My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Cincin Yang Hilang


__ADS_3

Dering telepon yang memekakkan telinga membuat wanita itu menutup telinganya dengan bantal. Decakkan kesal keluar dari mulut Yona. Perasaan baru beberapa jam dia terlelap, dan sekarang sudah ada seseorang yang menelponnya tanpa tahu waktu.


"Oh sh*it!" umpat Yona saking kesalnya karena dering telepon di ponselnya tidak kunjung lenyap juga.


Siapa kira-kira yang menghubungi Yona sepagi ini? Astaga, rasanya Yona ingin mencekik siapapun orangnya yang telah berani mengganggu waktu tidurnya kali ini.


Yona meraba sisi kanan dan kirinya, mencari-cari sosok mungil yang sejak tadi mengeluarkan bunyi sangat mengganggu.


Yona menyipitkan matanya, nama Regan tertera di sana membuat dirinya berdecak kesal. Diusapnya layar ponsel miliknya hingga nampak durasi panggilan dari sana.


"Ya, hallo? Kau kenapa menelponku sepagi ini? Aku baru tidur tadi setelah subuh!" kesal Yona, mengeluarkan kekesalannya kepada Reganera Abimanyu Louis.


"Kenapa juga kamu tidur setelah subuh? Kamu menemani lelaki korea itu? Duri ikan itu lagi?" tanya Regan di seberang sana dengan menahan kesal setengah mati.


Bagaimana tidak kesal, Regan semalaman menunggu jawaban pesan dan telepon dari Yona. Tapi wanita itu tidak menghiraukan semua pesan dan teleponnya. Entah apa yang dilakukan Yona semalaman.


"Duri? Kapten Ri! Jangan mengubah nama orang sembarangan Regan. Namanya Ri Jeong Hyuk," jawab Yona mengeja nama lengkap dari sosok idolanya dalam drama korea berjudul Crash Landing On You.


Regan mencibir. "Masa bodoh dengan duri yang kau maksud. Sekarang buka elearning dan kerjakan tugas daring yang sudah aku masukkan ke sana," ucap Regan tanpa melupakan niatnya menelpon Yona sepagi ini.


"Tugas? Aku masih jetlag dan kamu memintaku mengerjakan tugas? Regan, kapan kamu pengertian hah?" decak Yona ingin sekali menyantet online si Regan.


Santet online? Kalau Regan mati bagaimana? Jadi jendes sebelum kewong dong si Yona. Lupakan masalah santet online, Yona mencabut ucapannya.


"Presensi dilihat dari sana Yona, namamu tidak akan masuk presensi jika tidak membukanya," jelas Regan menghela napasnya panjang, dan menghembuskannya kemudian.


"Ya sudah kalau begitu, kamu saja yang membukanya," pinta Yona terdengar sangat ambigu.


Regan mengulum senyumnya, lelaki itu nampaknya memiliki ide briliant untuk mengerjai Yona.


"Kamu suruh aku membuka apa? Belum-belum sudah main buka-bukaan," kekeh Regan membuat Yona melebarkan matanya, menangkap sinyal 'na–nas' dari pertanyaan Regan.

__ADS_1


"Kyaaa! Kamu ini mesum sekali, bye!" pekik Yona sambari menekan tombol merah di layar ponselnya.


Napas wanita itu tidak beraturan, ditatapnya langit-langit kamar. Yona mendesah panjang.


"Huhh, aku ingin liburan lagi," gumam Yona menyibak selimutnya dengan kasar.


Dengan malas, Yona beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi. Wanita itu membasuh wajahnya dengan air dingin yang kini mengalir dari wastafle. Yona menatap pantulan dirinya dari kaca.


"Awas saja, kalau tugasnya sulit aku akan memblokir nomornya," ucap Yona penuh tekad.


Seusai menggosok gigi dan melakukan ritual lainnya. Yona segera membuka laptop miliknya dan mengakses elearning dari kampus milik keluarga Regan.


"Hoammm, ngantuknya," ucap Yona menguap.


Yona memasukkan kata sandi smar campus miliknya, lalu menekan tombol elearning untuk terhubung dengan tugas daring yang telah siap menunggunya.


Kening wanita itu berkerut, tidak ada tugas masuk untuk tanggal terbaru. Berkali-kali Yona merefresh laptopnya namun tetap saja.


Jangan-jangan lelaki sinting itu hanya menggodanya saja?


Satu pesan masuk di gmail miliknya membuat Yona menyipitkan matanya. Kenapa Regan mengiriminya email?


"Mungkinkah tugasnya lewat email?" gumam Yona nampak berpikir.


Yona segera membuka email milik Regan. Matanya terbelalak, lelaki itu mengirim sebuah foto yang sepertinya foto terbaru jika dilihat dari gaya rambut Regan saat ini. Lelaki nampak tersenyum bahagia ke arah kamera.


Bukan itu yang membuat Yona membelalakkan matanya. Namun barang mungil yang tengah Regan genggam dalam tangannya.


"Cincin lamaran," lirih Yona menutup kedua tangannya.


Cincin emas putih bermatakan berlian murni. Cincin yang sempat menghilang sebelum Regan menautkannya dalam jemari Yona. Cincin itu kini ada pada Regan.

__ADS_1


Bagaimana bisa?


Seakan bisa menebak pertanyaan dari Yona. Regan kembali mengirimkan email.


Buka pintunya.


Yona segera berdiri, wanita itu melangkah dengan lebar ke arah pintu. Yona membuka pintunya dengan tidak sabar. Di sana berdiri Regan dengan senyuman yang mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut kepada dirinya.


"Regan, bagaimana bisa?" tanya Yona dengan mata berkaca-kaca.


Regan tersenyum, lelaki itu menangkup wajah Yona.


"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku akan menemukannya," ucap Regan kepada Yona.


"Kapan kamu menemukannya?" tanya Yona penasaran.


"Saat kamu menghilang di kapal pesiar," jawab Regan terkekeh.


Di saat Yona kesal karena Regan duduk bersama para wanita bule yang sangat mengesalkan. Di saat Yona memilih berbelanja, meninggalkan Regan tanpa penjelasan.


"Aku mencarimu ke mana-mana, dan aku menemukan cincin ini terselip di dekat swimming pool," jelas Regan membuat Yona tidak mampu berkata-kata.


"Kenapa tidak bilang sejak dulu?"


"Sengaja, aku ingin memberikannya padamu di saat yang tepat," ucap Regan.


Lelaki itu meraih tangan Yona, melingkarkan cincin yang sempat hilang di jemari manis Yona.


"Jangankan cincin yang hilang, kamupun bisa aku temukan sejauh apapun kamu pergi," ucap Regan dengan tersenyum lembut.


Air mata Yona menitik haru. "Kamu, lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui!"

__ADS_1


"Dan aku, lelaki paling tampan yang pernah kau miliki," sahut Regan, membawa Yona ke dalam pelukannya.


Keduanya berterimakasih kepada Sang Takdir yang telah berbaik hati mempertemukan, sekaligus mempersatukan dua manusia yang berbeda karakter dan kebiasaan. Dua sisi bertolak belakang, namun nyatanya saling pas untuk disandingkan.


__ADS_2