
Regan menggenggam jemari Yona dengan erat, lelaki itu sangat menyesal sudah membuat Yona menangis karena mencarinya. Kini mereka menikmati alunan lagu yang mengalun memenuhi seantero concert hall dengan teriakan-teriakan penonton lainnya.
Mereka berdua ikut hanyut bersama penonton yang lainnya. Yona melambaikan tangannya keatas, mengikuti penonton lainnya. Regan tersenyum melihat Yona begitu bahagia hanya karena menonton konser saja.
Sepertinya membuat wanita itu bahagia tidak butuh barang mahal ataupun mewah. Cukup apa yang wanita itu inginkan saja sudah membuat Yona sangat bahagia.
"Kamu sesenang ini nonton konser?" Tanya Regan membuat Yona menoleh kearahnya.
"Iya, kamu tidak nyaman berada ditengah keramaian? Kalau kamu tidak nyaman kita keluar saja," ucap Yona namun dijawab gelengan kepala oleh lelaki itu.
Dimana pun mereka berada, dan kemanapun Regan pergi, asalkan dengan Yona maka Regan akan merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Wanita itu, yang kini tersenyum lebar kearahnya, menjadi energy positif di dalam hidupny. Regan rela melakukan apapun untuk wanita itu.
Waktu terus berjalan, konser ambyar itu telah selesai. Mereka berdua keluar dari sana dengan bergandengan tangan, mengantisipasi jika mereka akan terpisah kembali.
"Kamu lapar?" Tanya Regan.
Yona mengangguk, "Aku lapar," jawab Yona membuat Regan mengacak pelan rambut Yona.
Regan menggandeng tangan Yona keluar dari mall. Niatnya, mereka akan makan malam di luar mall karena mall itu sudah gelar. Mereka yang nonton konser saja harus lewat tangga darurat yang tembus pintu keluar karena pintu masuk sudah dikunci.
"Kita makan di mana?" Tanya Regan kepada Yona.
"Iga bakar si jangkung?" Tanya Yona membuat Regan menoleh kearahnya.
Rasanya Yona pernah mengucapkan nama tempat makan itu kepadanya. Tapi kapan?
"Baik ratuku," jawab Regan membuat Yona tersenyum.
Regan melajukan mobilnya menuju tempat makan yang Yona inginkan. Lelaki itu sedari tadi diam membisu memikirkan apa yang sudah dia lupakan. Kenapa semua yang dia lakukan bersama Yona seperti kilasan balik masa lalu mereka.
Apakah mereka berdua memiliki hubungan sebelum Regan kehilangan ingatannya?
Lelaki itu menoleh menatap Yona, "Jangan menatapku terus Re, kamu bisa menabrak nanti," ucap Yona mengingatkan Regan untuk fokus ke jalanan.
Mereka berdua sampai di rumah makan yang sederhana namun terlihat sangat nyaman. Terbukti dengan banyaknya pelanggan yang datang ke sana untuk mengisi perut kosong mereka.
"Kalian datang lagi?" Ucap lelaki yang tengah membakar ikan ketika melihat Yona datang bersama Regan.
Kening Regan berkerut, 'kalian datang lagi?'.
"Apa kami pernah datang kemari sebelumnya?" Tanya Regan diselimuti rasa penasaran yang luar biasa.
Tukang bakar itu mengangguk, "Iya," jawabnya membuat mata Yona melebar sempurna.
"Aku memang pernah datang kemari dengan Ricki beberapa waktu lalu, mungkin masnya lupa wajah Ricki. Postur tubuh kalian hampir mirip," ucap Yona kepada Regan.
"Oh begitu," jawab Regan meskipun tidak mempercayai ucapan Yona.
Mereka duduk di salah satu tempat yang masih kosong. Kepala Regan tiba-tiba berdenyut sangat nyeri.
"Regan kamu tidak apa-apa?" Tanya Yona yang melihat Regan memegang kepalanya.
“Hemmmm, ini iga bakar terenak yang pernah aku makan,“ ucap Yona antusias.
“Aku mau menambah satu porsi lagi,“
Yona memegangi tangan Regan, "Regan?" Panggil Yona terdengar sangat khawatir.
Wanita itu menyentuh wajah Regan, tapi Regan dengan cepat menepisnya kasar. Lelaki itu menatap Yona dengan wajahnya yang sangat pucat pasi.
"Kenapa, kenapa suaramu terus melintas di kepalaku Yona? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungan kita sebelum ini?" Ucap Regan sangat frustasi.
Yona menatap Regan, wanita itu merasa tidak enak hati. Ada beberapa orang yang kini menoleh kearah mereka.
"Regan, kita bicarakan nanti," ucap Yona meminta pengertian kepada lelaki itu.
"Katakan sekarang!"
"Kamu hanya halusinasi Regan," jawab Yona meskipun sesak memenuhi dadanya.
"Halusinasi? Kamu pikir aku gila?" Tanya Regan menatap Yona dengan nanar.
Lelaki itu berdiri, "Kita pulang sekarang," ucap Regan meninggalkan uang 200 ribu rupiah di meja.
"Regan,” panggil Yona kepada Regan yang kini berjalan mendahuluinya.
Lelaki itu masuk ke dalam mobil, begitupun Yona yang menyusul lelaki itu.
"Regan aku bisa menjelaskan ucapanku, aku tidak berniat-"
"Berhenti bicara!" Teriak Regan memukul setir kemudinya.
Yona tersentak kaget, lelaki itu tiba-tiba berubah sikapnya tanpa Yona tahu apa penyebabnya. Memangnya suara apa yang Regan dengarkan hingga lelaki itu begitu marah kepada Yona. Apakah dalam ingatan Regan muncul sekelebatan kenangannya bersama Yona?
Mereka diam, sepanjang perjalanan pulang tidak ada yang berbicara. Yona hanya memalingkan wajahnya ke luar jendela. Andai saja dia bisa menjawab dengan jujur. Tapi Yona tidak bisa, sebelum Regan sendiri yang mengingat semuanya tanpa paksaan.
"Kamu tidak harus memaksakan ingatanmu, selamat malam Regan," ucap Yona saat mereka sampai di depan rumah Keluarga William.
Regan menatap nanar punggung Yona yang kini menjauh dari matanya.
Memaksakan ingatannya? Regan seperti orang bodoh yang tidak mengingat apapun dalam otaknya. Bahkan dia sudah seperti orang gila yang terus saja berhalusinasi di dalam pikirannya.
**
Seperti rencana Shinta dan Lili tempo hari. Mereka telah membuat rencana untuk mengadakan liburan ke puncak dan menginap semalam di villa keluarga Lili.
Kini, baik Hendra Shinta dan Yona sibuk mengemas barang-barang mereka yang akan mereka bawa untuk berlibur. Yona sangat malas, pertengkarannya dengan Regan kemaren malam masih membekas dalam ingatannya. Yona tidak yakin lelaki itu akan bersedia ikut bersam mereka untuk liburan.
__ADS_1
"Ayo masukkan di bagasi mobil," kata Shinta memerintah Hendra, suaminya.
"Iya ini juga dimasukin," jawab Hendra mendengus kesal.
Yona datang dengan membawa 2 tas besar seperti orang akan pindah rumah membuat Shinta melongo dengan kelakuan putrinya.
"Astaga Yona, kamu membawa apa saja?" tanya Shinta menatap putrinya bingung.
"Biasa mom, baju, alat makeup, catokan, dan alat mandi," jawab Yona santai.
Shinta dan Hendra menggelengkan kepalanya karena tingkah ajaib anak bungsunya itu.
Saat Yona hendak membuka pintu penumpang, Shinta menghentikannya.
"Eitss, kamu tidak berangkat dengan kami Yona," ujar Shinta menahan tangan putrinya.
Yona mengerutkan kening, memangnya kenapa? Yona harus bawa mobil sendiri?
"Aku bawa mobil sendiri mom? Ya sudah kalau begitu,” ucap Yona yang berpikir mungkin mommy dan daddynya ingin menghabiskan waktu berduaan.
Yona hendak melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya, tapi Shinta menyekal tangan Yona.
"Eh siapa yang bilang kamu bawa mobil sendiri sayangg. Kamu bareng sama Regan," kata Shinta membuat Yona melotot.
Bareng sama Regan? Terakhir kali saja mereka saling perang kebisuan. Mana tahan Yona satu mobil dengan lelaki itu.
"Nooo!" jawab Yona melipat tangannya ke depan dada.
"Siapa juga yang tanya pendapatmu! Mom menyuruh bukan bertanya," jawab Shinta santai, dia tahu putrinya sangat keras kepala.
Shinta bisa menebak, Yona dan Regan pasti sedang bertengkar. Makanya wanita itu terlihat sangat malas untuk satu mobil dengan Regan.
"Dadddd," rengek Yona memeluk lengan Hendra.
"Sorry darling, dad tidak bisa membantah perintah Kanjeng Ratu Dewi Shinta," kata Hendra tersenyum ke arah putrinya.
Tinnn tinnnn , suara klakson mobil di depan gerbang membuat semua orang menoleh.
"Nah sana, itu Regan," kata Shinta antusias saat melihat Regan berjalan ke arah mereka.
"Sudah siap semua mom?" tanya Regan pada Shinta.
Shinta mengangguk antusias,
"Audah nak Regan, sana kalian pergi saja duluan. Kasihan orang tuamu kalau menunggu lama," kata Shinta diangguki Regan.
Regan meraih tas yang tadi dijinjing oleh Yona, lelaki itu menatap Yona.
"Ayo masuk ke mobil," ucap Regan seakan tidak terjadi apa-apa kemaren malam.
"Sayang, bagaimana kalau Yona tidak mau menerima perjodohan kedua ini ?" tanya Hendra khawatir.
"Jangan khawatir ssyang, percayakan padaku," jawab Shinta sambil mengerlingkan matanya pada Hendra.
Yona dan Regan hanya diam selama perjalanan menuju puncak. Lelaki itu menoleh kearah Yona.
"Kamu marah padaku?" tanya Regan memecah keheningan diantara keduanya.
Yona menoleh, wanita itu menggeleng singkat.
"Tidak," jawab Yona.
"Lalu? Kenapa kamu diam saja?"
'Bukannya kamu yang seharian diam saja tanpa menghubungiku huhh,' batin Yona menjawab.
"Lalu apa? Gaje bangett," cibir Yona memalingkan wajahnya kearah jendela.
"Lalu kenapa muka kamu ditekuk gitu?"
"Aku nggak apa-apa kok," jawab Yona menahan kesal.
Regan menghembuskan napasnya panjang. Sepertinya wanita itu benar-benar marah kepadanya. Regan menyesal sudah berteriak di depan Yona.
"Aku minta maaf sudah berteriak di depanmu kemaren," ucap Regan menatap Yona.
"Hmm," jawab Yona singkar.
Tidak ada lagi perbincangan setelah itu. Regan fokus dengan jalanan di depannya, begitupun Yona yang larut dalam lamunannya.
Mereka telah sampai di villa keluarga Lili. Yona membuka pintu mobilnya sendiri tanpa menunggu Regan membukakan pintu untuknya. Wanita itu terlihat sangat kesal dengan sikap Regan. Yona tahu, mungkin lelaki itu sangat frustasi karena ingatannya yang sebagian hilang.
"Kalian sudah tiba?" Tanya Lili menghampiri Regan dan Yona.
Yona mengangguk, wanita itu berjalan menghampiri Lili yang sibuk menata makanan di atas meja makan.
"Bunda bawa ini dari rumah?" Tanya Yona menatap hidangan yang sudah tersaji.
"Iya, bunda sengaja masak dari rumah biar nanti kalau kita sampai di sini nggak usah masak gitu," jawab Lili diangguki Yona.
Yona mulai membantu wanita itu menata hidangan. Yona sepertinya sengaja menghindari Regan, terbukti wanita itu enggan menatap lelaki itu.
Regan membawa masuk barang-barang yang Yona bawa. Tidak lama kemudian suara mobil berhenti nembuat Regan segera keluar kembali untuk membawakan barang-barang Shinta dan Hendra.
"Jangan, biar daddy yang bawa masuk sendiri. Kesehatanmu kan menurun akhir-akhir ini," ucap Hendra menolak bantuan Regan.
"Kata dokter tidak masalah, malah disuruh untuk sering olahraga asal tidak keterlaluan capeknya," jawab Regan mengambil alih barang bawaan yang Hendra bawa.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam, kebetulan sekali saat itu Yona menoleh kearah pintu masuk hingga mata mereka berdua bertemu. Dengan cepat Yona memalingkan wajahnya karena enggan
"Kemari semua, kita makan dulu," ucap Lili meminta semua orang untuk ke ruang makan.
Yona memilih duduk di samping mommynya, sedangkan Regan memilih duduk di depan Yona. Lelaki itu terang-terangan menatap Yona sejak tadi. Ada rasa tidak nyaman ketika Yona mengacuhkan dirinya seperti sekarang ini.
"Makan Regan, Yona tidak akan pergi kemanapun kok," ucap Lili membuat wajah Regan pias seketika.
Yona mendongak menatap lelaki itu, detik kemudian dengusan keluar dari mulut Yona.
Seusai makan, para lelaki mempersiapkan acara barbeque'an untuk nanti malam.
Setelah selesai, mereka menuju kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka. Yona berjalan ke lantai atas dan masuk ke kamar yang ada di sebelah kiri.
Wanita itu membuka jendela kamarnya, udara sejuk khas puncak kini dia hirup dalam-dalam. Yona sangat merindukan udara seperti ini.
Suara pintu terbuka membuat wanita itu berbalik, keningnya berkerut melihat Regan memasuki kamarnya.
"Kamu kenapa kemari?" Tanya Yona menatap Regan dengan tatapan malasnya.
"Katanya aku akan memakai kamar ini," ucap Regan membuat Yona melebarkan matanya.
"Kamu pasti salah, mungkin kamarmu yang sebelah kiri. Bunda bilang aku memakai kamar ini," jawab Yona tidak mau kalah.
"Bunda juga yang bilang aku di kamar ini," ucap Regan menjawab ucapan Yona.
Yona melebarkan matanya, wanita itu tidak mungkin berbagi kamar dengan lelaki yang mudah berubah mood seperti Regan.
"Tunggu sebentar, biar aku yang memastikannya," ucap Yona beranjak keluar dari kamarnya.
Regan meraih tangan Yona, lelaki itu menarik Yona hingga wanita itu berbalik dan menabrak dada bidangnya.
"A..apa yang kamu lakukan?" Ucap Yona tergagap.
"Apa kamu semarah itu hingga tidak mau melihat wajahku?" Tanya Regan menatap Yona tepat di manik mata Yona.
"Aku tidak marah, aku sudah bilang padamu kan," jawab Yona sangat gugup.
"Kalau tidak marah, tatap aku sekarang," pinta Regan.
Yona menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata lelaki itu.
"Yona, tatap mataku dan katakan kamu tidak marah denganku," ucap Regan.
Sebenarnya lelaki itu sengaja memasuki kamar Yona. Kamar Regan sendiri berada di penghujung lantai 2 villa ibundanya. Regan sengaja mencari alasan untuk bisa menemui Yona dan berbicara dengan wanita yang tengah marah dengan dirinya.
Yona mendongak, menatap lelaki itu.
"Aku, tidak marah denganmu. Jadi tolong lepaskan aku," ucap Yona.
"Setelah ini," jawab Regan.
Lelaki itu langsung mencium bibir Yona, memagut bibir milik wanita yang membuat hatinya bergetar. Mata Yona melebar sempurna, tidak menyangka Regan akan seberani itu mencium dirinya.
"Jangan mendiamkanku lagi," ucap Regan saat dirinya melepaskan pagutan bibirnya.
Yona terengah-engah, wanita itu menatap Regan tidak percaya. Regan berjalan kearah pintu,
"Selamat beristirahat," ucap Regan.
Yona menaikkan alisnya bingung, "Kau tidak berada di kamar ini?" Tanya Yona kearah lelaki itu.
Regan menggeleng, "Aku hanya ingin menyapamu saja, kamarku ada diujung sana," jawab Regan tersenyum kearah Yona.
"Lalu kamu sengaja masuk ke kamarku?" Tanya Yona memicingkan matanya.
"Kenapa? Kamu mau aku tinggal di kamar ini?" Tanya Regan dengan mata menggoda.
"Keluar sekarang juga!" Teriak Yona kesal setengah mati dengan lelaki itu.
Regan terkekeh dan menutup pintu kamar Yona. Wanita itu berjalan kearah pintu, mengunci pintunya dari dalam.
*
"Regan, Yona, sebenarnya kami mau bicara dengan kalian," ucap Shinta ketika mereka duduk santai di halaman belakang villa yang kini mereka tempati.
Septian dan Hendra terlihat tengah membakar daging dan sosis yang sudah mereka bawa dari rumah.
Baik Yona maupun Regan menoleh, "Bicara apa mom?" Tanya Yona penasaran.
"Sebenarnya kami sudah lama membicarakan ini, kami ingin menjodohkan kalian," ucap Lili menyambung ucapan Shinta.
"Hahhh? Menjodohkan kita? Yang benar saja mommy!" Pekik Yona menatap Shinta dan Lili bergantian.
Kapan para orang tua merencanakan hal itu? Kenapa mereka tidak membicarakannya dulu kepada Yona. Rasanya sangat aneh, Yona dan Regan dijodohkan kembali! Dijodohkan ulang, wuahhhhh seperti drama saja orang tua mereka ini.
"Regan menerimanya," jawab Regan semakin membuat mata Yona terbelalak.
Apa-apaan lelaki itu!
-
TINGGALKAN LIKE, KOMEN DAN FOLLOW AKUN AUTHOR ❣️
TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA UNTUK TAP LOVE TIGA CERITA AUTHOR DI DRE*AME YAA 🙏🙏
__ADS_1