My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Kamu Seperti Magnet


__ADS_3

Suara tawa dari wanita-wanita di depannya membuat Regan mendengus kesal. Bukannya Yona mengingatkan fashionnya sejak mereka berada di rumanya, wanita itu justru terlihat sangat menikmati pemandangan lucu saat Sisil mengingatkan Regan akan fashion lelaki itu.


“Mommy, uncle Regan seperti Delva yang lupa memakai seragam pramuka malah pakainya OSIS dikira hari senin,” kekeh Nayna sangat geli melihat wajah Regan yang terlihat merah padam karena malu menjadi bahan tertawaan Yona, Sisil, Nayna dan Varo.


Aishhh, untuk pertama kalinya Regan merutuki pertemuannya dengan Sisil dan anak-anak. Mereka sepertinya sangat kompak mengejeknya dengan tertawa seriang itu menatapnya.


“Hei berhenti tertawa, aku bukannya salah kostum,” ucap Regan berniat membela dirinya.


“Lalu apa kalau bukan salah kostum?” tanya Yona dengan wajahnya tidak kuasa menahan ketawanya.


“Aku hanya sengaja memakai ini, aku mau belanja baru trend mode terbaru. Puas kalian?” ucap Regan justru membuat para wanita dan anak-anak itu tertawa mendengar ucapan Regan.


“Wuahhhh uncle Regan mau belanja baju?” ucap Varo menatap Regan matanya berbinar bahagia.


Regan memicingkan matanya saat dia melihat Devaro. Apa maksud tatapan mata dari Varo? Kenapa anak itu menatapnya dengan senyuman mencurigakan.


“Uncle uncle, Nayna juga mau dong dibelanjain uncle. Boleh ya mommy?” tanya Nayna kepada mommynya.


Regan menggelengkan kepalanya menatap Sisil, wanita itu justru terkekeh dan mengangguk membolehkan Nayna dan Varo meminta dibelanjakan oleh uncle Regan mereka.


“Horeeeee, terimakasih mommy,” pekik Nayna dan Varo bersamaan.


Yona hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat Regan yang seperti  termakan ucapannya sendiri. Salah siapa lelaki itu mengatakan mau belanja di depan Nayna dan Varo?


“Terimakasih mommy? Hah, perasaan mereka mau malak aku kenapa malah berterimakasih sama mommy mereka?” gumam Regan menatap mereka dengan malas.


Yona melihat jam yang ada di salah satu outlet pakaian, “Ayo cepat, kamu mau belanja dimana? Keburu jam delapan loh,” ucap Yona mengingatkan Regan untuk segera berbelanja.


Nayna dan Varo berteriak kegirangan, mereka memegangi tangan Regan bergelayut manja di tangan lelaki itu. Nayna ada di kanan, dan Varo ada di kiri lelaki itu. Melihat kelucuan putri dari Nata dan putra dari Racka, membuat Regan mau tidak mau mengulum senyumnya. Kedua anak itu sangat menggemaskan dan juga pintar, sangat cerdas sekali.


“Pantas saja Machiko menyukaimu,” ucap Regan menatap Nayna yang tidak mengerti apa maksud perkataan Regan.


“Machiko siapa uncle?” tanya Nayna kepada Regan.


“Itu nama cowok Nay, kata daddy kamu nggak boleh dekat dengan cowok lain selain kakak dan dedek Zio,” ucap Varo yang mulai menunjukkan sikap overprotektif kepada adik sepupunya.


“Dia cowok uncle Re?” tanya Nayna penasaran.


Anak itu menunjukkan manik matanya dengan pupil yang melebar. Nayna tersenyum riang menunjukkan giginya yang putih dan rapi. Poni rambutnya sengaja dibuat jatuh menjuntai menutupi keningnya, membuat wajah anak itu semakin menggemaskan.


“Nanti dia akan jadi suamimu, kamu mau kan jadi menantu keponakannya uncle Regan?” tanya Regan tidak bisa menahan senyumnya.


“Menantu keponakan itu apa uncle? Suami itu kayak daddy ya?” tanya Nayna penasaran.


Regan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Nayna, benar kata teman-temannya kalau Nayna memang sangat cerdas dan memiliki rasa ingin tahunya yang sangat tinggi.


“Pokoknya kamu harus menikah dengan Machiko, kamu mengerti?” tanya Regan menatap Nayna, anak itu hanya mengangguk tanpa tahu maksud ucapan Regan.


Di belakang mereka, Sisil dan Yona hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Regan kepada Nayna.


“Sepertinya otak Regan sangat bermasalah, mana ada anak kecil diajak bicara soal suami dan menikah. Ckcck, kamu harus segera mengantarkan lelaki itu berobat,” ucap Sisil diiringi hembusan napasnya.


Yona hanya tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sisil. 


“Kata Dokter Irawan, dokter yang akan menangani Regan adalah dokter dari Singapura. Dokter Gustin Justavo,” ucap Yona membuat Sisil menoleh kearahnya.


“Gustin Justavo?” tanya Sisil menaikkan alisnya sebelah.


Yona mengangguk, “Iya Gustin Justavo namanya, kenapa?” tanya Yona kepada Sisil.


Sisil mengambil napasnya, “Dulu, almarhumah Olivia lelaki itu yang menanganinya. Kabarnya, lelaki itu sangat hebat dalam hal bedah dan sebangsanya itu aku tidak mengerti,” ucap Sisil kepada Yona.


“Jadi ada kemungkinan kan Sil untuk Regan kembali sembuh jika ditangani Dokter Gustin?” tanya Yona kepada Sisil.


“Aku percaya Regan akan bisa melihat lagi dengan normal, tim bedah Dokter Gustin juga sangat terkenal,” ucap Sisil mengelus punggung Yona meyakinkan wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja.


Yona menatap Sisil, “Semoga saja Dokter Gustin segera mengabari kami untuk pemeriksaan Regan,” ucap Yona.


“Apa kita harus memakai kekuasaan kita untuk itu Yon?” tanya Sisil membuat keduanya tertawa.


Regan memasuki outlet pakaian dewasa, sedangkan Nayna dan Varo mengekor di belakangnya.


“Uncle, uncle pakai itu saja.” Tunjuk Nayna kearah patung lelaki yang memakai jaket kulit berawarna hitam.


Regan bergidik ngeri, “Enggak ah, kamu mau uncle Regan jadi kayak cacing kremi pakai celana melipit kayak uler keket,” cibir Regan yang merasa tidak percaya diri dengan pilihan Nayna.


Varo menarik tangan Regan, “Yang itu saja uncle,” ucap Varo menunjuk pakaian yang terpajang di patung.

__ADS_1


Regan menimang pilihan Varo, sepertinya selera Varo hampir sama dengan seleranya.


“Siapa yang mengajarimu berfashion Varo? Kenapa selera modemu sangat baik sama sepertiku,” ucap Regan mengacak rambut Devaro dengan gemas.


“Aunty Nadia yang mengajariku,” jawab Varo membanggakan aunty Nadia-nya.


“Berhenti berbincang dan segera memilih Regan,” ucap Yona memperingati Regan agar cepat dalam memilih pakaian gantinya.


Varo menutup mulutnya geli melihat Regan dimarahi Yona. Varo membisikkan sesuatu kepada Regan,


“Aunty Yona galak ya uncle?” tanya Varo.


“Sttt, dia itu singa betina,” ucap Regan membuat keduanya terbahak.


Yona, Sisil, dan Nayna menatap kedua lelaki beda generasi disana dengan tatapannya malas. 


“Uncle, cepetan dong. Kan Nayna juga mau belanja,” ucap Nayna menatap Regan kesal.


“Iya iya uncle ganti baju dulu,” ucap Regan pada akhirnya.


Seorang pelayan outlet yang mereka datangi mengantarkan Regan menuju ruang ganti. Lelaki itu menutup pintu ruang ganti dan mulai melepas baju yang dia pakai. Setelah mengganti bajunya, lelaki itu segera keluar dengan membawa baju formalnya tadi.


“Bisa bungkusin ini kak?” tanya Regan diangguki pelayan outlet tersebut.


Yona menatap Regan yang terlihat sangat berbeda ketika memakai baju santainya. Lelaki itu terlihat lebih santai dari biasanya.



“Awas aunty, liurnya netes loh,” ucap Nayna membuat Yona gelagapan.


Sisil menarik Nayna kearahnya, wanita itu membisikkan sesuatu kepada Nayna.


“Uncle, aunty Yona tadi tidak berkedip waktu uncle keluar dari sana,” ucap Nayna mengikuti arahan mommynya.


Yona mendengus kesal, anak itu pasti mengikuti ucapan mommynya.


“Ayo sekarang kita belanja untuk kalian,” ucap Regan menatap Yona, Sisil, Nayna dan Varo.


“Kami?” pekik Yona dan Sisil bersamaan.


Wuahhhh tumben sekali Regan sangat sabar mau menemani para wanita berbelanja dan membayarkan belanjaan mereka. Yona masih ingat saat dia meminta Regan mengantarkannya berbelanja tapi lelaki itu menolak dengan mengatakan bahwa Regan sangat malas diajak berbelanja.


“Kalian cari kesempatan ya, kalau bunda marah mommy nggak mau tahu pokoknya,” ucap Sisil memperingati Nayna dan Varo.


“Kita bilang aja sama bunda kalau uncle Regan memaksa membelikannya, iya kan uncle?” tanya Nayna kepada Regan.


“Iya, nanti biar uncle yang bilang sama bunda kalian. Oke?” 


Mereka berdua bersorak bahagia, dengan mata berbinar Nayna dan Varo memilih mainan kesukaannya. Setelah puas memilih, Regan menuju kasir untuk membayarkan mainan kedua anak itu.


“Berapa totalnya?” tanya Regan.


“Lima juta delapan ratus pak.” Ucap kasir store mainan tersebut.


Regan membuka dompetnya, tidak ada uang tunai sebesar itu. Lelaki itu membuka lipatan kedua, matanya terbelalak saat tidak menemukan kartu ATMnya di dalam dompet. Regan mengingatnya kembali, ah iya dia menaruhnya di dashboard mobilnya setelah mengambil uang tunai dari mesin ATM ketika menuju rumah Yona.


Lelaki itu menoleh kearah Yona, meminta wanita itu mendekat  kearahnya.


“Kenapa?” tanya Yona.


“Bisa kamu bayarin dulu? ATM ku ada di dashboard mobil. Nanti aku ganti,” ucap Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Lelaki itu sangat malu dilihat banyak orang di belakangnya yang tengah mengantre juga untuk membayar mainan anak-anak mereka. Regan tersenyum masam menyapa mereka, sedangkan Yona hanya mendengus melihat keteledoran Regan.


“Kamu nggak bawa uang?” tanya Sisil menebak ekspresi wajah Regan yang kebingungan.


Tanpa perlu Regan jawab, Sisil sudah tahu jawabannya lewat ekspresi wajah Regan. Sisil tertawa terbahak-bahak teringat insidennya dulu dengan Nata, saat Nata hendak membayar makanan mereka tapi kartu lelaki itu belum di verifikasi untuk digunakan di Indonesia.


“Kamu seperti Nata saja,” kekeh Sisil membuat Regan malu.


“Nata juga begitu Sil?” tanya Yona penasaran.


Sisil mengangguk, “Iya dulu Nata sok-sokan ngajak makan di restaurant mewah, eh nggak taunya kartu dia belum bisa digunakan di Indonesia. Jadi aku yang bayarin tagihannya dulu,” kekeh Sisil membayangkan masa lalunya dulu dengan Nata.


“Aku kira Nata orangnya sangat jeli loh Sil, ternyata dia bisa teledor begitu ya.” Kekeh Yona.


“Sama lah kayak Regan, mereka kan satu perguruan,” ucap Sisil seraya mengejek kumpulan kelima lelaki yang menurutnya sangat aneh dan ribet melebihi perempuan.

__ADS_1


Sisil menatap Yona, “Kamu nggak tahu mereka berlima buat group di whatsapp?” tanya Sisil membuat Regan menganga tidak percaya.


Jadi Sisil tahu group yang mereka buat untuk melakukan meeting via online?


“Aku tidak tahu? Kenapa?” tanya Yona ingin tahu.


“Isinya majalah funny,” jawab Sisil membuat Yona menoleh kearah Regan, menatap lelaki itu dengan tatapan membunuhnya.


“Benar begitu Regan?” tanya Yona mendelik tajam kearah Regan.


Regan dengan lemah hanya mengangguk membenarkan ucapan Sisil.


“Kak Yona, boleh minta foto bareng?” tanya seseorang menghampiri Yona.


Beruntunglah kamu Regan! Karena fans Yona kamu selamat dari terkaman singa betina yang siap mencabik-cabik dirimu hingga hancur lebur.


“Bolehkah kita berfoto bersama, anda Cecilia Corlyn bukan? Kalian benar-benar berwajah dewi,” ucap mereka yang turut mengidolakan Sisil selama ini.


“Tentu saja boleh,” jawab Sisil tersenyum ramah.


Salah satu dar mereka menghampiri Regan, meminta lelaki itu untuk memfotokan mereka dengan Yona dan Sisil yang kebetulan bertemu di mall itu.


“Mommy, Nayna ngantuk,” ucap Nayna menarik baju mommynya.


Sisil mengangguk, “Baiklah kita pulang sekarang,ucapkan terimakasih sama uncle Regan sayang,” ucap Sisil.


“Terimakasih uncle,” ucap Nayna dan Varo, mereka berdua mencium tangan Regan dan Yona bergantian.


Sisil melambaikan tangannya, mengedipkan matanya kearah Regan.


“Sampai jumpa lagi,” ucap Sisil tersenyum geli.


Tinggallah kini Regan dan Yona, Yona melirik sekilas kearah Regan. Wanita itu berjalan meninggalkan Regan menuju lantai 6 di mana konser diadakan.


Regan dan Yona mengantre untuk masuk ke dalam Concert Hall, setelah menyerahkan tiketnya mereka berdua masuk ke dalam sana sesuai dengan tipe tiket yang mereka miliki.


“Yona, kita di mana?” tanya Regan berteriak agar Yona mendengarnya.


“Di siniii, dimana lagi?” jawab Yona membuat Regan mendengus di belakangnya.


“Hei jangan tinggalkan aku,” ucap Regan memanggil nama Yona.


Lelaki itu segera menyusul Yona, Regan tidak ingin kehilangan jejak dari wanita itu. Kini suasana concert hall sangat ramai dipenuhi ratusan manusia yang berkumpul demi menonton secara langsung ‘Father of Brokend Heart’.


“Yona, konsernya berdiri?” ucap Regan menatap kesekelilingnya dan tidak menemukan kursi sama sekali.


“Duduk aja nggak apa-apa,” jawab Yona dengan ketus.


Duduk aja katanya? Dia mau Regan diinjak-injak orang yang sedang lewat, begitukah? Kejam sekali Yona ini tidak memikirkan dirinya sama sekali.


“Ayo ikuti aku, awas saja kalau hilang,” ucap Yona terdengar sangat jengkel dengan lelaki itu.


Regan hanya mengekori Yona, seperti anak kucing yang mengikuti induknya. Regan terus menggenggam tangan Yona mengikuti kemana wanita itu melangkah. Banyak dari penonton konser yang menoleh menatap Yona, tentu saja mereka terkejut. Yona adalah mantan model Internasional sekaligus anak konglomerat dan mau datang ke konser umum seperti itu?


Sepertinya Yona mampu untuk menyewa penyanyi manapun secara pribadi.


Desakan orang-orang membuat Yona melepaskan tangan Regan, wanita itu menoleh ke belakangnya. Dia sudah tidak menemukan Regan lagi di sana. Yona menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok lelaki itu. 


Berbagai pikiran buruk kini memenuhi otak Yona, membayangkan Regan yang tidak pernah menonton konser membuat Yona sangat panik. Belum lagi Regan memiliki keterbatasan dalam melihat, lelaki itu pasti kebingungan mencarinya.


“Sialan,” umpat Yona ketika lampu di hall itu dimatikan.


Kenapa harus dimatikan sekarang juga, Yona harus mencari lelaki itu sebelum terjadi sesuatu kepada Regan. Yona mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Regan dan mengirimkan pesan kepada lelaki itu untuk keluar menuju pintu masuk dimana mereka masuk pertama kali.


Tidak ada balasan, bahkan terakhir terlihat lelaki itu dua jam yang lalu. Bagaimana ini? Yona tidak bisa membayangkan jika Regan hilang dan terjadi sesuatu hal yang buruk kepada lelaki itu. Yona meremas tangannya gugup. Haruskah Yona naik ke atas panggung dan mengumumkan berita orang hilang?


Bagaimana kalau Regan pingsan di sana?


Bagaimana kalau terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Regan?


“Regan pasti kebingungan sekarang,” lirih Yona mencari-cari sosok itu di sekitarnya berdiri.


Mata wanita itu berkaca-kaca, ini semua salahnya. Andai saja dia tidak mengajak Regan datang ke konser itu mungkin Regan tidak akan hilang seperti saat ini.


“Kemana kamu Regan,” ucap Yona menggigit bibirnya cemas.


Sebuah tepukan di pundaknya membuat Yona menoleh, matanya melebar melihat Regan berdiri di sana dengan tersenyum.

__ADS_1


“Regan? Kamu dari mana saja hah?” ucap Yona memeluk Regan, wanita itu sampai menangis ketakutan membayangkan hal buruk terjadi kepada Regan.


“Kamu seperti magnet Yona, sekalipun kita berbeda dan berpisah jarak, kita akan terus saling tarik menarik.” 


__ADS_2