
Mendengar suara pekikan dari Yona, sontak membuat Olivia dan Gustin Justavo mengerutkan keningnya bingung. Gustin Justavo menatap ke arah pintu yang kini tertutup. Lelaki itu dirundung rasa penasaran yang luar biasa. Sekilas, dia mendengar nama marga keluarga istrinya telah disebut oleh Yona. Gustin menoleh menatap sang istri.
“Kenapa Yona berteriak, Sayang?” tanya Gustin Justavo bingung.
Olivia menghendikkan bahunya, dia juga tidak mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari mulut Yona. Olivia menghampiri sang suami, meraih tangan suaminya kemudian dia bimbing untuk duduk di sofa yang ada di sana.
“Kamu istirahat saja dulu, habis itu mandi. Aku akan keluar untuk mengambilkanmu minum,” ucap Olivia, tidak melupakan kodratnya sebagai wanita yang telah bersuami.
Gustin mengangguk, lelaki itu mengelus wajah istrinya dengan penuh kasih sayang. Kedatangannya ke Indonesia benar-benar membutuhkan banyak sekali keberanian. Baru kali ini, Gustin Justavo merasakan kegugupan dalam meraih keinginannya.
Istri yang begitu dia cintai, belahan jiwanya yang tidak akan mungkin Gustin lepaskan begitu saja.
“Jangan lama-lama, aku akan merindukanmu jika satu menit saja tidak melihatmu,” sahut Gustin Justavo membuat pipi Olivia bersemu merah.
“Untuk menemani satu menitmu, bagaimana kalau kamu mengeluarkan baju ganti untuk nanti ke rumah orang tuaku?” tanya Olivia mengusulkan.
Mereka berdua tertawa, Olivia mengedipkan matanya, meninggalkan Gustin yang kini mendengus atas perintah yang istrinya berikan kepada dirinya.
Tangan Olivia memutar kenop pintu dengan perlahan, ditutupnya kembali pintu kamar tamu untuk tetap menjaga privasi mereka berdua. Olivia melangkah keluar, mencari sosok Yona untuk meminta air minum yang sama sekali belum dia dapatkan sejak mendaratkan kakinya di Indonesia.
Benar-benar keterlaluan keluarga William ini, bagaimana bisa mereka melupakan hal dasar untuk menjamu tamu dari negara tetangga.
“Yona?” panggil Olivia mencari-cari sosok Yona.
Suara kasak-kusuk yang berasal dari ruang tamu keluarga William membuat Olivia menghentikan langkahnya.
“Mungkin Yona ada di sana,” gumam Olivia menebak.
Benar sekali tebakan Olivia, semakin dekat dirinya dengan ruang tamu, semakin kentara jelas suara Yona dan Regan sedang berbicara dengan seseorang yang Olivia sendiri tidak tahu siapa.
“Yona? Bolehkah aku minta minum?” panggil Olivia berjalan mendekati ruang tamu.
Yona, Regan, dan Shinta langsung membelalakkan matanya. Mareka saling menatap satu sama lain. Tidak, Olivia tidak boleh muncul di depan Rehan yang saat ini masih santai mengobrol dengan mereka.
“Rehan, aku pasti akan datang ke rumah keluarga Bellvaria,” ucap Yona dengan mengeraskan suaranya.
Rehan?
Langkah Olivia terhenti, wanita itu segera bersembunyi di balik pilar besar tepat di belakang ruang tamu keluarga William. Jantungnya berpacu begitu kencang, darahnya mengalir cepat sampai Olivia meraih sesuatu untuk menopang kakinya yang kini terasa lemas.
“Umh, kalau kalian tidak datang maka end, habislah kalian,” kekeh Rehan tidak membuat lawan bicara ikut tertawa bersama dengannya.
Bagaimana mereka bisa tertawa jika posisi mereka saat ini begitu sulit. Di rumah itu ada Olivia, dan juga Gustin Justavo. Dengan tiba-tiba Rehan datang membawa kabar bahwa upacara tujuh bulanan Melodi diadakan di rumah keluarga Bellvaria.
“Hahaha, kamu tidak pulang?” tanya Regan menatap sahabatnya dengan menaikkan satu alisnya tanda bahwa dirinya tengah penasaran.
“Why? Kalian ini kenapa? Kok kalian seperti tidak suka aku datang ke sini?” tanya Rehan menatap Yona, Regan, dan Shinta silih berganti.
Mereka bertiga menggeleng dengan cepat. “Nak Rehan ini bicara apa sih, mana mungkin Tante tidak suka kamu datang ke sini. Iya kan Yona, Regan?” tanya Shinta mendelikkan matanya, meminta persetujuan dari Yona dan Regan.
“Heem, betul yang dikatakan Mommy. Ya, santai saja di sini,” sahut Yona menganggukkan kepalanya.
Olivia menatap wajah Rehan dari tempatnya bersembunyi. Wanita itu meneteskan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. Sepertinya Rehan sudah bahagia bersama Melodi.
Yona mencengkeram perutnya dan memasang wajah pura-pura kesakitan. “Aw, aku mulas,” ucap Yona langsung berdiri dari tempat duduknya.
Yona mengedipkan matanya kepada sang mommy, memberi kode kepada mommynya untuk mengurus Rehan. Sedangkan Yona akan masuk ke dalam mengurus Olivia dan Gustin Justavo selaku tamu di rumahnya.
“Aku ke dalam dulu, aw … aw, mulas sekali,” ringis Yona berekting kesakitan.
Dengan langkah cepat, Yona berjalan masuk ke dalam. Wanita itu menoleh, melihat sosok Olivia bersembunyi di balik pilar rumahnya. Yona menghampiri Olivia dengan cepat.
“Ya Oliv, kenapa kamu malah berada di sini?” tanya Yona setengah berbisik.
__ADS_1
Olivia menghapus air matanya dengan cepat. “Maafkan aku,” ucap Olivia tanpa bisa menjelaskan alasan mengapa dirinya bisa terpaku di sana, menatap sosok itu dari balik pilar.
Yona menarik tangan Olivia untuk mengikutinya, bisa hancur rencana mereka datang ke rumah Bellvaria tanpa ketahuan oleh Rehan kalau sampai lelaki itu melihat Olivia berada di sana.
“Tadi kamu butuh apa?” tanya Yona mengulangi ucapan Olivia tadi.
“Aku minta minum,” jawab Olivia.
Mulut Yona menganga, bodohnya Yona yang sudah menelantarkan tamunya. Padahal Olivia dan Gustin sudah begitu baik menjamunya bersama Regan ketika mereka berada di Singapura—menginap di rumah mereka.
“Maafkan aku, tadi aku baru saja meminta pelayan membuatkan kalian minum. Tapi kedatangan Rehan yang tiba-tiba membuatku melupakan tujuan awal,” ringis Yona meminta maaf karena telah melupakan tugasnya sebagai tuan rumah.
Olivia tersenyum lembut. “Tidak apa, aku bisa mengambilnya sendiri. Di mana dapurnya?” tanya Olivia celingukan mencari letak dapur di rumah yang besranya dua kali lipat dari rumahnya dengan Gustin Justavo di Singapura.
“Yona, di mana kamar mandinya?”
Mata Yona dan Olivia melebar sempurna. Yona menoleh ke belakang, dilihatnya Rehan tengah berjalan ke arah dirinya dan juga Olivia. Dengan langkah berkecepatan kaki seribu, Yona menarik Olivia untuk masuk ke dalam kamar tamu. Yona mendorong Olivia masuk ke dalam, kemudian menutup pintu dengan kencang sampai Gustin Justavo berjingkat kaget.
“Sayang, ada apa?” Gustin menatap istrinya dengan bingung. Wajah pias istrinya semakin menandakan bahwa terjadi sesuatu yang tidak beres di luar sana.
Olivia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hah? Tidak, tadi aku hanya kesandung jadi menutup pintu dengan kencang. Kamu kaget ya?” tanya Olivia menatap suaminya dengan pandangan tidak enak.
“Kamu sedang apa?”
Yona membalikkan badannya, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
“Ouh, itu tadi kamar tamunya terbuka. Mungkin Mbak lupa menutup pintunya,” jelas Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rehan memicingkan matanya. “Coba dicek, kali aja ada hewan masuk, atau tikus?”
“Hah? Mana mungkin di rumah ini ada hewan, apalagi tikus. Ngaco kamu ini Rehan, hehe,” jawab Yona merem*s ujung bajunya dengan cemas.
Rehan maju dua langkah ke depan. “Kalau bukan hewan, kali aja itu maling. Minggir biar aku periksa, kamu panggil Regan di depan,” ucap Rehan semakin membuat Yona gugup.
Di balik pintu, Olivia merasa was-was mendengar keributan di depan pintu kamar yang saat ini tengah dia pakai istirahat bersama Gustin.
Olivia dengan cepat menarik tangan Gustin Justavo, membuat lelaki itu kembali duduk ke sisi ranjang. Ditariknya tengkuk sang suami dan melum*t bibir suaminya dengan lembut. Olivia memejamkan matanya, berharap Yona mampu menghalau Rehan agar tidak jadi masuk ke dalam kamarnya.
“Aku merindukanmu,” ucap Olivia dengan manja, memeluk tubuh Gustin Justavo dengan mesra.
Gustin membalas pelukan istrinya, mengelus rambut panjang istrinya penuh kasih sayang. Sedangkan di luar sana, Yona mencekal tangan Rehan yang hendak memutar kenop pintu kamar tamu.
“Rehan, katamu kamu mau ke kamar mandi kan?” tanya Yona mengingatkan lelaki itu akan tujuan awalnya.
“Oh iya, aku sampai lupa,” jawabnya, lalu kembali berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai satu rumah keluarga William.
Memastikan Rehan sudah menghilang dari sana, Yona mengetuk pintu kamar tamu itu.
“Kunci pintunya dari dalam ya, takut ada kucing tetangga masuk ke dalam. Sebentar lagi pelayan akan memanggil kalian untuk makan,” ucap Yona mulai frustasi dengan permainan kucing-kucingan dari Rehan.
Suara pintu terkunci dari dalam membuat Yona mampu bernapas lega. Shinta dan Regan ikut masuk ke dalam karena Rehan tidak kunjung kembali lagi ke ruang tamu, takut jika Rehan bertemu Olivia di dalam sana.
“Huhh hampir saja,” ucap Yona berjalan menghampiri Shinta dan Regan yang kini berjalan menuju dirinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Regan penasaran.
“Mereka hampir saja bertemu,” jawab Yona membuat mata Shinta dan Regan membulat sempurna.
“Siapa yang hampir bertemu Yona?” tanya Rehan menatap ketiga orang di depannya dengan rasa kepo yang luar biasa.
“Aduh, ikan nemonya cucuku belum aku kasih makan,” ucap Shinta berlagak lupa dengan ikan hias kesayangan cucunya, Machiko.
Aish parah sekali Mommy pergi begitu saja tanpa membantuku, gerutu Yona di dalam hatinya.
__ADS_1
“Duh pusing aku ngurusin urusan anak muda, bisa berkerut wajahku kalau begini terus-terusan,” gumam Shinta, berjalan menuju ruang ikan hias yang ada di dekat kolam renang rumahnya.
Rehan menatap jam dinding yang ada di dekatnya. “Udah sore aja, gue cabut deh mau nganterin undangan ke rumah Corlyn,” pamit Rehan pada akhirnya membuat Yona dan Regan bernapas lega.
Mereka berdua mengantarkan Rehan sampai di depan pintu, memastikan lelaki itu tidak akan masuk lagi ke dalam rumahnya. Baik Regan, maupun Yona, mereka berdua menghembuskan napas lega ketika suara mobil milik Rehan terdengar keluar dari pekarangan rumah keluarga William.
“Oh goshhh, syukurlah,” ucap Yona memegangi dadanya yang kini naik turun.
Regan menoleh menatap Yona. “Kamu deg-deg’an?” tanya Regan dijawab anggukan kepala dari Yona. “Lebih deg-deg’an mana dari ini?” lanjut Regan, mendaratkan ciuman di bibir Yona hingga wanita itu menegang di tempatnya.
“Kyaaa, Reganera Abimanyu Louis kamu ahli mencari kesempatan dan kesempitan!” teriak Yona ketika Regan justru terkekeh setelah menciumnya tanpa permisi.
“Kamu nampaknya sangat mengenalku, Nyonya Reganera Louis,” jawab Regan mengedipkan matanya menggoda.
Mereka semua telah makan bersama sebagai jamuan menyambut kedatangan Olivia dan Gustin di Indonesia. Rencananya, jam tujuh setelah adzan isya mereka bakal menuju rumah keluarga Bellvaria. Semua telah mereka persiapkan dengan matang, termasuk juga mental dan keberanian Olivia dan Gustin Justavo.
Justru yang paling cemas di sana adalah Shinta. Wanita dua anak itu merasa cemas dengan kondisi kesehatan Bella yang memang mudah sekali memburuk.
“Kalian serius dengan rencana kalian datang ke rumah keluargamu, Oliv?” tanya Shinta memastikan jawaban Olivia.
“Iya Tante,” jawab Olivia tersenyum, dengan jemarinya yang kini bertautan dengan jemari tangan Gustin Justavo.
Shinta menghela napas panjang, meminum air dalam gelasnya sekali lagi.
“Kalau begitu Tante pesan sama kalian, apapun yang dikatakan orangtuamu, kamu harus terima segala resikonya,” jelas Shinta mengantisipasi timbulnya masalah baru dalam kehidupan Olivia dan Gustin Justavo.
“Kami mendoakanmu dari sini,” ucap Hendra tersenyum.
“Ayo, kita berangkat sekarang sebelum pintu gerbang rumahmu di tutup.” Yona menatap mereka berdua.
Olivia dan Gustin mengangguk, mereka berdiri dari meja makan untuk mengambil berang yang akan dia bawa ke rumah Bellvaria. Gustin menggandeng tangan Olivia dengan erat, mengelus tangan wanita itu dengan ibu jarinya.
“Semua akan baik-baik saja,” ucap Gustin Justavo meyakinkan dirinya sendiri dan juga Olivia.
Untunglah, acara tujuh bulanan Melodi diadakan besok. Jadi mereka tidak harus mengurungkan niat mereka untuk datang ke rumah keluarga Olivia hanya demi menghindari sosok Rehan dan Melodi.
“Kamu yakin kan Melodi dan Kak Rehan enggak menginap di sana?” tanya Olivia.
“Iya, tadi aku lihat Melodi sedang keluar dengan Rehan dari status whatsappnya,” jelas Yona kepada Olivia.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Olivia.
Gustin Justavo menoleh menatap istrinya. “Memangnya kenapa kalau Rehan melihat kita di sana? Kamu takut dia akan memintamu kembali bersamanya?” tanya Gustin terdengar sedang cemburu.
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya takut menimbulkan keretakan pada pernikahan Melodi dan Kak Rehan. Melodi adalah saudaraku, dan aku pernah saling mencintai dengan Kak Rehan,” jelas Olivia.
“Lalu kamu masih mencintainya?” Gustin tersenyum mengejek.
“Gustin, tidak pantas menanyakan pertanyaan seperti itu pada wanita yang lebih memilih hidup bersama denganmu daripada bersama keluarganya,” ucap Regan menengahi perdebatan antara Olivia dan Gustin Justavo.
Mobil Regan mendadak sepi, tidak ada yang mengeluarkan satu kata patahpun di sana. Semua orang memilih diam dengan berbagai pemikiran yang ada di dalam benak mereka. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Yona.
“Regan, aku masih tidak terima kamu menciumku sembarangan tadi sore,” seloroh Yona membuat Olivia dan Gustin mengulum senyumnya, sedangkan Regan melirik Yona dengan kesal karena wanita itu membicarakan ciumannya di depan orang lain.
“Yona, ti-“
“Yona, tidak pantas berkata seperti itu di depan orang lain,” ucap Yona mendahului kalimat yang hendak diucapkan Regan kepada dirinya.
Regan menatap Yona tidak percaya, sedangkan Olivia dan Gustin Justavo tertawa dengan interaksi Regan dan Yona yang menurut mereka begitu lucu. Yona menoleh ke belakang, ikut tertawa bersama dengan Olivia dan Gustin. Setidaknya, Yona mampu mencairkan suasana yang sempat terjadi kecanggungan di dalam mobil sampai membuat mereka terasa sesak.
Kini mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di rumah keluarga Bellvaria. Seorang satpam membukakan gerbang rumah setelah memastikan siapa tamu yang datang malam ini.
“Nyonya dan Tuan ada di dalam, Pak?” tanya Yona membuka kaca mobil.
__ADS_1
“Ada Non, masuk saja,” jawabnya dengan ramah.
Olivia menatap bangunan di depannya, rumah yang sudah dia rindukan hampir lima tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, taman bunga di depan rumahnya masih sama seperti dahulu. Semoga saja, tidak ada yang berubah dalam kurun waktu lima tahun belakang ini.