
Mata wanita itu tidak bisa terpejam meski waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Selama kehamilannya, Yona sepertinya sering mengalami insomnia sampai menyebabkan dirinya bisa terpejam di bawah jam sebelas malam. Padahal, dokter sudah menyarankan Yona untuk tidur tepat waktu karena HB wanita itu begitu rendah.
Berkali-kali Yona mengubah posisi tidurnya, kini wanita itu menatap Regan yang telah terpejam sejak satu jam yang lalu saking lelahnya pekerjaan lelaki itu seharian ini. Yona menghela napasnya kasar, bukankah Regan penyebab dirinya hamil? Kenapa lelaki itu bisa terpejam sangat nyenyak, sedangkan dirinya mau memejamkan mata saja sulitnya setengah mati.
Yona mendengus, menyentil hidung suaminya karena kesal. Regan hanya bergumam, lelaki itu malah berganti posisi memunggungi istrinya.
“Ck, suami macam apa dia ini,” cibir Yona mendengus.
Yona memilih bangkit dari ranjang, melakukan pergerakan kecil pada tubuhnya. Wanita itu berpikir sejenak, mencari satu kegiatan yang bisa dia lakukan untuk membuatnya merasakan kantuk. Sayang sekali, novel mantap-mantap miliknya sudah disita Regan dan dia tidak tahu di mana Regan menyembunyikannya. Haish, mungkin Yona harus membelinya lagi biar dirinya tidak akan segabut ini menghadapi insomnia.
Wanita itu mengambil ponselnya, menyalakan data sesuler dan membuka aplikasi WhatsAppnya. Di sana masih banyak teman dan kenalannya membuat status baru, pertanda bahwa mereka belum tidur. Tentu saja, jam sekarang bagi kebanyakan orang bukanlah jam tidur mereka. Hanya saja setelah hamil dan mudah lelah, Yona beberapa bulan selalu saja tidur lebih cepat dari biasanya.
Yona mengetik sesuatu di grup chatnya bersama para pasangan ruwet. Bertanya adakah yang masih terjaga?
Senyumnya terukir ke atas saat Sisil mengetik di sana.
“Dia belum tidur,” ucap Yona bersorak bahagia karena memiliki teman terjaga.
Tiba-tiba saja wanita itu menginginkan sesuatu, bayangannya berkelana, memikirkan betapa serunya jika Yona tidur bersama pasangan Sisil dan Nata. Sepertinya sangat menyenangkan.
Yona segera membangunkan Regan, mengguncang tubuh suaminya dnegan perlahan berharap lelaki itu cepat bangun dari tidurnya.
“Sayang, bangun! Aku menginginkan sesuatu,” ucap Yona terus mengguncang tubuh Regan.
“Mmm, apa? Mau begituan? Kan dokter udah bilang enggak boleh sering-sering, Sayang,” jawab Regan masih memejamkan matanya, terasa berat sekali karena lelaki itu sangat ngantuk.
Yona memukul perut Regan, dasar ya otak lelaki pikirannya enggak pernah jauh dari hubungan di ranjang. Padahal Yona hanya ingin Regan mengantarnya ke rumah Sisil dan Nata untuk tidur di sana.
“Bukan, antarkan aku ke rumahnya Sisil dan Nata dong Sayang,” pinta Yona merengek.
“Kenapa malam-malam ke rumah Sisil?” Regan terpaksa membuka matanya meskipun matanya masih memicing.
“Aku ingin ke sana,” jawab Yona, “antarkan aku, ya? Please,” lanjut Yona merayu suaminya.
Regan mengucek matanya, menatap istrinya yang saat ini terlihat memasang wajah memelas, membuat Regan tidak sampai hati menolak permintaan wanita itu.
“Kenapa tidak besok saja sih, Sayang? Mereka pasti sudah tidur, enggak enak juga nanti Nayna sama Zio kebangun lagi karena kita ke sana malam-malam,” jelas Regan.
“Aku ke sana kan bukan mau teriak-teriak pakai toa masjid Sayang, jangan berlebihan deh,” kesal Yona merajuk.
Regan menarik tangan Yona. “Sini bobo, aku kelonin,” kata Regan menepuk sisi ranjang kosong di sampingnya.
“Ish, kalau aku bisa tidur mah enggak bakalan bangunin kamu. Ya sudah kalau kamu enggak mau anterin biar aku bawa mobil sendiri,” putus Yona berdiri dari tepi ranjang.
Sebagai seorang suami yang siaga, tentu saja Regan tidak akan membiarkan istrinya berpergian sendiri memakai mobil dalam keadaan hamil besar, belum lagi sekarang menjelang tengah malam. Regan tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada istrinya.
Lelaki itu pada akhirnya mengalah. “Oke aku antarkan kamu ke sana, tapi bukankah sebaiknya kamu hubungin Sisil dulu? Siapa tahu mereka sudah tidur,” ucap Regan merasa tidak enak jika harus membangunkan Sisil dan Nata karena tentu saja pasangan itu esok pagi akan kembali bekerja seperti rutinitas wajibnya setiap hari.
Yona mengangguk, sebelum membangunkan Regan dia sudah mengabari Sisil bahwa dia dan Regan akan menginap di rumah mereka. Dan Sisil dengan senang hati mengizinkan Regan dan Yona menginap di rumah mereka.
__ADS_1
Regan berjalan mengambil baju ganti, Yona memilih memakai long outer untuk menghangatkan tubuhnya saat ini. Mereka berdua berjalan keluar dari kamar untuk menuju rumah keluarga Corlyn, membelah dinginnya angin malam yang menusuk sampai ke jaringan epidermis kulit mereka berdua meski keduanya berada di dalam mobil.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berdua akhirnya sampai di gerbang utama. Seorang security yang memang berjaga sift selama dua puluh empat jam dengan sigap membuka gerbang secara otomatis begitu melihat Regand an Yona yang berada di dalam mobil.
“Selamat malam, Mas Regan, Mbak Yona,” sapa security memberikan salam kepada Regan dan Yona.
Regan menghentikan mobilnya, meminta security itu mendekat ke arah mobilnya, memberikan security tiga lembar uang seratus ribu.
“Selamat bekerja, Pak,” ucap Regan tersenyum, dan mengklakson mobilnya.
Mobil Regan kembali melaju, memasuki pelataran rumah keluarga Corlyn, lebih tepatnya di rumah Sisil dan Nata karena di sana terdapat dua rumah mewah yang bersampingan.
Regan keluar dari mobilnya, berlari kecil mengitari mobil dan membukakan pintu untuk istri tercintanya.
“Awas,” ucap Regan menjadikan telapak tangannya pelindung kepala Yona.
Senyuman merekah pada bibir Yona, seperti anak kecil yang dibelikan mainan orang tuanya, Yona berjalan begitu cepat saking tidak sabarnya memasuki rumah Sisil dan Nata. Tangan Yona berkali-kali menekan tombol bel.
“Sudah, dia pasti mendengarnya. Nanti Nayna sama Zio bisa bangun, Sayang,” ucap Regan menahan tangan Yona agar tidak menekan tombol bel lagi di samping pintu utama rumah sahabatnya.
Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu membukakan kunci juga, Yona melenggang masuk tanpa menunggu Sisil membuka pintunya terlebih dahulu. Di belakangnya, Regan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya.
“Yona, memangnya kamu sering mengalami insomnia?” tanya Sisil, merapatkan baju tidurnya karena cuaca malam begitu dingin.
Yona mengangguk. “Kalau aku enggak insomnia mana mungkin aku sampai di sini,” jawab Yona.
“Masuklah ke kamar,” ucap Sisil menunjuk kamar tamu yang tersedia di rumahnya. Kamar yang tidak kalah mewah dan besarnya dari kamar utama yang dia tempati bersama dengan Nata.
“Aku tidak mau tidur di kamar tamu, Sisil,” kata Yona membuat Sisil dan Regan saling menatap, merasa bingung dengan kalimat ambigu yang Yona lontarkan kepadanya.
“Terus kamu mau tidur di mana? Di rumah Viona? Tapi dia ada di rumah mertuanya,” jelas Sisil bahwa Viona malam hari ini bersama dengan keluarganya menginap di rumah Ibu Miranda, mertua Viona yang sedang tidak enak badan.
“Bukan,” jawab Yona semakin membuat bingung Sisil dan Regan.
“Terus di mana, Sayang?” tanya Regan merasa tidak enak dengan Sisil.
Yona mengulum senyumnya. “Aku ingin tidur di kamar kalian, tidur masal bersama kalian, pasti seru,” pungkas Yona.
Sontak saja jawaban Yona membuat Sisil dan Regan membelalakkan matanya terkejut, tidak menyangka jika Yona akan meminta tidur masal di kamar utama bersama dengan Sisil dan Nata.
“Hah? Maksud kamu tidur berempat?” tanya Sisil memastikan kalimat yang Yona ucapkan.
“Iya, aku lagi pengen tidur masal sama kalian,” tutur Yona terkikik geli.
Mulut Sisil menganga, begitu juga Regan yang saat ini mengusap wajahnya dengan frustasi. Sepertinya menjadi kesalahan besar menuruti Yona datang ke rumah keluarga Corlyn. Kedatangan Yona dan Regan malah menjadi pengganggu saja di rumah sahabatnya.
“Tidur berempat?” terang Sisil mengulangi kalimat Yona.
Wanita itu kembali mengangguk, tidak bercanda dengan kalimatnya.
__ADS_1
“Ayo Sayang, kita masuk ke kamar mereka,” ucap Yona menarik tangan Regan menuju kamar Sisil.
Kebetulan sekali, Nata belum pulang ke rumah karena lelaki itu menghadiri acara makan malam bersama dengan kolega kerjanya. Mungkin saat Nata pulang dan ingin melepaskan rasa lelahnya seharian, lelaki itu akan terkejut melihat Yona dan Regan berada di kamarnya.
“Sayang, tidak sopan loh tidur di kamar Sisil dan Nata,” cetus Regan menghentikan langkah kaki Yona yang tadinya sangat bersemangat sekali.
Yona menoleh ke arah Sisil. “I-iya kah?” tanya Yona dengan matanya berkaca-kaca.
Sisil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Yona saat ini. Tapi kalau Sisil menjawab iya, bisa-bisa Yona menangis dan meraung di rumahnya semalaman yang pastinya akan membangunkan anak-anaknya yang sudah terlelap di kamar mereka masing-masing.
“Hahaha, ya tentu saja enggak dong. Kapan lagi kita bisa tidur bareng,” tawa Sisil meledak meskipun hatinya rasanya ingin mengatakan hal yang sebaliknya.
Semoga saja Nata tidak syok nantinya.
“Kamu dengar sendiri kan? Sisil tidak keberatan,” tandas Yona menjulurkan lidahnya mengejek menatap suaminya.
Regan tahu, Sisil hanya tidak enak hati merusak mood ibu hamil di depannya. Semua sudah tahu bahwa Yona selalu saja nyidam yang aneh-aneh karena mereka semua juga telah menjadi korban ketidakjelasan nyidam Yona setiap saat.
“Sana, masuk saja,” ujar Sisil meminta Regan mengajak masuk istrinya yang tengah hamil besar, udara di dalam kamar setidaknya tidak terlalu dingin karena di dalam sana Sisil memiliki penghangat ruangan.
Suara mobil terparkir di halaman lantas membuat Sisil menoleh, wanita itu melangkahkan kakinya menuju pintu utama, membukakan pintu untuk Nata, suaminya.
“Mobil Regan kok ada di sini?” tanya Nata begitu Sisil membuka pintu rumah untuk dirinya.
“Jangan kaget ya,” pinta Sisil mengelus lengan suaminya.
Nata menautkan kedua alisnya bingung. “Kenapa? Kamu berselingkuh dengan Regan?” tanya Nata menatap istrinya penuh curiga.
“Soudzon terus nih orang kerjaannya,” cela Sisil melipat tangannya ke depan dada. “Sana lihat sendiri di kamar kita,” putus Sisil semakin menambah rasa penasaran dalam benak Nata.
Lelaki itu dengan langkah cepat menuju kamar utama, membuka pintu kamar secara perlahan sambil menata hati takutnya melihat pemandangan tidak enak akan menyapa penglihatannya. Mata Nata melebar, kilat terkejut tercetak begitu jelas di raut wajah ayah dua anak itu.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Nata.
Yona melambaikan tangannya, senyumnya merekah melihat Nata sudah datang. Yona menepuk sisi kosong ranjang.
“Sisil, Nata, sini tidur,” tutur Yona terlihat sangat bahagia.
Nata menoleh menatap istrinya, Sisil mengangguk mengiyakan.
“Astaga, mimpi apa aku harus puasa lagi setelah kamu kedatangan tamu enam hari lamanya,” teriak Nata mengacak rambutnya begitu frustasi.
Yona dan Sisil justru terkekeh di tempat mereka, sedangkan para suami menekuk wajah mereka dengan berbagai pikiran dalam benak keduanya.
----------------
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR, DAN JUGA VOTE YA. SAAT AUTHOR CRAZY UP KAN BUAT MENYENANGKAN PEMBANCANYA, SAAT ITU PULA KOMENTAR DAN LIKE PEMBACA MENJADI PACUAN SEMANGAT AUTHOR MENULIS.
TOLONG JANGAN DIANAK TIRIKAN BAB SEBELUM-SEBELUMNYA DENGAN ALASAN KALAU CRAZY UP KEENAKAN BACA JADI LUPA NINGGALIN JEJAK LIKE DAN KOMENTAR.
__ADS_1
HARGAI PENULIS KALIAN, APRESIASI WAKTU DAN TENAGA YANG SUDAH DILUANGKAN DEMI MENYAJIKAN KARYA TERBAIK BUAT KALIAN 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😬