Regan menatap Yona dan sang bunda yang terlihat sedang tertawa renyah seakan mereka berdua sudah sangat dekat satu sama lain sejak lama.
Guncangan di tangannya membuat Regan menoleh,
"Aunty cantik kan uncle?" Tanya Machiko yang menangkap basah Regan menatap Yona dengan lekat tanpa mengedipan matanya selama beberapa menit.
Regan gelagapan di tempatnya, bocah yang kini duduk disampingnya memang sangat menjengkelkan seperti auntynya. Untung saja bocah itu bukan keponakannya, jika keponakannya maka Regan akan menggites anak itu seperti menggites semut.
"Oh ya uncle, uncle sudah menjalankan misi kita?" Bisik Machiko membuat Regan menyerngit bingung.
Misi apa memangnya? Apakah Regan pernah bertemu Machiko dan menjanjikan sesuatu kepada anak itu? Ah rasanya Regan tidak pernah mengingat anak itu di pikirannya.
"Perkenalkan, uncle akan menjadi unclemu"
"Maksudnya suami aunty Yon?"
Kini Regan menoleh kearah Machiko, sepertinya itu suara bocah banyak tingkah ini.
"Hei kenapa dengan tatapanmu itu ?"
"Jelek begini, Chiko tidak mau punya uncle jelek "
Mata Regan terbelalak, berani-beraninya bocah itu mengatai dirinya jelek? Belum tahu bocah itu kalau auntynya sering mencuri kesempatan untuk berdekatan dengannya.
"Uncle? Uncle sekarang bermain tuli-tulian?"
Hah tuli-tulian? Kejam sekali mulut bocah itu.
"Misi apa?" Tanya Regan pada akhirnya membuka suara.
"Itu Nayna" bisik Machiko takut orang tuanya mendengarnya.
Regan membelalakkan matanya, bagaimana bisa bocah itu mengenal Queenayna anak Sisil dan Nata? Wah bocah itu rupanya sangat update tentang jajaran para bibit-bibit wanita cantik di masa depan.
"Dari mana kamu mengenal Nayna?" Bisik Regan ditelinga Machiko.
Machiko menepuk punggung Regan dengan keras, "Uncle sudah pikun rupanya, ah uncle nggak seru" ucap Machiko menekuk wajahnya kesal.
Di hati Machiko, anak itu sangat kesal karena sekutunya untuk mendapatkan Nayna sejak dini malah menjadi pikun dan tidak ingat apa-apa. Sudahlah, mungkin Chiko akan mencari sekutu lain, begitulah pikiran menggemaskan yang sedang menghinggapi kepala anak lelaki itu.
"Chiko, uncle sedang sakit kenapa malah dipukul punggungnya" ucap Marva dengan suaranya yang terdengar memperingatkan.
Machiko menunduk, tidak berani menatap mata daddynya yang kini menatapnya dengan melebarkan mata marah.
"Im sorry uncle" ucap Chiko menatap Regan dan mengerjapkan matanya lucu membuat Regan mencubit pipinya gemas.
Ternyata keponakan Yona tidak terlalu menyebalkan seperti yang dia kira. Mungkin karena mereka satu bibit, jadi kelakuan Yona dan Chiko memiliki banyak sekali kesamaan.
Yona dan Lili bergabung bersama mereka, Yona menyodorkan gelas berisi jus melon itu kepada Regan.
"Ini minumlah" ucap Yona kepada Regan.
__ADS_1
Regan menerimanya dengan canggung, lelaki itu meminumnya sekali tegukan masih menyisakan sepertiga dari gelas kaca yang menjadi wadah jus melon itu. Regan menatap Yona sekilas saat wanita itu duduk disamping kakak iparnya.
Regan merasa aneh, kenapa Regan setiap malam selalu ingin menghubungi Yona? Regan seperti ingin tahu apa yang sedang wanita itu lakukan setiap malamnya.
"Hei Yona, dua hari ini kamu kemana saja?" Tanya Regan tidak sanggup menahan isi hatinya sendiri.
Yona menoleh kearah Regan, menautkan alisnya bingung dengan pertanyaan Regan.
"Why?" Tanya Yona penasaran.
"Kenapa dua hari ini kamu tidak menjengukku kemari?" Tanya Regan kembali membuat Yona mengulum senyumnya bahagia.
Yona bukannya sengaja tidak menjenguk lelaki itu. Hanya saja Yona tidak punya alasan untuk datang ke rumah Regan. Jadi, dari pada membuat Regan curiga kepadanya Yona memilih untuk menahan dirinya untuk tidak menemui Regan dua hari ini.
Untung saja kemarin keluarga kakaknya pulang ke Indonesia untuk menjenguk Regan dan mengamati kasus yang kini sedang bergulir di Kejaksaan Negeri Bandung.
"Kamu merindukanku ya?" Ucap Yona seketika membuat wajah Regan menjadi pias.
Semua orang kini menoleh kearah Regan, seperti ingin mendengarkan jawaban yang akan keluar dari mulut Regan.
"Hah merindukanmu? Tidak, aku hanya..hanya penasaran" jawab Regan memalingkan tatapannya kearah lain, tidak berani menatap wajah Yona meskipun di mata lelaki itu wajah Yona nampak samar.
"Itu hanya alibinya uncle, iya kan?" Tuduh Machiko menatap Regan.
"Hei bocah, tahu apa kamu urusan orang dewasa!" Jawab Regan berdecak mendengar Machiko melontarkan tuduhan yang semakin menyudutkan dirinya didepan semua orang yang kini tampak menatap Regan dengan geli.
"Regan, perbanmu belum kamu ganti ya? Tanya Lili yang baru teringat jika perban Regan belum dia ganti karena keduluan keluarga Yona datang kesana.
"Biar Yona yang menggantinya, dimana perbannya bunda?" Tanya Yona.
"Ada di kamar Regan, ganti saja sekalian disana. Regan juga harus istirahat setelah minum obat" usul Lili mengingatkan Regan untuk istirahat.
Yona mengangguk, wanita itu menyodorkan tangannya kepada Regan. Tapi Regan tidak menerimanya, lelaki itu malah berjalan lebih dulu meninggalkan Yona dibelakangnya.
"Aku tahu kamu sedang mengejekku" ucap Regan tiba-tiba berhenti membuat Yona menabrak punggungnya.
"Kalau berhenti bilang kek" keluh Yona mengusap keningnya yang terasa panas.
Regan menyodorkan tangannya kepada Yona, "Tuntun aku naik tangga" perintah Regan bak anak sultan membuat Yona memutar bola matanya kesal.
Tadi saja saat Yona menawarkan bantuan lelaki itu menolaknya mentah-mentah, sekarang lelaki itu yang menyuruhnya dengan seenak jidatnya.
"Yang kenceng dong meganginnya" ucap Regan mencekal tangan Yona, dan mengelusnya sekilas.
"Iya ini udah kenceng, nihhh kurang kenceng?" Tanya Yona sengaja mengencangkan cengkeraman tangannya di lengan lelaki itu.
"Aw awww kamu nggak iklas nolonginnya?" Tanya Regan menatap Yona.
Yona tidak menjawabnya, wanita itu menuntun Regan menuju kamarnya setelah mereka berhasil melewati anak tangga terakhir.
"Hei dari mana kamu tahu dimana kamarku?" Tanya Regan yang merasa aneh karena Yona tahu kamarnya tanpa Regan memberitahunya.
Yona memutar otaknya keras, dia harus mencari jawaban yang untuk menjawab pertanyaan Regan agar lelaki itu tidak mencurigai dirinya.
"Oh kemarin kamar mandi dibawah itu kerannya mati jadi bunda nyuruh aku pakai kamar mandi didalam kamarmu saja" jawab Yona mendesah lega akhirnya dia bisa mencari jawaban yang sangat logis.
Regan hanya mengangkat bahunya tidak tahu harus mempercayai ucapan wanita itu atau tidak. Regan duduk di ranjang tempat tidurnya, sedangkan Yona mengambil kotak obat yang berisi perban dan teman-temannya.
"Cuci tanganmu dulu" ucap Regan memperingatkan Yona, karena tangan Yona harus bersih dan steril dari kuman.
"Banyak maunya ya kamu!" Kesal Yona menghentakkan kakinya menuju wastafel yang ada di kamar lelaki itu.
Yona kembali mendekat kearah Regan, kurang dua langkah wanita itu sampai disana kaki Yona tanpa sengaja menyandung karpet yang ada di lantai.
"Aaaa" teriak Yona saat tubuhnya limbung menubruk tubuh Regan hingga mereka berdua jatuh diatas ranjang.
Yona membuka matanya, wanita itu hendak bangun dari posisinya sekarang.
"Ma..maafkan aku" cicit Yona merasakan kegugupan yang luar biasa.
Regan melingkarkan tangannya di pinggang Yona, membisikkan sesuatu di telingan wanita itu hingga Yona menegang disana.
"Kamu sengaja menggodaku kan?" Tuduh Regan membuat mata Yona melebar sempurna.
-
*JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW AKUN AUTHORRR ✌️✌️❣️
SELAMAT MEMBACA PARA BUCIN LOVERSSS 😍😍😍 JANGAN TERKONTAMINASI KADAR KEBUCINAN MY SWEET DOSEN YAHH 🤣🤣*
__ADS_1