My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Suami Istri


__ADS_3

Tubuh tegap itu memeluk wanita dalam kungkungannya, bibirnya bergerilya meninggalkan cecapan-cecepan basah pada leher istrinya. Suara desah*an halus pada akhirnya keluar dari mulut Yona. 


“Aku juga merindukanmu, suamiku,” jawab Yona dengan suara parau, ada sesuatu dalam tubuhnya yang meminta untuk segera dipuaskan, melepaskan jiwa yang selama ini terkungkung sebelum pernikahan di antara mereka terlaksana.


Meskipun hidup sebagai model dan beberapa tahun hidup bebas tanpa pengawasan langsung orang tuanya, Yona tidak pernah melakukan hubungan suami istri sebelum waktunya tiba. Sudah banyak lelaki, mulai dari kekasihnya, seorang produser, dan juga beberapa pengusaha ternama di dunia yang meminta dirinya menjadi penghangat ranjang mereka. Namun dengan tegas Yona menolaknya.


Apa yang Yona cari? Uang? Kekayaan? Atau kekuasaan? Yona telah memiliki segalanya. Keluarga William memiliki segala hal yang dijanjikan para lelaki hidung belang kepada dirinya agar Yona mau tidur bersama dengan mereka.


Tapi bukan itu yang Yona cari, wanita itu ingin cinta. Bukan hanya pergulatan panas untuk menyalurkan bir*ahi dirinya, namun bercin*ta yang Yona mau bersama lelaki yang pada akhirnya menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya kelak. 


Dan, pada hari ini impian Yona terwujud. Dia menemukan satu lelaki yang membuat dirinya tidak bisa menolak setiap sentuhan, cecapan, atau bahkan gerakan-gerakan menggoda dari suaminya. Alasannya hanya satu, karena lelaki yang tengah berkuasa pada tubuhnya adalah lelaki yang telah menjadi suaminya.


Regan kembali mengecup bahu Yona, lelaki itu menyentuh dagu Yona, mengecup bibir wanita itu perlahan.


“Bolehkah aku meminta hakku, istriku?” tanya Regan dengan begitu lembut, membuat dada Yona rasanya ingin meledak ketika bibir Regan meminta haknya dengan cara yang begitu sopan dan juga memanusiakan Yona sebagai seorang istri.


Bisa saja Regan memaksakan kehendaknya, namun Regan tidak mau melukai perasaan Yona hanya karena terbuai nafsu semata.


Yona mengangguk, menyetujui permintaan Regan karena itu memang telah menjadi hak dari lelaki yang dengan gagahnya meminta restu pada kedua orang tuanya. Lelaki yang membuat Yona merasakan perasaan begitu nyaman sampai tidak pernah terpikirkan sedikitpun dalam benaknya untuk mencari lelaki lain saat Regan masih koma kala itu.


“Ya, tubuh ini milikmu, suamiku,” lirih Yona dengan suara serak dipenuhi gai*rah yang mulai membuncah dalam sanubarinya.


Regan memeluk tubuh Yona, mengecup kening wanita itu. Tangannya berkelindang menuju ikatan kimono yang menjadi penutup tubuh polos milik Yona. Dibukanya perlahan kimono itu hingga jatuh tertanggal pada ranjang, menampilkan tubuh molek istrinya yang siap dia miliki seutuhnya untuk hari ini.


Bibir Regan menciumi leher Yona dengan begitu sensu*al, turun ke bahu lalu memberikan kecup*an basah menggoda pada punggung Yona. Rasa asin, nikmat, dan mendamba, melebur menjadi satu semakin membuat darah mereka mendidih, meminta untuk dipuaskan hasrat mereka berdua.


Merintih, desa*han demi desa*han mulai menghiasi bibir Regan dan Yona. Pandangan Regan tertuju pada gundukan kembar milik Yona. Tangan Regan mulai bergerilya di sana, menyentuh puncak gundukan kembar itu dengan lembut sampai Yona memekik geli tidak tertahankan.


Lenguhan penuh nikmat, Yona merintih tak mampu berpikir logis atau bahkan mempertahankan kewarasannya saat bibir dan lidah Regan menggoda puncak gundukan kembar miliknya sampai pusat tubuhnya merasakan denyutan yang sangat luar biasa nikmat.


Inikah yang selama ini para pasangan suami istri rasakan? Rasa bahagia dan juga perasaan yang tidak bisa Yona utarakan menjadi perwakilan bagaimana situasi pergulatan dirinya bersama dengan Yona.


Tubuh Yona bergerak, bergidik geli bagaikan menahan gelitikan.


“Jangan … menggodaku, Sayang,” erang Yona penuh kenikmatan.


Regan tersenyum. “Nikmati saja, Sayang. Dirimu begitu memabukkan, aku sampai ingin gila,” lenguh Regan merasakan darahnya mendidih, menggoda puncak gunung kembar Yona dengan bibirnya dan satu tangannya menggerakkan gerakan memutar pada satu puncak gunung kembar Yona yang lainnya.

__ADS_1


“Aku tidak … tahan lagi,” lirih Yona dengan matanya membara meminta untuk segera dilepaskan kenikmatan itu.


"Memohonlah," kekeh Regan masih senang menggoda istrinya.


Tangan Regan sesekali mengelus kaki jenjang Yona sampai naik hingga ke pusat tubuh istrinya. Yona dengan cepat mencekal tangan Regan, entahlah dia merasa malu. Belum pernah menampakkannya pada lelaki manapun di dunia ini. Regan adalah lelaki pertama yang melihat pusat tubuh miliknya.


“Tidak apa, aku suamimu, Sayang,” ucap Regan meyakinkan Yona bahwa mereka berdua telah menikah dan sudah sah baik di depan agama maupun di depan negara.


Yona tidak perlu merasa malu atas apa yang kini mereka lakukan bersama, ini adalah ibadah bagi semua pasangan suami istri. Begitulah agama menerangkannya.


Yona pada akhirnya mengangguk pasrah, membiarkan Regan membuka kedua kakinya, melingkarkan kaki jenjangnya pada pinggang lelaki itu.


“Aku malu,” cicit Yona memberanikan diri menatap wajah suaminya.


Seperti anak kecil diiming-imingi gulali, Regan menatap pusat kenikmatan milik istrinya dengan penuh gair*ah, begitu menantang untuk dia jelajahi di dalam sana. Tatapan mata Regan seperti memberikan arti bahwa lelaki itu menuntut lebih bukan hanya melihat saja, tapi juga merasakan kenik*matannya.


Regan kembali menggoda Yona dengan permainannya, wanita itu jadi belingsatan sendiri hingga bangkit dari posisinya. Tangan Yona tanpa peringatan sebelumnya mulai membuka baju Regan satu per satu dan membuangnya ke lantai. Kini tubuh mereka berdua telah polos tanpa satu helai benang sekalipun mengalung pada tubuh Regan dan Yona.


Tangan Yona melingkar pada leher Regan, mencium bibir suaminya dengan membabi buta. Regan tersenyum sendiri dalam hatinya, tidak menyangka Yona akan seliar ini ketika api gejolak dalam tubuhnya meminta untuk segera dipuaskan.


Mata Yona menatap kepemilikan punya Regan. Itukah dulu yang dia katakan kecil? Yona harus mencabut ucapannya sendiri karena kepemilikan Regan begitu … pas.


Kepemilikan Regan mulai menegang, apalagi dengan gesekan halus kulit Yona pada kulit polosnya semakin membuat otaknya menggila. Gesekan halus yang dilakukan Yona pada tubuh Regan membuat dirinya memejamkan matanya … sungguh begitu memabukkan sampai Regan belingsatan menahannya lebih lama lagi.


“Aku mau sekarang, aku mau menyatukannya sekarang,” lirih Regan menciumi lekuk tubuh Yona.


Yona mengulum senyumnya nackal, salah siapa sendiri Regan menggodanya selama itu. Sekarang biarkan Yona menggoda suaminya terlebih dahulu sebelum memberikan apa yang lelaki itu inginkan sejak tadi.


Erang*an dan lenguhan lolos berkali-kali dari mulut Regan saat gerakan agresif Yona selalu saja sengaja menyenggol pusat ketegangan miliknya.


“Aku tidak tahan lagi,” ucap Regan, menarik tubuh Yona hingga wanita itu berbaring di bawahnya.


Regan membuka kedua paha Yona, menatap pemandangan di depannya dengan kegilaan penuh. Regan mulai melakukan pemanasan, membuat Yona menggigit bibir bawahnya sendiri.


“Cakar aku jika kamu merasa kesakitan,” kata Regan hanya dijawab anggukan kepala oleh Yona.


“Lakukan saja,” jawab Yona yang juga sudah tidak mampu menahan dirinya lebih lama lagi.

__ADS_1


Suaminya mulai menggesekkan benda tumpul itu di sekitar pusat kenikmatannya, ada sensasi yang sangat luar biasa Yona rasakan ketika benda tumpul itu berada di sana. Regan semakin merapatkan tubuhnya, kaki Yona melingkar dengan refleks di pinggang lelaki itu.


Gesekan halus di bawah sana membuat Yona memekik, dia tidak tahan lagi, rasanya sangat … sesak, namun begitu nikmat. Regan menatap lagi tubuh polos Yona, berdecak kagum atas maha karya Tuhan yang telah terpahat pada tubuh wanita yang saat ini telah manjadi istrinya.


Satu tangan Regan menuntun benda tumpul itu ada jalannya, dengan satu kali hentakan perlahan-lahan Regan menerobos dinding pembatas yang harus dia lewati terlebih dahulu. Akhirnya dua hasrat itu bersatu. Perasaan sangat bahagia menyelimuti diri Regan, lelaki itu mengeluarkan kembali miliknya, melihat beberapa bercak darah menempel di sana.


Mata Regan berkaca-kaca, lelaki itu menunduk mengecup kening Yona.


“Terimakasih sudah menyerahkannya padaku, Sayang,” ucap Regan merasakan bahwa dia menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini.


Lelaki itu kembali menyatukan tubuh mereka lagi, melakukan gerakan maju mundur pada pinggangnya dengan ritme yang sangat menggoda. Pinggul Regan bergerak naik turun, lelaki itu memejamkan matanya.


“Kau menghisapku,” erang Regan menundukkan tubuhnya, melum*at bibir Yona dengan gai*rah membuncah dalam dirinya.


Bagian bawah mereka masih bersatu meminta terus dipuaskan. Yona mengeram, ini pertama kalinya tubuh miliknya bersatu dengan lelaki sepanjang hidupnya.


“Oh, Sayang … ini sungguh hangat dan … nikmat,” lirih Regan menggigit kecil leher Yona.


Tangan Regan bergerilya lagi pada puncak gundukan kembar milik Yona, menggoda wanita itu sampai belingsatan seperti apa yang dia rasakan juga saat ini. Peluh keringat membasahi kening mereka berdua. Hasrat cinta yang memburu di antara mereka berdua sungguh luar biasa. Penyatuan cinta, kesetiaan, dan kerinduan melebur menjadi satu kenikmatan yang tiada duanya di dunia ini.


Sensasi hangat dan sesak di dalam pusat tubuh Yona semakin membuat Regan gencar memainkan gerakan pinggulnya sampai Yona merintih, mende*sah dan menjerit saking nikmatnya debaran dan getaran dalam tubuh mereka berdua.


“Aku ingin keluar,” erang Yona merasakan pusat tubuhnya seperti ingin mengeluarkan sesuatu.


“Aku juga Sayang, kau menjepitku begitu dalam dan nikmat,” sahut Regan ketika keduanya telah mencapai puncak kenikmatan.


Tubuh Regan ambruk di atas tubuh Yona tanpa melepaskan penyatuan tubuh mereka. Regan memejamkan matanya, menikmati ritme detak jantung Yona saat ini. Wajahnya bergesekan langsung dengan kulit polos istrinya, tangan Regan masih memegangi puncak gundukan kembar Yona yang sejak tadi masih menegang.


Regan mendongak, mata mereka berdua bertemu.


“Aku mencintaimu,” ucap Regan memeluk tubuh Yona dengan begitu erat.


Napas mereka saling berburu, jemari mereka berdua saling terjalin erat, menggenggam seakan tidak ingin melepaskan satu sama lain.


------------------


BUAT PARA PEMBACA KARENA BEBERAPA HARI INI BAKALAN UPDATE DOUBLE PART. MOHON UNTUK TIDAK MELONCATI BAB SAAT LIKE DAN KOMENTAR.

__ADS_1


RASANYA SESAK SEKALI BAGI SEORANG AUTHOR YANG SUDAH MERELAKAN DOUBLE UPDATE EH BAB ATAS MINIM LIKE DAN KOMENTAR, DILEWATIN BEGITU SAJA KAYAK MONOPOLI HANYA LEWAT 😭😭😭


AKU YAKIN PEMBACAKU BAIK-BAIK SEMUA KOK MAU NINGGALIN JEJAK BUAT APRESIASI AUTHORNYA 😍😍☺️


__ADS_2